Hari demi hari telah berlalu. Ashel sering melihat bercak cupang di leher Luna. Luna sering sekali bercerita dengan gembira tentang pria itu yang ternyata kekasihnya.
"Anjiiirrrr. Lu tau Shel! Gua! Dibeliin ini!" Luna menunjukkan cincin pada jari manis tangan kirinya.
Luna mulai terbiasa dengan Ashel dan dia sering sekali menggunakan bahasa gaul kepada Ashel daripada kata aku dan kau.
Telinga Ashel yang bereraphone masih bisa mendengar cerita Luna yang tak ada bosannya bercerita tentang dia.
"Jujurly, gua baru pertama ini dapet cowok sebaik dia-"
Itu tidak berlangsung lama.
Luna memeluk erat bahu Ashel yang memegang palu di tangannya. "Ashel! Biarkan saja" Luna menangis menahan Ashel yang hampir membunuh pria itu.
Firasat Ashel tentang pria itu benar. Pria itu, membawa teman-temannya dan merampok uang toko buku loakan Luna, di malam hari saat Ashel keluar mencari makan.
Ashel membuang palu di tangannya. "Pergi dan jangan menampakkan wajahmu lagi disini! Brakkk!!" Ashel menendang meja berisi buku dan komputer Luna hingga terjatuh.
Pria itu merangkak sambil memegang kepalanya yang berdarah dan berlari ke luar dari toko buku loakan itu.
Ashel melihat Luna yang masih menangis dengan wajah yang lebam di pipi karena pukulan pria itu. Ashel menarik lengan Luna agar berdiri. Kemudian, Ashel menarik kursi untuk tempat duduknya.
Luna dibiarkan menangis disana sendirian oleh Ashel.
Berjam-jam telah berlalu. Luna masih saja menangis. Ashel mendatanginya dan duduk di bawah. "Apa yang kau tangisi dari pria modelan seperti itu?" Tanya Ashel dengan nada yang santai.
Luna berhenti menangis dan melihat Ashel.
"Kek kuda nil" Ucap Ashel saat melihat mata Luna yang lebam.
"Anj lu!" Maki Luna sambil mengusap matanya.
"Dah! Tutup aja tokonya. Gua kagak mood!" Luna berdiri dan masuk ke ruang pribadinya. Kemudian "BRAK!" Dia membanting pintu kamarnya.
Ashel melihat jam dinding. "Ini, emang dah waktunya pulang" Ucap Ashel sambil berdiri kemudian dia membersihkan kekacauan yang dia perbuat karena tanpa sadar menghajar pria itu.
Ashel mengambil sisa lembaran novel yang Luna buat. "Hanya tersisa ini saja?" Lirih Ashel sambil melihat ke arah lain.
Tak ada lembaran itu lagi. Ashel berjalan ke arah ruangan pribadi Luna. Dia mengetuk pintu itu beberapa kali.
"APA?!"
"Novelmu belum dicetak apa belum di kerjain?" Tanya Ashel.
"Belum dicetak. Buka aja foldernya di laptop. Print aja sendiri dari bab 8. Kurang satu bab lagi itu tamat" Ucap Luna yang tak jelas karena wajahnya di bekap dengan bantal.
Meski begitu, Ashel masih paham. "Yaudah, besok aja ku print. Pintunya mau kunci langsung atau gimana?"
"Kunci aja. Entar masukin kayak biasanya"
Ashel pulang sambil memainkan ponselnya di jalan.
Dia melihat banyak makian tertuai di chating teman-temannya. "Ah, manusia gak guna. Kalau saja aku memiliki sihir, dah ku hancurin tuh rumah mereka" Lirih Ashel sambil mematikan ponselnya.
Sampai di panti asuhan, Ashel langsung masuk ke dalam kamarnya dan membaca novel tersebut.
Hilangnya Aosora Arthur yang di culik oleh Ruri, membuat Ambareesh dan Tsuha hampir keluar dari golongan Titisan.
Dean memohon kepada mereka berdua untuk tetap berada diantara para Titisan. Titisan membutuhkan mereka berdua.
Daeva yang telah terbunuh karena sumpah kontrak dengan makhluk yang tak di kenal itu, sudah memberi dampak buruk bagi Titisan.
Dean terlihat begitu depresi akibat kondisi Titisan yang berantakan. Alder tak kujung sembuh karena serangan Ruri yang menghancurkan inti mananya.
Ashel membayangkan bagaimana dirinya saat berada di posisi tokoh 'Dean' yang serba salah.
"Apa bagusnya dengan Tokoh Ruri? Dia hanyalah Malaikat yang menjadi Iblis" Ucap Ashel sambil meletakkan lembaran yang baru beberapa yang dia baca di atas mejanya.
Ashel membuka pakaiannya dan melihat perutnya yang memiliki pack sedang ruam ungu.
"Kenapa sembuhnya lama sekali?" Lirih Ashel karena merasakan linu di ruamnya.
Ruam itu, akibat dari Ashel yang bertengkar dengan anak Osis yang bertingkah sok karena makan di kantin tempat biasanya bocah Osis itu makan.
Ashel tidur dalam keadaan dada yang telanjang.
Pagi hari pun tiba. Ashel bangun sebelum pukul lima pagi. Dia harus membantu pengurus panti untuk bersih-bersih dan menyiapkan makanan.
Banyak anak-anak kecil yang suka dengan Ashel. Mereka menaiki Ashel seperti mainan di taman bermain.
Ashel cukup sabar menghadapi bocah-bocah itu.
Pukul 06.02, Ashel selalu menaiki sepeda gayuhnya menuju sekolah. Lapangan hijau yang jarang ada orang, tiba-tiba tempat itu menjadi ramai.
Ashel turun dari sepedanya dan mendorong sepedanya karena banyak orang yang memblokir jalannya.
"Aaa, EDRIIISSSS!!!" Teriak beberapa gadis sekolah yang memiliki seragam sama seperti Ashel.
Ashel meliriknya sekilas. "Oh, bukankah itu.... artis yang biasanya muncul di drama romansa sekolah?" Ashel mengenal pemuda bernama Edris itu.
Tidak di herankan lagi. Siapa yang tidak mengenal seorang artis muda yang baru naik daun karena wajah yang rupawan dan berambut pirang itu.
Ashel tidak memperdulikannya. Dia berlanjut menaiki sepedanya dan berangkat sekolah.
Ponsel Ashel tiba-tiba berdering saat dia baru saja memakirkan sepedanya. Nama Kak Luna terlihat jelas di layar ponselnya. Dia mengangkat telpon itu.
"Ya Kak?" Tanya Ashel setelah menerima telpon itu.
"Seminggu ini, toko gua tutup. Gua dah kirim file novelnya ke email lu. Sans aja, gaji lu tetep kok" Suara Luna menjadi lebih serak di telpon.
Ashel berkedip beberapa kali.
"Kau gak ada niatan bunuh diri kan? Aku gak mau di hantui sama Author gentayangan" Ucap Ashel sambil tersenyum tipis dan bersandar di tembok.
"ANJIR! Arthur gua belum tamat! Entar aja kalo dah tamat, lu gua ajak bundir" Jawab Luna sambil tertawa kemudian terbatuk.
Dalam batin Ashel, dia merasa Luna sudah perlahan membaik.
"Ya, entar ku baca. Awas aja kau pergi sendirian, Kak" Jawab Ashel sebelum telpon itu ditutup oleh Luna.
Ashel masih tersenyum ringan. "Ya, dia itu wanita yang tangguh. Jadi semua akan baik-baik saja" Lirih Ashel sambil mematikan ponselnya dan memberikannya ke ruang guru untuk di simpan selama jam sekolah masuk.
Di dalam kelas, suasananya sama seperti biasanya. Ashel dianggap seolah dia tak ada. Ashel tidak peduli dengan hal itu. Dia mengeluarkan bukunya dan meletakkan kepalanya di atas meja.
"Hei! Di kelas ini, siapa yang namanya Ashel?!"
Suara bising itu, tidak di pedulikan oleh Ashel. Hingga, dobrakan keras di mejanya, membangunkan remaja itu. Kening Ashel berkenyit.
"Oh, jadi ini orang yang sudah membuat wajah Osis kita berantakan?" Tanya salah satu dari mereka yang bertubuh besar.
"Hahh!" Arshel menertawakan mereka dengan nada rendah.
"Apa ini? Bukankah, ini sudah lewat tiga hari?" Ashel berdiri dan mendonggakkan kepalanya untuk melihat anak dari kelas lain itu.
"GREP!"
Kera seragam Ashel di tarik oleh anak itu.
"Lecek sedikit, hancur wajahmu" Arshel mengancam pemuda itu.
Beberapa dari siswi disana saling berbisik untuk memanggil guru.
Siswa yang mencengkram kera Ashel menyeringai dengan lebar dan semakin meremas seragam Ashel.
Ashel bukanlah orang yang hanya memberi ancaman saja. Dia mengangkat kaki kanannya dan menghentakkan mejanya dengan keras hingga siswa bertubuh bonsor itu, jatuh tertindih meja.
Suara teriakan dari siswa putri, terdengar menusuk di telinga Ashel.
"Astaga! Tidak bisakah kalian menjerit dalam hati?!" Ucap Ashel sambil melihat ke arah mereka dan menutup kedua telingannya.
Teman siswa berbadan bonsor itu, berancang menangkap Ashel untuk mereka hajar berjama'ah. Ashel menarik ranselnya dan memukulkannya ke arah mereka.
Ashel sungguh menghancurkan kelas. Meja dan kursi roboh karena ulahnya.
Darah menetes dari keningnya karena salah satu dari mereka yang melemparkan kursi ke arahnya terlebih dahulu.
Ashel sungguh menghajar mereka habis-habisan. Guru datang untuk memisahkan mereka berempat.
Ashel di bawa ke Ruang Bimbingan Konseling dan mereka bertiga tidak. Guru Bimbingan Konseling yang merupakan guru Teknik Mesin dari SMK swasta itu, menampar Ashel.
"Mereka duluan yang memulainya. Kenapa hanya aku yang kalian beginikan?!" Tegas Ashel kepada dua guru disana.
"Tulis permohonan maafmu sebanyak 20 lembar dan selesaikan hari ini juga" Ucap guru yang menampar Ashel.
"Aku tidak akan menulis itu kalau tiga orang itu tidak melakukan hukuman yang sama denganku!" Tegas Ashel kepada guru itu.
Guru itu menghela napas dan menarik rambut cokelat kehitaman Ashel hingga membuat Ashel berkernyit dan mendongak.
"Dengarkan saja ucapanmu. Mereka itu anak-anak dari donatur Panti Asuhan tempatmu tinggal dan sekaligus donatur sekolah ini. Kalau kau masih sayang dengan masa sekolahmu, turuti saja" Ucap Guru itu sambil melepas jambrakannya.
Uang dan pangkat adalah segalanya. Ashel membenci orang-orang itu.
Dia menulis surat permintaan maafnya sekaligus pengakuan atas kesalahannya hingga dia meninggalkan semua jam pelajarannya.
Ashel meletakkan lembaran itu di atas meja BK. Dia melihat jam dinding yang ternyata sudah melewati pukul enam malam itu.
"Cih!"
Ashel tidak bisa mengambil ponselnya karena semua guru sudah pulang dan hanya ada penjaga taman dan sekolah disana.
Ashel pergi ke kelasnya untuk mengambil tas.
Tasnya sudah tak ada. Dia membuka jendela sebelah tempat duduknya.
Tasnya ternyata ada di ujung ranting pohon itu. Kurang sabar apa Ashel. Dia juga melihat sepedanya menghilang. "Sialan!" Makinya sambil menendang batu.
Ashel mengambil gala untuk mengambil tasnya di atas pohon sana. Beruntung baginya karena melihat gala itu sebelum memegangnya.
Gala itu, sudah diberi lem perekat untuk lalat.
Mood Ashel hancur berantakan. Dia melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah tasnya. Sepatu itu terjatuh beberapa kali saat menyentuh tas miliknya.
Ashel sudah lelah. Dia memegang keningnya yang sakit dan masih merembeskan darah. Ashel mulai menaiki pohon itu dan mematahkan dahan yang sudah seengah patah.
Dahan itu terjatu bersamaan dengan tasnya. Ashel turun perlahan dan memeriksa isi tasnya. Dia khawatir dengan novel Luna yang dia bawa.
"Ah, untung ini baik-baik saja" Ucap Ashel dengan napas yang legah dan memeluk tasnya.
Ashel pulang dengan berjalan kaki.
Suara bising dan jalan yang terang membuatnya penasaran.
"CUT! Edris! Apa yang salah denganmu?!"
"Oh, ternyata suting? Apa artis itu tidak lelah?" Lirih Ashel sambil mengintip ke arah taman yang menjadi tempat suting saat Ashel melewatinya di pagi hari.
Pria berambut pirang itu, terlihat membungkuk. "Maafkan saya. Saya ingin istirahat 15 menit saja. Sepertinya kaki saya terkilir" ucapnya.
Ashel melihat ke arah Sutradara itu. Sutradara itu, terlihat memukul mejanya dengan lembaran skenario. "Arg! Istirahatlah 30 menit. Sudah ku katakan! Kita butuh peran penganti. Kalau begini, Artis kita yang kesusahan dan kita juga yang dirugikan karena kehilangan banyak waktu!" Sutradara itu mengomel dan berdiri dari kursinya.
Pandangan Sutradara itu, tertuju pada Ashel. Kedua mata Sutradara itu sedikit terbelalak. "Kau!" Sutradara itu, tiba-tiba menujuk Ashel.
"Huh?" Ashel melihat ke kanan dan ke kirinya. "Aku?" Tanya Ashel sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya! Kemarilah!" Panggil Sutradara itu.
Ashel mengosok tengkuknya dan mendatangi Sutradara itu.
"Siapa namamu?" Sutradara itu, melihat Ashel dari atas hingga bawah.
"Ashel"
"Saya rasa, dia cocok" Ucap salah seorang di belakang Sutradara itu. Sutradara itu, terlihat mengangguk ringan beberapa kali.
"Kau punya wajah yang bagus dan tinggi yang bagus. Aku punya pekerjaan yang bagus buatmu. Apa kau mau?" Sutradara itu, tidak basa-basi.
"Pekerjaan? Aku masih sekolah" Jawab Ashel.
"Edris juga bocah SMA"
"Aku SMP" Sela Ashel.
Sutradara itu tertawa. "Ya, aku tidak memperdulikannya. Kami sedang kekurangan orang untuk menjadi peran penganti. Kalau kau mau, jadilah bagian dalam drama ini dan biarkan staff-ku mengurus surat izinmu" Ucapnya.
"Apa aku dibayar?" Ashel sedang butuh uang untuk persiapan masuk SMA-nya.
Sutradara itu, sedikit terkejut dengan pertanyaan Ashel. Dia marangkul bahu Ashel. "Ah, bocah. Aku akan memberimu 500.000 perhari yang kau kerjakan untuk menganti peran" Ucap Sutradara itu.
"Lima ratus ribu per hari yang ku gantikan?"
"Iya. Untuk biaya apabila kau cedera, tidak termasuk ke dalam perjanjian. Bagaimana? Lima ratus ribu" Sutradara itu, berniat menipu Ashel.
"Baiklah. Aku menerimanya"
Ashel masihlah anak-anak. Dia masih belum bisa membedakan mana yang benar-benar orang yang tulus dan mana orang yang menipunya.
Ashel di tabrak untuk mengantikan peran Edris.
"BRUK!" Dia sungguh lelah dengan hari ini dan langsung ke kamarnya begitu sampai di Panti asuhan.
Ashel mendapatkan uang setengah dari 500 ribunya. Dia merasa senang sekali meski badannya sakit dan ruam.
Hari-hari Ashel perlahan berubah sejak peran penganti itu dia jalani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments