BAB 1 [Ikatan]

Edris sungguh royal kepada Ashel. Dia membelikan Ashel ini dan itu hingga membuat Ashel sengan menolak permintaan Edris.

Ashel mulai merasa aneh dengan Edris sejak Edris pindah tidur di kamarnya. Meski begitu, Ashel membuang pikiran buruknya.

Ashel selalu terbangun dalam keadaan mendekap Edris dan Edris yang memeluk pinggangnya. Itu selalu mengejutkan bagi Ashel. Ashel langsung melepaskan dekapannya dan melepas tangan Edris yang memeluk di pinggangnya.

"Kak..." Ashel membangunkan Edris agar tidak terlambat sekolah.

Bulu mata Ashel yang lentik, sering sekali membuat Ashel kagum

Edris membuka matanya perlahan kemudian tersenyum kepada Ashel. "Selamat Pagi..." Ucap Edris dengan nada suaranya yang sedikit serak sambil mengalungkan kedua tangannya pada pinggang Ashel.

Ashel mengangkat kedua lengannya karena refleks dan segera melepaskan lengan Edris di pinggangnya.

"Apa adik kakak selalu seperti ini? Di panti, aku selalu tidur terpisah jadi tidak tau" Batin Ashel sambil menarik Edris untuk berdiri.

Edris sungguh menempel pada Ashel saat sebelum berangkat ataupun setelah pulang dari sekolah.

Paman Edris datang untuk menyampaikan jadwal harian kepada Edris yang sudah bermalas-malasan selama tiga hari karena kedatangan Ashel.

"Edris, setelah makan nanti, pilih lagi naska drama yang paman pilih untukmu" Ucap Paman Edris.

Edris memberikan potongan ayam kepada Ashel. "Lalu, bagaimana dengan Ashel?" Tanya Edris.

Ashel tidak menyangka apabila Edris sungguhan ingin membuat Ashel menjadi artis.

"Paman sudah mengurusnya. Kita tunggu panggilan atau menunggu adanya kontes untuk tokoh drama yang kurang" Jawab Paman Edris.

"Baiklah~ Ku percayakan pada paman. Nah, Ashel. Gak keberatankan kalau nunggu dulu?" Tanya Edris sambil menunjukkan senyuman lebarnya kepada Ashel.

"Tak perlu terburu-buru. Aku tidak terlalu ingin menjadi artis sepertimu" Jawab Ashel sambil menghabiskan makanannya.

Ashel selalu pulang lebih awal daripada Edris yang selalu pulang petang.

Edris melihat Ashel yang tertawa sambil melihat ponselnya. Dia penasaran. "Apa dia punya kekasih di sekolahnya?" Batin Edris sambil meletakkan dagunya di kepala Ashel yang sedang duduk di sofa.

"Oh, sudah pulang Kak?" Kepribadian Ashel mulai berubah. Ashel lebih ramah kepada Edris berbeda seperti sebelumnya.

"Ya, lagi ngapain? Keknya seru sendiri" Ucap Edris sambil melihat layar ponsel Ashel yang penuh dengan tulisan.

"Ini, lagi baca novelnya Kak Luna" Jawab Ashel sambil menunjukkan layar ponselnya. Edris mengambilnya dan berdiri dengan tegap untuk membacanya.

Aosora Arthur mulai kesal dengan seseorang yang selalu jatuh menimpa punggungnya itu.

"ARRGGH! KAU LAGI! KENAPA KAU SELALU JATUH DI PUNGGUNGKU?!"

Arthur menarik pipi remaja berambut pirang itu. "Uuhh, maa..maafkan aku!" Remaja bermata kuning keemasan itu, berlari dengan cepat dan hilang begitu saja di hadapan Arthur.

"Apes sekali. Andai saja yang jatuh itu gadis. Ini, malah laki-laki. Ah sial! Guru pasti akan marah padaku kalau berlama-lama disini!"

Arthur kembali memakai tudung jubahnya dan dia mulai menyelinap dan menghilang di kegelapan.

Edris melihat ke arah Ashel. "Ini buatan perempuan yang sering kau hubungi itu?" Tanya Edris sambil mengembalikan ponsel Ashel.

"Iya, akhir-akhir ini genrenya berubah menjadi komedi. apa mungkin, Kak Luna sedang dalam mood baik sekarang" Ashel terkekeh sambil mewarnai bagian yang selesai dia baca.

Edris duduk di sebelah Ashel dan menghidupkan televisi 43 inc itu.

"Gimana tadi di sekolah?" Tanya Edris pada Ashel.

"Sama saja" Jawab Ashel.

"Mereka tidak ada yang menganggumu kan?"

"Tidak, kurasa aku cocok dengan sekolah baru ini" Jawab Ashel.

"Udah makan?"

"Sudah. Kau sendiri kak?" Balik tanya Ashel.

"Belum"

"Mau ku beliin di depan?" Tanya Ashel.

Edris mengeleng dan mengambil toples berisi kacang di atas meja. "Akhir-akhir ini aku pusing. Apa mungkin darah rendahku kambuh ya?" Tanya Edris sambil meletakkan kepalanya pada bahu Ashel dan dia mengambil beberapa permen cokelat dari sakunya.

Edris menyuapkan permen itu kepada Ashel.

Sebenarnya, Ashel agak risih. Namun, dia tidak bisa melakukan itu kepada Edris.

Edris kembali pukul 11 malam dan saat itu, Ashel baru saja tertidur karena membaca novel Luna.

Edris perlahan mengambil ponsel itu dan dia tampak kesal dengan hal lain yang membuat Ashel senang selain dirinya. Edris tidur di sebelah Ashel dan memeluk Ashel yang membelakanginya.

Ashel terbangun perlahan karena napas Edris di tengkuknya. Dia berkedip beberapa kali dan melihat kemana tangan Edris berada.

Ashel memindahkan tangan Edris yang memegang pusakanya. Dia bangun dan pergi ke toilet.

Edris tersenyum tipis dan tetap tidur disana.

Pagi hari Ashel terbangun dalam keadaan dirinya yang dipeluk oleh Edris.

Sebenarnya, Ashel muak, dia ingin sekali membanting Edris. Tapi, dia menyukai kehidupan ini.

Ashel membiarkan Edris tertidur dalam posisi itu karena ini akhir pekan. Dia juga mendengarkan keluhan Edris yang mengaku darah rendahnya kambuh.

Ashel membuka ponselnya dan dia lanjut membaca novel Luna dalam keadaan pinggang yang di peluk oleh Edris.

Luciel menawarkan hadiah ulang tahun kepada Aosora Arthur untuk mengabulkan satu keinginannya di usia Arthue yang ke 22 tahun.

"Aku ingin kembali ke Arden. Izinkan itu" Ucap Arthur kepada Ruri.

Luciel bukanlah sosok yang bermurah hati. Dia mengulurkan foto sosok berambut hijau gelap dengan telinga runcing, yakni seorang dari bangsa Elf.

"Aku tak asing dengan orang ini" Lirih Arthur sambil menunjuk tai lalat di bawah garis mata pria dalam foto itu.

Ruri hanya menunggu keputusan Arthur.

"Baiklah, kapan aku harus membunuhnya?"

"Saat setelah sampai di Arden"

Ashel memegang pipinya. "Mungkinkah,... yang akan di bunuh ini si Tsuha?? Yang benar saja?" Tsuha menjadi karakter favorit Ashel setelah Ambareesh yang rela melakukan apapun demi Aosora Arthur.

Edris terbangun setelah mendengar suara Ashel. "Siapa yang mau dibunuh?" Tanya lirih Edris sambil membelakangkan poninya yang maju dan berantakan.

"Oh, bukan. Ini novel yang tadi malam"

Kepala Edris tiba-tiba terasa berat dan pusing. Dia memegang kepalanya dan kembali memeluk Ashel karena rasa sakit itu.

Pelukan erat Edris membuat Ashel terkejut. "Kak, kenapa?"

"Tidak ada. A..aku hanya ingin memeluk saja" Edris tidak menginginkan Ashel khawatir padanya.

Kelulusan Ashel di SMP-nya membuat teman seangkatannya terkejut saat mengetahui Edris datang dan memberikan buket kelulusan pada adiknya.

"Eh? Ashel ternyata adik Edris? Oh, pantas saja dia memiliki wajah yang bagus"

Semuanya memuji Ashel karena wajahnya.

Kontes pemilihan tokoh Utama dan pemeran lainnya di buka untuk drama Romansa Sekolah.

Seperti biasanya, Edris menjadi peran utama dalam drama itu. Dan Ashel mencoba mendaftarkan dirinya untuk menjadi peran lainnya.

"Ternyata, cukup sulit untuk menjadi aktor" Batin Ashel saat berada di barisan para audiens untuk memerankan di drama itu.

Ashel mendapat point plus dari juri karena wajah Ashel. Disini, Ashel mendapatkan dialog untuk menjadi pembully di serial itu.

Tepat sekali, Ashel suka dengan tokoh seperti itu.

Dia menendang manekin yang menjadi contoh tokoh utama di drama itu. Juri terkejut dengan akting Ashel seolah dia sudah berlatih banyak kali.

Ashel menjabrak rambut manekin itu kebelakang hingga dia membuat seolah manekin itu mendongak ke atas. "Sialan, kau kira aku akan prihatin dengan kondisimu? BAGH!!!" Ashel menghentakkan kepala manekin itu pada lantai dari kayu hingga menimbulkan suara keras.

Juri merinding di tempat. "Sepertinya, kau memang terlahir sebagai pembully" Puji Juri itu sambil memberikan nilai di CV Ashel.

Karena akting Ashel, dia lolos dan menjadi tokoh figuran sebagai teman Antagonis yang membully tokoh utama.

"Ke...ren...." Edris memberikan jempolnya kepada Ashel meski dia berharap Ashel mendapatkan peran yang membuatnya terkesan lebih lembut di drama pertamanya.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!