Episode 13

...Malam Pernikahan...

Tatapan mengerikan dengan aura mencengangkan, nyatanya diterima Zee saat menyapa para tamu. Raya, sahabatnya dari SMA Dharma, bersama sang tunangan, menghadap Zee dengan pakaian semi formal couple.

Dengan ekspresi bingung, Zee menyengir segan. "Lo dateng, Ray-"

"Bacot! Kemaren gue dapet undangan di mana besoknya sahabat gue menikah sama orang-" Raya menjeda kalimatnya. Netranya melirik ke arah Zico yang menatapnya datar. Sesekali kedua alisnya tampak naik turun seolah tengah membanggakan diri.

Tak berapa lama kemudian, Raya mendengus dengan fokus kembali pada Zee. "Bener-bener ya, lo! Kalian kapan balikannya sih? Nggak bilang-bilang, tahu-tahu nyebar undangan, mana jadwalnya buat besoknya, lagi. Untung gue bisa nyempetin jadwal."

"Sorry, Ray! Lain kali gue cerita, deh, sama lo." Kata Zee. Senyuman tak enak hati kembali Zee tampilkan.

Menghela napas panjang, Raya mengangguk pasrah. "Ya udah, iya. Btw, Happy Wedding, ya! Ekhem, nanti pas buka kado pokoknya punya gue yang paling istimewa. Ada notesnya. Gue yakin lo bakal suka." Papar Raya. Ekspresi kesalnya berangsur membaik.

Selepas memberikan selamat pada Zee, Raya lanjut pada Zico. Mood-nya kembali hancur hanya karena sepasang netra keduanya saling pandang beberapa saat.

"Lo apain sahabat gue sampai dia terpaksa nikah sama lo?" Tatapan Raya memicing tajam. Dengan cepat Dani selaku tunangan merangkulnya. Senyuman kecut dia perlihatkan sembari mengode sang kekasih untuk tidak membuat onar.

"Sayang, kita turun ke-"

"Bentar. Heh, Zico! Jawab jujur, lo apain Zee sampai dia mau balikan lagi sama lo?"

Zico bergumam beberapa saat. Kepalanya menoleh pada Zee yang tampak pasrah di tempatnya.

Baiklah!

"Jawab jujur, nih?"

"Eh, jangan!" Selaan Zee, mendapat pelototan kontan dari Raya.

"Tuh, nggak dibolehin sama istri gue. Cukup 'kan?" Zico tersenyum manis. Senyuman paling manis yang anehnya tampak begitu menyebalkan di mata Raya.

"Heh, jangan-jangan lo apa-apain bestie gue lagi?!"

"Iya. Kenapa emangnya? Anyway, Makasih ya, udah ninggalin Zee waktu malam tahun baru. Gue jadi bisa seneng-seneng deh, sama Zee." Seringai tak terduga menghiasi wajah Zico.

"Mak-sud-nya?" Otak kecil Raya dipaksa berpikir keras. Sayangnya, belum sempat Raya menangkap maksud Zico, Dani telah lebih dulu menggiringnya pergi.

"Ayo, kita belum icip makanannya!"

"Eh, tapi itu tadi maksudnya si Zic-"

"Udah, lupain."

Terkekeh sarkas, Zee memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa pengantin. Kepalanya sakit dan pusing mengingat kata-kata apa saja yang dilontarkan Zico barusan pada sahabatnya.

"Bener-bener nggak ketolong." Gerutu Zee. Tamu yang berdatangan untuk mengucap selamat sedikit demi sedikit berkurang. Akhirnya Zee dapat sedikit bernapas lega untuk sekadar mengistirahatkan kakinya yang pegal karena terlalu lama mengenakan high heels.

"Yang, kamu udah laper belum? Mau aku ambilin makan?"

"Nggak usah, nggak nafsu." Kata Zee. Helaan napas berat diiringi ekspresi wajahnya yang tertekan, malah dibalas kekehan geli oleh Zico.

"Ya udah." Pungkas Zico, lalu ikut mendudukkan diri di sofa sebelah Zee. Membuka ponselnya dan lanjut push rank untuk mengisi waktu luang.

Haa! Waktu luang matamu?

Hari ini mereka baru saja menikah, dan acara pun masih belum selesai sepenuhnya, namun Zico sudah mulai bersantai, seolah hari ini bukanlah hari bahagianya.

Dikala berpikir keras ribuan kali, otak Zee akhirnya telah menangkap dan menyimpulkan berbagai pertanyaan yang selama ini terus menghantui. Tawa kelakar yang terkesan anggun nyatanya menarik perhatian Zico. Laki-laki itu menoleh sepersekian detik sebelum akhirnya fokusnya kembali pada layar ponselnya.

"Zico!" Zee menyahut. Terdengar dingin sehingga membuat Zico mau tidak mau mematikan ponselnya.

"Kenapa, Sayang?"

Zee mencibir. "Sayang, sayang, Bapak lo kayang? Malem itu, waktu pertemuan kita di acara reuni, itu semua udah lo rencanain 'kan?"

Kening Zico mengernyit. "Yang bagian mana?"

"Ya, semua!"

"Sebutin satu-satu,"

Kedua pipi Zee merona. Dengan menarik napas dalam-dalam, Zee memaparkan; "Pokoknya yang pas lo nawarin gue minum di tempat lain terus bawa gue ke kamar hotel. Itu maksudnya apa coba? Lo sengaja 'kan?"

Kedua sudut bibir Zico tertarik. "Iya, gue sengaja. Kenapa? Bukannya habis itu lo ngangguk aja pas gue ajak buat habisin malam bareng? Lo juga nggak nolak waktu gue belai-"

"Zico!" Zee semakin merona. Mulut Zico kian brutal saja saat meluncurkan berbagai kata-kata.

Zico tertawa geli. Jemari tangannya terulur menyentuh puncak kepala Zee, kemudian sentuhannya turun ke pipi yang langsung ditepis oleh si empunya.

"Iihh, jangan sentuh!"

"Garang banget. Eh, btw, kok manggilnya 'lo-gue' lagi?" Ekspresi Zico beganti sok melas. Beruntungnya Zee tidak langsung terkecoh. Kali ini perempuan itu mulai paham betul cara bermain Zico.

"Bodo amat! Gue lagi kesel sama lo! Bisa-bisanya lo ngundang semua rekan guru SMP Pertiwi 1 tanpa sepengetahuan gue. Sampai seluruh angkatan 28 alumni SMA Dharma pun lo undang, astaga Zicooo! Lo tahu nggak, tadi mereka pada kayak gimana komuknya? Ekspresi mereka tuh pokoknya-"

"Udah, jangan menggerutu. Apalagi sampai marah-marah. Kasian calon anak kita. Kena mental mulu sama sikap mamanya."

"Berisik! Salah siapa coba gue kayak gini?" Emosi Zee belum juga mereda. Menyurutkan senyuman tengil Zico hingga berganti netral.

"Kalau gue nggak rencanain semua hal kek gitu, lo akan kabur kayak waktu itu. Inget, Zee! Sekali lo pernah masuk ke hidup gue, jangan harap lo bisa keluar." Tegas Zico, sebelum akhirnya mengedipkan salah satu matanya dengan penuh kepuasan diri.

"Udah, mending sekarang kita isi perut dulu. Mau makan apa?"

Mendengus pasrah, Zee melipat kedua lengan di depan dada. Tak lupa dengan bibirnya yang mengerucut, masih menahan emosi. "Terserah!"

"Ya udah, aku ambilin dulu. Tunggu, ya!"

"Hm."

...****...

"Untuk malam ini kami sudah menyiapkan kamar hotel buat kalian tempati selama semalam. Oh, ya. Barang-barang Zee udah diangkut semua ke rumah, jadi besok selesai nginep di hotel kalian langsung pulang ke rumah, ya. Em, amplop sama kado pernikahan kalian udah disusun sama Mama di kamarnya Zico. Nanti kalian aja yang buka." Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh terhadap keluarga, Alaska menerangkan panjang lebar.

Seluruh keluarga dimulai dari ia dan sang istri, Zico dan Zee, serta ketiga putra putrinya, Zino, Zio dan Alasha, tengah dikumpulkan sejenak untuk sekadar makan malam keluarga di sebuah restoran ternama. Bisa dibilang, seluruhnya telah menyelesaikan acara makan. Sebentar lagi waktunya pulang.

Oh, ya. Bisa dibilang, seluruhnya telah berganti kostum dengan pakaian yang jauh lebih santai untuk sekadar acara makan keluarga.

Senyum Sharon tertarik selaku ibu dari keempat anak-anaknya pun mertua dari Zee. "Ini udah jam sembilan malam. Kita akhiri di sini aja, ya." Terangnya. Perhatiannya kemudian beralih pada putra sulungnya beserta istrinya. "Zee, Zico. Mama sangat bahagia sekali atas pernikahan kalian. Mama belum sempat ngasih kado secara langsung, ya?"

Zee tersenyum halus. "Nggak usah, Mah. Justru semua yang Mama lakuin di pernikahan Zee sama Zico aja udah terlalu banyak. Zee bahkan nggak mengeluarkan uang sepeser pun. Harusnya-"

"Hei, mulai deh!" Sharon menyela cepat. "Zico, kamu nggak nyuci otak istri kamu 'kan?"

Kening Zico mengernyit dalam. "Nyuci otak gimana?"

"Ya, misalnya-"

"Sudah, sudah. Sekarang kita pulang. Alasha, kamu mau semobil sama Papa Mama lagi?" Menyela sang istri, Alaska menyahuti putri bungsunya yang terlihat murung untuk beberapa waktu yang dihabiskan. Selain berubah menjadi pendiam, gadis itu tampak sesekali merungut dengan ekspresi malas.

"Nggak. Alasha mau nebeng sama Kak Zino aja."

Perhatian Alaska beralih pada putra keduanya. "Zino, Papa titip Alasha, ya. Jangan kebut-kebutan bawa mobilnya!"

"Iya, Pah."

Lalu perhatian Alaska beralih pada sang putra ketiga, Zio. "Kamu tadi katanya bawa motor? Langsung pulang ke rumah 'kan?"

"Nggak, aku mau pulang ke restoran aja. Ngidep di sana, Pah. Boleh 'kan?"

Alaska melirik sang istri. Wajahnya tertunduk lesu selepas mendengar ujaran Zio. Menghela napas, fokus Alaska kembali pada putranya. "Untuk malam ini aja, kamu mau ya, pulang ke rumah? Kasihan Mama kamu. Semenjak kalian pada besar semua dan memilih berkarir masing-masing, udah nggak ada yang manja-manjaan lagi sama Mama. Ya, Zio, ya?"

Diam-diam Zio memerhatikan raut wajah murung sang mama. Jujur saja, perasaan sesak itu ada. "Ya udah, Zio pulang ke rumah." Senyum lega Alaska tertarik. "Makasih, ya, Zio! Oh, ya. Zico sama Zee, kalian kalau mau mau langsung ke hotel sekarang duluan juga nggak pa-pa. Ini biar Papa yang urus pembayarannya."

Saling menoleh, tak berapa lama fokus Zee dan Zico kembali pada sang papa. "Ya udah, kita duluan, ya, Pah." Pamit Zico, diikuti Zee. Keduanya lanjut pamitan pada sang mama. "Mah, kita pergi duluan, ya."

"Hati-hati! Zee-nya dijagain yang bener. Inget, Zee lagi hamil!" Wanti-wanti Sharon. Tak lupa cipika-cipiki dengan menantu kesayangannya.

"Iya, Mah. Kita duluan,"

"Hm."

...****...

Di sepanjang perjalanan mereka pulang, Zee mengernyit heran. Ini bukan jalan menuju hotel tempat mereka menggelar pernikahan tadi. Ke mana Zico mau membawanya pergi? Diliriknya sang empunya yang tengah sibuk mengemudikan mobil.

"Zico!"

"Hm."

"Ini jalan mau ke mana? Kita nggak jadi nginep di hotel?"

Zico menoleh singkat dengan kedua sudut bibir yang tertarik. "Jadi, tapi bukan hotel yang tadi."

Ketika Zee hendak melontarkan pertanyaan lain, pupilnya melebar saat tidak sengaja menatap ke luar kaca mobil. Tepat ketika Zee menoleh kembali pada Zico, laki-laki itu tengah tersenyum puas penuh arti tanpa sedikit pun melirik ke arah Zee.

Tiba di parkiran, barulah Zico memberhentikan mobilnya. "Ayo, kita udah sampai!"

Zee cemberut. Netranya memicing. "Lo sengaja 'kan?"

Mendengus, Zico memilih melepas seat belt-nya, kemudian lanjut melepaskan seat belt Zee. "Ayo! Udah nggak sabar pengen rebahan, capek. Nanti pijitin, ya, Sayang."

"Iihh, kenapa harus hotel ini, sih?" Zee merungut. Wajahnya turut memerah padam jika diperhatikan lebih detail.

Kedua alis Zico mengerut hampir bertaut. "Kenapa emangnya?" Tanya Zico, sok merasa tidak paham. Padahal jelas sekali Zico sendiri yang telah merencanakan semuanya.

"I-ini 'kan hotel-"

"Tempat kita menghabiskan malam tahun baru." Sela Zico. Seringaian misterius mendominasi malam itu.

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Zico... Mau mengulang mp nya tuhh sm zee

2024-02-04

2

Ghania-chan

Ghania-chan

maksudnya si zee udh diunboxing sma dia pas lu dilarikan ke rumah sakit atau apalah pokoknya_-

2023-12-21

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!