Felix datang dan ikut dalam sarapan bersama mereka bertiga. Dia memperhatikan Arthur yang terus melihat ke arah Devina dan bahkan dia terlihat tidak enak makan.
Ruri memperhatikan Felix dari jarak dia duduk.
"Perkembangan karakter Felix sungguh berpengaruh dengan kemajuan alur yang akan terjadi. Bagaimana caraku untuk mengembalikan ini semua?" Batin Ruri sambil melahap makanannya.
Usai sarapan, Ruri memberikan misi pertama kepada Felix. "Cari data orang ini. Bisakan?" Tanya Ruri sambil memberikan foto dan sedikit alamat dan ciri khas yang tertera tentang orang di dalam foto bernama Eslux.
Felix membaca data itu, kemudian dia melihat Ruri.
"Apa yang kau bingungkan?" Tanya Ruri.
"Bukankah, Anda mengatakan tugas saya mencari tikus?" Felix sampai membawa beberapa alat untuk menangkap 'tikus' yang katakan Ruri.
"PFFT! PUAHAHA!" Arthur tertawa dengan kencang dan melupakan Devina begitu saja.
Dia menepuk bahu Felix beberapa kali sambil mengusap air matanya. "Guru, kau sungguh menggunakan kata tikus untuk target selanjutnya?" Tanya Arthur setelah menyelesaikan tawanya.
Felix melihat ke arah Arthur sambil bertanya lirih "Target?" Felix tidak membaca kontrak itu secara menyeluruh.
"Kau diam Arthur. Biar aku yang menjelaskannya" Devina mengambil alih.
Bibir Arthur manyun saat dirinya didorong untuk menjauh oleh Devina.
"Jadi Felix, maksud kata tikus itu adalah orang yang masuk ke dalam Negri Gry yang berasal dari Fall dan Dawn. Mereka yang menjadi 'target' biasanya datang ke Negri Gry untuk menjajah dan menyebabkan perang semakin panas" Jelas Devina.
Mata Felix bergetar. "A... Apa kalian teroris?" Tanya Felix dengan ragu.
"Tidak. Kami bekerja dibawah persetujuan Kekaisaran Gry. Kita bekerja di balik bayang" Sambung Ruri.
"Data-data yang berada di mejaku semuanya berasal dari Kekaisaran Gry. Kita dilindungi secara khusus oleh mereka" Jelas Ruri sekali lagi.
Arthur dan Felix sama terkejutnya. "Oh, pantas saja. Kok selama tiga tahun aku berada disini meski sudah membunuh banyak orang tidak ada yang menyebar seperti di koran-koran" Sebenarnya, Arthur menantikan dirinya muncul di koran Kekaisaran.
Ruri dan Devina melihat ke arah Arthur. Mereka berdua sungguh tidak percaya dengan Arthur yang melupakan hal ini dengan cepat.
"Membunuh? Kalian tidak sedang bercandakan? Bukankah itu artinya kalian merenggut nyawa orang lain?" Tanya Felix sekali lagi.
Wajah Felix sungguh pucat.
Ruri sangat mengingat kalimat itu. Dia termangun sejenak dan membiarkan Arthur dan Devina menjawab semua pertanyaan Felix untuk meyakinkannya.
"Seharusnya, Felix menggunakan kalimat bentakkan dan dia mencoba menghajar Ruri meski mustahil untuk menolong Arthur, serta berakhir dimana kaki kiri Felix patah dan Ruri mengurungnya selama seminggu tanpa memberinya makan-minum"
"Di novel yang sebenarnya, Arthur memberi makan dia diam-diam dan Ruri mengetahuinya, kemudian menyiksa Arthur dengan keras. Ruri juga menggunakan sihirnya untuk memotong pangkal sayap Arthur karena kebenciannya terhadap wujud Luciel"
Ruri meletakkan jari telunjukknya di bibirnya dan sedikit mengigit kulit jarinya. "Membawa Devina sungguh memberi pengaruh besar terhadap perkembangan mental Arthur. Apa dengan seperti ini, mereka (Arthur dan Felix) Sungguh bisa mengalahkannya?" Ruri menjadi khawatir. Dia kembali memijat keningnya.
"Oh, begitukah? Apa keluargaku yang lain juga akan terlindungi?" Felix mengkhawatirkan Neneknya.
Devina dan Arthur mengangguk bersamaan meski mereka tak tau apakah itu benar atau salah.
"Untuk hari pertama hingga hari ke tujuh, Arthur bimbinglah Felix dan perhatikan langkahmu karena Felix tak bisa sihir. Kalau dia terluka, dia tidak bisa menerima pengobatanmu" Jelas Ruri sekali lagi.
Lagi-lagi Arthur melihat Felix seperti melihat Devina. Namun, kali ini dia teringat dengan nama yang sudah tak pernah dia dengar lagi. Arnold. Itu adalah nama seorang Iblis yang tidak bisa menyembuhkan diringa dengan sihir meski dia ahli strategi dan serangan sihir yang kuat.
Arthur melihat Felix dengan wajah ibanya tanpa dia sadari.
"Aku tidak butuh rasa kasihan mu" Ucap Felix kepada Arthur. Kemudian, dia melihat Ruri dan membungkuk dengan sopan "Tuan, saya berangkat" Ucap Felix sambil berjalan terlebih dahulu melewati Arthur.
Arthur melihat ke arah Ruri. "Jangan sampai dia terluka" Ucap Ruri. Arthur mengangguk.
Dia memperhatikan bagaimana langkah Felix. Felix sungguh cepat berbaur dan langsung masuk ke dalam kerumunan milik targetnya itu.
Mulut Arthur mengagah lebar dan dia menahan bahu Felix. "Hei, jangan...."
"Felix! Kenapa kau datang pagi sekali?!" Seorang pria bertopi tiba-tiba mendatanginya.
"Haha iya Tuan, itu karena aku sudah menyelesaikan semua tugasku" Jawab Felix sambil menepuk tangan Arthur di bahunya.
Arthur melihat wajah orang itu. Dia adalah target Felix hari ini. "Gila, dia bisa setenang ini pada targetnya" Batin Arthur.
"Lalu, siapa yang dibelakangmu ini?" Pria itu melihat Arthur. Dia baru pertama kalinya melihat sosok berambut biru di Gry.
"Saya dengar kemarin Anda sedang mencari tenaga tambahan"
Pria itu mengangguk beberapa kali kemudian dia berbisik kepada Felix. "Apa... dia orang Arden?" Lirih pria itu.
Arthur meringis tipis. "Ayah saya dari Arden" Jawab Arthur.
"Haha!" Pria itu tertawa. Dan dia tiba-tiba datang ke arah Arthur sambil memukul punggung Arthur. "Santai saja nak. Aku juga berasal dari Arden. Baru dua tahun ini sih aku pindah. Kau mau ku bayar berapa?" Pria itu menyeringai di sebelah Arthur.
Arthur menyadari adanya sesuatu yang tersembunyi di kalimat itu. "Aku berada disini karena Felix menawarkan pekerjaan. Aku tidak ingin berada di kubumu" Lirih Arthur sambil menepuk pelan bahu pria itu.
Pria itu sungguh terkejut karena pemuda yang baru dia temukan ini paham dengan ucapannya. Sontak Pria yang bernama samaran Dlynt itu menjaga jarak dengan Arthur.
"Ya. Aku tidak akan menawarinya dua kali. Berbicara tentang Arden, apa Ayahmu itu masih kerabat jauh salah satu keluarga Kerajaan? Aroma manamu kuat sekali. Aku pusing berada di sebelahmu. Untuk selanjutnya, biar Felix yang menjelaskannya" Pria itu meninggalkan Arthur dan Felix sambil memegang keningnya karena Arthur menguras mananya perlahan namun kuat.
Arthur langsung mengikuti Felix. Banyak pertanyaan yang ingin Arthur tanyakan pada Felix.
"Aku sudah bekerja disini sejak dua tahun yang lalu. Dimana, dia baru membangun cafe ini" Felix mengatakan sebelum Arthur menjawab.
"Tunggu. Apa kau sungguh akan bekerja sama dengan kami? Bukankah, kau lebih mengenali dia daripada kami yang baru bertemu denganmu?" Tanya Arthur.
"Aku percaya kepada intingku. Jadi, tolong arahanmu" Ucap Felix sambil membuka pintu menuju ruang karyawan.
Aroma bahan makanan sungguh tercium kuat dan manis.
Felix memberikan celemek dan kemeja putih untuj Arthur kenakan.
"Tidak bisakah aku menggunakan penutup muka?"
"Ha? Kalau begitu, mereka akan takut dan kau akan ketahuan" Ucap Felix.
"Lalu, kau juga menggunakan scarf wajah sepanjang waktu. Kenapa aku tidak boleh?" Tanya Arthur dengan berbisik.
Felix memegang scarf segitiga yang menutupi sebagian wajah kanannya dan hanya menyisakan mata dan alis kirinya.
"Ya. Ini karena aku istimewa" Jawab Felix sambil meninggalkan Arthur di ruangan itu.
Arthur menggunakan kemeja dan celemek cokelat bergarisnya yang sama dengan Felix. Dia membelakangkan rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Arthur melihat Felix yang mulai bersih-bersih. Dia mengambil kain basah dan mulai mengelap meja-meja di cafe itu.
Pria yang berusia 37 tahun bernama Dlynt itu memberikan salam perpisahan kepada orang-orangnya setelah rapat kecil di cafe itu.
Dia melambaikan tangannya pada Arthur. Felix menepuk bahu Arthur untuk datang padanya.
"Siapa namamu tadi?" Tanyanya.
"Arthur"
"Margamu?"
"Pentingkah?" Tanya balik Arthur.
"Tidak juga. Sebenarnya, warna rambutmu itu menarik perhatian teman-temanku yang berasal dari Arden. Mereka mengira kalau kau Aosora yang hilang tiga tahun yang lalu" Lirih Dlynt.
"Lalu?"
"Bukankah kalau dalam masa pencarian melewati satu tahun itu artinya dia sudah mati. Apa kau tidak tertarik untuk menyamar sebagai dia? Kau memiliki warna rambut yang sama dengan yang mereka deskripsikan. Begitu juga dengan warna irismu"
Arthur langsung berkaca.
Rambut biru gelapnya kembali. Begitu juga dengan warna irisnya. "Sial, kenapa harus sekarang??" Arthur segera melihat Dlynt kembali agar tidak semakin mencurigainya.
"Berapa uang yang akan ku dapat?"
Pria itu tersenyum lebar.
"Ku dengar, mereka akan memberi siapapun yang berhasil membawa Pangeran Aosora itu kembali sebanyak 1000 koin emas. Bagaimana kalau 50-50 denganku itu juga tidak termasuk biaya transportasimu?" Pria itu mengiring Arthur dengan pelan dan dia terlihat tiba-tiba bersahabat di mata Felix.
"Apa yang mereka obrolkan?" Lirih Felix sambil melayani tamu yang baru datang.
"Memangnya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk transportasi dari sini kesana?"
"Um... Mungkin sekitar 250 sampai 330 koin emas" Dia berfikir Arthur adalah orang bodoh.
"Ah, saya memiliki seseorang yang harus saya jaga. Itupun tiga orang. 330×3 berarti 990. Bukankah itu tidak cukup?" Tanya Arthur.
"Sudahlah. Kalau kau berpura-pura menjadi Pangeran Aosora, hidupmu akan lebih nyaman daripada disini"
"Aku lebih nyaman disini" Batin Arthur.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa meninggalkan dua keluarga saya" Ucap Arthur sambil membungkuk.
Dlynt merasa di tatap di suatu tempat. Mata Dlynt tiba-tiba tertuju pada Felix yang memberi tatapan tajam padanya. Dia belum pernah melihat Felix dengan raut itu. Dlynt langsung tertawa kaku dan menegakkan Arthur yang mrmbungkuk.
"Haha, dasar kau ini. Aku hanya bercanda. Jangan di bawa serius" Ucap Dlynt dan segera meninggalkan Arthur.
Felix telah usai menuliskan pesanan pelanggan. "Apa yang dia bicarakan denganmu?" Lirih Felix.
"Apa wajahku berbeda dengan waktu aku masih remaja?" Tanya Arthur pada Felix.
"Pertanyaan macam apa itu?" Felix tidak menduga dia akan mendengar ini.
"Lupakan saja" Jawab Arthur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments