Suara dentingan di dapur membuat Ruri penasaran. Dia bejalan ke arah dapur dan melihat punggung seorang gadis berambut biru tua. Ruri mendekatinya dan berdiri disebelahnya mengambil alih cucian piring yang dia bersihkan.
Devina sangat terkejut. "Steve,...Eh? Anu... biar aku saja" Ucap Devina yang binggung memanggil Ruri dengan sebutan apa.
"Bersiaplah untuk berlatih. Aku mau makan" Jawab Ruri sambil membilas piring-piring itu dengan cepat.
Devina hanya bisa tersenyum kaku melihat punggung yang selama ini menyamar menjadi Tunangannya itu.
"Anu... Apa aku boleh bertanya?" Tanya Devina kepada Ruri.
"Gak" Jawab Ruri sambil meletakkan semua piring dan wadah lainnya di tempatnya.
"Emnn, baiklah...." Lirih Devina sambil berjalan menjauh. Ruri melirik Devina yang berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang mau kau tanyakan?" Tanya Ruri kepada Devina.
Devina melihat ke arah Ruri perlahan. "Di...dimana Steve yang asli?" Devina Tiba-tiba gemetar saat menanyakan hal tersebut.
Jantungnya berdebar dengan kencang. Dia takut dengan respon Ruri.
"Aku sudah membunuhnya. Tenang saja, aku sudah menguburnya dengan layak" Jawab Ruri dengan santai.
Jawaban itu terdengar menjengkelkan. Devina merasa ingin marah. "Kenapa?" Tanya Devina sekali lagi.
Ruri berjalan ke arah Devina dan menarik dagu Devija untuk memaksanya melihat wajahnya. "Orang sepertinya tidak pantas hidup lama. Aku membenci orang-orang yang berpura-pura menjadi baik"
Saat itu, Devina untuk pertama kalinya menatap mata seseorang yang menolongnya dari kolam dalam itu. Iris Ruri sungguh unik dan berbeda antara kanan dan kiri.
"Bersenang hatilah karena dia tidak sampai membuatmu seolah kau itu rendah. Berbanggalah pula karena aku membawamu kemari bersama Aosora Arthur. Hanya Aosora Arthur dan Akulah yang bisa menyembuhkanmu" Ucapan Ruri sungguh membuat Devina ketakutan.
Ruri melepaskan dagu Devina setelah melihat Devina berkeringat dingin.
"Tak perlu takut denganku. Aku membawamu kesini karena kau cukup menarik di mataku. Dengan adanya aku disebelahmu, kau akan bisa menggunakan manamu lagi yang tersegel disana. Jangan berkata apapun tentang ini kepada Arthur. Paham?" Ucap Ruri yang diangguki oleh Devina karena refleks dari ketakutannya.
...----------------●●●----------------...
Masih di Negri Gry jantung Arthur terus bergetar untuk membunuh orang. Dia tidak ingin melakukan pekerjaan buruk itu.
Namun, hal mengejutkan terjadi. Kedua mata Arthur, melihat orang yang ada di dalam foto itu sedang memperkosa seorang gadis dengan pakaian kumuh di lorong jalan.
Gadis itu, berteriak kesakitan. Tak ada seorangpun yang mau menolong gadis itu.
"LEPASKAN! TOLONGGG!!! SIAPAPUN!!!" Teriak gadis itu yang nyaring di telinga Arthur.
Arthur menggunakan penutup setengah wajahnya dan.... "Wosh! CRAT!" Arthur menebas kepala pria itu dengan cepat.
"GLUBUGH!"
Kepala pria itu terjatuh dan darah menyiprat di tubuh perempuan itu.
Mata perempuan terbelalak dan dia menjadi diam. Arthur menarik paksa tubuh pria itu yang alat kelaminnya masih masuk disana. Arthur membuang tubuh pria itu.
Mata perempuan itu gemetar melihat Arthur. Arthur berjalan membelakangi perempuan itu dan mengambil kepala pria itu.
Lambang enam pedang yang bersatu di punggung Arthur terlihat jelas di mata perempuan itu. Perempuan itu pingsan setelah melihat lambang tersebut.
Arthur menyadari perbedaan antara Arden dengan Gry. Gry adalah negara bebas yang melegalkan perbudakkan dan wanita disini tidak dihargai sedikit pun.
Arthur sungguh tulus ingin melindungi Devina. Dia tidak ingin Devina mengalami hal seperti itu disini. Arthur juga, sangat mewaspadai Ruri terhadap Devina.
Arthur memasukkan kepala pria itu ke dalam kantung hitam dan kembali ke rumah Ruri.
"Dasar bodoh" Ucap Ruri saat melihat isi kantung itu.
Arthur menunjukkan senyuman polosnya. "Apa? Bukankah kau menyuruhku untuk membunuhnya?" Tanya Arthur.
Devina sudah pingsan di tempat setelah melihat Arthur yang kembali dengan wajah yang sudah terbalur darah.
