BAB 1 [Gradenia]

Dua hari telah berlalu, Arthur, Devina, dan Felix kembali menginjakkan kakinya di tanah Arden.

Suasananya sungguh berbeda dengan Arden yang dulu.

Arthur merasa asing.

Mereka bertiga melakukan perjalanan ke Meganstria menggunakan kereta kuda. Sebab, Aosora tidak bisa di lintasi oleh sembarang orang. Perjalanan itu, memakan waktu cukup lama. Hampir empat jam terbuang begitu saja.

Tanah Meganstria yang dipenuhi Elf, membuat Arthur teringat dengan masa lalu. Aroma khas dari pohon ek yang di tanam oleh Elf sungguh menenagkan pikiran Arthur.

Arthur melewati mansion Titisan.

Mansion itu terlihat lebih hijau dan dipenuhi oleh tanaman mawar. Arthur melihat banyak Elf yang membersihkan tempat itu. Mata Arthur tertuju pada satu pandangan. Dimana dia melihat seorang pria yang sangat mengenalnya.

Dia tengah mengendong seorang anak berambut putih.

Mata Arthur terbelalak. "Guru?" Lirih Arthur dari kejauhan kemudian dia mengalihkan pandangannya sambil mengosok tengkuknya.

Telinga Elf Ambareesh berdenyut. Dia melihat ke arah gerbang itu. Dia melihat dua orang laki-laki dengan rambut pirang dan kelabu, serta seorang perempuan berambut biru tua.

"Apa aku salah dengar?" Batin Ambareesh sambil berjalan keluar untuk memastikan.

Arthur menyadari Ambareesh mendekatinya. Dia merasakan aura Ambareesh yang sengaja di luapkan keluar. Tapi, sayang sekali. Bakat dan sihir Arthur segel oleh Ruri. Jadi, Arthur tidak bisa menghisapnya.

Devina melihat ke arah belakang. "Siapa dia?" Tanya Devina karena merasakan aroma mana yang menusuk dan mengintimidasinya.

"Biarkan saja, dia salah satu dari Titisan" Ucap Arthur sambil mengalungkan scraft abu-abu di lehernya untuk menutupi tanda Titisan miliknya.

Karena sudah telanjur, Arthur menepuk bahu Felix untuk melihat kebelakang. Kemudian, mereka sedikit mengangguk sebagai tanda kesopanan mereka.

Kedua mata Ambareesh terbelalak. Dalam pikirannya, dia salah orang. Dia membalasan anggukan itu.

Arthur kembali mengalungkan lengannya pada bahu Felix.

Felix melirik kebelakang. "Bukankah, itu golonganmu dulu? Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Felix kepada Arthur.

Sebenarnya, Arthur terkejut dengan pertanyaan itu. Dia ingin sekali mewaspadai Felix tapi, melihat Ruri begitu tenang dan mempercayainya, artinya tidak perlu ada kekhawatiran yang perlu dia takutkan.

"Aku hanya ingin mencari pandangan baru. Kami tidak ada masalah" Jawab Arthur.

Sebagian kecil, Devina tau alasan Arthur mencari pandangan baru itu. Dia hanya tidak ingin berada di bawah pengaruh seseorang. Secara terang, Arthur memiliki keyakinan dan kepercayaan yang bebas. Berbeda dengan para Titisan yang hanya ada satu arah.

Disisi lain, Ambareesh adalah kebaikan dengan Arthur. Ambareesh hampir tidak mempercayai keyakinan ataupun kepercayaan. Itu karena banyak hal yang dia alami di kehidupan keduanya.

Ambareesh sudah banyak menderita. Tiga orang yang selama ini dia jadikan sebagai sesuatu yang perlu dia jaga perlahan meninggalakannya.

Haraya adalah sosok Elf yang bergitu di percayai oleh Ambareesh. Dia gugur di Medan Perang disaat perebutan Wilayah Meganstria dengan Shinrin (Pada Novel Ke-2).

Arthur adalah sosok yang selalu ingin dia lindungi. Namun Arthur menghilang beberapa kali dan berhasil dia temukan, serta berujung dengan Arthur yang diculik oleh Ruri.

Terakhir Bianca. Dia adalah satu-satunya sosok yang selalu berada di samping Ambareesh sepanjang masa hidupnya. Dia meninggal pasca melahirkan putra pertamanya.

Louis adalah satu-satunya arti kehidupan bagi Ambareesh.

Dia menjadi protektif kepada putranya saat dia di dekati oleh siapapun kecuali Ela dan Daeva.

Mata Louis yang terkadang kuning keemasan dan biru langit melihat ke arah Arthur. Dia melambai-lambai pada Arthur yang tak menoleh sedikitpun kebelakang.

Ambareesh tersenyum ringan. "Dia hanya mirip, iya kan?" Tanya Ambareesh sambil mengusap rambut putih putranya.

Louis menepuk pipi Ayahnya dengan lemah. Louis di berkahi sesuatu yang tak dapat di lihat oleh orang lain. Dia bisa melihat rentetan benang yang saling terhubung.

Di belakang Arthur, ada begitu banyak benang yang mengikat roh-roh yang hanya bisa di lihat oleh Felix.

Arthur sudah banyak membunuh orang.

Perbatasan Aosora sudah ada di hadapan Arthur. Jembatan dulunya yang di gunakan oleh banyak orang untuk melintas kini sudah tidak ada lagi.

Bunyi arus yang kuat, membuat bulu kuduk siapapun merinding karena takut jatuh ke arus kuat itu.

"Haha, sebenarnya ini adalah tempat yang sangat dilarang oleh Ayahku untuk di lewati oleh keturunan Aosora" Arthur tiba-tiba teringat dengan ucapan Ayahnya saat dia kecil.

Arthur melihat Devina. "Jembatannya hilang. Aku tidak bisa menggunakan sihirku. Apa kau ada ide?" Tanya Arthur.

"Apa tidak ada jalan memutar?" Tanya Devina.

Felix mendengar suara teriakan kencang dari dalam arus itu. Teriakan itu begitu memilukan seolah dia tengah meminta tolong.

"Apa jurang itu bekas pembunuhan massal?" Tanya Felix sambil melemparkan bunga yang dia dapatkan di tanah.

Arthur dan Devina saling melihat. "Sebenarnya, ini memang tempat orang-orang yang putus asa" Jawab Arthur.

Memang banyak dari orang-orang yang mengakhiri hidupnya di jurang itu selama Arthur masih berada di dalam Istana Aosora.

"BWOSHHHH!!" Angin kencang tiba-tiba keluar dari jurang itu dan mengembalikan bunga yang Felix buang tadi.

Felix mengakui keberadaan makhluk yang tidak bisa di lihat orang lain. Karena dia bisa melihat apa yang tak bisa mereka lihat.

Dan itulah yang terjadi. Angin itu adalah jelmaan dari spirit angin yang menjaga arus itu.

DEGH!

SYUNGGG!!!! BYURRRRR!!!

Spirit angin itu, menarik Arthur hingga terjatuh ke dalam jurang itu.

"ARTHUR!" Felix dan Devina berteriak bersamaan. Namun, refleks tercepat dilakukan oleh Felix. Dia langsung terjun ke jurang berarus deras itu tanpa banyak berpikir.

Kaki Devina Lemas. "FELIX!!" Devina memaksakan kakinya untuk berdiri dan dia berlari mengikuti arus itu berjalan.

Dia tidak melihat Arthur dan Felix timbul sedikitpun ke permukaan.

...----------------●●●----------------...

"SYUUUUUUTTTTTTT!!! BUGHHH!"

Felix seolah tidak jatuh ke air. Dia merasa seolah dirinya jatuh dari gedung tinggi kemudian dia menjatuhi sesuatu yang keras.

"ARGGHH! APA TIDAK ADA TEMPAT MENDARAT LAGI UNTUKMU?!" Teriak Arthur sambil menepuk bahu Felix yang berada di kepalanya.

Felix langsung berdiri dan memegang kepalanya yang terhantuk tanah dengan keras.

Scraft Felix menghilang hanyut terbawa arus itu.

Arthur pertama kalinya melihat wajah hingga leher Felix dengan jelas untuk pertama kalinya. Di wajah sisi kanan hingga ke lehernya terdapat bekas luka bakar yang cukup parah.

Kalung emas dengan bandul batu mana merah keluar dari pakaian Felix.

Felix menoleh ke arah Arthur. "Kenapa kau melihatku seperti it-" Dia baru sadar apabila scraft wajahnya hilang. Dengan refleks, Felix langsung menarik pakaiannya yang basah hingga menutupi sebagian wajahnya.

"Aku akan mencari penutup wajahku, tak perlu melihatku kalau kau merasa risih dengan wajahku" Ucap Felix kepada Arthur sambil melihat ke arah lain untuk mencari scraftnya.

"Aku tidak risih" Jawab Arthur.

Jawaban itu sedikit membuat kecemasan Felix berkurang. Felix sebenarnya senang dalam hatinya karena sosok yang menjadi panutannya tidak bertingkah seperti orang-orang yang sudah pernah melihat luka di wajahnya.

"Benarkah?" Felix hanya ingin meyakinkan dirinya.

Arthur mengangguk dan mengambil scraft miliknya yang basah dan jatuh disana. Dia memberikannya kepada Felix. "Gunakan ini kalau kau merasa tidak nyaman"

"Maaf, tapi... itu terlalu tebal. Ngomong-ngomong, bukankah yang diatas itu air?" Tanya Felix sambil menunjuk langit-langit tempat dia berada.

Arthur mendonggakkan kepalanya.

Itu memang benar. "Tempat apa ini?"

Arthur mulai melihat ke segala arah. Ada banyak sekali tengkorak dan kerangka tubuh manusia dan Iblis disana.

"Tempat apa ini?" Lirih Arthur sambil menepuk bahu Felix.

Felix sudah menyadari dengan adanya banyak tumpukan tengkorak itu.

Roh-roh itu sudah lama berkumpul di sekitar Arthur dan membuat Felix sedikit kesulitan karena mereka menutupi pandangan Felix.

Meski begitu, Felix tetap bersikap normal karena dia tak ingin Arthur menganggapnya aneh.

Dia menjauh sedikit dari Arthur yang sudah di kumpuli banyak roh tersesat itu.

Ada satu tempat dimana tempat itu terlihat lebih dingin dan tak ada satu tulang pun disana. Tempat itu, terlihat lebih tenang dan Felix mendengarkan lantunan lagu yang dinyanyikan seperti suara angin. Dia kembali ke tempat Arthur dan menariknya ke tempat itu.

Tak ada satupun roh yang bisa melewatinya. Roh-roh itu seolah telah di halangi oleh tembok yang tak tembus pandang.

Felix yang terus melihat ke arah belakang membuat Arthur sedikit waspada. "Ada apa dibelakang?" Tanya Arthur sambil melihat kebelakang.

Sontak, Felix terkejut mendengar suara Arthur yang tiba-tiba. "Tidak ada apa-apa"

Nyanyian seperti angin itu, menembus telinga Arthur.

Mata Arthur terbelalak lebar. Dia merasa de javu dengan suara nyanyian itu. Itu adalah suara nyanyian yang selalu dia dengar saat masih kecil.

Arthur masuk ke dalam goa kecil itu dan diikuti oleh Felix di belakangnya.

Goa itu mengeluarkan angin yang dingin. Isi goa itu, sepenuhnya adalah es.

"Apa ini buatan seorang Siluman Rubah?" Lirih Arthur sambil melihat goa itu yang tidak gelap sedikitpun.

Felix melihat adanya benang mana yang tiba-tiba keluar dari dinding dan menyentuh tangan Arthur.

"AOSORAAA" Suara lirihan terdengar dari arah dinding es itu yang membuat Felix bergidik.

"Kekasihku...."

"Apa kau datang tuk menyelamatkanku?"

Suara lirih itu membuat Felix tak percaya. Dia berjalan ke arah dinding itu dan menyentuhnya.

"ARRGH! TIDAK! JANGAN MENYENTUHKU! AOSORA! TOLONG AKU!" Suara itu mirip dengan suara seorang gadis.

Felix menyengir. "Arthur, apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Felix.

Arthur tiba-tiba bergidik karena pertanyaan itu. "Hei! Ngomong apa sih?!" Tegas Arthur sambil mengosok tangannya yang tiba-tiba gatal.

"Tidakkk.... Aku sudah menunggumu cukup lama disini. Kekasihku, bebaskan aku" Ucap lirihan itu.

"Apa kau bermimpi? Sadarlah. Dia bahkan tak bisa mendengarmu. Mengaku menjadi kekasihnya, memangnya kau ini secantik apa?" Ucap Felix sambil mengetuk dinding itu.

Arthur langsung berdiri di sebelah Felix. "Kau ini kenapa?" Tanyanya.

"Aku cantik tau! Dasar monyet! Jauhkan tangan kotormu dariku!" Tegas suara lirih itu.

"Hadeh.... suaramu saja mirip anak ayam, kau pasti bocah yang di kutuk ibumukan?" Ejek balik Felix.

Kemudian, Felix melihat ke arah Arthur yang berwajah serius. "Di dalam sini, sepertinya ada roh spirit yang terjebak. Mungkin dia angin atau air"

"DASAR MONYET! Aku bukan Roh Spirit! Aku Gardenia! Kekasih Aosora!" Tegasnya dan dia mengeluarkan angin dingin yang berhembus dengan kencang.

"Ya. Dia juga mengaku-ngaku sebagai kekasihmu" Lanjut Felix.

Arthur tercengang. "Aku belum pernah memiliki kekasih. Tapi, kalau dengan Roh spirit boleh di coba. Apa yang harus ku lakukan?" Arthur tiba-tiba antusias.

Kini yang tercengang berganti ke Felix. "Devina maafkan aku, aku tidak ikut-ikut" Batin Felix yang berdoa dalam hati.

"Sentuh saja aku dimanapun, Kekasihku. Aku akan terbebas karena pelukanmu"

"Katanya, sentuh saja dengan pukulanmu. Dimanapun" Terjemahan Felix.

"Oh, begitu kah?" Arthur menurut saja dengan terjemahan Felix. Dia langsung mengulung lengan pakaiannya dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Kemudian, "BAGHHHH! KRATAKKK!!!" Arthur memang tak bermana untuk saat ini, meski begitu pukulan Arthur tidak main dan membuat seluruh goa itu menjadi retak.

"WOAH..." Ucap Felix saat melihat retakan itu menjalar dengan cepat.

Gempa terjadi dan menguncang dengan keras.

Goa itu yang awalnya adalah kubah Es, hancur berhamburan layaknya energi mana yang berterbangan.

Cahaya putih yang terang, membuat mata Arthur dan Felix menjadi silau.

Siluet gadis berambut panjang muncul diantara cahaya yang silau itu.

"AOSORA! AKU SUNGGUH MERINDUKANMU!" Dia berlari dan langsung memeluk tanpa melihat siapa orangnya.

"Hei, kau salah orang. Ucap Felix sambil mendorong wajah itu.

Mata Felix terbelalak dengan lebar saat melihat rupa mungil gadis berambut putih panjang itu. Dia memiliki bulu mata yang lentik dengan iris biru es yang selaras dengan Arthur. Bibir gadis itu yang berwarna pink dan mungil membuat Felix tak bisa mengedipkan matanya.

"EWWWWW!" Gadis itu mendorong Felix hingga terjatuh.

Felix masih tercengang di bawah sana karena wajah dari gadis itu.

Jantung Felix berdebar dengan kencang untuk pertama kalinya.

"Aosora! Apa kabarmu!" Gadis itu melompat dan memeluk Arthur. Dia mengecup pipi Arthur dengan dalam.

Arthur menahan pinggang gadis itu. "Aku baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Arthur sambil menurunkannya.

"Aku tidak baik-baik saja. Aiden sangat jahat padaku dan dia menjanjikan Aosora lainnya yang datang menyelamatkanku untuk menjadi kekasihku. Kau tidak boleh menolakku!" Ucapnya sambil menunjuk dada kiri Arthur.

"Aosora Aiden?"

"Iya. Kau keturunan Aosora Aiden yang keberapa?" Tanya Gadis itu sambil memeluk lengan Arthur.

"Dia kakekku" Jawab Arthur.

"Kakek? Kalau gitu, kau cucunya. Gak apa sih, aku sudah telanjur menyukaimu. Ayo! Sekarang, kita keluar dari sini!" Tegas gadis itu sambil mengeluarkan lingkaran sihir miliknya.

Arthur melihat Felix. "Felix, ayo" Ucap Arthur sambil mengulurkan tangannya ke arah Felix.

"Owhh, dia tidak pantas dengan itu. Ayo Nyet, berdiri" Ucap Gardenia dengan wajahnya yang songong.

Felix berdiri sambil mengkernyitkan keningnya. "Jangan nempel-nempel gitu. Kau beneran keliatan kek anak ayam" Celetus Felix sambil berdiri.

"HUMPH!" Gadis itu tidak mendengarkan ucapan Felix dan dia tetap memeluk Arthur seperti itu.

"BWOSH!!!"

mereka bertiga keluar dengan cepat seperti air yang menyembur ke daratan. Devina membelalakan matanya karena melihat kemunculan Arthur yang tiba-tiba.

"SIALAN! KAU MEMBUATK- Eh? Siapa dia?" Devina yang hampir memukul Arthur langsung berhenti karena melihat Gardenia.

"TRETENG TENG TENG! AKU GAK IKUT-IKUT~" Ucap Felix sambil menutup sebagian wajahnya karena scraftnya hilang.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!