Episode 19

...Sedikit Kabar Gembira...

Rona kesedihan masih terpampang nyata di wajah Zee. Sarapan pagi yang hanya berupa nasi goreng seafood dan acar serta tambahan lauk lain seperti sosis dan nugget goreng, tak lagi terasa berselera di mata Zee. Diam-diam air matanya kembali luruh saat otaknya memikirkan sang mama.

Lagi, usapan halus menyapu permukaan pipi Zee. Ketika memberanikan diri mendongak, tatapan halus diiringi senyuman tipis menyungging di wajah Zico.

"Sarapannya dimakan dong, Sayang, jangan didiemin aja. Hm?"

Zee mendengus lantas menjauhkan piringnya. "Aku nggak laper."

"Aku suapin, ya?" Zico mengambil suapan penuh yang melayang tepat di depan mulut Zee.

Sempat hendak menolak, gestur wajah Zico membuat Zee berakhir pasrah hingga membuka mulut. Menerima dengan terpaksa suapan tersebut.

"Hm, masakan kamu nggak ada yang nggak enak. Semuanya enak!" Senyuman manis Zico kian mengembang. Seberusaha mungkin Zico tidak mengungkit alasan mengapa Zee seperti ini, sebab sebelum tadi Zico menyeka air mata Zee waktu di teras, Zico telah lebih dulu memerhatikan gerak-gerik Zee yang tengah menatap sebuah potret lama.

Tak heran Zico tak bereaksi apa-apa, sebab ia tak ingin Zee semakin terluka dengan membahas keluarganya.

"Udah kenyang," Zee menjauhkan diri saat suapan lain kembali dilayangkan ke depan mulutnya.

"Baru juga satu suap. Kamu tuh harus banyak makan, banyak istirahat, jangan lupa juga obat sama vitamin dari dokter tuh diminum teratur. Sekarang kamu lagi hamil, harus punya energi lebih. Ayo, buka lagi mulutnya!" Ceramahan Zico sepertinya sedikit menggerakkan jiwa keras kepala Zee.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Zee kembali membuka mulutnya. Walau enggan, Zee tetap mengunyah sarapannya. Beberapa puluh menit berlalu, Zee selesai melahap habis sarapannya dengan disuapi Zico. Zico pun telah menyelesaikan sarapannya. Dilanjut minum air putih lalu membawa seluruh piring kotor ke dalam wastafel.

Sementara Zee, perempuan itu sibuk mencari letak obat dan vitamin yang disimpan di laci rias. Kembali dari kamar, Zee melotot melihat Zico tengah mencuci piring kotor sendirian.

"Padahal kamu taruh situ aja, nggak usah dicuci, nanti biar aku yang beresin." Zee menatap segan, sementara Zico hanya terkekeh sembari melirik Zee sekilas.

"Nggak pa-pa. Sesekali,"

"Tapi-"

"Suttt ... Obat sama vitaminnya udah diminum?" Zico mengalihkan pembicaraan. Tentunya masih dengan kedua tangan yang sibuk mencuci alat makan.

"Em, baru diambil,"

"Ya udah, cepetan diminum. Nanti keburu lupa."

Zee mengangguk seraya menghela napas panjang. Kedua kakinya melangkah mengambil gelas baru untuk diisi air minum. Tak berhenti sampai di sana, Zee bergerak menuju kursi makan. Membuka masing-masing satu segel obat serta vitamin untuk ia minum satu persatu. Tak butuh waktu lama, Zee telah selesai minum obat dan vitaminnya. Begitupun dengan Zico yang telah menyelesaikan mencuci alat makan.

"Nah, sekarang kita mau ke mana?" Senyuman manis Zico masih belum juga luntur. Dan untuk yang kesekian kalinya, Zee merasakan jantungnya berdebar gara-gara senyuman itu.

"A-aku nggak tahu." Zee membuang muka. Pipinya merona tanpa dirinya sadari.

"Jalan-jalan di luar aja gimana?" Zico mengulurkan tangannya. Sontak Zee menoleh. Berkedip dalam sebelum akhirnya menjatuhkan tatapannya kembali pada Zico.

"Pengen beli eskrim." Cicit Zee. Sorot matanya tampak memelas seperti anak kecil.

"Makanya, ayo jalan ke luar! Atau ... mau aku gendong?" Kedipan manja Zico layangkan. Sempat terjadi adegan baper beberapa saat, tawa renyah Zico membuat Zee langsung tersadar sepenuhnya.

