Devina mengertakkan giginya saat melihat seringaian bahagia di wajah Arthur gara-gara insiden garam itu.
Ruri menuliskan garam 1 Kg.
"Beres-beres rumah seminggu~" Bisik Arthur di telinga Devina yang di tutup oleh kedua telapak tangannya sendiri.
"Aku bilang enggak" Lirih Devina sambil melihat ke arah lain.
Ruri tidak mengerti dengan apa yang dua muridnya itu bicarakan. Mata Ruri dan Arthur saling bertemu. Arthur berhenti sejenak saat Ruri memberi kode untuk mengikutinya.
Arthur mengangguk pelan sambil mengacak-acak rambut Devina yang di gelung hingga rambut Devina tergerai.
"Ayolah. Jangan menganggu rambutku..." Ucap Devina sambil menepis kedua tangan Arthue di kepalanya.
Devina melihat Arthur yang meninggalkannya terlebih dahulu dan mengikuti Ruri dari belakang. Dia selalu melihat punggung yang kokoh itu.
Wajah Devina terlihat memerah perlahan. "Aduuuhhh...." Lirih Devina sambil tersenyum tipis dan memegang kepalanya sendiri.
Devina masih menyukai Arthur sejak mereka berdua bertemu.
...----------------●●●----------------...
Di dalam ruangan Ruri....
"Arthur, akhir-akhir ini banyak sekali orang Arden yang masuk ke dalam Gry. Dari 70 data yang terkumpul di daftar pembunuhan, ada sekitar 46-49 orang. Kau tidak keberatan menjalankan tugas itu? Kalau tidak, aku bisa turun langsung dan menghancurkan 49 orang itu dalam hari yang sama" Ucapan Ruri membuat Arthur terkejut.
"Uh, biarkan aku saja" Arthur merasa kasihan dengan orang-orang itu apabila mati di tangan Ruri. Yang jelas, Ruri akan memanfaatkan tubuh mereka untuk masuk ke dalam Arden.
Ruri melihat salah satu potret disana dengan nama samaran Ryan. Ruri sangat mengenal wajah itu. Dia adalah Tsuha yang tengah menggunakan wujud seorang manusia.
Ruri meletakkan potret itu di urutan paling atas agar Arthur melihatnya.
Arthur melihat potret itu.
"Oh, lama sekali tidak melihat wajah orang Arden" Arthur melewatinya begitu saja karena dia tidak bisa mengenali perubahan wajah Tsuha yang dulunya terlihat seperti seorang perempuan.
"Apa tujuan mereka memang untuk perdagangan bahan pokok saja?" Tanya Arthur saat melihat keterangan para calon yang akan dia bunuh itu.
"Kau masih tak paham dengan samaran bahan pokok itu?" Tanya Ruri.
Arthur hanya melihat Ruri menunggu jawaban itu.
"Narkoba, gulungan sihir hitam, benda terkutuk, hewan sihir, dan budak" Jelas Ruri.
Arthur langsung tertawa. "Iya Guru, aku mengingatnya"
"Diantara mereka ada satu orang yang menjalin hubungan dengan sistem monarki Kekaisaran Aokuma. Orang ini" Ruri menunjukkan potret Tsuha.
Ruri sudah mengkode keras.
Arthur melihat rupa itu. "Dia tak asing. Haruskah aku membunuhnya terlebih dahulu?" Tanya Arthur.
Ruri menyerah atas ketidakpekaan Arthur dengan maksud orang dk sekitarnya. Oleh karena itu, Arthur tidak pernah sadar apabila Devina sudah menyukai dalam waktu yang lama dan selalu menganggap Devina selayaknya seorang teman dekat.
Devina kamu kasihan sekali [peluk dari jauh].
Ruri memijat keningnya. "Hindari dia. Karena dia sedang mencarimu" Jelas Ruri.
"Dia cukup kuat untuk bertarung denganmu seorang diri. Paham Arthur?" Lanjut Ruri sambil kembali duduk di sofanya.
"Benarkah? Meski aku seorang Titisan?" Tanya Arthur kepada Ruri.
"Ya. Dia memiliki sihir yang hampir sebanding denganku. Aku sudah mencoba menusuk jantungnya. Aku yakin dia itu, Iblis yang menyerupa" Jelas Ruri sekali lagi.
"Sebanding denganmu? Apa itu artinya dia juga pernah menjadi Malaikat Agung?" Tanya Arthur.
"Tidak juga. Dia memang sudah terlahir seperti itu. Hah..." Ruri tiba-tiba menghela napas.
"Guru, kau kenapa lagi?" Tanya Arthur saat mendengar helaan napas itu.
"Berhenti meniru wujudku. Aku membenci itu" Ucap Ruri saat melihat Arthur yang tanpa sadar sudah mengubah rambutnya berwarna putih dan mengubah warna iris kirinya menjadi ungu.
Arthur melihat ke cermin di sisi kanannya. Dia langsung menutup matanya dan menyentuh punggungnya yang tiba-tiba mengembung karena munculnya pangkal sayap.
Ini sudah keempat kalinya Arthur tanpa sengaja mengubah dirinya seperti itu.
Arthur masih belum bisa mengendalikan bakat itu.
"Iya. Baik Guru. Kalau begitu... Saya permisi" Ucap Arthur sambil menutup mata kirinya dan menepuk bahunya agar pangkal sayap itu menghilang.
Devina tidak terkejut lagi dengan perubahan Arthur. Ini sudah yang ketiga kalinya Devina melihatnya.
Arthur keluar dari ruangan Ruri sambil cengegesan. "Berhentilah membuat Guru kesal. Apa kau tidak takut dia akan mengikatmu lagi?" Tanya Devina sambil berjalan di sebelahnya.
Arthur hanya terkekeh. "Aku juga masih berusaha mengendalikannya" Jawab Arthur sambil mengosok rambut biru tua Devina.
Devina menepuk tangan Arthur untuk pergi dari kepalanya. "Aku ingin melihat rambut gelapmu lagi" Ucap Devina sambil mengalihkan pandangannya kemudian dia mengangakan mulutnya karena keceplosaan. "Siaaaal" Lirih Devina sambil memejamkak matanya.
"Iya. Nanti kalau aku sudah bisa mengendalikan ini, aku akan mengembalikan rambutku lagi" Arthur sungguh menganggap ucapan Devina sebagai peringatan.
Devina melihat ke arah Arthur dengan wajah kesalnya. "Eh? Kenapa kau melihatku begitu?" Tanya Arthur.
Devina menendang tulang kering Arthur dengan kaki kanannya yang bersepatu keras. Tendangan itu sungguh membuat Arthur kesakitan. Arthur langsung berlutut dan memegang tulang kering di kakinya yang di tendang Arthur.
"Aku membencimu" Ucap Devina sambil memberikan tatapan merendahkan kepada Arthur kemudian pergi meninggalkannya.
Kedua mata Arthur berair dan melihat punggung Devina. "Tunggu! Apa hubungannya rambutku dengan tiba-tiba benci padaku? Devina!" Panggil Arthur sambil menggosok tulang keringnya berulang kali.
Ruri melihat kedua muridnya itu. "Apa itu sungguh kejadian yang pernah tertulis di alurnya? Aku tidak pernah mengingat ini. Apa ini termasuk effect butterfly-nya?" Lirih Ruri sambil melihat Arthur yang berlari ke arah Devina kemudian membopongnya.
"ARTHUR SIALAN!!! TURUNIN AKU! LAMA-LAMA AKU BISA MATI KARENAMU!!!" Teriak Devina.
Pandangan Ruri tiba-tiba teralihkan ke tempat lain. Dia melihat seseorang yang bersembunyi di belakang batang pohon. Ruri membelakangkan poninya untuk melihat lebih jelas sosok yang memperhatikan dua muridnya itu.
Rambut pirang dengan tubuh yang tidak kurus dan tidak besar. Dia menggunakan pakaian sederhana dan wajahnya setengah ditutupi oleh scarf. Di tangan kanan remaja itu juga memegang scarf lain. Itu adalah scarf milik Arthur. "Apa? Bukankah dia..." Ruri langsung berbalik dan mengambil tumpukkan kertas di belakangnya.
Dia memeriksa satu-persatu nama yang orang-orang yang akan di bunuh oleh Arthur. "Lyyn" Nama itu adalah nama yang di cari oleh Ruri.
Nama itu, muncul setelah puluhan lembar lainnya diperiksa ulang oleh Ruri. Mata Ruri terbelalak. "Apa? Bukankah harusnya nama ini muncul di tahun keempat saat Arthur ku bawa ke Arden?" Ruri melihat kembali ke luar jendela.
"Permisi"/"HUAH!!!"
Bocah itu mengejutkan Ruri karena tiba-tiba sudah ada di depan jendelanya.
Ruri melihat lembaran miliknya berhamburan di lantai. Begitu juga dengan remaja itu yang sedikit canggung melihat lembaran itu berserakan.
"Ada apa?!" Ruri tanpa sadar menaikkan intonasi bicaranya.
Pemuda itu menundukkan pandangannya. "Maafkan saya karena mengejutkan Anda. Saya hanya ingin mengembalikan ini. Tadi, saya melihat ini jatuh di jalan" Pandangan pemuda itu tertuju ke arah Arthur yang di tendang Devina hingga melesat jauh.
Ruri mengosok tengkuknyan. "Rupanya begitu" Ruri menerima scarf Arthur dan dia sungguh kagum dengan bagaimana Tokoh Protagonis kedua muncul dihadapannya.
"Kenapa kau tidak memiliki mana? Pasti sudah banyak sekali orang yang terkejut karena kau yang tiba-tiba muncul" Ruri berbasa-basi meski dia sudah tau penyebab bocah itu tidak bisa mengeluarkan mananya.
Pemuda itu kembali melihat ke arah Ruri sambil mengosok tengkuknya. "Ya, hahaha. Saya sedikit memiliki trauma. Di dunia yang apapun membutuhkan sihir ini, terkadang membuat saya kesulitan mencari pekerjaan" Jawab pemuda itu.
"Sebenarnya, dia akan menjadi partner yang cocok untuk Arthur. Dan Arthur bisa mengatasi apabila bocah ini mengamuk karena spirit api di dalam dirinya" Batin Ruri.
"Begitu kah? Lalu, apa kau sudah mendapatkan pekerjaan?" Tanya Ruri.
Ruri tidak ingin Ryan memanfaatkan pemuda itu lebih dalam. "Aku tak perlu berkelahi dengan sihir. Aku cukup bermain dengan waktu dan aku pasti bisa memanfaatkan semuanya" Batin Ruri sambil melihat bocah itu yang lagi-lagi melihat Arthur.
"Saya kuli angkut di pasar"
Itu sungguh membuat Ruri terkejut. "Aku tidak pernah mendengarnya ini. Hal ini, tidak tertulis di alur itu. Apa ini bagian dari side story?" Ruri kembali sadar di keadaan nyatanya.
"Berapa upahmu?"
"Tergantung dengan orang yang memberikannya kepada saya. Tapi, kalau di hitung harian... totalnya bisa 25 koin perak" Jawabnya.
Itu adalah upah yang kecil di negri ini.
25 koin perak tidak bisa membeli beras 1 kg.
Untuk mencapai 1 koin emas, disini membutuhkan 250 koin perak yang artinya upah Arthur sebagai pembunuh bayaran, 10 kali lebih besar darinya.
"Apa kau bisa bertarung dengan pedang?"
"Sedikit" Jawab pemuda itu.
"Sebenarnya, aku butuh satu orang lagi untuk bekerja denganku. Aku bisa memberimu 1 koin emas setiap kau berhasil menjalankan tugasmu dan 100 koin perak apabila kau gagal menjalankannya. Ini pekerjaan yang cukup berat" Jelas Ruri.
Pemuda yang tatapan selalu tertuju kepada Arthur, kini melihat ke arah Ruri dengan benar. Dia bisa melihat warna iris mata Ruri yang berbeda.
"Pekerjaan seperti apa, Tuan?" Tanya pemuda itu.
"Kau mau apa tidak?" Ruri tidak akan mengatakannya.
Pemuda itu akan menolak karena dia adalah seorang pemuda yang bahkan tidak tega membunuh seekor kupu-kupu. Pemuda itu juga, tumbuh dengan bimbingan seorang dokter tua yang menolongnya.
Pemuda itu mengosok tengkuknya lagi. Seolah itu seperti kebiasaannya.
"Bagaimana ya.... kalau Anda memperkerjakan saya untuk menimbulkan perselisihan antara Barat dan Timur, saya akan menolaknya" Pemuda itu tidak ingin berhubungan dengan peperangan yang tengah terjadi sejak lama itu.
Ruri sebenarnya bekerja untuk itu.
Dia berdehem. "Tidak juga. Pekerjaan ini cukup menyenangkan karena kau hanya perlu menangkap dua sampai tiga tikus saja. Sisanya yang lain, adalah tugas mereka berdua" Jelas Ruri.
"Tikus?" Pemuda itu bukanlaj pemuda yang berpendidikan dia tidak mengerti dengan bahasa perumpamaan yang digunakan oleh Ruri.
"Sebenarnya, saya juga takut dengan tikus. Tapi, tidak masalah. Saya bisa menangkap tikus-tikus yang menganggu Anda"
Ruri menunjukkan senyumannya sambil berjabat tangan dengan pemuda itu.
"Jadi, namamu...."
"Felix, Tuan.
"Baik Felix, namaku Luciel. Masuklah, kau perlu menandatangi beberapa perjanjian kontrak" Ruri tidak ingin dia kabur setelah tau pekerjaan asli mereka.
Felix yang malang, dia harus menandatangi kontrak selama satu tahun untuk tujuan Ruri. Dan Ruri menggunakam cara yang sama kepada Felix dengan Daeva. Dia menakutinya dengan mengatakan bahwa ini adalah kontrak jiwa, setelah Felix menandatanginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments