Ashel menyeringai tipis dan menghela napas ringan. "Katanya yang ini jangan dan yang lain ga papa?~" Tanya bernada Ashel yang membuat perempuan itu terkejut bukan main.
"Anjir! Kau mirip sekali dengan tokoh buatanku" Ceplos perempuan itu.
"Apa?" Ashel sama sekali tak mengerti.
...----------------●●●----------------...
Perempuan itu tiba-tiba tertawa.
"Baiklah siapa namamu dek?" Tanya perempuan itu sambil memakai kacamatanya dan duduk di kursi kasirnya.
"Ashel..." Jawabnya sambil membaca lembar yang dia pegang itu.
Aosora Arthur tampak kebinggungan saat melihat sekitarnya karena suara pria yang bahkan tidak menampakkan wujudnya itu.
"SIALAN! KAU SIAPA?!" Teriak Pangeran berusia 16 tahun itu dengan bibirnya yang bergetar.
"Berapa usiamu?" Bacaan Ashel terjeda oleh perempuan itu.
"14" Jawab Ashel sambil meletakkan lembar itu pada tempatnya.
"Empat beelass?" Perempuan itu tidak percaya karena tinggi badan Ashel.
"Suka baca buku gak?"
"Gak juga" Jawab Ashel dengan jujur.
Wanita itu memberikan raut wajah malasnya. "Lalu kenapa kesini?"
"Penasaran aja. Aku tidak pernah tau ada toko buku di bawah kolong jembatan" Ucapan Ashel menusuk perempuan itu.
Perempuan itu mengusap bibirnya seolah bibirnya sedang keluar darah.
"Ya ya... Karena kau masih bocah aku akan mengampunimu. Sebenarnya, aku sedang butuh seseorang untuk menilai ceritak-"
Perempuan itu melihat Ashel yang berancang pergi. "Hei bocah! Kau mau kemana?!" Perempuan itu langsung berdiri dan menahan ransel hitam Ashel.
Ashel sengaja melakukan itu karena dia tidak ingin berurusan dengan perempuan aneh itu.
"AKOH, akan membayarmu kalau kau membaca ceritakoh!" Perempuan itu ngos-ngosan sambil memegang kaki kirinya yang tersandung pinggiran lemari buku.
Kedua mata Ashel seolah mengeluarkan kilatan. "Berapa banyak uangnya?"
"100.000 perbulan" Jawab perempuan itu.
"100 ribu? Cari orang lain saja" Ucap Ashel sambil menarik tasnya.
"150!" Tawar perempuan itu.
"225" Jawab Ashel.
"Apa 175 sama bantu-bantu di toko juga?" Perempuan itu memasang telinga budeg.
"Aku tidak mengatakan itu" Ucap Ashel.
Wanita itu tersenyum lebar sambil menjabat kedua tangan Ashel. "BAIKLAH! 200.000 PERBULAN. DEAL YA..." Ashel mengosok tengkuknya.
"Terserah. Yang penting dapet cuan" Ashel menyerah dengan perempuan keras kepala itu.
"Baiklah, karena kau sudah deal. Perkenalkan namaku Luna. Kau boleh memanggilku Kak" Ucap perempuan itu sambil menaik-turunkan tangannya yang menjabat Ashel. Hingga, tangan Ashel ikut naik turun.
Ashel membuang pandangannya. "Udah tante-tante masih pengen dipanggil Kak" Lirih Ashel.
"Ahahaha, pengen ku cengkram tuh mulut" Ucap Luna dengan senyum yang kaku.
Mulai sejak itu, Ashel sering membawa lembaran buku itu pulang ke panti asuhan dan tidak berani membawa ke sekolahnya.
Ashel mulai menikmati cerita itu.
"Aku suka dengan gadis bernama Gardenia ini" Ucap Ashel kepada Luna.
"Oh, gadis bodoh yang mencintai Aosora Aiden itu? Haha, lupakan saja. Kalau kau ingin menolongnya, kau harus masuk ke dalam arus deras pertemuan antara air sungai dengan laut di perbatasan Meganstria dengan Shinrin" Ucap Luna sambil tertawa.
Ashel duduk di kursi didekatnya. "Kau kejam sekali" Ucap Ashel sambil mengambil beberapa lembar yang baru.
"Tenanglah, lagipula itu hanyalah sebuah karangan belaka. Kalau berbicara tentang tokoh yang di sukai. Aku sangat suka dengan tokoh Luciel yang menjadi Ruri. Kau tau, dia adalah tokoh yang terkuat. Apabila Aosora Arthur sudah dewasa, dialah yang akan menjadi pengganti Ruri. Wah! ALUR BARU! HAHA! SENANGNYA!"
Luna langsung mengoret-ngoret buku kerangka ceritanya.
Ashel sudah tidak terkejut lagi dengan kebiasaan aneh dan gila dari Luna.
Dua bulan berlalu dengan cepat di kehidupan Ashel menjadi asisten Luna saat dia pulang sekolah.
Luna memberikan amplop gaji Ashel bulan ini. "Terima kasih" Ucap Ashel dan langsung membukanya.
"Eh?! Kau buka langsung?!" Luna begitu terkejut.
"Memangnya kena...pa?" Ashel terkejut dengan jumlah uang di amplop itu. 500.000. itu adalah gaji Ashel bulan ini yang di tambah oleh Luna.
"Kak? Apa kau salah amplop?" Tanya Ashel sambil menunjukkan uangnya.
"Aaa! Bocah sialan! Sudah! Terima saja dan buat beli sepatu baru!" Luna diam-diam memperhatikan Ashel yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri.
Sebenarnya Luna sedikit malu dengan hal itu.
Ashel tersenyum tipis. "Baiklah, berati bulan depan tetep segini ya?" Goda Ashel sambil terkekeh ringan.
"Sudahlah, kembali baca ceritaku. Tuh numpuk di meja" Luna keluar dari tokonya karena ada kebutuhan mendadak.
Ashel menjaga toko di hari itu sambil membaca novel milik Luna yang bertumpuk-tumpuk.
"Sebenarnya, ini novel yang cukup bagus kalau dia bisa mengelolah bahasa dan mempersingkat alur" Lirih Ashel yang membaca lembaran sebanyak itu yang hanya berisi dialog dengan alur lambat dan bertele-tele.
Pukul 8.30 malam. Luna pulang bersama seorang pria. Ashel cukup terkejut melihatnya. Dia belum pernah melihat sekalipun Luna datang bersama seorang pria.
Ashel tidak menyukai pria itu. Pria itu, terlihat seperti pria yang tengah mengincar sesuatu.
Ashel mengambil tasnya untuk pulang. "Ashel, sudah makan?" Tanya Luna saat mendengar Ashel berpamitan.
"Sudah. Besok aku akan telat datang karena ada bimbingan belajar" Ashel menutup pintu toko dan rumah Luna yang menjadi satu.
Dalam perjalanan pulang, banyak imajinasi yang berkeliaran di pikiran Ashel setelah membaca novel yang belum berjudul itu.
Ashel melihat taman kota yang ramai dan terang. Pameran pertujukkan. Dia belum pernah melihat pameran pertujukkan seni seumur hidupnya.
Ashel mempir sebentar ke pameran seni itu.
Lukisan sosok pria bersayap putih dan rambut yang putih membuatnya teringat dengan sosok Luciel yang dideskripsikan oleh Luna di novel itu.
"Apa dengan sayap itu, sungguh bisa membuat seseorang terbang dengan bebas?" Lirih Ashel dan pergi dari tempat pameran itu.
Keesokan hari di sekolah. Ashel mengenakan sepatu barunya. Dia duduk di bangku kelasnya bagian belakang dekat dengan jendela.
Siur bisik mulai dia dengar di kelas itu. Dia menundukkan kepalanya di meja untuk tiduran sebelum bel masuk berbunyi.
Ketua kelas datang sambil menuliskan beberapa topik materi di papan tulis. Ashel membaca perlahan topik-topik disana.
"Kalian buat kelompok sendiri untuk minggu depan. Minggu depan akan ada presentasi untuk ulangan tengah semester"
Ashel memiliki firasat buruk. Dia selalu membenci tugas kelompok. Dan benar saja, tidak ada seorangpun yang mau sekelompok dengannya karena Ashel adalah bocah yatim piatu dari Dinas sosial desa.
Ashel di lempar kesana kemari untuk mendapatkan izin dari kelompok yang akan dia masuki. Ashel sudah kehilangan urat kesabarannya.
Ashel mendatangi ketua kelasnya. "Hei. Aku belum dapat kelompok" Ucap Ashel di depan meja Ketua kelas.
Ketua kelas itu, membelakangkan kacamatanya. "Duduk saja di kelompok yang mau kau masuki itu" ucap ketua kelas itu.
Ashel sungguh ingin melempar kursi yang dia pegang. Dia menarik kursinya dan duduk di golongan meja kelompok ketua kelas itu.
"Tunggu, kenapa duduk disini?" Tanya Ketua Kelas itu.
"Aku ingin masuk di kelompokmu. Jadi, aku duduk disini" Ucap Ashel sambil menunjukkan senyumannya.
Ketua kelas dan kelompoknya itu menjadi diam seketika. Ashel merasa puas dengan dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments