BAB 1 [Tanpa Hubungan]

Ruri memperkenalkan Felix keesokan harinya kepada Devina dan Arthur.

Felix menundukkan kepalanya sepanjang Ruri menjelaskan aturan-aturan yang ada dihadapan mereka bertiga.

Arthur terus melihati Felix karena dia pernah merasa bertemu dengannya di suatu tempat. Felix merasa menciut disana.

"Dia mirip dengan perempuan gila disebelahku ini guru" Bisik Arthur kepada Ruri. Karena Felix menundukkan kepalanya terus.

"Hah?! Apanya! Aku tidak pernah begitu." Devina mendengarnya.

"Hih, ipinyi? Iki tik pirnih bigiti" Arthur mengejeknya sambil memberi raut yang bibirnya turun ke bawah dan mengerakkan jari-jarinya menyerupai gerak bibir.

"TUAK!" Ruri menghantam tengkuk Arthur agar diam.

"Felix, tak perlu kau pedulikan dan jangan pernah dimasukkan ke hati uc-"

"Dimasukkan ke usus juga boleh" Sahut Arthur.

"Anj...." Ruri hampir berkata kasar.

"Ya. Intinya, kalau Arthur ataupun Devina mengatakan sesuatu hal yang membuatmu sakit hati, serang saja mereka berdua. Aku ikhlas" Lanjut Ruri sambil menunjukkan senyuman lebarnya.

Arthur mengembungkan kedua pipinya seolah dia memberi mimik mau muntah.

Felix mengosok tengkuknya.

"Sebenarnya, saya agak terkejut dengan kepribadian Anda, Aosora Arthur" Ucap Felix.

Mata Arthur terbelalak dengan lebar. Dia sudah lama namanya tidak disebutkan dengan lengkap seperti itu. Tatapan Arthur tiba-tiba berubah dengan drastis.

"Dia siapa Guru? Darimana dia berasal? Bagaimana dia bisa tau namaku? Dan darimana kau menemukan dia?" Arthur melemparkan begitu banyak pertanyaan kepada Ruri sambil menatap Felix yang duduk di tempat yang berhadapan dengannya.

Felix tidak berani melihat Arthur balik.

"Aa..aku, pernah bertemu denganmu... 6 tahun yang lalu" Felix menjawab dengan sendirinya. Felix keringat dingin.

"Enam tahun yang lalu? Tidak mungkin. Aku tidak pernah keluar dari Istana. Apa kau kiriman Titisan?" Tanya Arthur kepada Felix tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Felix menoleh ke arah Arthur. "Aku bukan salah satu dari mereka. Gry adalah negri tempatku berasal. Aku tidak menyangka kalau kau punya gaya bicara yang buruk dan tidak mencerminkan bahwa kau seorang-Syungg!" Arthur tiba-tiba mengeluarkan mata pedang mananya tanpa dia pegang.

Pedang mana ungu itu, mengarah tepat di mata Felix.

"Kau sendiri, tidak menunjukkan kesopananmu saat berbicara dengan orang lain, dalam keadaan menutup sebagian wajahmu dengan kain itu" Jawab Arthur.

"Gry adalah Negri tanpa aturan. Kesopanan atau ketidaksopanan di Arden tidak akan berpengaruh di Negri bebas ini. Di negri ini, hanya mengenal bagaimana cara berbicara untuk menghormati satu sama lain"

Ruri terdiam di tempat dan menganalisa dengan apa yang terjadi di hadapannya. "Seharusnya, mereka berdua akan langsung menjadi dekat saat pertama kali bertemu. Apa aku sudah salah di titik tertentu?" Batin Ruri sambil melihat dua orang itu.

Felix tidak terpengaruh sedikitpun dengan pedang mana Arthur yang menyerap mananya.

Sedari awal, Felix memang tak bisa mengeluarkan mana miliknya.

"Aku selalu mengagumimu selama enam tahun ini. Dan kau sungguh melukai ekspetasiku" Ucap Felix.

Arthur langsung diam seribu bahasa.

Devina tidak nyaman berada diantara kecanggungan itu. Dia berdehem sambil memberikan beberapa lauk pada piring Felix.

Arthur dan Felix melihat Devina secara bersamaan. Ruri menikmati pemandangan apa yang akan terjadi.

"Makanlah, kalian terlalu tegang" Devina tiba-tiba menjadi kikuk.

"Brak!" Arthur tiba-tiba berdiri dan mendorong kursinya dengan rapi di tempatnya seperti semula.

"Kau mau kemana?" Tanya Devina kepada Arthur.

Saat itu, Arthur tanpa sadar memberikan raut kesalnya kepada Devina. "Keluar. PATSH!" Arthur menghilang begitu saja.

Felix berdiri dari duduknya. "Tuan, saya sungguh berterima kasih kepada Anda. Saya akan datang kemari di waktu seperti yang telah di janjikan" Ucap Felix sambil membungkuk.

"Jam tujuh pagi. Kau harus sarapan disini" Ucap Ruri kepada Felix.

Felix mengangguk dan keluar dari rumah itu.

Devina melihat ke arah Ruri. "Guru, apa mereka keluar karena aku?" Tanya Devina.

"Tidak juga. Tapi, kalau Arthur entahlah" Jawab Ruri sambil menyantap makanannya dengan nikmat.

Devina terlihat khawatir.

"Habiskan makananmu lalu tidurlah dan jangan cari Arthur" Ruri memberikan beberapa sayuran yang Devina suka.

Devina terlihat sedih. Dia memakan makanannya hingga habis. Ruri memperhatikan Devina yang mencuci piring hingga menyapu ruangan itu.

"Jarang sekali dia serajin ini" Batin Ruri sambil memakan apelnya dan terus memperhatikan Devina.

Devina melihat ke arah Ruri. "Guru.... bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Devina.

"Gak"

"Apa aku terlihat menjengkelkan?" Devina tidak mendengarkan jawaban Ruri.

"Kau cantik, kau selamat" Singkat Ruri.

Devina sungguh tak mengerti bagaimana cara pikir Gurunya itu. Devina duduk di sebelah Ruri dan bertanya sekali lagi.

"Guru! Tolong jawablah dengan benar. Apa aku menjengkelkan?" Tanya Devina.

Ruri melihat ke arah lain. Dia enggan menjawab.

"Guru!" Panggil Devina sekali lagi sambil memijat lengan Ruri.

Ruri mendesis dan mengosok tengkuknya sendiri. "Kau menjengkelkan saat kau berteriak-teriak setiap hari" Jawab Ruri.

Devina langsung diam.

"Ah, begitu ya? Apa hanya itu saja?" Nada bicara Devina tiba-tiba turun.

Ruri sadar dia sudah menyakiti hati seorang gadis berusia 20 tahun itu.

"Pijat lebih keras lagi" Ucap Ruri sambil menunjuk bahunya.

Devina mendekatkan kursinya dan langsung memijat tempat yang ditunjuk oleh Ruri. Ruri menelengkan kepalanya ke kanan. "Agak turun lagi...nah.." Ucap Ruri sambil sedikit memejamkan matanya.

"Jadi, apa jawabannya Guru?" Tanya Devina.

"Ya..., coba berhentilah meladeni apapun yang Arthur lakukan"

Ucapan Ruri membuat Devina tak bisa tidur.

Pintu kamar terbuka dan Devina segera memejamkan matanya.

Arthur yang berniat untuk naik di kasur tingkat yang berada di atas ranjang Devina berhenti sejenak saat melihat Devina yang tak memakai selimut. Dia menyelimutinya kemudian naik ke atas.

Sungguh tak ada suara setelah Arthur naik di ranjangnya. Devina membuka matanya perlahan lalu menghadapkan dirinya ke arah tembok. Pikirannya bercampur aduk disana.

"Aaarggh! Ayolah! Kau sendiri yang bertanya dan sekarang, kau malah seperti ini!" Tegas batin Devina yang masih bisa di dengar oleh Ruri.

Devina mengkernyitkan keningnya. "Apa Arthur merasa jijik denganku karena itu?" Devina terus bertarung dengan pikirannya.

Hingga, di Pagi hari Devina terbangun dalam keadaan matanya yang bengkak.

"UWOGH! Kau habis ngapain?" Tanya Arthur saat dirinya beres-beres dapur.

Devina tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Arthur terdiam sejenak. Dia melihat ke arah Ruri yang sedang minum teh sembari membaca dokumennya. Ruri mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tau.

Arthur sungguh menunggu Devina keluar dari kamar mandi.

"Devina, setelah ini apa kau tidak sib...buk?"

Devina sungguh mengabaikan Arthur.

"Hei!" Arthur mengikuti langkah Devina hingga masuk di kamarnya.

"Kau kenapa marah? Aku salah apa?" Tanya Arthur yang sungguh-sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Aku tidak marah. Keluarlah" Ucap Devina sambil mengeringkan rambutnya.

Arthur tidak mempercayai itu. Devina bahkan tidak melihat wajahnya.

"Aku minta maaf ya, jadi tolong jangan marah" Ucap Arthur di sebelah Devina sambil mengintip wajah Devina.

Devina mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya."Sudah, keluarlah Arthur. Aku mau ganti pakaian" Ucap Devina di hadapan cermin.

Arthur termangun sejenak. "Apa kau lagi mens?" Tanya Arthur dengan ceplas-ceplos.

Devina melihat ke arah Arthur dengan keadaan kening yang berkerut. "Kan. Kau sedang marah padaku. Apa karena tadi malam? Maafkan aku ya.." Ucap Arthur dengan lembut sambil memegang kedua bahu Devina.

"Cih!" Devina mendecih kepada Arthur.

"Sudah ku katakan aku tidak marah. Pergilah dari sini. Aku mau ganti pakaian!" Tegas Devina sambil mendorong Arthur hingga keluar kamar.

Arthur berkedip-kedip beberapa kali setelah berada di luar kamarnya. "Dia sungguhan marah" Ucap Arthur sambil menutupi kedua telingannya.

Ruri melihat Arthur yang mondar-mandir dan bingung untuk mengetuk pintu atau tidak.

"Apa-apaan kau ini?" Ruri pusing melihatnya.

Arthur berjalan ke arah Ruri dan langsung duduk disebelahnya. "Guru. Apa Devina tidak mengatakan hal-hal aneh kepadamu tadi malam?" Tanya Arthur dengan khawatir.

"Pikirkan sendiri" Ruri engan menjawabnya karena sebagian besar masalah Arthur dengan Devina adalah hasil kejujurannya.

Devina keluar dari kamarnya dan langsung berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Arthur yang melihatnya, dia langsung membuntuti Devina.

Devina mengambil pisau dan mulai membersihkan ikan yang sudah Ruri siapkan. Arthur berdiri di belakang Devina dan dia meletakkan dagunya di atas kepala Devina.

"Tuan Putri, tolong maafkan penjahat kecil ini" Ucap Arthur sambil memegang kedua bahu Devina.

"Bersihkan bawangnya" Jawab Devina.

Bibir Arthur manyun dan menurunkan dagunya pada bahu kanan Devina. Itu membuat Arthur membungkukkan tubuhnya.

"Bilang dulu ku maafin" Pinta Arthur.

"Aku lagi pegang pisau, Arthur" Ancam Devina.

Arthur kembali berdiri dengan benar dan dia kini malah memeluk pinggang Devina. "Anda tau, pedang saja tidak bisa membunuhku. Apa lagi dengan pisau itu" Ucap Arthur dengan nadanya yang sopan.

Arthur kembali meletakkan dagunya di kepala Devina.

"Apa yang dilakukan bocah itu?" Tanya Ruri dengan lirih saat melihat Arthur yang bertingkah manja seperti itu kepada Devina yang sudah jelas apabila keduanya tidak sedang menjalin hubungan.

Devina menodongkan pisaunya ke wajah Arthur dan dia melepaskan salah satu tangan Arthur di pinggangnya.

"Kalau tidak marah, kenapa kau begini?" Tanya Arthur sambil menempelkan pipinya pada pipi Devina.

"Guru..., tidak bisakah kau menyuruh muridmu ini menjauh dariku?" Tanya Devina yang sudah berkeringat dingin karena skinship yang dilakukan Arthur.

"Aku sibuk" Jawab Ruri dengan santainya sambil melihat arloginya masih pukul 05.25.

Perlahan tangan Arthur mendekap Devina dengan nyaman. "Tolong jangan marah padaku ya. Aku minta maaf kalau kau merasa tersinggung malam itu" Ucap Arthur dengan tulus.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!