Nama Ashel menjadi tranding topik di laman pencarian setelah Edris, setelah drama itu di luncurkan.
Terdapat satu topik yang berada di urutan paling atas, Ashel Vrid adalah adik dari Edris Nord. Di dalam laman itu, terdapat percakapan antara Edris dengan seorang Reporter di acara bintang muda. Edris mengakui bahwa Ashel adalah adiknya yang berada di desa dan dia baru membawanya kembali untuk sekolah di kota.
Banyak sekali ulasan postif tentang Ashel.
Mereka memuji Ashel saat menjadi teman pembully tokoh antagonis. Dimana Ashel memberikan ekspresi yang lancar. Terutama perubahan ekspresi dari senang, sedih, ke marah.
Banyak dari merek yang menggunakan beberapa scene Ashel saat berperan menjadi pembully di jadikan konten di media sosial fans.
Undangan dari agensi mulai berdatangan di kediaman Edris untuk Ashel.
Edris merasa bangga terhadap adik angkatnya itu.
"Mending masuk di agensi yang sama denganku" Ucap Edris sambil memberikan undangan dengan logo Bintang dan terdapat huruf A di tengahnya. Agensi Edris bernama All Star.
All Star telah menciptakan banyak sekali aktor dan seniman berbakat.
"Terserah sudah" Jawab Ashel sambil membaca review kontrak dari undangan tersebut.
Edris tersenyum lebar. Dia mengalungkan lengannya pada bahu Ashel. "Jadi, dua minggu lagi pendaftara SMA-mu akan di mulai-kan?" Tanya Edris sambil membawa Ashel ke kamarnya.
"Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin, agar dapat skor yang bagus" Edris sudah banyak memberikan Ashel apapun. Termasuk, dia memberi bimbingan khusus Ashel untuk menyusul di mata pelajaran yang banyak tertinggal karena perbedaan metode pengajaran antara desa dengan kota.
Edris berhenti sejenak sambil memegang kepalanya yang terasa berat dan sakit.
"Kau kenapa kak?" Tanya Ashel kepada Edris yang tiba-tiba terdiam.
"Kayaknya, aku butuh tidur. Yok, tidur aja" Edris menarik tangan Ashel dan dia memeluk pinggang Ashel seperti biasanya.
Ashel mulai terbiasa dengan kebiasaan Edris. Rasa risih Ashel terhadap Edris perlahan menghilang.
Kepala Edris terasa semakin sakit. Dia mengengam tangan kanan Ashel yang memegang ponselnya saat membaca novel Luna.
"Kenapa kak?" Tanya Ashel kepada Edris.
"Aku gak bisa tidur" Edris tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya.
Ashel menepuk-nepuk kepala Edris seperti yang biasanya dia lakukan pada anak panti yang datang padanya karena sulit tidur.
Edris merasa lebih nyaman saat menerima tepukkan itu. Dia terlihat mulai mengantuk. Ashel terus mengusap kepala Edris yang berpindah di pahanya.
Tangan Edris dengan spontan mengelus kaki Ashel yang berbulu tipis.
"Ashel...." Panggil Edris.
Ashel melihat ke arah Edris yang memanggilnya itu.
"Apa kau tidak merasa jijik denganku?" Tanya Edris sambil mendonggakkan wajahnya melihat Edris.
"Apa yang ku jijikkan dengan orang yang beruang?" Tanya Ashel.
Edris terkekeh.
"Kau tau, aku ingin sekali memelukmu hingga meremukkan tulang-tulangmu. Aku ingin sekali mengurungmu agar hanya aku yang bisa melihatmu. Aku ingin sekali mengigitmu agar aku bisa lebih dekat denganmu. Aku ini, orang aneh Ashel. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa bertahan selama ini berada di dekatku" Ashel tidak paham dengan ucapan Edris.
"Kalau kau butuh orang untuk memelukmu, masih ada aku sebagai adikmu. Kalau kau merasa aneh dengan yang kau lakukan, cari saja seorang kekasih. Mengenai skandal, itu akan menjadi urusan belakangan" Ashel menjawab sesuai dengan apa yang dia terima dari ucapan Edris.
Edris menatap wajah Ashel yang kembali melihat ponselnya. Edris duduk dan mengambil ponsel itu.
"Eh? Tunggu kak. Aku belum selesai bac-Umph"
Hari itu, Ashel sungguh menyadari maksud dari ucapan Edris yang tak dia mengerti dan semua perlakuan yang dia dapatkan dari Edris.
Edris men*ulum bibir Ashel.
Ashel mendorong Edris dengan keras. Dia mengosok bibirnya dengan kasar. Ashel berdiri dari kasur itu.
"Apa yang kau lakukan, sialan?" Tanya Ashel dengan kening yang berkenyit.
Ashel sungguh marah dengan apa yang barusan terjadi.
Edris tidak melihat Ashel sedikitpun. "Kau paham alasanku membawamu, kan?" Tanya Edris sambil membelakangkan rambutnya.
Di dalam hati Edris, dia menyesal dengan apa yang barusan terjadi. Dia sudah lama tidak melihat wajah Ashel yang seperti itu.
"Bajingan, aku akan berpura-pura hal ini tak pernah terjadi. Jadi, jangan membuatku melihat wajah itu selama dua hari" Ashel mengambil ponselnya dan keluar dari kamarnya.
Edris ingin menangis.
Harusnya dia tidak melakukan itu.
Kepala Edris kembali terasa sakit.
"Ashel... Aku minta maaf..." Edris berdiri dan mendatangi Ashel yang baru keluar dari kamar itu.
Kening Ashel berkernyit melihat wajah Edris. "Aku sungguh minta maaf. Tolong jangan marah padak- NYUUUT!!!!" Rasa sakit di kepala Edris semakin menjadi-jadi.
Edris terdiam sambil memegang keningnya.
"Apa lagi ini? Kau mau berakting di dep-/Teshh..." Darah mengalir dari hidung Edris.
Pandangan mata Edris mengkabur dan kepalanya menjadi berat. "SYUUUUNGG!" Edris tak sadarkan diri dan ditangkap oleh Ashel.
Kulit Edris terasa begitu dingin saat lengan Ashel menyentuhnya.
Darah terus mengalir dari hidung Edris. Ashel mulai menghubungi Paman Edris sekaligus Asistennya.
Edris di larikan ke rumah sakit dengan cepat. Ashel menjelaskan Edris yang tiba-tiba mimisan dan tak sadarkan diri itu.
Tes darah mulai di lakukan Edris saat tak sadarkan diri.
Hasil lab keluar dan itu merupakan berita buruk yang terus berulang di kehidupan Ashel. Edris didiagnosa mengidap tumor otak yang dipastikan sekali lagi menggunakan scan otak.
Kaki Ashel terasa lemas mendengar kabar itu.
Paman Edris dapat melihat Ashel yang depresi dengan kondisi Edris.
Ashel melihat wajah Edris yang diberi selang oksigen. Dia mengusap kening Edris dan memeluknya perlahan. "Kak, cepatlah sembuh" Ucap Ashel kepada Edris.
Dua hari kemudian, Edris pulang dari Rumah Sakit. Edris menjadi lebih diam saat mengetahui dia menderita penyakit yang cukup serius.
Dokter memberi saran Edris untuk menjalani operasi pengangkatan tumor itu. Dokter itu juga, mengatakan efek yang terjadi setelah operasi pengangkatan tumor tersebut. 65% Edris tidak akan bisa lagi terjun di dunia peraktingan.
Edris sering sekali terlihat seolah hampir menangis. Ashel selalu ada di sampingnya dan memeluk Edris seperti yang biasanya Edris minta.
"Maafkan aku" Ucap Edris yang menangis di pelukan Ashel.
"Padahal, aku ingin menjadi orang yang enak kau lihat dan jadikan sandaran" Ucap Edris.
"Sudahlah kak. Kau harus segera menjalani operasi itu" Ashel selalu membujuk Edris untuk mempercepat penyembuhannya agar tumor itu tidak semakin memakan Edris.
"Akan aku lakukan kalau kau memang masuk ke dalam SMA-ku"
Ashel berjanji kepada Edris. Dia sungguh berusaha dengan giat untuk masuk di SMA tersebut demi kesembuhan Edris.
Ashel berada di urutan ke lima belas anak yang lolos menggunakan tes nilai dan skor.
Edris mulai menjalani perawatannya perlahan. Ashel selalu ada di sebelahnya untuk memberi dukungan.
Ashel tidak ingin kehilangan orang yang sudab berbaik hati padanya.
Operasi mulai di lakukan oleh Edris saat liburan panjangnya.
Operasi itu berjalan dengan lancar. Ashel tak bisa tidur sepanjang Edris menjalani operasi pengangkatan tumor itu.
Operasi itu, berjalan dengan lancar. Efeknya, Edris menjadi sering lupa dan cara bicara Edris menjadi berkurang.
Ashel sering sekali menangis melihat kondisi itu. Dia selalu tidur dalam keadaan memeluk Edris.
"Ashel...." Edris memanggil Asher dengan nada naik dan turun.
Ashel terbangun tengah malam karena panggilan itu.
"Ada apa kak?" Tanya Ashel sambil mengusap kepala Edris yang mulai tumbuh rambut.
"KAu... tidak MAlu?" Tanya Edris perlahan.
Ashel selalu saja ingin menangis mendengar nada suara itu. Ashel mengecup kening Edris. "Tidurlah kak. Besok, kakak harus rehabilitas agar cepet sembuh" Ucap Ashel sambil menitikkan air matanya dan mendekap Edris agar tertidur.
Edris menjadi perbincangan panas sejak pensinya dari dunia peraktingan dan nama Ashel yang selalu melambung tinggi menutup berita turunnya Edris.
Ashel hanya ingin membuat Edris kembali tertawa.
Edris memiliki ingatan yang pendek karena operasi itu. Dia sering sekali termenung cukup lama untuk mengingat apa yang ingin dia lakukan.
Edris menangis mendatangi Ashel yang selalu di sebelahnya menunggu Edris untuk mengingat tentang apa yang dia lupa.
"Aku tiDAK Bi..sa menGingatNYA" Ucap Edris sambil memeluk Ashel dengan erat.
Ashel yang kini lebih tinggi dari Edris mengusap perlahan punggung kakak angkatnya itu. "Tidak apa-apa Kak. Ayo kita ulangi lagi. Hari ini, kakak mau pesen ayam" Ashel hanya bisa menipu Edris agar Edris tidak patah semangat.
Ashel mulai sibuk dengan karirnya. Edris yang putus sekolah, selalu memutar berulang kali drama yang diperankan oleh Ashel. Semakin hari, Edris semakin depresi dengan kondisi dirinya.
Dia sering sekali terbangun di tengah malam tanpa membangunkan Ashel.
Dia berjalan ke arah dapur seorang diri. Seolah banyak bisikan yang membisik ditelinganya untuk memotong nadinya. Dia tak ingin menyusahkan Ashel yang selalu ada di kondisi terburuknya.
Tangan Ashel meraih tempat Edris tidur. Dia mencari Edris untuk memeluknya. Ashel terbangun saat tersadar apabila Edris tak ada di sebelahnya. Dia langsung duduk dan melihat pintu kamarnya yang terbuka.
Ashel langsung berlari keluar kamarnya untuk mencari Edris.
DEGH!!!
Tubuh Edris terbujur lemas di lantai dan berlumuran darah. "KAK!!!" Ashel berteriak dengan keras dan mengikat tangan kiri Edris yang terus mengucurkan darah agar menghentikan pendarahan itu.
Ashel menelepon ambulan dan paman Edris.
Piyama Ashel penuh dengan darah Edris. Tangan Ashel gemetar dan berkeringat dingin menunggu dokter keluar dari ruang icu. Paman Edris menepuk bahu Ashel untuk tetap sabar menunggu.
Wajah Ashel sungguh pucat. Rambut Ashel yang berantakan sudah tidak dia pedulikan lagi. Banyak reporter yang mulai berdatangan untuk meliput kondisi Edris. Paman Edris mengusir para reporter itu.
Kondisi Edris semakin kritis dan terus menurun.
"Tolonglah kak, jangan menyerah" Batin Ashel sambil menutup wajahnya.
"CKLIK!" Lampu Icu menjadi hijau setelah merah. Dokter keluar setelah dua jam berada di dalam icu.
Edris meninggal karena kehilangan banyak darah.
Ashel terjatuh lemas mendengar kabar itu.
"Tidak. Jangan membohongiku" Ashel kembali bangkit dan menyelonong masuk ke dalam ruang icu.
Tubuh Edris sudah di tutup oleh kain putih. Ashel membukanya. Dia melihat wajah putih pucat Edris yang dingin. Ashel memegang pipi Edris untuk bangun.
"Hei, Kak. Aktingmu bagus sekali. Aku menyerah. Ayo bangunlah" Ucap Ashel sambil meneteskan air matanya.
Bibir Edris yang membiru tidak bisa menipu akal pikiran Ashel.
"Kak... Hei. Aku baru masuk di SMA-mu loh. Katanya mau pamerin aku ke temen-temenmu?" Tanya Ashel sambil memeluk jasad Edris yang mulai kaku.
Paman Edris tak kuasa menahan air matanya karena ucapan Ashel. Paman Edris menarik Ashel dan memeluk Ashel agar tabah.
Ashel menangis dengan keras di pelukan paman Edris.
Kabar kematian Artis papan atas muda Edris Nord sungguh menguncang berita dalam negeri. Banyak berita hoax tersebar yang menyalahkan Ashel atas kematian Edris.
Berita yang paling buruk mengatakan apabila Edris mati karena tak kuat dengan Ashel yang merebut posisinya terus menerus.
Sekolah yang awalnya menjadi tempat menyenangkan bagi Ashel, mulai menjadi seperti sekolahnya dulu. Ashel mulai di bully oleh teman-temannya yang mempercayai berita hoax itu.
Karir Ashel menurun karena banyak drama yang takut mendapatkan ranting buruk karena rumor tentang Ashel.
Ashel mulai di teror oleh Heatersnya.
Ashel mulai dibawa keluar kota oleh Paman Edris untuk memulai kehidupan barunya.
Latar belakang Ashel mulai keluar ke permukaan.
ASHEL ANAK PANTI
ASHEL TERNYATA BUKAN SAUDARA KANDUNG EDRIS
ASHEL TERNYATA PEMBULLY DI MASA SMPnya.
Ashel sering sekali terluka karena mereka. Luna menghubungi Ashel setelah mendengar berita itu.
"Tak perlu khawatir kak. Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, tentang novelmu.... Aku ucapkan selamat atas tamatnya" Ashel mengalihkan topik itu.
Luna sebenarnya khawatir. Tapi, mendengar Ashel yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan, otomatis dia mengikutinya.
"Ugh, tapi aku cukup sedih dengan matinya Ruriku" Ucap Luna di dalam telpon.
"Bukankah alurnya memang harus semacam itu? Yang baik selalu menang di akhir. Ruri memang terlahir untuk menjalankan tugasnya. Tapi, dia melakukannya dengan cara yang salah. Lalu tentang Aosora Alex, dia memang terlahir sebagai penjahat. Aku tidak menyangka kalau dia mampu memanipulasi segalanya termasuk Ruri dan Daeva, serta Tsuha yang harus terbunuh"
Ashel melihat beberapa orang yang datang ke arah rumahnya sambil membawa jerigen merah besar.
"Ya, meski gitukan,... ini emang alur yang udah gua ama lu buat? Apa perlu gua ubah lagi? Gua kek ngerasa, terlalu kejem ke anak-anak gua (maksudnya karakter buatannya)" Celoteh Luna.
Ashel menyipitkan matanya untuk melihat apa enam orang itu lakukan di depan rumah kecilnya.
Mereka menuangkan jerigen itu yang berisi cairan.
Ashel membuka jendelanya karena dia pikir itu adalah sebuah kejahilan "HEI! KALIAN!" Teriak Ashel yang terbesit mereka akan pergi saat melihat dia berteriak.
Namun, "BLARRRRRR!!!!" Korek api, mereka lemparkan ke arah cairan yang ternyata bahan bakar itu. Api menyambar dengan cepat ke arah rumah Ashel yang terbuat dari kayu. Ashel sangat terkejut dan terburu-buru keluar dari rumahnya.
Asap begitu tebal seolah menelannya hidup-hidup. Ashel menutup hidungnya dengan pakaiannya. Namun, naas baginya. Api itu sudah mengerogoti atap rumahnya.
"KRATAK!"
Ashel menoleh ke langit-langit saat mendengar suara patah itu. "BRAKKKKK!" Tubuh Ashel tertimpa kayu yang terbakar itu.
Ashel segera membuka matanya setelah dia tersadar mencium aroma terbakar.
Pemandangan tempat yang berlubang dan terbakar membuatnya terkejut.
Seolah apa yang terjadi padanya itu adalah mimpi. Ashel mundur perlahan kebelakang dan dirinya terperosok ke dalam genangan air. Namun, punggungnya tersangkut sesuatu. Dia melirik ke sisi kirinya.
Sayap putih terlihat begitu jelas.
Ashel terkejut dan dia terjatuh sungguhan. Dia merasakan adanya benjolan di punggungnya itu.
Dia menyentuhnya.
Itu sayap sungguhan.
Suara petir menyambar begitu keras di hadapannya.
Sosok berjubah putih sejumlah 12 orang muncul begitu saja di hadapannya.
"Luciel, apa yang kau lakukan?! Sang Cahaya murka padamu" Ucap salah seorang dari mereka.
"BHAAHHHH!!!" Ashel membuka matanya untuk kesekian kalinya. Dia langsung duduk dan melihat sekitarnya.
Rumah dari tembok dengan nuansa kayu terlihat jelas di pandangannya. Dia melihat ke sisi kirinya. "Hah..." Ashel membuang napasnya dengan panjang.
"Aku bermimpi tentang kehidupanku di masa lalu. Ruri, sadarlah. Tenangkan pikiranmu"
Ashel telah bermigrasi di Novel milik Luna yang dia baca. Dia tidak bisa menghitung barapa lama telah terjebak di kisah panjang ini.
Ruri keluar dari kamarnya dan melihat Aosora Arthur yang sudah mengenakan pakaian assasinnya.
"Guru, makananmu sudah di meja. Aku akan berangkat. BWOSH!" Pamit Arthur kepada Ruri.
Kening Ruri terasa pening karena mimpi panjangnya. Dia membuka tudung makanan itu.
Telurnya gosong.
"Sudah ku duga" Ucap Ruri sambil menutup tudung saji itu kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments