...Hari Pernikahan...
Zico menghela napas berat diiringi punggung tegapnya yang disandarkan pada kursi mobil. Menoleh ke sebelah kiri, Zico mendapati Zee tertidur dengan keadaan kepala bersandar pada kaca mobil.
Perlahan namun pasti, Zico melepas seat belt, lalu turun dari mobil dan mengitarinya. Langkahnya berhenti tepat ketika Zico membuka pintu mobil di mana Zee tengah berada. Melepas ikatan seat belt-nya, lalu dengan gerakan halus membopong tubuh Zee dalam pangkuannya.
Sampai di depan gerbang kostan, seorang satpam penjaga yang telah kembali bertugas menghampiri Zico. Keningnya mengernyit saat netranya menangkap pemandangan di mana Zee, salah seorang penghuni kost yang ia kenali, tertidur lelap dalam pangkuan seorang pria.
"Lho, ini 'kan ..?"
"Maaf, Pak! Bisa tolong bukain gerbangnya?" Zico menyela halus. Berdiri di bawah terik matahari nyatanya membuat Zico keringatan. Ditambah dengan membawa tubuh Zee yang lumayan. Cukup menguras sedikit tenaga.
"Siapanya Mbak Zee, ya? Kok, bisa sama ..."
"Saya sua- Ekhem, calon suaminya. Zee ketiduran, Saya nggak tega kalau harus bangunin, jadi ..." Oh panjang dari sang satpam diiringi segera bergerak membuka kunci gerbang.
"Makasih, Pak!"
"Sama-sama, Mas!"
Bergegas melangkah menuju lantai dua, tibalah di depan pintu kamar kost-kostan Zee, Zico berdesis sembari mengerutkan alis. "Kuncinya."
"Zico?" Gerutuan halus diiringi tubuhnya yang bergerak gelisah, nyatanya memecah perhatian Zico.
Netra cantik yang sempat terpejam lelap itu perlahan terbuka hingga membola. Refleks kedua lengannya memeluk leher Zico saat menyadari akan posisinya.
"Ka-kamu kenapa nggak bangunin aku?"
Satu alis Zico terangkat, begitupun dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik membentuk lengkungan tipis. "Kamu nyenyak soalnya."
Mendengus, Zee menatap malu-malu dengan bibir yang mengerucut. "Turunin! Ma-mau buka kunci 'kan?" Zico mengangguk. Dengan berat hati ia menurunkan Zee.
"Padahal apa susahnya sih tinggal bangunin? Jadi repot, 'kan?" Zee menggerutu disela membukakan kunci kamar kost. Ketika pintu berhasil dibuka, barulah Zee kembali menghadap Zico dengan ekspresi yang masih sama.
"I-itu, kamu mau masuk?" Tawaran Zee cukup menggiurkan di telinga Zico. Kedua sudut bibirnya kian melengkung indah tanpa Zico sadari.
"Iyalah. Mama nyuruh jagain kamu 'kan?" Kedipan manja Zico perlihatkan. Dengan wajah yang merona, Zee membuka lebih lebar pintu kostannya, mempersilakan Zico masuk.
Tak ingin membuang-buang kesempatan, Zico pun masuk setelah sempat melepas alas kaki. Teringat akan terakhir kali dirinya memasuki kamar kostan Zee tanpa melepas alas kaki, Zico berakhir kena semprot sekaligus kena timpuk.
Ya, walaupun setelahnya Zico mendapat jackpot, di mana dirinya kembali menghabiskan kesenangan bersama Zee di kamar mandi seperti ketika malam tahun baru.
Jujur saja, Zico tidak menyesal melakukan hal gila tersebut bersama Zee. Zico justru menikmati bahkan bersyukur mengetahui Zee kini telah mengandung hasil dari apa yang telah mereka lewati. Karena pada kenyataannya, hal tersebut telah direncanakan dari jauh-jauh hari oleh Zico untuk membuat Zee kembali kepadanya dan menetap di sisinya.
"I-itu, aku mau lanjut ganti baju dulu." Langkah Zee beralih menghampiri lemari pakaiannya. Teringat akan satu hal yang terlupakan, Zico mengekor. Kedua lengannya lantas dilingkarkan di tubuh Zee. Kepalanya turut andil bersandar di bahu Zee.
"Kenapa?" Zee menoleh bingung. Wajah Zico yang hampir tak berjarak, nyatanya sanggup membuat Zee gelagapan.
Astagaaa, sejak kapan mereka menjadi begitu lengket begini? Kemarin saja mereka terlibat cekcok di pinggir jalan. Dan sekarang?
"Aku punya sesuatu buat kamu." Zico mengurai pelukan. Perlahan membalikkan tubuh Zee agar menghadapnya.
Kening Zee mengernyit penuh tanya saat sebuah kotak merah maroon beludru dikeluarkan dari dalam saku jas. Ketika kotak tersebut terbuka, fokus Zee beralih tatap pada wajah Zico. Bola matanya melebar seiring dengan perasaan syok akan sesuatu yang diperlihatkan dari dalam kotak tersebut. Sebuah kalung cantik dengan inisial huruf Z serta bentuk hati sebagai liontinnya.
"Sini, deketan," ujar Zico. Senyuman tipis mengukir di wajah tampannya.
"Zico ini ... harganya berapa?" Zee menggigit bibir bawahnya. Perempuan itu merasa insecure saat lagi-lagi Zico memberikannya sesuatu yang mahal.
"Sttt ... Nggak mahal, kok. Cantik 'kan? Z bisa berarti Zee ataupun Zico." Terang Zico, seraya memakaikan kalung tersebut ke leher Zee. Senyuman puas kian tercetak jelas saat kalung tersebut telah sepenuhnya terpasang di leher jenjang Zee.
"Nah, udah. Sana, katanya mau mandi?"
Zee menunduk meratapi kalung di lehernya. Terlihat simpel dan menakjubkan. Sejujurnya, Zee sudah sering melihat foto-foto kalung tersebut di beberapa media. Dan Zee tahu betul berapa harganya.
"Zico, ini-"
"Zee. Terima, ya, please! Aku ingin membahagiakan kamu mulai dari saat ini. Jangan pernah tinggalin aku lagi! Sepuluh tahun udah cukup membuat aku mati rasa tanpa kamu, Zee."
Zee kembali menunduk. Dadanya sesak dan bola matanya berkaca-kaca. "Maaf! Maaf udah buat kamu terluka! Waktu itu aku terpaksa. Aku nggak punya jalan lain lagi. Aku-" Dekapan hangat menyentak tubuh Zee. Untuk yang kesekian kalinya, Zico kembali memeluk Zee.
"Aku tahu." Zico menghela napas gusar. Sesekali mengusap lembut surai hitam kecoklatan Zee dan mengecupnya penuh kasih sayang. "Lupain masa lalu, sekarang pikirin masa depan. Minggu depan kita nikah. Aku nggak sabar menanti hari itu, Zee."
...****...
Satu minggu kemudian ...
Dalam balutan dress putih pengantin dengan riasan selaras, Zee menatap dalam-dalam pantulan dirinya di depan cermin. Wajahnya tampak berbeda hari ini. Jantungnya terasa berdebar. Rasa gugup terus saja menyeruak dari dalam dada.
Menikah.
Terasa seperti sebuah mimpi bagi Zee. Apalagi pria yang akan menikah dengannya tak lain ialah Zico, kekasihnya di masa remaja. Hubungan mereka kala itu hanya bertahan selama tiga bulan. Zee yang lebih dulu memutuskan Zico dengan sebuah alasan yang jelas semuanya adalah kebohongan. Semuanya Zee lakukan sebab dalam keadaan terhimpit, sehingga mau tidak mau Zee melepaskan Zico sepuluh tahun lalu.
Namun sekarang, setelah sepuluh tahun perpisahan mereka, Zee justru dipertemukan kembali dengan Zico. Pertemuan di luar prediksi yang mengakibatkan Zee mengandung buah hati Zico dan sebentar lagi akan menyandang status sebagai istri sahnya.
Sentuhan halus menyentah bahu polos Zee. Tepat ketika perempuan itu mendongak, pupil matanya spontan melebar. Mulutnya yang semula terkatup rapat perlahan terbuka.
"Pak Edgar?" Astaga! Kenapa beliau bisa ada di sini?
Pak Edgar, kepala sekolah SMP Pertiwi 1, tersenyum ramah penuh arti. "Saya diundang di pernikahannya Bu Zee sama Pak Zico. Kenapa Bu Zee tidak bilang dari awal kalau wakil sponsor sekolah kita itu calon suami Bu Zee? Kami seluruh guru-guru SMP Pertiwi 1 diundang secara resmi ke pernikahan Bu Zee. Kami turut senang mendengarnya."
"Hah!? Se-semua guru diundang?" Zee kelabakan. Jantungnya memompa brutal memikirkan seluruh rekan gurunya turut hadir di pernikahannya.
Astagaaaa! Padahal Zee berniat untuk menyembunyikan status pernikahannya, tetapi Zee lupa membahasnya dengan Zico. Zee terlanjur terlena dengan semua rayuan manis Zico, apalagi di terakhir kali pertemuan mereka, Zico memberikan sebuah kalung padanya.
"Bu Zee?" Sahutan lembut Pak Edgar menyentak lamunan Zee. Netranya kembali fokus pada raut wajah Pak Edgar. "I-iya?"
"Ayo, Saya temani Bu Zee ke altar! Sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahan Bu Zee dengan Pak Zico. Dan juga, Bu Zee sudah Saya anggap seperti keluarga sendiri. Keluarga di SMP Pertiwi 1." Tertegun hampir menangis, kedua sudut bibir Zee tertarik membentuk senyuman tipis. Kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali.
"Terima kasih, Pak Edgar! Terima kasih sudah mau mengantarkan Saya! Saya seperti punya ayah sekarang."
...****...
Zee POV
Tepat ketika pintu aula dibuka, dapat kusaksikan puluhan atau bahkan mungkin ratusan tamu undangan yang hadir memenuhi kubu kiri dan kanan. Semua tatapan tertuju pada diriku yang berjalan di atas karpet merah ditemani seorang pria paruh baya yang tak lain ialah Kepala Sekolah tempat di mana aku mengajar.
Rasa gugup kian menjalar menggerogoti dada. Netra yang semula menatap satu persatu tamu undangan kini berpusat pada sesosok pria berkemeja putih dibalut mengenakan jas hitam serta dasi kupu-kupu yang begitu cocok dikenakannya.
Senyuman bahagianya dapat aku saksikan walau dari jarak yang cukup jauh. Langkah demi langkah terus dilakukan hingga akhirnya aku dan juga Pak Edgar tiba di hadapannya. Zico Pratama Regiantara.
Dengan ekspresi turut berbahagia, Pak Edgar menyerahkan tanganku pada tangan Zico. Hatiku berdenyut ngilu memikirkan betapa bagusnya bila sosok yang melakukan hal yang dilakukan Pak Edgar adalah papaku sendiri.
Sayang, aku tidak punya papa. Nenekku pernah bercerita jika mama adalah korban dari keegoisan pacarnya sendiri.
Bisa disimpulkan jika mamaku mengandung diriku di usia yang masih sangat muda. Sekitar tujuh belas tahun. Tanpa adanya ikatan pernikahan, mama melahirkan aku ke dunia. Laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab dan memilih mengejar mimpinya ketimbang menikahi mamaku.
Alasan kuat di mana mama memiliki gangguan kejiwaan adalah karena hal tersebut. Sering digosipi sebagai perempuan yang tidak bisa menjaga diri, perempuan nakal, dan lain sebagainya. Berbagai tekanan publik serta garis takdir yang dibuatkan Tuhan padanya membuat mentalnya terganggu.
Semasa kecil aku hanya dirawat oleh nenek, sementara mama dirawat di rumah sakit jiwa. Itu pun berkat pertolongan dari orang-orang baik yang mau merawat mamaku tanpa pamrih. Karena pada dasarnya, keluarga kami bukanlah keluarga yang memiliki segudang harta.
Hanya keluarga kecil biasa yang hidup seadanya.
"Sudah siap?" Pertanyaan sang pendeta memecah lamunanku.
Perhatianku yang semula ke mana-mana perlahan fokus pada bola mata Zico. Lagi-lagi jantungku berirama cepat. Masih tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi padaku.
Tatapan lembutnya mengalihkan duniaku. Tanpa sadar aku dibuat terhanyut hingga tak terlalu mendengar jelas ikrar janji yang terucap manis dari mulutnya.
Bak air sungai, semuanya mengalir begitu saja dari mulutku. Mengikrarkan janji dengan pikiran yang masih berlabuh pada titik sebelumnya. Ibaratnya mulut bertindak apa, sedangkan otak bertindak lain lagi.
Selesai saling berikrar janji, kami lanjut memasangi cincin di jari manis masing-masing. Pupil mataku melebar melihat tangan Zico yang sedikit bergetar saat hendak memakaikanku cincin pernikahan.
Kupikir hanya diriku yang gugup saat ini.
Selesai memakaikan cincin, aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana? Semuanya terjadi begitu saja ketika dengan gerakan lembut, Zico mencium bibirku tepat di hadapan ratusan tamu undangan yang hadir.
Sorak sorai diiringi tepukan tangan memenuhi aula hotel. Anehnya, suara tersebut tak membuatku merasa canggung. Dengan keberanian yang entah dari mana, bola mataku terpejam dengan kedua lenganku yang mengalung di leher Zico.
Hari ini, aku, Zee Anggika Stefani, sepenuhnya telah sah menjadi seorang istri dari Zico Pratama Regiantara.
Aku memiliki sebuah harapan besar akan pernikahan ini. Berharap hari bahagia yang terkesan terburu-buru ini tidak hanya berlangsung sampai di sini saja.
^^^To be continued...^^^
...Zee Anggika Stefani...
...Zico Pratama Regiantara...
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Pasangan serasi...
2024-02-04
1
Farida Wahyuni
doa yang baik2 selalu menyertai zee dan zico.
2024-01-09
1
bulu jetek juki
berasa bau2 ending hha/Curse/
2023-12-20
1