BAB 1 [Tertangkap]

Ruri sungguh berhati-hati dengan sihirnya saat memasuki Aosora. Dia bahkan hampir tak menggunakan sihirnya untuk perlahanan menuju tempat Arthur.

Ruri, Devina, dan Gradenia saat ini tengah menantau Arthur dan Felix yang berjalan ke Barat (Tempat Istana Aosora berada.

Gradenia terus berbisik kepada Ruri. "Apa kau senang sudah bertemu dengannya sekarang?" Yang dimaksud oleh Gradenia adalah Arthur.

"Tentu saja" Jawab Ruri.

"Menurutmu, siapa yang berada di Istana itu sekarang?" Tsnya Gradenia lagi.

"Yang jelas, dia bukan Aosora Aiden" Jawab Ruri sambil menutup mulut Gradenia dengan tangannya.

"Dan yang jelas, bukan Ryan juga yang berada disana. Ryan saat ini berada di Gry. Aku sudah memastikan itu. Apa dia yang menyamar menjadi Arthur itu adalah side character yang tak dimasukkan oleh Luna?" Batin Ruri.

"Guru, sepertinya, Arthur bertikai dengan penjaga disana" Ucap Devina dengan lirih.

Sontak, Ruri langsung melihat ke arah yang di tunjuk Devina.

"Pengemis seperti kalian, di larang masuk" Ucap penjaga itu yang memancing emosi Arthur.

"Pengemis?" Tanya Arthur sambil melihat penampilannya dan penampilan Felix yang bahkan terlihat lebih baik dari rakyat Aosora.

Arthur membuka tudung jubahnya. "Aku tidak ingat dengan wajahmu. Kau pasti prajurit baru disini" Ucap Arthur.

Felix membelalakan matanya saat melihat rambut Arthur yang kembali berubah menjadi biru gelap. Felix segera memasang tudung jubah Arthur kembali.

Prajurit itu menunjukkan tatapan rendahnya kepada Arthur. "Aku memang prajurit baru, apa kau iri dengan posisiku?"

Mendengar ucapan itu, alis kanan dan ujung bibir Arthur berkedut. "Akan ku ingat wajahmu" Arthur sungguh ingin membuang prajurit seperti dia jauh-jauh ke laut.

Arthur membawa Felix berjalan menjauhi prajurit itu. "Kita lewat jalan belakang saja" Ucap Arthur sambil membuka tudung jubahnya karena panas.

Felix mempercepat jalannya dan dia berusaha memberitahu Arthur tentang warna rambutnya. Namun, Felix selalu tidak sempat karena Arthur selalu membawanya bersembunyi dan menyuruhnya untuk terus diam.

Arthur sungguh tak menyangka area belakang Istana Aosora telah di tumbuhi oleh tanaman sihir yang berduri dan beracun.

"Sial. Bagaimana lewatnya?" Lirih Arthur sambil melihat ke arah lain untuk jalan masuknya.

"Hahaha, sudah ku duga kalau kau akan dia tolak...." Dari kejauhan terdengar suara seseorang yang sedang bercengkrama.

Arthur mengintipnya. Disana ada dua pria yang mengenakan seragam khusus prajurit Aosora.

Arthur dan Felix saling melihat. Mereka mengangguk bersamaan karena mereka berdua kini sepemikiran.

Arthur dan Felix menunggu dua prajurit itu melewatinya kemudian. "TEP! DAGGH!" Mereka berdua melangkah bersamaan sambil memukul tengkuk dua prajurit itu hingga pingsan.

Felix dan Arthur menyeret dua prajurit itu ke arah pepohonan. Mereka berdua mulai mengenakan seragam prajurit itu.

Arthur melihat celana hitam milik prajurit yang mereka serang. Celana itu sungguh ketat dan bentuk paha Arthur yang besar terlihat dengan jelas.

Arthur menarik celana bagian selangkangannya. "Sialan, kenapa menganggu se..ka..li" Ucap Arthur sambil berjalan dan membenarkan celana yang dia kenakan.

Celana yang di kenakan Felix sebenarnya, sama ketatnya dengan Arthur. Meski begitu, celana yang Felix kenakan jauh lebih nyaman daripada milik Arthur.

Arthur membelakangkan rambutnya dan saat itu, dia tersadar apabila warna rambutnya kembali menjadi biru gelap.

"Aduh, kenapa harus sekarang?" Lirih Arthur

Felix ikutan membelakangkan model rambutnya namun Arthur menyuruh Felix untuk mengenakan kain hitam yang Arthur bawa untuk menutup rambut Felix yang mencolok.

Felix menurut saja dengan Arthur.

Dari kejauhan Ruri hanya bisa mengeleng. "Apa menurut mereka, tak akan ada orang yang mengenalinya?" Lirih Ruri.

Arthur dan Felix masuk dengan mudah karena mengikuti rombongan prajurit lain yang mengenakan seragam yang sama dengan mereka berdua.

Prajurit itu sungguh tak peduli dengan kanan kiri ataupun rekan mereka. Tatapan mereka semua memiliki pandangan mata yang kosong.

Arthur membawa Felix berbelok saat mereka semua berjalan lurus.

Mereka berdua segera menyusuri istana itu untuk mencari keberadaan Peniru Arthur. Sayangnya, mereka berdua tertangkap terlebih dahulu oleh seorang pria berambut kelabu dengan iris mata berwarna biru gelap itu.

Tubuh Arthur dan Felix tidak dapat bergerak karena sihir itu.

"Cih! Kenapa selalu saja begin-" Belum usai Arthur memaki, dia langsung berhenti bicara saat melihat sosok pria itu.

Kedua mata pria itu membulat lebar. "Arthur?" Dia adalah Ambareesh. Yang saat ini, tengah menjalin sebuah perjanjian dengan Aosora demi akses para Titisan.

Arthur langsung memalingkan wajahnya.

Ambareesh mendekati Arthur untuk meyakinkan dirinya.

"Kau yang tadi pagi itu bukan?" Tanya Ambareesh sambil menurunkan poni Arthur.

Arthur mendonggakkan kepalanya dan dia menunjukkan senyuman lebarnya. "Anda salah orang" Jawab Arthur.

Ambareesh menarik pakaian prajurit yang memiliki kera hingga menutup leher Arthur. Kancing seragam itu langsung terlepas. Tanda Titisan di dada kiri Arthur terlihat begitu hitam.

Arthur merasa malu. Dia mengigit bibirnya sendiri hingga berdarah. "Apa yang terjadi denganmu?" Ambareesh sangat mengetahui bagaimana tanda Titisan bisa menghitam seperti itu.

Arthur sudah banyak membunuh orang.

Ambareesh tidak berani melepaskan Arthur dan Felix dari sihirnya.

"Lepaskan aku, kau tak perlu peduli lagi denganku. Keberadaanku, tak hanya membahayakan bagimu. Jaga anakmu baik-baik. Aku bersumpah akan kembali padamu kalau aku sudah siap" Ucap Arthur dengan matanya yang mulai berlinang dan melihat Ambareesh dengan tajam.

Kening Ambareesh berkernyit. "Maafkan aku, Arthur. Sayang sekali, kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun. CTACK!" Ambareesh menghilangkan Arthur dan Felix dengan cepat.

Derapan kaki terdengar mendekat.

"TUAN! APA ANDA MELIHAT DUA ORANG ASING LEWAT SINI?!" Derapan kaki itu, berasal dari prajurit yang berlari mencari Arthur dan Felix.

"Tidak" Jawab Ambareesh.

"Kalau Anda menemukannya, tolong tangkap mereka" Para prajurit itu bergegas mencari Arthur dan Felix ke tempat yang lain.

Di luar sana, Ruri dan Arthur yang terhubung, langsung dapat mengetahui apabila Arthur telah tertangkap.

Seringaian tipis terlihat di wajah Ruri.

"Hei Ushi, penyakit psikopatmu kambuh lagi ya???" Gradenia juga merasakan hal yang sama dengan Ruri. Dia langsung mendorong pipi Ruri hingga kuku jarinya membekas disana.

Ruri melihat ke arah Devina. "Dua bocah itu tertangkap" Ucap Ruri.

Jantung Devina seakan berhenti karena kabar itu. "Kalau begitu, aku akan membantu Arthur?" Tanya Devina sebelum dia mulai bertindak.

Ruri melihat Devina sambil menepuk bahunya. "Dia akan aman dan biarkan saja. Selama kau tidak bersamanya, dia akan terus mencarimu" Jawab Ruri.

Devina tak bisa merasa tenang. Di dalam kepalanya masih menjanggal dengan Arthur.

"Ushi, lalu kita akan kemana?" Tanya Gradenia sambil naik ke punggung Ruri.

Ruri turun dari pohon begitu pula dengan Devina.

"Kau mau kemana?" Tanya Ruri.

"Ke Aosora Arthur" Jawab Gradenia.

"Ha...ha" Ruri tertawa. "Tidak bisa, bagaimana ke tempat lain?" Tanya Ruri.

"Ung, baik. Kemana kita pergi?" Gradenia menempelkan pipinya pada leher sisi kanan Ruri.

Ruri melihat ke arah Devina. Dia sungguh khawatir dengan Arthur.

"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi, Devina?" Tanya Ruri.

Devina terlihat kaget dan langsung melihat ke arah Ruri. "Terserah Guru!" Jawab spontan Devina.

Ruri paling benci jawaban terserah dari mulut seorang perenpuan.

"Baiklah, kalau gitu.... kita pulang saja ke penginapan. Aku ingin tidur" Jawab Ruri sambil tersenyum dan menahan Gradenia yang dia bopong.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!