Drama itu usai dengan lancar. Seperti yang biasanya terjadi. Sutradara itu, mengadakan acara makan bersama setelah usainya drama tersebut.
Ashel pamit untuk pulang. Dia menyadari, dia bukan bagian dari mereka. Namun, Edris menahannya.
"Bos! Boleh kan ya??" Tanya Edris sambil mendorong bahu Ashel seperti kereta-keretaan.
"Makan dulu Shel. Gak ada yang boleh pulang kalo belum habis!" Sutradara itu, tidak keberatan dan sengaja memesan makanan dengan jumlah yang lebih.
Ashel merasa kurang nyaman saat makan di antara orang-orang ternama itu.
Dia mengambil secukupnya dan makan di kursi serta meja lain. Edris bertingkah seolah sudah lama mengenal Ashel. Maklumi saja, memang itulah sifat Edris. Dia mudah sekali bergaul dengan yang lain. Edris makan di meja yang sama dengan Ashel.
"Hei, kenapa duduk disini?" Ashel merasa tak nyaman karena banyak pandangan tertuju padanya.
"Memangnya kenapa? Dah ayo makan. Nih, makan. Aku gak suka wortel" Edris memberikan potongan wortel kecil di piring Ashel.
"Heefh... Aku sendiri gak suka wortel" Ashel memisahkan wortelnya dan wortel yang di berikan Edris di wadah terpisah.
Ashel merasa tak nyaman saat makan. Edris terus menerus melihatnya sepanjang makan.
"Apa salahku?" Tanya lirih Ashel sambil mengkernyitkan keningnya pada Edris.
"Kau punya wajah yang bagus. Kau akan cepat melambung kalau jadi artis" Ucap Edris sambil membuka ponselnya.
Ponsel Edris terlihat begitu berbeda dan mahal dibandingkan dengan milik Ashel.
"Artis? Aku tidak suka berperan menjadi orang lain" Ucap Ashel.
"Kenapa? Kau tak perlu berpura-pura baik di depan kamera. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Aku minta nomormu" Edris mengulurkan ponselnya kepada Ashel.
Ashel memasang raut syok. "Untuk apa?"
"Kau dan aku akan sering bertemu setelah usainya drama ini. Kau tidak boleh menolaknya, aku hanya ingin lebih akrab denganmu di dunia peraktingan" Edris mengakui Ashel dalam menjadi peran penganti yang cocok untuk dirinya.
"Hah? Sudah ku katakan, aku tidak mau jadi artis" Ucap Ashel sambil mengembalikan ponsel Edris sebelum mengetikkan nomor ponselnya.
"Benarkah? Padahal, kau bisa beli rumah hanya dengan modal 1 drama" Ucap Edris.
Ashel langsung mengambil balik ponsel Edris dan mengetikkan nomor ponselnya. "Itu nomorku, simpan baik-baik" Ucap Ashel sambil meringis.
Edris terkekeh sambil manambahkan nama Ashel dengan awalan adik.
Ashel mengagah saat melihat keluarga adopsinya adalah keluarga dari Edris.
Ashel melihat Ibu pantinya yang tersenyum senang.
"Ashel, kau harus menurut ya. Dan rajinlah belajar"
"Tu... tunggu! Kenapa seperti ini?" Tanya Ashel sambil melihat Edris yang mengangguk mendengarkan ucapan Ibu Panti.
"Paman, tolong bawakan barang bawaan adik baruku ini ke mobil" Keluarga yang datang bersama Edris, ternyata paman dari pihak Edris sebagai walinya.
"Tu..tunggu!" Ashel menahan tasnya namun, paman Edris tetap menariknya.
"Karena surat perpindahan sekolah sudah diurus Ibu panti, Ayo, ajak aku berkeliling di sekitar sini" Edris menggunakan maskernya dan berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah panti itu.
Punggung Ashel di tepuk oleh Ibu panti untuk membuntuti Edris.
"Dih!" Ashel merasa sedikit kesal dan dia berjalan di belakang Edris.
"Apa kau senang?" Tanya Edris sambil melihat dan menunggu Ashel di belakangnya.
Ashel mengosok tengkuknya sendiri. "Kau menipuku. Sialan!" Ucap Ashel sambil melewati Edris yang terkekeh.
Edris mengikuti Ashel yang berjalan di depannya. "Aku sendiri dari Panti Asuhan" Lirih Edris.
Ashel berhenti di tempat dan melihat Edris di belakangnya. "Bedanya, Aku dari panti luar negeri. Jadi, warna rambutku kek gini" Jawab Edris sambil berjalan di sebelah Ashel.
"Bukannya aku kasihan padamu. Aku hanya melihat diriku dulu saat melihatmu. Aku tidak terlalu suka sendirian, jadi aku ingin punya adik yang tingginya sepantaran denganku" Edris merangkul Ashel dan menempelkan kepalanya yang menggunakan tudung hoodie pada kepala Ashel.
"Singkirkan kepalamu" Ucap Ashel yang tak bisa mendorong kepala Edris.
Ashel membawa Edris ke tempat buku Luna.
Edris cukup tercengang dengan toko buku di bawah jembatan. "Disini, ada yang beli?" Tanya Edris sambil melepaskan kacamata photocromic-nya.
Ashel menghiraukan pertanyaan itu. Luna memukul bahu Ashel dengan keras. "Eh! Nih bocah kenapa kagak masuk sekolah?! Mbolos lu..ya...?" Luna yang berteriak seperti biasanya, tiba-tiba nadanya menurun saat melihat Edris di belakang Ashel.
"AANJIRRRRR! LU! LU ARTIS YANG DI BALIHO ITU?!!!" Luna syok melihat Edris yang baru melepas maskernya.
"Ambilin hp... ambilin hp.." Luna menepuk-nepuk lengan Ashel.
Ashel mengulurkan ponsel Luna padanya.
"Boleh minta foto ya?" Luna tiba-tiba menurunkan nada suaranya.
"Eww" Ashel tidak sudi mendengar nada suara itu.
"Boleh"
"Chell, photoin gih!" Luna jingkrak-jingkrak sambil menyerahkan ponselnya kepada Ashel.
Ashel menerima ponsel itu dan menganti arah kamera ponsel Luna ke kamera depan.
"1...2...Ckrik!" Ashel memfoto dirinya sendiri.
"Sekali lagi... boleh?" Tanya Luna kepada Edris sambil membentuk hati pada tangan kanannya.
"1...2...CKRIK!"
Ashel sungguh jahil.
Luna mengulurkan tangannya untuk melihat hasil foto itu.
"Kak, aku mau pamit" Ashel belum memberikan ponsel itu.
"Eh? Pamit kemana?"
"Dia akan ikut denganku Kak" Edris menyela jawaban Ashel.
"Ikut denganmu? Ha?"
"Dia adik angkatku. Kami akan berangkat satu jam lagi. Aku permisi" Edris memberi waktu Ashel untuk berbincang dengan Luna.
Luna melihat Ashel perlahan. "Serius?" Tanya Luna kepada Ashel.
Ashel melihat ke arah lain. "Itu benar"
"GREP!" Luna memeluk Ashel dengan tiba-tiba. Mata Ashel terbelalak seketika.
"Aaa, moga lu bahagia ya disana. Jangan kecapean, jangan cari musuh, jangan berantem..."
Mata Ashel tiba-tiba berlinang. Dia belum pernah mendengar ucapan itu dari siapapun termasuk Ibunya yang meninggalkannya. Ashel memeluk balik Luna dan menangis disana.
"Kakak juga, jangan bawa orang yang belum beneran kakak kenal ke toko. Entar, kirim aja novel kakak ke Aku. Aku akan tetap membacanya disana. Aku akan sering telpon Kakak. Jangan ada niatan buat bunuh diri ya..." Untuk pertama kalinya, Luna mendengar Ashel yang berbicara begitu banyak dan kalimat yang panjang.
Luna tersenyum tipis.
"Jangan cuma telpon. Kalo liburan, mampir ke sini. Gua bakalan beliin lu ayam bakar oke..."
Ashel berangkat menuju Ibu kota.
Ibu kota, sunggu berbeda dengan kota tempat Ashel tinggal.
Gedung tinggi terlihat berlomba-lomba mengapai langit. Ashel hampir tidak tidur untuk melihat itu.
"Paman, mampir ke tempat makan. Ini sudah masuk waktu makan siangku" Ucap Edris sambil menggunakan earphone-nya.
Ashel kembali duduk dengan nyaman di kursi mobil Edris.
"Entar, kalo SMA, masuk di sekolah yang sama denganku ya? Aku ingin memamerkanmu ke teman-temanku" Ucap Edris sambil mengeser duduknya lebih dekat dengan Ashel.
"Dipamerkan? Emang, aku ini barang?" Tanya Ashel.
"Dah diem. Suka nonton anime gak?" Edris mengulurkan salah satu earphone Bluetooth-nya kepada Ashel.
Ashel menerima itu dan ikutan menonton hingga ke tiduran karena bosan dengan genre romansa misteris di setelkan oleh Edris.
Edris menarik kepala Ashel untuk bersandar di bahunya.
Paman Edris melihat tingkah keponakan angkatnya itu dari kaca mobil. "Edris, paman hanya mengingatkanmu. Dia itu laki-laki dan jangan memberlakukannya seperti perempuan" Ingat Paman Edris sekaligus Asistennya.
Edris menempelkan kepalanya pada kepala Ashel. Rambut kepala mereka bersatu. "Aku tidak peduli dengan itu. Dia adikku sekarang" Jawab Edris sambil mematikan ponselnya dan ikutan tidur di belakang sana.
"Bocah gila. Harusnya, dia dilarikan saja ke rumah sakit jiwa. Aku tidak tau kenapa Kakakku mengadopsi anak semacam itu" Edris memiliki ketertarikan yang menyimpang terhadap perasaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments