Episode 18

...Zee Side...

Untuk beberapa waktu, Zee masih merasakan jantungnya berdegup tak karuan. Makan malam berdua telah sepenuhnya usai. Zee bahkan telah selesai mandi. Ruang kamar terasa begitu sepi nan sunyi. Entah di mana Zico saat ini.

Sedikit membuat Zee bernapas lega. Sebab malam ini, kemungkinan Zee akan mulai meyakinkan hatinya kembali untuk mencintai Zico.

Tidak akan terjadi hal seperti dulu 'kan?

Zee dan Zico sudah menikah. Hal yang wajar jika keduanya saling mencintai. Bahkan selama beberapa waktu yang dihabiskan berdua, Zico selalu memperlihatkan cinta dan perhatian yang tulus pada Zee. Padahal, laki-laki itu seharusnya membencinya karena Zee telah melukai hatinya di masa lalu.

Ya, seharusnya begitu.

Tapi kenyataannya, Zico malah bergerak semakin gencar dalam memperlihatkan cintanya. Membuktikan dengan berbagai cara di mana sebagian caranya memang terkesan di luar nalar. Padahal keduanya telah putus hubungan bahkan putus kontak selama sepuluh tahun.

Zee yang memang pada dasarnya masih belum bisa melupakan Zico, hanya menyampirkan perasaannya sejenak, dibuat meleleh saat pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, Zico kala itu berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun ada rona canggung di wajahnya. Seolah Zico sudah sangat-sangat menantikan hari itu di mana ia kembali bertemu dengan Zee.

Jujur saja, dadanya bergemuruh namun juga berdenyut ngilu di waktu bersamaan.

Zee ingin menggapai Zico, namun dirinya sadar diri di mana posisinya saat itu.

Namun, kali ini posisinya telah berbeda. Zico adalah suaminya. Zee ingin kembali memulai cinta seperti masa remaja atau bahkan lebih. Maka dari itu, saat ini Zee seakan menjilat ludahnya sendiri dengan memakai lingerie dari kado pernikahan pemberian Raya.

Sebenarnya, Zee malu sendiri saat menyaksikan pantulan tubuhnya di cermin. Lingerie tersebut selain menerawang juga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang begitu seksi. Sedikit dapat menutupi perutnya yang agak menonjol di bagian bawah sebab janin kecilnya tinggal di sana.

Zee mengelus lembut si jabang bayi dalam perutnya. Kalau dipikir-pikir, Zee hampir tidak memedulikannya dan memilih sibuk sendiri.

Sejujurnya, Zee masih belum siap untuk hamil. Apalagi waktu itu Zee mengetahui kondisi tersebut di mana ia dan Zico masih berstatus mantan. Tetapi sekarang, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk Zee berpikir demikian.

Karena sudah terlanjur, toh Zico juga menerima dengan baik kehadiran calon anak mereka, jadi Zee akan belajar bersyukur kedepannya. Menyayangi janinnya dengan sepenuh hati.

Baiklah, cukup bengongnya!

Habis ini Zee memiliki jadwal tak terencana, yaitu menggoda Zico. Memikirkannya saja membuat Zee gugup setengah mati.

Sembari memikirkan berbagai cara, Zee lanjut memakai skincare malam rutin. Tak lupa menyemprotkan parfum di beberapa area tertentu yang juga merupakan kado pernikahan dari Raya. Bisa dibilang, kado dari Raya bukan hanya sebuah lingerie. Ada juga parfum dengan aroma memikat pun beberapa sheetmask perawatan wajah.

Disela berkutat dengan aktivitasnya, Zee terlonjak saat sepasang lengan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Jantungnya kian menggila seolah akan meledak detik itu juga.

Ya Tuhan, Zee masih mencoba menyiapkan diri, tapi kenapa Zico sudah sampai kamar duluan!?

"Kamu pake parfum?" Zico berbisik sensual tepat di telinga Zee.

Dengan wajah malu-malu, Zee mengangguk. "Wangi, nggak?"

Dapat Zee saksikan bola mata Zico yang membola sepersekian detik. "Hm. Wangi, aku suka." Detik berikutnya, Zee melotot saat dengan terang-terangan Zico mengecup lehernya cukup brutal. Wajah Zee memerah menahan malu sekaligus geli sebab apa yang tengah Zico lakukan padanya begitu terpampang nyata pada cermin di depan sana.

"Zi-zico," Zee merasakan hawa panas menjalar dari beberapa titik hingga ke seluruh tubuhnya. Jantungnya semakin meletup-letup dan napasnya tersengal berkat ciuman Zico.

"Zee, ini ..." Zico melotot saat netranya tidak sengaja melirik pantulan tubuh Zee dari cermin. Tenggorokannya mendadak kering. Sontak Zico mencoba menelan ludah walau rasanya sulit.

Habislah! Zee sangat malu sekarang, tetapi dirinya harus melancarkan apa yang sudah ia tekadkan. Dan Zee tidak bisa mundur sekarang.

"Ka-katanya pengen lihat aku pake ini. Gi-gimana, cantik, nggak?" Mati-matian Zee melontarkan kalimat tak biasa yang tak pernah sekalipun meluncur dari mulutnya.

Oke, ini yang pertama.

"Cantik. Kamu cantik, Zee." Perlahan Zico menarik kedua sudut bibirnya. Dengan lembut pula menggiring Zee agar beranjak dari kursi rias. Membawa Zee agar berdiri saling berhadapan dengannya hampir tak berjarak. Satu lengan Zico melingkar di pinggang Zee. Sedangkan tangan satunya sibuk menyentuh rambut panjang Zee yang baru selesai dikeringkan. Aroma wangi dari sampo bahkan parfum yang tidak sengaja menempel, rasanya membuat Zico mabuk kepayang.

Zico ingin melahap Zee saat ini juga.

Namun sebelum hal itu terjadi, Zico ingin sedikit bermain-main.

"Ke-kenapa lihatin aku kayak gitu?" Zee cemberut antara menahan malu yang belum juga mereda dan Zico yang masih setia menatapnya, menelisik setiap sudut lekuk tubuh Zee.

"Tumben dandan kayak gini, kenapa? Ini ... bukannya lingerie yang itu? Katanya nggak mau dipake?" Sentilan Zico mengingatkan Zee akan perkataannya sendiri yang bertolak belakang dengan tindakannya.

Astaga, kenapa rasanya Zee menyesal?

Apa pula memiliki ide untuk menyenangkan Zico? Laki-laki itu terlalu menyebalkan bahkan tidak peka kenapa Zee sampai mengkhianati ucapannya.

Terlanjur sebal, Zee menghempas lengan Zico yang masih bertengger manis di pinggangnya. "Ya udah, aku ganti baju lagi aja."

"Jangan!" Zico melotot, dengan terburu-buru membelenggu Zee dengan memeluk kembali pinggangnya. "Nggak boleh dilepas! Gitu aja marah."

Zee cemberut. Keningnya mengernyit menahan emosi. Walau demikian, mulutnya masih terkatup dengan sempurna, belum mau melontarkan kalimat lain.

"Biar aku aja yang lepas, hm?" Zico kembali berbisik. Senyuman puas terus menyungging di wajahnya.

Perlahan namun pasti, Zico sedikit merendahkan tubuhnya. Netranya menatap rakus bibir Zee yang berangsur normal berkat bisikannya.

"Minta cium, boleh?"

Sempat terkesiap, Zee menghela napas panjang sembari mengangguk. Wajahnya lagi-lagi memerah dan Zico suka ekspresi itu.

"Kalau minta lebih, boleh juga nggak?"

Akh, ucapan maut yang sudah Zee duga akan meluncur dari mulut Zico!

Baiklah, Zee sudah bertekad, mari lakukan!

"Boleh." Jawab Zee, terdengar samar namun begitu terngiang di kepala Zico.

Tanpa diduga-duga, Zee berjinjit sembari mendongak. Kecupan ringan ia jatuhkan tepat di permukaan bibir Zico. Membuat sang empunya melotot bahkan jantungnya dibuat berdisko apalagi ketika ucapan lain meluncur dari bibir Zee. "I love you, Zico!"

"Zee?"

...****...

Aroma harum nan menggugah selera, nyatanya berhasil membangunkan Zico dari mimpi indah. Tubuhnya bergeliat sembari mengerang rendah. Ketika mengerjap, netranya melotot saat tak mendapati sosok Zee di sebelah tempat tidurnya.

"Sayang?"

Panik, Zico menyahut seraya beranjak dari tempat tidur dengan hanya mengenakan celana bahan di atas lutut.

"Lagi masak!" Balasan familier yang membuat Zico menghela napas lega.

Dengan langkah pasti, Zico bergerak membuka jendela kamar. Membiarkan cahaya serta udara berembus memasuki kamar mereka. Lanjut, Zico keluar kamar tanpa berniat sekadar cuci muka.

Baru semalam menikmati indahnya keromantisan, Zico sudah merindukan Zee. Perempuan itu tertangkap basah tengah memasak sesuatu yang lagi-lagi aromanya begitu memikat indera penciuman Zico.

"Kok, nggak dibangunin?" Zico memeluk tubuh Zee dari belakang. Sesekali mendusel-duselkan kepalanya dengan manja di ceruk leher Zee.

Terkekeh geli, tangan Zee yang menganggur menyentuh halus pipi Zico. "Kamu kelihatan nyenyak, aku nggak tega buat bangunin. Em, mending kamu lanjut mandi, gih, habis itu kita sarapan." Sempat saling tatap beberapa saat, Zee mengecup sekilas bibir Zico. Membuatnya tersenyum manis lalu mengerucutkan bibirnya untuk meminta lebih.

"Lagi, Yang, please ..."

"Nggak! Cepetan mandi,"

Mendengus, Zico menggerutu lalu kembali mendusel-duselkan kepalanya seperti semula. "Pengen mandi bareng." Rengeknya, diam-diam Zee mengulum senyum.

"Aku udah, nggak kecium wangi gini? Sana mandi, Zico! Ini sarapannya udah mau selesai, tuh. Mandi dulu, ya, Suamiku ... Aku tungguin deh, janji!"

Dengan berat hati, Zico mundur seraya melepaskan pelukannya. "Ya udah. Aku mandi dulu, ya, Sayang."

"Hm."

...****...

Untuk beberapa alasan, Zee termenung sembari memandangi deburan ombak dari kejauhan, tepatnya di teras villa sembari menunggu Zico selesai mandi.

Potret keharmonisan seorang wanita paruh baya beserta wanita yang telah berumur terus Zee telisik hampir tak berkedip. Detik selanjutnya, perhatiannya kembali berlabuh pada laut biru yang tampak jauh lebih cerah di waktu yang telah menunjukkan pukul delapan pagi.

Dalam lamunan menyesakkan dada, air mata Zee luruh membasahi wajahnya. Rasa rindu akan sosok mama yang tengah dirawat pun sang nenek yang telah lama dijemput oleh Tuhan, menyinggung emosinya yang selama ini terus dipendam seorang diri.

Kalau boleh jujur, Zee sebenarnya takut. Di dunia yang begitu luas ini, Zee hanya memiliki sang mama yang itu pun tengah dalam keadaan sakit gangguan mental. Jika mamanya terus menerus sakit seperti itu, Zee merasa sebatang kara.

Zee tidak mau hidup sendiri.

Terlalu menyedihkan dan memuakkan.

Berbagai doa senantiasa Zee panjatkan demi kesembuhan sang mama. Namun, Tuhan seolah menutup telinga dan malah menambah beban hidupnya.

Bukan bermaksud berpikir negatif terhadap sang pencipta, hanya saja Zee merasa hidupnya tidak seberuntung orang-orang. Rasanya sungguh tidak adil.

Mengapa harus takdir seperti ini yang membungkus dirinya?

Lagi-lagi air mata itu jatuh menuruni wajah Zee. Belum selesai ia seka ulang, ujung jemari jempol seseorang telah lebih dulu menyekanya. Lantas Zee mendongak. Wajahnya pias tatkala sosok rapuhnya disaksikan oleh Zico, seseorang yang kini benar-benar singgah di hatinya.

"Zi-zico, sejak kapan kamu-"

"Kenapa nangis, hm? Ada masalah apa, sini, cerita sama aku." Zee mengulum bibir sembari menahan napas. Bola matanya berkaca-kaca untuk beberapa alasan. Salah satunya karena sapaan lembut Zico yang membuat pendiriannya goyah.

Tak ada balasan lisan yang terucap dari mulut Zee. Perempuan itu menangis dalam diam seraya melompat ke pelukan Zico. Mencari sebuah kedamaian pun ketenangan yang tak pernah Zee rasakan beberapa tahun terakhir dalam hidupnya.

Salah. Ada satu hal yang terlupakan. Zee tidak sendirian. Zee memiliki Zico yang akan selalu berada di sisinya, melindunginya pun mencintainya tanpa syarat.

Benar 'kan?

^^^To be continued...^^^

...Zee...

...Zico...

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Itula pernikahan.... Suka duka kita rasakan bersama.... Apapun. Diceritakan.... Suami bkn hanya sebagai pemimpin keluarga.. Tp jg bisa menjadi sahabat

2024-02-05

1

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

bener tuh zee, ada zico kok di samping kamu.

suamiku juga kadang ngomong gitu, dia sedih, karena orangtuanya dan adik satu2nya udah ga ada, padahal ada aku istrinya dan 4 orang anaknya. kok dia merasa sendiri sih. kamu juga gitu zee, udah ada zico, jadi kamu ga sendiri lagi.

2024-01-09

1

Mey Noona

Mey Noona

UPDATENYA NANTI MALEM YA KALO UDAH PURE SELESAI NGETIK ITU JUGA! HARI INI LAGI ADA KEPERLUAN JADINYA NASKAHNYA BELUM BERES!

2023-12-26

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!