...Tiga Bocil Kematian...
"Mampus."
"Kak Zico!"
Detik itu juga, pelukan erat kelewat barbar melingkar di tubuh Zico. Sempat mengerjap beberapa saat, Zico mencoba menjauhkan diri dari pelukan adik perempuannya yang dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Masih sama kekanakan dan posesif terhadap Zico.
Diam-diam Alaska sebagai seorang ayah mendengus. "Alasha! Kak Zico doang yang dipeluk? Papanya nggak?"
"Bentar, Pah! Alasha masih pengen peluk-"
"Apaan sih lo? Punya cowok nggak? Ngapain masih peluk-peluk gue?" Zico mencoba menjauhkan diri sebisa mungkin. Bisa gawat kalau Zee sampai lihat. Bisa-bisa Zico akan ditertawakan nanti.
Alasha mendengus. Dengan berat hati melepas pelukannya. Di detik yang sama, sebuah tepukan pedas gadis itu daratkan pada bahu sang kakak. "Ngeselin! Gue tuh kangen sama lo, Kak! Lo tuh kakak kesayangan gue, pengertian dikit dong."
Zico bergidik. "Nggak! Gue udah punya istri. Setop peluk gue!"
Tawa renyah Alasha dibalas pelototan tajam. "Halu lo, Kak? Jam segini, lho? Selain mantan lo sewaktu SMA dulu yang mau pacaran sama cowok kaku kayak lo, siapa lagi yang mau nerima lo? Lo tuh selain kaku, mulutnya pedes, galak, dingin. Ya, walaupun kadang perhatian. Selebihnya lo minus, sih, Kak."
"Adek biadab lo! Sini, nggak!? Gue punya hadiah khusus buat lo!" Zico berancang-ancang hendak memberikan Alasha pelajaran. Sayangnya, gadis itu lebih dulu melarikan diri ke belakang sang papa sambil sesekali menjulurkan lidah.
"Sini aja kalau berani. Gue punya Papa!"
"Dasar cewek manja! Kerjaan lo minta tuh duit mulu sama Papa. Main judi online 'kan lo? Makanya uang jatah bulanan habis kepake seminggu." Tuduhan Zico berhasil membuat Alaska menoleh galak pada putrinya.
"Benar itu, Alasha?"
"Ha-hah?! Eng-gak! Enak aja! Gue perawatan, beli skincare, make up, baju, sepatu, biar cantik. Biar bisa menggaet Kak Gabriel, most wanted kampus! Seleranya tuh yang-" celotehan Alasha diharuskan terpotong oleh suara derit pintu utama yang dibuka cukup kasar dari luar.
Tak hanya Alasha, Zico bahkan sang papa, Alaska, turut mengalihkan perhatian pada pintu utama. Ekspresi yang ketiganya perlihatkan bisa dibilang tidak sinkron. Alaska dengan senyuman tipis khas, sedangkan Alasha dan Zico, keduanya tampak mendengus bahkan berdecak malas.
"Wahh, ADA BANG ZICO!"
Alasha memelotot saat sosok yang tak lain ialah Zio, kakaknya yang berjarak tiga tahun dengannya, berlari kegirangan menghampiri Zico. Sontak gadis itu kembali melompat ke pelukan Zico sebelum didahului Zio.
"Minggir, nggak lo! Kak Zico punya gue!" Alasha menyolot garang. Sementara Zico, selaku orang yang diperebutkan hanya bisa pasrah dan mengurut pelipis.
Zio tersenyum menyeringai. "Anak kecil minggir dulu. Gue ada bisnis sama Abang gue!" Bola mata Zio berbinar saat beralih menatap Zico. "Bang Zico! Gue pengen-"
"Heh, apa-apaan, nih? Peluk-pelukan ala lelet abis nggak ngajak-ngajak. Gue juga mau, lah!" Kehadiran Zino, putra kedua yang baru tiba dari Landon, semakin menambah beban berat bagi Zico.
"Teletubis! Lelet abis apaaa lagi, ah! Pokoknya, hari ini Kak Zico cuma punya gue! Minggir lo semua!" Alasha kian menjadi-jadi dalam keposesifannya terhadap Zico. Ucapannya yang menggelegar ke seluruh ruangan, sedikit membuat telinga Zico sakit sampai berdenyut.
"Sha, lepas dulu-"
"Nggak!"
"Elah, tinggal join peluk."
"Bang Zicooo!" Dengan tampang menyebalkan, Zino dan Zio berlari kemudian sama-sama melompat memeluk tubuh Zico, di mana masih terdapat Alasha yang berceloteh kesal. Sesekali mendorong kedua kakak-kakaknya untuk menjauh namun tak membuahkan hasil.
Zico mendengus parau. Batinnya berteriak meminta tolong untuk dijauhkan terlebih dahulu dari ketiga adik-adiknya yang senantiasa bersikap demikian sedari kecil hingga kini beranjak dewasa.
"Gue hitung sampe tiga, kalau kalian masih juga peluk gue, kalian tahu sendiri akibatnya." Zico menatap nyalang Zino, Zio, tak terkecuali Alasha yang memasang tampang sok memelas meminta dikasihani.
Alasha mencebik seraya mendengus. "Jahat banget sih, Kak Zico,"
Zino mengangguk. "Bentaran doang. Lo tuh sandaran gue satu-satunya, Bang!"
Zio ikut mengangguk sembari kian mengeratkan pelukannya. "Nanti malem tidur bareng, ya, Bang? Bertiga, kayak dulu."
"Ogah! Satu,"
"Ihh, nggak mauuu!" Alasha cemberut namun juga panik.
"Dua,"
"Elah, Bang! Sama adek sendiri juga." Zio tak rela jika harus dirinya duluan yang melepaskan Zico, sementara Zino dan Alasha masih setia nemplok.
"Ya udah. Siap-siap aja gue bongkar aib kalian satu persatu di hadapan Mama!"
"Wa-waduh!? Jangan dong, Bang! Bisa gaswat kalau Mama sampai-
"Ti~ ga!"
Karena panik, Zino, Zio maupun Alasha segera melepaskan pelukan mereka. Sorot wajah ketiganya tampak memelas. Takut jika abang tertua mereka benar-benar menyebutkan aib paling keramat yang hanya mereka ceritakan pada Zico.
Bisa dibilang, ketiga adik-adiknya ini sering curhat entah itu masalah pribadi maupun sekadar gosip terkini hanya pada Zico. Selain pendengar dan penasehat yang baik, Zico ini sudah seperti pilar lain selain papa mereka.
Zino juga sempat mengatakan jika Zico adalah sandaran satu-satunya baginya.
Ucapan itu bukanlah sekadar ucapan belaka. Karena Zico memang begitulah di mata Zino dan para adik-adiknya.
"Udah, ya! Gue udah nikah, minggu depan ngadain acara sakral. Nggak usah sok lebay kayak tadi. Kalau istri gue lihat, bisa mati gue." Zico menggerutu. Saat hendak menduduki sofa sebelumnya, gerakannya langsung ditahan oleh Zino.
Tak hanya Zino, Zio dan Alasha juga ikut-ikutan. Ketiganya menatap horor abang mereka dengan tatapan menuntut.
"Maksudnya?"
"Lo udah nikah? Kapan? Kok nggak ngasih tahu kita?"
"Ini prank 'kan?"
Tawa puas memenuhi wajah Zico. Dengan sekali tarikan, Zico berhasil menepis tangan ketiga adiknya. "Barusan gue habis daftarin nikah sama fitting baju. Ini gue sama Papa lagi bahas dekorasi. Sedangkan Mama ... Mama lagi di kamar gue sama kakak ipar kalian. Sapa yang bener. Awas kalau kalian berani bikin istri gue ketakutan!"
"What the ...? Nggak mungkin! Lo cuman mau nakut-nakutin kita 'kan?" Dari sudut hati yang terdalam, Zio teramat tidak terima jika memang Zico telah mendaftarkan pernikahan dan akan melangsungkan acara dalam waktu dekat seperti yang dikatakan.
"Iya! Kita nggak percaya! Mana buktinya?" Berusaha untuk tetap tenang, Alasha menghela napas sembari melipat kedua tangan di depan dada.
"Zino, Zio, Alasha! Kalian harus terima kenyataan kalau kakak kalian ini mau nikah. Udah, ya. Duduk, sana! Atau nggak mandi dulu, nanti kita bicara lagi setelah makan." Ucapan halus tersebut berasal dari sang papa. Barulah ketiganya berangsur melunak dan memilih diam.
"Buru-buru banget nikahnya. Emangnya nggak bisa entaran dulu?" Zino cemberut, lalu menduduki sofa lain seraya mendengus.
"Tahu, nih. Mana nggak bilang-bilang kita," Zio mengikuti ke mana Zino duduk. Pemuda itu meraih kotak tisu dan mengacak-acak satu persatu hingga berhamburan keluar.
Alasha mendengus, lalu memilih mengekori langkah Zio dan duduk di sebelahnya.
Zico mendengus parau. "Cewek gue hamil. Nggak bisa ditunda lagi. Ya, sorry kalau bikin kalian kaget."
"Kok bisa?" Zino, Zio dan Alasha menyahut sama. Ketiganya sempat saling menoleh, sebelum akhirnya memilih merapatkan tempat duduk, dengan tatapan nyalang yang tak bisa dialihkan dari Zico.
"Ya, bisalah. Orang gue yang hamilin."
Selaku papa sekaligus kepala keluarga, Alaska mendesis ngilu mendengar perkataan putra sulungnya. "Zico! Pake filter ngomongnya. Mereka masih anak-anak, emangnya kamu, brutal? Mirip siapa coba?"
Perhatian Zico beralih pada sang papa. Keningnya mengernyit dengan satu alis yang terangkat. "Anak-anak dari mananya, Pah? Zino tahun ini maju 25, Zio udah 23, Alasha kemaren HBD ke 20. Di mana letak anak-anaknya?" Zico menggelengkan kepala. "Satu hal lagi. Aku anak pertama Papa, berarti sikap aku turun dari ..?"
"Papa!" Sela Zino dan Zio. Keduanya tertawa receh lalu saling bertos ria.
"Wah, gue juga mau nyari cewek, ah! Mau nyusul Bang Zico pokoknya!" Zino berucap menggebu. Sontak mendapat pelototan tajam dari Zico.
"Heh, jangan ngikut gue, lo! Belajar yang bener. Awas aja S2-nya nggak dilanjut,"
"Tahu, si Zino!" Zio menimpuk Zino dengan gulungan tisu. Jelas saja hal tersebut mengundang sedikit emosi.
"Si Zino, si Zino! Gini-gini gue abang lo, woi!"
Alasha menggaruk kedua daun telinganya. "Iihh, kalian berdua kebiasaan, deh. Emang cuma Kak Zico doang yang auranya Abangable. Kalian nggak!"
"Abangable? Apaan tuh?"
"Berisik, aduhh! Kalian bertiga mendingan pada mandi sana! Telinga Papa penuh rasanya." Zino, Zio dan Alasha seketika mengatupkan mulut mereka. Ketiganya tanpa mengatakan apa pun lagi lantas berlari menuju kamar masing-masing sebelum papa mereka kian mengamuk.
Bisa berabe nanti, hahaha!
...****...
Tepat di ruang makan dengan anggota keluarga lengkap ditambah satu orang anggota baru, yaitu Zee, ketujuhnya tampak makan dengan sangat hening di meja makan yang ukurannya cukup untuk menampung sekitar sepuluh orang.
Tepat di samping Zico, Zee mencoba tetap tenang menikmati makanan yang tidak terasa nikmat sebab ketiga adik-adiknya Zico tampak mencuri pandang pada Zee. Lebih parahnya dilakukan oleh Alasha. Dengan bibir yang cemberut, gadis itu mencuri pandang dengan sesekali mengerutkan alis seraya memainkan makanannya.
Haduhh, Zee jadi semakin tidak nyaman. Mana perutnya tiba-tiba terasa mual. Zee takut dirinya keceplosan muntah di tengah suasana hening makan keluarga.
Untuk mengurangi rasa mual, Zee mencoba minum air putih sebanyak-banyaknya. Gelagatnya yang gelisah ternyata diperhatikan Sharon, selaku istri sekaligus ibu dari keempat anak-anaknya. Keningnya mengernyit penuh tanya.
"Zee? Muka kamu pucet. Kamu nggak pa-pa, Nak?"
Mengerjap, Zee menoleh dan menyadari bukan hanya mama mertuanya saja yang saat ini menatapnya. Tapi seluruh anggota keluarga, termasuk Zico yang tengah lahap menikmati makanannya.
"Yang, makanannya nggak dimakan? Mual lagi, hm?"
"A-aku nggak-"
"Zee sering mual?" Sharon kembali menyahut.
Karena bingung, Zee menggeleng cepat seraya menyengir. "Nggak, Mah. Cuma sesekali, kok. Sekarang nggak!"
"Ihh, udah manggil Mama aja. Ngeselin." Gerutuan Alasha dibalas senggolan spontan oleh Zio. Pemuda itu tersenyum kaku saat menyadari tatapan Zee beralih padanya sepersekian detik. Selanjutnya, Zee menunduk tak nyaman dengan sesekali menggigiti bibir bawahnya.
"Gila lo! Filter dikit napa?"
"Bodo amat."
"Ekhem. Saya permisi ke toilet sebentar." Zee beranjak berdiri. Lagi-lagi fokus seluruhnya beralih pada perempuan itu.
"Aku anter-"
"Nggak usah! Kamu duduk aja. Aku nggak pa-pa, kok." Setelahnya, Zee benar-benar melenggang dari ruang makan.
Mendengus, Zico membanting alat makan hingga berbunyi nyaring. Tatapan tajamnya beralih pada sang adik bungsu yang tampak cemberut dengan ekspresi dongkol.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Zico ikut berdiri dan menyusul Zee. Takut terjadi apa-apa, sebab Zico juga mendengar dengan sangat jelas gerutuan Alasha.
"Siap-siap dibabat habis lo sama Bang Zico. Ngomong seenaknya sih." Zio mengompori. Tidak dengan Zino yang langsung menyuruhnya untuk menutup mulut, sebab adik bungsu mereka, Alasha, sudah mulai berkaca-kaca.
^^^To be continued...^^^
...Zico Pratama Regiantara...
...Zee Anggika Stefani...
...Zino Dwilangga Regiantara...
...Zio Triguna Regiantara...
...Alasha Kavitha Regiasani...
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Kompak dan hangat....
2024-02-04
1
Farida Wahyuni
kakak adik boleh kok dekat, tapi kalau udah menikah yah jaga jarak juga. zico udah punya tanggung jawab lain, jangan lagi cuma dimonopoli adiknya sendiri, kalau mau disayang noh cari suami sana.
2024-01-09
1
bulu jetek juki
adek lucknut/Facepalm//Smirk/
2023-12-20
1