...Perfect Night...
"Gimana kabar lo selama ini? Baik?"
"Zico, gue ..." Zee menjeda ucapannya kala ponselnya berdering. Segera Zee merogoh ponselnya, mengangkat panggilan suara yang ternyata berasal dari Raya.
"Halo, Ray? Kok, lo lama banget, sih? Lo nggak ninggalin gue 'kan?"
"Zee, sorry! Ini gue Dani. Barusan gue nyusulin Raya ke acara reuni. Pas ke toilet dulu, gue ngelihat Raya udah pingsan. Kayaknya dia diare. Sekarang gue sama Raya lagi di mobil ambulans. Raya udah sadar tapi kondisinya lemah. Makanya gue telepon lo buat ngasih tahu biar lo nggak panik. Gitu aja, Zee. Gue tutup dulu. Lo nggak usah cemas, Raya aman sama gue!"
"Ap-apa? Raya diar-" panggilan suara langsung diputus oleh seberang. Rentetan kalimat Dani belum sepenuhnya dicerna oleh Zee, tapi telah lebih dulu dimatikan secara sepihak.
"Haduh, si Raya ada-ada aja, deh."
"Kenapa, Zee?"
Tubuh Zee bergoncang mendengar sahutan familier tersebut. Hampir saja dirinya melupakan kehadiran Zico.
"Nggak, itu ... Raya pulang duluan. Dia sakit. Em, kayaknya gue juga mau langsung pulang aja. Gue duluan, ya, Zic!" Zee beranjak berdiri. Dengan cepat Zico ikut berdiri dan menahan pergelangan tangannya.
Sempat beradu pandang beberapa saat, Zee memutus kontak seraya menepis tangan Zico. Mulutnya berdeham untuk mencairkan suasana.
"Mau minum berdua di tempat lain?"
...****...
Zee mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bar yang letaknya masih satu gedung dengan tempat reuni. Hanya berbeda lantai. Diliriknya Zico yang tersenyum manis tanpa beban seolah keduanya tidak pernah terikat hubungan mantan.
"Spesial buat lo yang spesial." Zico menyerahkan sebuah minuman bening yang disajikan dalam bentuk gelas pendek.
"Gue nggak bisa minum." Zee mendorong kembali gelas tersebut ke hadapan Zico.
Sesungguhnya, Zee ingin cepat-cepat melarikan diri saat ini. Ia tidak nyaman dengan sikap lembut Zico. Akan lebih baik jika Zico bersikap seperlunya atau tidak sama sekali. Mungkin, Zee tidak akan merasa secanggung ini.
"Oh, ya? Terus yang tadi?"
Zee meringis. Yang tadi tidak sengaja. Sekarang saja Zee merasa pusing. Seberusaha mungkin Zee menahan diri untuk tetap sadar.
"I-itu ..."
"Coba dulu. Kali ini aja." Kata Zico, kembali mendorong minuman tersebut pada Zee.
Zee menoleh cemas. Bibirnya yang mengerucut dibalas anggukan mantap oleh Zico. "Satu aja tapi," Zico kembali mengangguk. Dengan menelan ludah susah payah, Zee menyambar minuman tersebut. Dalam sekali tegukan, Zee telah menghabiskan semuanya. Sempat terbatuk beberapa saat, Zee memegangi kepalanya yang semakin terasa berputar.
"Gimana?"
"Hm. Enak!" Zee menggeleng-gelengkan kepala. Senyuman manis tanpa cela menyungging cantik di wajahnya.
Sempat terkesiap beberapa saat, Zico balas tersenyum sama. Kemudian meminta seorang bartender untuk kembali menyajikan minuman serupa. Tak berapa lama, dua gelas minuman disajikan pada Zee dan Zico.
"Kita belum cheers, Zee." Zico tersenyum senang saat kesadaran Zee sepertinya teralihkan berkat minuman beralkohol dengan kadar yang cukup tinggi itu. Terbukti dari gelagat Zee yang terlihat jauh lebih santai dengan kedua pipinya yang bersemu.
"Jadi, satu lagi, nih?" Zico mengangguk. Tanpa diduga, Zee kembali menyambar gelasnya. Mengangkatnya ke hadapan Zico, menunggu Zico juga mengangkat gelas dan didentingkan satu sama lain.
Seringaian tipis memenuhi wajah Zico. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zico mengangkat gelas minumannya. Didentingkan dengan gelas minuman Zee.
Sebelum benar-benar menenggak, Zico sengaja memerhatikan pergerakan Zee terlebih dahulu. Tepat ketika perempuan itu mulai meminumnya hingga tandas kembali, Zico kian menyunggingkan senyumannya.
"Zicooo ..." Nada suara manja ditambah tatapan sayu menarik perhatian Zico. Tanpa sedikit pun mau menenggak minuman di tangannya, Zico meraih tangan Zee. Menggenggamnya erat lalu mengecupi punggung tangannya.
"Zee, lo ke mana aja? Gue kangen sama lo!" Satu tangan Zico yang lain meraih lembut wajah Zee. Tatapan matanya berganti dalam. Jauh di balik dada bidangnya, jantungnya tengah bergerak liar.
Di luar dugaan, Zee tiba-tiba menangis. Air matanya luruh dengan wajah yang menunduk. Salah satu tangannya yang menganggur mulai menggenggam tangan Zico yang masih berada di wajahnya.
"Maaf, Zico! Gue jahat! Lo harus bahagia tanpa gue. Gue nggak pantes buat ... lo." Gerutuan menyedihkan itu terputus sebab kesadaran Zee yang telah lebih dulu menghilang. Kepalanya hampir terbentur meja bar jika saja Zico tidak segera menahannya.
"Sial! Zee, sadar! Maksud lo apa gue harus bahagia tanpa lo? Apa yang udah lo sembunyiin dari gue?"
...****...
Di tengah kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Zee mengerjap saat merasakan sesuatu yang basah nan hangat menyapu sekitar lehernya. Netranya memicing saat kepala seseorang berada tepat di hadapannya. Tubuhnya bahkan serasa menindih Zee saat ini.
Lenguhan geli menghentikan kegiatan Zico yang sedari ia membaringkan Zee di sebuah tempat tidur hotel, Zico tengah mencoba membangunkan Zee dengan cara yang cukup brutal. Yaitu, menyesap leher Zee hingga meninggalkan jejak biru keunguan.
"Zee," tatapan yang Zico layangkan tampak menggelap. Sesekali jakunnya naik turun saat Zee tanpa sengaja memerhatikannya.
"Zico?" Zee menyahut masih dengan tatapan sayu serta kesadaran yang hanya separuh. Tanpa diduga Zee menyunggingkan senyuman manis diiringi kedua lengannya yang dikalungkan di leher Zico.
Jelas saja hal itu membuat Zico terkejut. Pupilnya melebar apalagi ketika sebuah kecupan singkat mendarat di permukaan bibirnya.
"Zee, lo tahu 'kan apa yang udah lo lakuin?" Mati-matian Zico menahan gejolak gairah dalam dirinya.
Tepat di bawah kungkungannya, Zee lagi-lagi tersenyum. Kepalanya mengangguk beberapa kali seiring dengan netranya yang semakin menyipit. "Hm. Sepuluh tahun berlalu, ternyata gue nggak bisa lupain lo, Zic. Maaf udah bikin lo terluka!"
Zico mengerjap. Fokusnya seolah tak dapat dialihkan dari wajah cantik Zee yang tengah mabuk. "Berarti lo mau?" Pertanyaan ambigu Zico tak membuat Zee paham sejujurnya. Anehnya, perempuan itu malah kembali mengangguk yang sialnya membuat dirinya sendiri dalam bahaya.
Zico tertawa ringan. Tanpa meminta izin lebih lanjut, Zico meraup bibir Zee. Menciumnya menuntut hingga membuat Zee kewalahan. Tak tinggal diam, tangan Zico bergerak turun menanggalkan gaun cantik yang masih melekat di tubuh Zee. Menurunkan resletingnya lalu melepaskannya sedikit demi sedikit.
"Lo cantik, Zee." Tatapan Zico kian menggelap. Dadanya naik turun setelah beberapa saat melepas ciuman keduanya. Zee tidak membalas. Perempuan itu tengah meraup oksigen sebanyak yang dia bisa.
Malam itu, tepat pukul dua dini hari, suara gemericik air hujan terdengar dari arah luar. Sempat menoleh beberapa saat, Zico tersenyum bangga seraya mulai menanggalkan pakaiannya. Tak lupa mematikan lampu sebelum akhirnya kembali mencium bibir Zee untuk yang kedua kalinya.
"Apa pun yang pernah terjadi dulu, malam ini dan seterusnya, lo cuma punya gue, Zee. You're not going anywhere. You will always be by my side." Zico menyeringai. "I'm starting, Zee."
"Eungh!"
...****...
Cahaya terang dari arah kaca di sebuah kamar hotel, membangunkan Zee dalam posisi ternyenyak dalam tidurnya. Perempuan itu menggeliat masih dengan netra yang setengah terpejam.
Namun, sesuatu yang aneh seketika membuat Zee membelalakkan mata. Tepat ketika Zee menyingkap selimut, tubuhnya yang polos tengah dipeluk oleh sebuah lengan kekar dari belakang. Beberapa bekas luka kehitaman bahkan memenuhi tubuh Zee, khususnya di area dada.
Nggak, nggak! Ini pasti mimpi!
Beberapa kali mencoba menepuk sisi kanan dan kiri wajah, Zee semakin melotot kala bayangan mimpi tadi malam begitu panas dan nyata.
Zee tertawa sumbang. "Mungkin gue harus tidur lagi dan setelah itu mimpi ini akan berakhir dan-"
"Pagi, Zee!"
Netra Zee semakin membulat saat panggilan serak dengan nada suara familier terdengar dari arah belakang. Jantungnya meronta-ronta mati-matian menahan diri. Dengan memberanikan diri sebisa mungkin, Zee berbalik menghadap sosok yang Zee harapkan bukan Zico.
Sialnya, jantung Zee rasanya telah lebih dulu copot dari peredaran. Zico dengan tampang polos tanpa mengenakan sehelai pakaian apa pun saat ini tengah tersenyum nakal ke arahnya.
"Tadi malam yang indah, Sayang. The real perfect night."
"ZICOOO! LO APAIN GUEEEE!!!" Terlanjur panik tingkat dewa, Zee menendang Zico hingga terjerembab ke lantai. Laki-laki itu spontan mengaduhkan sakit saat dengan brutal Zee menendangnya hingga demikian. Tubuhnya yang setengah telanjang, hanya mengenakan celana boxer, membuat Zee ketar-ketir.
Tidak, mereka tidak melakukannya semalam!
Iya 'kan?
"Jahat lo, Zee! Kemarin lo minta lebih, tapi sekarang lo nendang gue."
"Berisik! Apa pun yang terjadi tadi malem, gue nggak peduli dan gue anggap nggak ada yang pernah terjadi di antara kita!" Zee menegaskan. Tergesa perempuan itu bangkit dari tempat tidur dengan sebuah selimut menutupi tubuh bagian depannya.
Sayang, belum sempat Zee benar-benar turun, tubuhnya didorong paksa oleh Zico hingga kembali terlentang. Jelas saja Zee semakin ketar-ketir, apalagi ketika tatapan Zico berganti nyalang.
"Zee, lo nggak boleh kayak gitu. Lo harus tanggung jawab. Tadi malem pengalaman pertama gue, Zee."
"Heh, lo pikir yang tadi malem bukan pengalaman pertama gue? Lo tuh, iiihhhh! Lo kalau benci sama gue, jangan kayak gini, Zico!" Di luar prediksi, Zee menangis meraung-raung seraya menutupi wajahnya. Jelas hal itu membuat Zico panik. Tak pernah terbayangkan Zee akan menangis seperti saat ini.
"Zee?"
"Lo jahat Zico! Kalau lo nyari alat buat muasin diri lo, kenapa harus gue? Lo bisa nyari perempuan kotor manapun di luaran sana, tapi kenapa harus gue?" Zee tak lagi menutupi wajahnya. Kedua tangannya kini berganti posisi menjadi memukuli dada bidang Zico dengan membabi buta.
"Gue nggak bisa nyari perempuan lain. Di hati dan pikiran gue cuma ada lo, Zee."
"Lo cuma dendam sama gue!"
"Gue nggak dendam, Zee."
"Terus ini apa? Tadi malem itu apa?"
Zico tertegun. Sedikit mendekatkan diri pada Zee sebelum akhirnya satu ibu jarinya mengusap lembut permukaan bibir Zee yang sedikit terluka berkat tadi malam. "Maaf, Zee! Gue cuma mau agar lo nggak ke mana-mana. Lo hanya akan di sisi gue! Gue nggak akan biarin lo tinggalin gue seperti sepuluh tahun yang lalu."
"Stay by my side, Zee!"
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Zico LO romantis.... Tp gk kyk ini jg kali..... Kasian zee....
2024-02-04
1