"Ayo, sekalian ajakin Little Zico jalan-jalan! Kasian di dalam ruangan mulu, mumet katanya,"

Kening Zee mengernyit. "Little Zico?" Mulutnya membeo.

Zico mengangguk. Tangannya menyentuh perut Zee bahkan mengelusnya lembut. Senyuman manis lagi-lagi menyungging di wajahnya. "Little Zico!"

"Dih!"

...****...

Bertepatan ketika Zee baru keluar dari villa, seorang pria paruh baya bersama sebuah sepeda berhenti tepat di halaman teras. Sempat bertanya-tanya, Zico tiba-tiba menyembul dari balik pintu dengan netra berbinar tatkala pria paruh baya itu juga mengedarkan perhatian hingga tatapan mereka bertemu.

"Udah sampai aja nih, Pak Ari?" Zico menyahut sopan seraya memakai sepatu sneakers putih yang bisa dibilang couplean dengan yang saat ini dikenakan Zee.

"Eh, iya Mas Zico! Takutnya Mas Zico udah keburu jalan duluan. Ini, katanya kemarin Mas Zico sempat telepon Saya, ya? Tapi yang ngangkat Putri, Anak Saya. Dia bilang sama Saya katanya Mas Zico pengen dianterin sepeda ke villa."

Zee yang jadi pendengar pun menoleh bingung pada Zico. "Sepeda buat apa?"

Zico terkekeh. "Ada. Oh, ya. Pak Ari, kenalkan ini Istri Saya, Zee." Lantas memperkenalkan Zee. Bergegas Zee menjabat tangan Pak Ari yang diterima baik oleh beliau.

"Zee,"

"Panggil saja Pak Ari."

Zico merangkul Zee mesra. "Gimana, Pak? Istri Saya cantik 'kan?"

"Zico, iih!" Zee merona, refleks menyikut Zico.

Pak Ari mengangguk sembari terkekeh. "Mas Zico memang pintar bisa mencari istri yang cantik seperti Mbak Zee."

Astaga, Zee jadi semakin malu kalau dipuji dua kali begini!

"Mas Zico, Saya mau lanjut lagi saja kalau begitu. Masih banyak kerjaan di rumah. Jadi, Saya mau langsung pulang saja."

"Buru-buru banget. Nggak pengen mampir dulu? Biasa, ngopi sambil main catur,"

Pak Ari tertawa ringan. "Mungkin lain kali saja, Mas. Pak Ari permisi dulu, ya," pamitnya, lalu melenggang lebih dulu dengan berjalan kaki.

"Hati-hati, Pak!"

"Iya, Mas."

"Rumahnya Pak Ari deket sini?" Zee menyahut selepas sosok Pak Ari hampir tak dapat terjangkau.

"Iya." Zico melepaskan rangkulannya. Tangannya merogoh sesuatu dari sebuah paper bag yang baru Zee sadari berada di gengaman Zico.

"Nih, biar nggak panas!" Sebuah topi bundar lebar berwarna cream dengan pita hitam melingkar di tengahnya. Zico tertawa geli saat wajah Zee yang tergolong kecil hampir tak terlihat berkat topi tersebut.

Masih dengan ekspresi datar, Zee meraba topinya. "Gede banget."

"Nggak pa-pa. Biar skincare-nya nggak luntur,"

Zee mencebik. Cubitan gemas di pipinya membuat Zee memelototi Zico. "Apaan si? Lepas, nggak?"

"Makanya jangan cemberut mulu. Ayo, kita jalan-jalan ke depan pake sepeda itu! Aku yang bonceng."

...****...

Suasana panas berangin khas pantai dan tidak terlalu ramai orang berlalu lalang, dalam diam dinikmati Zee dengan sesekali memeluk erat pinggang Zico yang tengah menganyuh sepeda menyusuri setiap tempat.

Lengkungan manis tak henti-hentinya terus menyungging cantik di wajah Zee. Jantungnya turut meletup-letup. Sesekali Zee menoleh pada Zico yang juga tengah menyunggingkan senyuman manis.

Omong-omong, dari mana Zico memiliki ide manis seperti mengajak Zee berboncengan naik sepeda di pantai seperti ini? Seolah-olah keduanya tengah menikmati kencan manis anak muda.

"Tadi katanya kamu mau eskrim?" Sahutan Zico membuyarkan lamunan Zee. Perempuan itu kembali menoleh sembari berpikir keras. "Mau!"

Zico terkekeh. "Di depan ada cafe yang nyediain dessert eskrim spesial. Nanti kita mampir ke sana." Katanya, seraya mengayuhkan sepeda semakin cepat. Sontak pelukan Zee mengerat.

"Pelan-pelan, iih! Nanti jatuh!"

Zico tersenyum bangga. "Pegangan yang erat makanya,"

"Zico, pelan-pelan! Anak kamu kaget, nih- Awh!" Zee meringis saat Zico tiba-tiba mengerem sepedanya secara mendadak. Membuat dahinya membentur punggung tegap Zico. "Apaan sih? Kamu bikin kita kaget tahu!" Satu tepukan pedas melayang di punggung Zico.

"Ada ayam lewat, Yang, tuh!" Zico menunjuk ke depan dengan bibirnya yang dimajukan.

Zee mendengus namun juga mengikuti ke mana arah tunjukkan Zico. "Ihh, udah ah, aku mau turun di sini aja! Kamu bawa sepedanya kasar." Seperti perkataannya, Zee beranjak turun. Ekspresinya suram seperti masa lalunya.

"Lha, Zee?" Karena panik, Zico turut beranjak. Terburu-buru memasang standar sepeda sebelum akhirnya berjalan gontai mengejar istrinya.

"Yang, mau ke mana?" Zico menyahut masih mengekor di belakang Zee.

"Ke mana aja yang penting nggak dibonceng naik sepeda sama kamu! Bisa-bisa aku lahiran sebelum waktunya." Gerutu Zee. Dengusan kesal perempuan itu embuskan.

"Iya, iya, maaf! Nggak ngebut lagi, janji. Ya?" Zico berhasil berdiri menghadang Zee. Kedua lengannya direntangkan takut Zee melarikan diri.

Zee menyipitkan mata. "Janji?" Jemari telunjuknya terangkat mengintimidasi.

"Iya, janji! Maaf, ya! Aku ambil dulu sepedanya, kamu tunggu di sini, oke?" Zico sedikit bernapas lega saat Zee merespons positif. Walaupun hanya anggukkan kepala malas, Zico tetap bersyukur.

Entah kenapa akhir-akhir ini Zee mudah sekali terbawa emosi.

Disela Zico berjalan menuju sepeda, ponsel Zee yang ditaruh di dalam tas selempang berdering bahkan bergetar. Tanpa pikir panjang Zee pun merogoh benda pipih persegi panjang tersebut. Napasnya tercekat saat nama kontak sang penelepon terpampang besar di layar ponselnya.

Dengan menarik napas dalam-dalam lalu diembuskan, Zee mengangkat panggilan suara tersebut. Jantungnya bergemuruh saat suara sapaan halus terdengar dari seberang telepon.

"Halo, Mbak Zee?"

"I-iya. Ada apa ya, Sus? Apa Ibu Saya ..." Zee menggantungkan ucapannya, tak berani melanjutkan.

"Begini, Saya ingin mengabarkan sebuah kabar baik. Kondisi Ibu Dania sudah mulai stabil. Dan sepertinya beliau mengingat Anda. Beliau ingin melihat Anda."

"A-apa? Ibu Saya ...?" Zee tak dapat membendung rasa haru yang bergerilya dalam dadanya. Air matanya lagi-lagi luruh dan mendapat respons salah paham dari Zico.

"Zee? Kenapa? Ada apa? Kenapa kamu nangis, hm?"

Zee tak langsung membalas. Perempuan itu lalu mematikan sepihak sambungan teleponnya, lantas melompat ke pelukan Zico. Tangis harunya kian membuncah.

"Mama, Zico! Mama udah mulai stabil, dia inget lagi sama aku! Aku-" Zee terbata. Tawa bahagia penuh air mata terdengar menusuk dada.

"Akhirnya. Jadi, mau pulang sekarang?" Zico merengkuh Zee. Memeluknya erat bahkan sesekali mengusap punggungnya dengan lembut.

Tak dapat dipungkiri, Zico turut bahagia mendengar berita baik tersebut. Senyum tipisnya menyungging tulus.

"Hm. Aku pengen ketemu Mama hari ini juga."

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Mdh mdhan mama nya zee sehat trus.

2024-02-05

1

Vietha_27

Vietha_27

syukurlahh.
ada kabar baik buat Zee karna mamanya mulai inget sm Zee lagi.
😇

2023-12-26

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!