Episode 4

...Meeting Again...

Mampus! Kok, jadi Zico?

"I-itu nggak salah Bu Dara? Masih muda gitu sponsornya, haha," Zee tertawa canggung. Jantungnya menggila saat netranya sempat bersitatap dengan Zico. Di luar prediksi, laki-laki itu malah tersenyum hangat seolah telah dengan sengaja merencanakan hal tersebut.

Tidak, tidak!

Lebih tepatnya, Zico seperti telah mengetahui posisi Zee adalah sebagai salah satu guru yang mengajar di SMP Pertiwi 1.

Bu Dara terkekeh. "Itu anak sulungnya. Diwakilin dulu kalau nggak salah."

"ANAK SULUNGNYA?" Zee melotot sampai lupa mengontrol nada suara. Di tempatnya, Bu Dara mengangguk datar.

"Jadi sponsor sekolah kita itu, Intern Company?" Zee semakin melotot tak percaya saat Bu Dara lagi-lagi mengangguk. "Kita nyapa ke sana, yuk! Siapa tahu-"

"Saya izin sebentar ke toilet. Permisi, Bu Dara!" Tak ingin semakin berlama di kantin khusus guru yang membuat Zee tak nyaman, apalagi oleh tatapan terang-terangan Zico di depan sana, Zee memilih undur diri tanpa mau menjelaskan rinci.

"Lho, Bu Zee! Bu Zee mau ke mana? Katanya mau nemenin Saya!?" Sahutan Bu Dara sedikit pun tidak diindahkan Zee. Perempuan itu terlanjur panik. Ia harus segera bersembunyi.

"Nggak, nggak! Dia sibuk dan gue rasa dia nggak akan gangguin gue disini!" Gerutu Zee, mencoba meyakinkan diri sendiri sekalipun sudut hatinya ragu.

Tiba di belokan, Zee yang fokusnya masih ke mana-mana, tak disengaja menabrak tubuh seseorang. Tepat ketika Zee mendongak, Pak Gino adalah sosok yang menjadi korban teledor Zee.

"Ma-maaf, Pak Gino! Saya nggak sengaja!"

"Its okay. Bu Zee mau-"

"Saya duluan, ya, Pak Gino! Permisi." Zee lanjut melarikan diri. Bukan karena rumornya dengan Pak Gino, namun perempuan itu ketar-ketir saat tak sengaja melirik ke belakang, Zico tengah menatapnya garang.

Ya Tuhannn! Selamatkan Zee dari Zico! Zee lagi nggak mood ketemu laki-laki itu.

Baru hendak akan menghela napas lega, ponsel yang Zee taruh di dalam saku berbunyi. Menyebabkan Zee harus menghentikan terlebih dahulu langkah kakinya sejenak.

"Astaga, Pak Edgar! Kenapa beliau nelepon gue?" Zee tambah panik lagi. Pak Edgar adalah Kepala Sekolah SMP Pertiwi 1. Mau tidak mau Zee mengangkat panggilan telepon tersebut dengan perasaan campur aduk.

"Ha-halo, Pak? Ada yang bisa Saya bantu?"

"Anu, itu, Bu Zee. Saya ingin minta tolong, Bu Zee bisa kembali ke kantin sekolah khusus guru lagi, tidak? Ini, perwakilan dari sponsor sekolah kita katanya ingin ditemani berkeliling oleh Bu Zee. Katanya dulu Bu Zee sama Pak Zico teman waktu SMA, ya?"

Zicooo! "Ahaha, Sa-saya harus euh itu, anu-"

"Tolong banget, Bu Zee! Kapan lagi sekolah kita memiliki sponsor sehebat Intern Company? Ayolah, Bu Zee! Boleh, ya?"

Zee memijit pelipisnya sekaligus merutuki dirinya sendiri yang sempat merasa hampa tanpa kehadiran Zico. Sungguh, Zee menyesal telah mengatakan hal itu walaupun hanya dalam hati.

"Bu Zee, halo?" Tersadar panggilan telepon masih terhubung, pada akhirnya Zee yang menyerah.

"Iya, Pak. Saya ke sana sekarang."

...****...

"Hai, Zee!" Zee meringis mendengar sapaan menyebalkan dari Zico.

Setelah mengalami berbagai serangkaian peristiwa ini dan itu, Zee kini berdiri di hadapan Zico dengan seulas senyuman kecut. Pak Edgar serta asistennya Zico memutuskan pergi dan meninggalkan Zico bersama Zee berdua.

Benar-benar menyebalkan.

"Jadi, Anda ingin mulai dari mana?" Mati-matian Zee mengubah sikapnya menjadi lebih lembut dan formal. Terpaksa, sebab jika Zee bersikap seperti biasa, guru-guru yang melihat akan mengira yang tidak-tidak. Dan Zee tidak ingin dicurigai yang aneh-aneh dengan perwakilan sponsor sekolah.

Zico mengerutkan kening. "Kaku banget ngomongnya. Santai aja kali, Zee." Dengan sangat menyebalkan, Zico mengedipkan sebelah matanya. Senyuman tengil juga turut terpatri di wajahnya.

Inginnnn sekali Zee menghantam wajah sok tampan itu dengan sepatunya!

Ya, walaupun tak dapat dipungkiri jika Zico itu kenyataannya memang tampan. Sangat tampan hingga membuat Zee tergoda dan menyerahkan kegadisannya.

Arghh!

"Tolong bersikap profesional, Pak! Di sini Saya bekerja sebagai seorang guru." Zee menekankan. Masih dengan seulas senyuman terpaksa.

Zico mengangguk-anggukkan kepala. "Ya udah, kalau itu mau lo. Ekhem, gimana kalau kita mulai dari lahan kosong yang akan dibangun gedung baru?" Ekspresi Zico tak lagi setengil tadi. Walau demikian, jauh dalam lubuk hatinya, Zico ingin tertawa melihat ekspresi tertekan Zee.

"Tentu. Lewat sini." Zee berjalan lebih dulu, sementara Zico mengekori dari belakang.

Di sepanjang langkah menuju lahan kosong yang diceritakan, netra Zico tak bisa dialihkan dari Zee yang berjalan memunggunginya. Tubuh rampingnya yang berjalan dengan berlenggak-lenggok telah menarik perhatian Zico. Membuatnya teringat akan kejadian menyenangkan di malam tahun baru.

Kedua sudut bibir Zico terangkat. Kekehan kecil turut memenuhi wajahnya hingga membuat Zee yang tidak sengaja mendengarkan pun berbalik. Kedua alisnya berkerut dalam dengan sepasang bola mata yang menyorot tajam.

Tersadar akan perbuatannya, Zico berdeham lalu tersenyum simpul. Dirasa tidak ada apa-apa, Zee melanjutkan langkahnya. Tibalah mereka di tempat tujuan, barulah Zee berhenti seraya menyamakan posisi berdiri di samping Zico.

"Ini lahan kosong yang Saya sebutkan tadi. Mungkin kelihatannya tidak terlalu luas, namun cukup untuk dijadikan ruang kelas bertingkat. Jadi, ada yang ditanyakan lagi?" Kalau nggak ada mending pergi, deh. Lanjut Zee dalam hati.

Zico mengangguk-angguk. Sepasang kaki jenjangnya mulai menapaki lahan kosong tersebut untuk mengecek beberapa hal. "Ukuran kelas pada umumnya berapa meter kali berapa meter?"

"Ya?" Zee mengerjap bingung. "Saya kurang tahu. Saya bukan tukang bangunan." Balas Zee. Terdengar kekehan lembut dari Zico. "Yang bilang Zee tukang bangunan siapa?"

Zee sedikit berdebar saat Zico memanggil namanya dengan begitu lembut. Wajahnya merona tanpa dirinya sadari. "Y-ya terus, kenapa nanya begitu?"

Satu alis Zico tertarik. Gelagat Zee yang salah tingkah terlihat jauh lebih cantik dan menggemaskan ketimbang selalu memasang wajah kecut. Baiklah, mungkin sudah saatnya Zico kembali modus dengan Zee.

"Kali aja tahu." Zico berjalan menghampiri Zee. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Fokus netranya sendiri tertuju pada Zee yang semakin memperlihatkan gelagat tak biasa. Tibalah saat Zico berdiri di hadapan Zee dengan jarak hanya sejengkal, Zee mendongak panik dengan bola mata yang membulat sempurna.

"Zi-zico? Lo ngapain?" Zee keceplosan tak lagi bicara formal. Ketika Zee hendak berjalan mundur, lengan kekar Zico menahannya. Menarik pinggang Zee hingga tubuh keduanya yang berbalut pakaian kerja saling bersentuhan.

"Zico, lepas! Lo apa-apaan, sih?" Zee kembali melotot. Perempuan itu panik hingga mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Nggak usah panik gitu. Nggak ada orang, Zee. Barusan belnya bunyi, tanda masuk kelas lagi 'kan?"

Zee berdecak. "Gue masih harus ngajar di kelas 7B. Lepas, nggak?"

"Oh, lo masih ada jadwal ngajar? Ya udah, gue ikut. Di mana kelasnya?"

"Yang bener aja?" Zee menghempas lengan Zico cukup kasar. Mood-nya kian hancur sehingga Zee memilih meninggalkan Zico saat itu juga.

Diam-diam Zico tersenyum puas. Walaupun begitu, kakinya tetap bergerak mengekori langkah Zee menuju kelas 7B. Tempat di mana Zee akan lanjut mengajar dan Zico akan memerhatikan Zee dengan sangat senang hati.

...****...

Sesi mengajar telah sepenuhnya usai. Jadwal mengajar Zee setelah ini juga tidak ada lagi. Dengan langkah malas, Zee membawa tas serta barang-barangnya keluar dari kelas. Tak lupa Zico yang sedari tadi terus berada di kelas dan memerhatikan Zee ikut mengekori lagi di belakang.

Astagaaa, apakah laki-laki itu tidak punya pekerjaan? Bukannya segera kembali ke kantornya, Zico malah menemani Zee mengajar, atau lebih tepatnya hanya mengganggu Zee dengan senyuman tengilnya. Mentang-mentang memiliki papa seorang CEO.

Dasar orang kaya!

"Sini, mau gue bantu bawain nggak?"

"Nggak usah, nggak perlu." Balasan spontanitas Zee dibalas kekehan renyah.

Tak kehabisan akal, Zico merebut buku-buku paket di tangan Zee saat perempuan itu lengah. Senyuman puas lantas menyungging di wajah tampannya.

"Zico!" Zee benar-benar tak habis pikir. Sebenarnya, Zico ini kenapa? Seharian ini Zico begitu gencar sekali mengganggunya.

"Ini tuh berat, Zee. Udah, biar gue aja." Katanya, terdengar memuakan.

"Lo tuh, iihhh! Nanti kalau ada yang lihat-" Zee menggantungkan ucapannya saat Zico berjalan mendekat secara tiba-tiba. Spontan Zee menahan napas.

"Habis ini lo nggak ada jadwal lain 'kan?" Pertanyaan Zico yang tiba-tiba membuat Zee gelagapan. Karena bingung, Zee pun mengangguk.

Senyuman manis menghiasi wajah Zico. "Pulang sama gue." Detik itu juga, Tangan Zico yang menganggur lantas menarik Zee agar berjalan mengikutinya.

Zee sempat ingin berteriak untuk meloloskan diri. Namun, Zee berakhir urung saat mengingat di mana posisinya saat ini.

Bisa berabe, Zee. Guru-guru maupun siswa siswi yang lihat bakal bertanya-tanya, kenapa gue bisa gandengan tangan sama perwakilan sponsor sekolah!?

Huft ... Oke, tahan.

...****...

Sedari menaiki mobil Zico hingga saat ini keduanya tengah dalam perjalanan pulang, Zee terus menerus mengerutkan dahi. Tanpa bertanya di mana alamat Zee, Zico bergerak lincah memainkan setir mobil. Jalan yang dilalui pun benar jalan menuju tempat kost-kostan Zee.

Ya ampun, rupanya laki-laki itu telah menyiapkan segalanya.

"Zico!"

Sang pemilik nama menoleh. Tak lupa tersenyum manis yang senantiasa dia perlihatkan pada Zee. "Kenapa, Sayang?"

Zee mendadak bungkam sekaligus panas ingin. Wajahnya merona gara-gara panggilan sayang dari Zico.

Bentar! Kenapa gue salting?

"Sayang, sayang. Gue bukan pacar lo, ya!"

"Oh, iya lupa. Calon istri," ralat Zico, masih dengan senyuman manisnya.

"Zicooo!"

"Apa, Zee?"

"Lo tuh kenapa, sih? Gue kira lo setuju buat menganggap malam itu nggak pernah terjadi. Kenapa sekarang lo muncul lagi?"

Zico mendengus pelan. Bola matanya menoleh singkat dengan ekspresi wajah yang berganti datar. "Yang bilang gue setuju siapa? Gue cuma ngasih lo waktu buat nenangin diri doang. Takutnya kalau terus gue gas poll, lo bakal pergi lagi kayak sepuluh tahun lalu. Dan gue nggak mau."

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Menarikkk... Lanjut

2024-02-04

1

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

ceritanya bagus, ringan. cocok dibaca saat cape dan lelah. semoga konliknya ringan2 aja yah.

2024-01-09

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!