"Aku memang menyuruhmu untuk membunuhnya. Kau itu, bukan Ambareesh. Kau harus membunuhnya dari dalam. Menghancurkan organnya dan memotong jari kelingking kanannya. Bukan menebas kepalanya seperti memburu hewan liar"
"Bajingan ini memang hewan liar" Sahut Arthur.
Ruri memijat keningnya. "Kau tidak boleh melakukan kesalahan ini lagi Arthur. Kau bisa saja menimbulkan perang antar dua negara. Pria yang kau bunuh ini, memiliki pangkat yang tinggi di Negri Dawn. Shhh sudahlah. Ini upahmu dan mandilah. Bau mu busuk sekali" Ucap Ruri sambil melemparkan satu koin emas kepada Arthur.
Bibir Arthur manyun. "Mangkannya, kalau ngasih perintah itu yang jelas" Omel Arthur sambil keluar dari tempat Ruri berada.
"Ini sungguh berjalan diluar yang tertulis. Harusnya, Arthur muntah-muntah dan memohon di kembalikan di Arden kepadaku. Hah, entahlah apa yang akan terjadi ke depannya kalau gini" Ruri membakar kepala itu dengan sihirnya. Kemudian, dia mengendong Devina dan meletakkannya di kasurnya.
"Arthur sialan" Umpat Ruri sambil menutup hidungnya karena aroma kepala bakar itu.
Hari demi hari mulai berlalu. Ruri setiap hari mulai melakukan terapi terhadap Devina setengah jam perhari untuk memulihkan energi mana Devina yang tersumbat karena sihir asing.
Disaat yang sama pula, Arthur mulai berlatih berbagai sihir yang cukup membahayakan. Termasuk cara Ruri menghancurkan orang tanpa menyentuhnya.
Ruri menggunakan semangka dan apel sebagai media pelatihan Arthur.
Tubuh Arthur mulai berkembang dan rambut biru gelap Arthur perlahan memudar menjadi lebih muda karena terlalu sering menyerap energi sihir Ruri.
Arthur mengikuti wujud siapapun yang berada di dekatnya dan itu adalah sihir yang hampir sama dengan Ruri bedanya, Ruri harus membunuh orang yang akan dia gunakan fisiknya, sedangkan Arthur bersifat seperti parasit yang akan merugikan siapapun berada di dekatnya untuk mendapatkan wujud itu.
Ruri sudah mengetahuinya, namun dia tidak mengatakan hal tersebut kepada Arthur.
Usia Arthur mengijak 20 tahun. Ini adalah tahun ketiga Arthur berada di Negri Gry. Struktur tulang Arthur yang tebal dan keras sedikit membuatnya berbeda dari Aosora yang lainnya.
Arthur memiliki badan yang lebih besar dan tinggi dari Ruri. "Guru, aku sudah membunuh tiga orang ini. Dan aku tidak sengaja membakar persembunyian mereka" Suara Arthur lebih rendah dari sebelumnya.
"Dia sengaja guru" Sela Devina sambil menepuk lengan bahu Arthur yang berbet.
Devina tumbuh menjadi gadis yang lebih periang dan lebih tegas dari sebelumnya. Dia hampir selalu mengulung rambutnya dengan rapi saat menjalankan misi dengan Arthur.
Mulut Arthur mengangah dan dia segera mendekap bibir Devina yang selalu jujur kepada Ruri. "Devina. Itu memang gak sengaja ya!" Ucap Arthur dengan raut memohon kepad Devina.
Devina mengigit tangan Arthur yang menutup mulutnya itu. "Hilih, kau selalu saja ngomong gak sengaja. Jelas-jelas kau sengaja membakar itu, karena kau menghancurkan satu mayatnya kan!" Devina tidak ingin kalah dari Arthur.
Ruri masih saja terlihat seperti seorang berusia 20 tahun.
Ruri menghela napas saat melihat Devina yang selalu menghapit Arthur di lengannya seperti itu. Tentunya, Arthur kesenangan berada di posisi itu.
"Terserah sudah. Ini upah kalian berdua" Ruri memberikan empat koin emas kepada mereka. Ruri selalu memberikan satu koin lebih saat mereka berdua menjalankan misi yang sama.
"Hoh... Terima kasih Guru!" Devina menyikat uang itu.
"Heii... punyaku mana?" Arthur menahan lengan Devina yang mau keluar dari ruangan Ruri.
"Siapa cepat dia yang dapat~" Devina menarik tangannya dari Arthur yang sengaja menyerap mana Devina. "Hei! Hentikan!" Tegas Devina sambil berusaha melepas tangan Arthur di lengannya.
Arthur menarik lengan Devina dengan kencang dan langsung membopong Devina seperti membawa karung. "Arthur Sialan! Aku bisa mati kehabisan mana!!!" Devina memukul punggung Arthur dengan keras.
"Balikin dulu jatahku" Ucap Arthur sambil membawa Devina keluar dari ruangan Ruri.
Devina memasang raut memelas kepada Ruri. Ruri tidak memperdulikannya.
"Dasar bocah" Ucap Ruri sambil memilah dokumen pengajuan yang datang sebagai tempat pembunuh bayaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments