BAB 1 [Kabar Arden]

Saat Dlynt keluar adalah waktu yang bagus bagi Felix menyelesaikan data diri tentang Dlynt. Namun, dia melupakan kamera pengawas yang selalu di perhatikan oleh Dlynt dari jauh.

Mereka ketahuan.

Arthur tidak menyangka sesuatu seperti bolam lampu yang ternyata bolam sihir itu adalah sihir pengawasan.

Dlynt, menangkap Arthur saat Arthur masuk menerobos ruangan pribadunya untuk mencari data bukti kerja sama yang dia lakukan dengan salah satu kubu.

Leher dan lengan Arthur di jerat oleh rantai besi.

Dia melihat kearah Felix. Felix sungguh tidak tau apa-apa.

"Dimana kau mendapatkan bocah ini?" Tanya Dlynt kepada Felix.

"Cih! Apa kau sekarang menganggap dia (Felix) adalah orangku?"

Mata Felix terbelalak.

Dlynt menampar wajah Arthur dengan keras.

Bibir Arthur memuncratkan darahnya karena tamparan itu. "Mana mungkin bocah seperti Felix itu orangmu. Hei, cepat bereskan dia" Ucap Dlynt.

Arthur memberi anggukan kepada Felix. Felix tak paham maksud anggukan itu. Yang jelas, dia membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan Arthur. Dia tidak bisa berjalan seorang diri kalau begini.

Dlynt duduk di hadapan Felix yang menundukkan pandangannya.

"Felix, kau menyayangi nenekmu kan?" Itu adalah sebuah ancaman.

Felix mengangguk.

"Kalau begitu, tutup mulutmu dan terima ini. Aku percaya padamu" Ucap Dlynt sambil berdiri dan menyakukan empat keping koin emas kepada Felix.

Iris Felix bergetar.

Dia sungguh ketakutan.

Jantungnya terus berdebar dengan kencang saat Dlynt meninggalkan kafe itu bersama Arthur yang terantai.

"Bagaimana ini?" Felix melihat jam dinding. Masih empat jam lagi bagi dirinya untuk pulang.

Enam jam bukanlah waktu yang singkat. "Bagaimana kalau Arthur terluka?" Kuku telunjuk kanan Felix mulai melukai ibu jarinya.

Dia panik.

Felix terus memperhatikan detikan jarum jam. Dia tidak fokus pada pekerjaannya hingga menimbulkan banyak masalah dengan salah memberikan pesanan.

...----------------●●●----------------...

Kedua mata Arthur ditutup oleh kain.

"Sebenarnya aku bisa saja kabur, tapi aku butuh dengan markas mereka. Kita nikmati saja" Batin Arthur sambil mengendus area yang dia lewati.

Banyak perbincangan tentang Arden yang dia dengar. Berita yang paling mengejutkan adalah tentang Sosok Kaisar Arden yang kini memiliki seorang putri.

"Kau sudah dengar dengan berita resmi dari Kekaisaran Arden?"

"Apaan dah?"

"Ajudan Yang Mulia Kaisar Archie lusa lalu mengumumkan kalau Putri Kekaisaran sudah lahir"

"HAH?!" Arthur terkejut tak main.

Dia tanpa sadar melepaskan rantai di tangannya sangkin terkejutnya.

Dua orang yang menjaga Arthur lebih terkejut lagi melihat rantai dari besi dan sihir itu bisa terlepas dengan mudah.

Arthur membuka penutup matanya.

"Hei, apa kau tidak berbohong dengan berita itu?" Arthur langsung menyentuh lengan salah satu dari dua penjaga di dalam kereta kuda itu.

Salah satu dari mereka pingsan karena Arthur yang menyerap mananya saat menyentuhnya.

Arthur melihat ke arah penjaga yang satunya.

Dia terlihat ketakutan. "Hei, lanjutkan berita itu. Dengan siapa Archie menikah?"

"Up, ughh. Ja...jangan menyerangku!"

"Ya. Aku berjanji. Lanjutkan" Ucap Arthur.

Penjaga itu mulai bercerita. "Beliau menikah dengan Ratu Nekoma yang beliau temukan dua tahun yang lalu. Dan mereka menikah setelah Ratu Nekoma resmi menjadi penerus Nekoma. Saat ini, Nekoma dan Akaiakuma sudah menjadi satu. Lalu, A.. aku mendapatkan kabar kalau putri Kekaisaran sudah lahir. Dia memiliki rambut putih dengan iris ungu, hanya itu yang ku dengar!" Jelas penjaga itu.

Arthur hampir merinding mendengarnya.

"Serius, bukankah dia bilang dia tak suka dengan bocah? Apa-apaan dia itu, menelan ludahnya sendiri"

"Bagaimana dengan rumor panas lainnya di Arden. Aku penasaran" Ucap Arthur.

"Kenapa aku harus memberi tahumu?!" Tanya tegas penjaga itu.

Arthur mengeluarkan koin emas dari sakunya. "Bagaimana?"

Mata Pria itu langsung berbinar dan menyerobot koin itu dengan cepat. "Baiklah Tuan, rumor apa yang ingin Anda ketahui?" Dia tiba-tiba menjadi santai dan formal kepada Arthur.

"Shinrin" Jawab Arthur.

Penjaga itu tampak terkejut.

"Ah, sudah lama aku tidak mendengar nama itu. Tapi, Shinrin sudah hancur tiga tahun yang lalu"

Mata Arthur terbelalak.

"Sebenarnya, aku tidak tau bagaimana tepatnya Shinrin itu hancur. Yang jelas, wilayah itu sudah menjadi wilayah Aosora"

Arthur tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Shinrin. "Mungkin ini ulah Para Titisan? Aneh sekali, bukankah mereka sudah tidak ingin menimbulkan perang lagi?"

"Aku tidak tau bagaimana tepatnya itu terjadi. Intinya, saat meninggalnya Raja Aosora Bram-"

DEGH!

Jantung Arthur seolah berhenti karena ucapan itu.

"Ada Aosora lain yang mengaku kalau dirinya adalah Aosora Arthur. Kami tidak ingin mengakuinya begitu pula dengan para Titisan karena Aosora Arthur tidaklah berambut biru langit. Melainkan biru gelap"

Arthur merasa seolah dirinya di tekan sesuatu.

"Tuan... Anda baik-baik saja?" Penjaga itu merasakan sensasi kesemutan di sekujur tubuhnya karena sosok dihadapannya itu.

"Bagaimana Aosora Bram tewas?" Arthur bertanya tanpa menatap wajah penjaga itu.

"Ku dengar, tanda kutukan di punggungnya mengerogotinya"

"Apa kau berusaha menipuku?" Tanya Arthur dengan nada suaranya yang dingin.

Penjaga itu terkejut. "Saya tidak membohongi Anda! Aosora Bram memang meninggal tiga tahun yang lalu. Dua bulan setelah hilangnya Aosora Arthur!" Tegasnya.

Kedua tangan Arthur bergetar.

"Lalu, bagaimana ciri-cirinya orang yang mengaku sebagai Aosora Arthur itu?"

"Dia memiliki hidung yang lebih mancung dan telinga Elfnya lebih panjang dari Elf ras hijau"

"Apa dia Guru Ambareesh?"

"Dia memiliki warna iris ice blue dan hampir putih dengan pupil hitam pekat"

"Apa kau pernah bertemu dengannya?"

"Ya! Sekali. Saat itu, dia sungguh menyeramkan. Dia bahkan memiliki aura yang kuat. Kalau kau berada di sebelahnya, berhati-hatilah. Dia membunuhmu tanpa menyentuhmu"

Arthur bertelport kembali ke rumah Ruri setelah dia mendengar semua rumor itu.

Disana sudah ada Felix dan Devina yang melihat ke arahnya.

"ARTHUR SIALAN!!!!" Devina berlari ke arah Arthur dan mendekapnya dengan erat. "Kau membuatku panik!" Tegas Devina sambil mengacak-acak rambut Arthur.

Devina berhenti menyentuh Arthur setelah merasakan suhu tubuh Arthur yang lebih dingin dan berkeringat.

"Hei, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Devina sambil mundur beberapa langkah.

Arthur mendatangi Ruri dan berkata, "Guru, apa kau menyembunyikan sesuatu lagi dariku?!" Arthur sungguh marah kepada Ruri.

Sedangkan Ruri tidak tau apapun.

"Aku menyembunyikan apa lagi?!" Ruri tidak suka mendengar bentakkan. Dia membentak balik Arthur.

Bentakan itu, membuat nyali Arthur menciut.

"Shinrin sudah hancur dan direbut Aosora"

Arthur dapat melihat kedua mata Ruri yang terbelalak lebar. "Jangan bercanda. Aku tau kau ingin kembali ke Arden. Tapi, ini bukanlah cara yang tepat" Ucap Ruri.

"Aku tidak berbohong. Kakakku juga sudah tewas dan ada seseorang yang menyamar menjadi aku" Ucap Arthur sekali lagi.

Ruri melihat selembar kertas yang bernama Ryan disana.

"Ini ada yang tidak beres" Ucap Ruri karena menyadari effect butterfly mulai terjadi.

"Devina, menurutmu apa yang harus di lakukan?" Tanya Ruri kepada Devina.

"Saya harus melihatnya dengan mata kepala saya sendiri" Jawab Devina.

"Kalau begitu, lakukan" Ucap Ruri.

Ruri menoleh kearah Felix. "Kau tidak keberatan ke Arden kan?" Tanya Ruri.

"Bagaimana dengan Arthur dan nenekku"

"Ha? Aku bisa melindungi diriku sendiri" Lirih Arthur dengan bibirnya yang monyong.

"Arthur akan ikut dengan kalian dan nenekmu akan berada di bawah pengawasanku" Ucap Ruri.

"Aku memberi waktu kalian selama satu minggu, lalu kembali lagi ke Arden atau aku akan membuat para Titisan mengalami kelahiran kembali" Ruri memberi peringatan kepada Arthur.

"Terima kasih Guru. Aku tidak ada niatan untuk berada diantara Titisan. Aku sudah memiliki jalanku sendiri" Ucap Arthur.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!