Episode 20

...Surat Misterius...

Selama perjalanan pulang menuju rumah sakit tempat sang mama dirawat, Zee tak henti-hentinya terus tersenyum sumringah. Netranya menatap lembut potret sang mama yang Zee jadikan wallpaper ponsel. Sedangkan di pangkuannya terdapat beberapa camilan kesukaan sang mama yang sempat Zee beli di perjalanan pulang.

Tak berbeda jauh dengan Zee, Zico ikut merasakan hal yang sama. Dengan hati-hati mengendarai mobil menggunakan kecepatan sedang. Kurang lebih tiga jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah sakit.

Dengan terburu-buru, Zee turun lebih dulu dari mobil. Beruntungnya Zico tidak mempermasalahkan. Laki-laki itu hanya tersenyum sembari mematikan mesin mobil sebelum akhirnya menyusul langkah Zee.

"Zee?" Zico menyahut lembut hampir tak terdengar. Sudut hatinya menghangat menyaksikan dari kejauhan, tepatnya di dalam ruang rawat pasien, Zee tengah memeluk sang mama yang ditempatkan di atas sebuah kursi roda. Tak sendirian, seorang suster berdiri tepat di belakangnya.

Sedikit pun Zico tidak ingin mengganggu suasana hangat yang tercipta antara sepasang ibu dan anak itu. Zico bahkan berniat undur diri beberapa saat, namun urung saat Zee terdengar memanggil namanya.

"Zico!"

Tak hanya Zee, sang mama, Dania, juga turut memokuskan perhatian pada Zico. Saat Zee melambaikan tangannya mengode Zico untuk mendekat, Zico pun menurut. Seulas senyuman lagi-lagi mengukir di wajahnya.

"Mah, kenalin. Ini Zico yang dulu waktu SMA jadi pacarnya Zee. Sekarang, dia suaminya Zee." Zee mengenalkan Zico dengan bangga pada sang mama. Walaupun ekspresi yang diperlihatkan masih datar, setidaknya kondisi sang mama telah jauh lebih stabil.

Zico sedikit berjongkok di hadapan Dania, mama mertuanya. Di luar dugaan, tangan rapuh Dania terulur menyentuh wajah Zico. Bibir piasnya tampak bergetar seolah hendak melontarkan sesuatu.

"Zico?" Ucapan samar yang suaranya nyaris tak terdengar.

Zico tersenyum ramah seraya mengangguk. Sedangkan Zee, perempuan itu semakin menangis haru. Air matanya membanjiri wajah cantiknya.

"Iya, Mah. Ini Saya, Zico. Maaf, Saya baru sempat jengukin Mama." Zico balas menyentuh tangan Dania yang masih berada di wajahnya.

Raut datar Dania sedikit demi sedikit memperlihatkan senyum. "Kamu anak baik. Titip Zee, ya." Ujarnya. Setetes air matanya luruh begitu saja.

Ya Tuhan!

Penantian dan perjuangan Zee akhirnya membuahkan hasil. Mamanya benar-benar dapat diajak berkomunikasi sekarang. Zee sangat beryukur.

Terima kasih sudah mendengarkan doa Zee!

"Ekhem. Mah, Zee bawa camilan kesukaan Mama. Kita bagi bertiga, ya? Em, mau jalan-jalan ke luar sebentar?" Zee yang masih berdiri pun ikut berjongkok. Namun sebelum hal itu, Zee telah lebih dulu menyeka air matanya.

"Sus, Saya boleh ajak Mama Saya jalan-jalan 'kan?" Zee mendongak menatap penuh harap sang suster.

"Tentu, Mbak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk segera hubungi tim medis."

Zee mengangguk cepat. "Pasti, Sus. Terima kasih sudah merawat Mama saya!"

Suster tersenyum tersenyum ramah sembari membungkuk lalu mengundurkan diri. Tibalah ketika hanya ada mereka bertiga, Zee bergerak hendak mendorong kursi roda sang mama. Namun gerakannya langsung tertahan oleh Zico.

"Biar aku aja, kamu bawa camilan. Hm?"

"Makasih!" Hanya ucapan begitu saja sudah membuat Zee emosional. Lagi-lagi Zee berucap syukur sebab memiliki Zico di hidupnya.

Satu tangan Zico terulur mengelus lembut puncak kepala Zee. "Kayak sama siapa aja. Ayo!"

"Hm."

Obrolan keduanya terputus dan lebih memilih berjalan beriringan keluar menuju taman. Sampai di taman yang terbilang cukup sepi, Zee mengajak sang mama untuk duduk di bangku taman dibantu Zico.

Mamanya tidak menolak atau bahkan berteriak histeris seperti terakhir kali Zee menemuinya. Dan Zee amat bahagia akan hal itu.

Dikarenakan bangku taman tersebut cukup muat untuk ditempati tiga orang, Zee menempatkan mamanya di tengah-tengah ia dan Zico. Senyum bahagia dari pasangan suami istri itu belum juga melebur.

"Zee punya keripik pisang asin kesukaan Mama. Zee buka, ya?" Kembali pada tujuan awal, Zee merogoh tas keresek berisi berbagai camilan. Mengeluarkan satu bungkus keripik pisang berukuran sedang yang memang adalah favorit mamanya.

Dania tak membalas bahkan tersenyum pun tidak. Wanita paruh baya dengan tubuh kurus itu hanya meratapi kegiatan putrinya. Pun sesekali melirik ke arah sang menantu yang membantu Zee membukakan segel bungkus keripik pisang.

Dalam sudut hatinya yang terdalam, Dania merasa lega mengetahui putrinya kini tidak lagi sendirian. Jikalah dirinya nanti dipanggil Tuhan, Dania mungkin akan tidur dengan tenang di alam sana. Tak ada yang perlu lagi dikhawatirkan.

"Nah. Mau Zee suapin?" Dania menggeleng. "Suapi saja suami kamu. Mama lebih senang kalau kalian selalu tampak akur. Mama jadi tenang melihatnya."

Baik Zee maupun Zico, keduanya saling pandang secara spontan saat kedua tangan Dania masing-masing meraih satu tangan mereka, lalu saling disatukan tepat di pangkuan Dania.

"Semoga pernikahan kalian kekal dan kalian bahagia selamanya."

...****...

Waktu berjalan begitu cepat tanpa disadari. Dalam gendongan Zico, sang mama mertua tampak terlelap kelelahan. Lantas Zico beserta Zee membawa Dania menuju ruang rawatnya. Menidurkannya di atas ranjang rumah sakit dengan hati-hati. Seorang dokter bahkan suster jaga memasuki ruangan tersebut.

"Bagaimana? Bu Dania sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik, bukan?" Dokter wanita yang biasa akrab dipanggil Bu Dokter Rani, tersenyum penuh haru seolah ikut berbahagia.

Zee mengangguk. Air matanya masih setia luruh. Masih tidak percaya dengan sebuah keajaiban yang terjadi pada mamanya.

Bu Dokter Rani menghela napas lega. "Ini semua berkat seseorang yang hampir setiap harinya selalu mengantarkan surat dan bunga pada Bu Dania."

Zee dan Zico kompak mengernyit heran. "Seseorang?" Keduanya bahkan berucap bersamaan tanpa sadar.

Bu Rani mengangguk. Kepalanya menoleh pada sang suster yang sehari-harinya merawat Bu Dania. "Seorang pria paruh baya yang cukup tinggi. Awalnya, kedatangannya tidak disambut baik oleh Bu Dania. Bu Dania bahkan sempat histeris berlebih, tepatnya ketika terakhir kali Mbak Zee berkunjung, hari itu Bu Dania histeris karena kedatangan pria itu."

"Si-siapa pria itu?" Entah mengapa Zee jadi menaruh sedikit curiga.

Apa jangan-jangan ... mantan pacar Mama yang- Enggak! Bisa aja temennya. Zee membatin seraya mengenyahkan asumsinya.

"Pria itu tidak memberikan informasi nama, namun mengaku kenal dengan Bu Dania. Dan, kami menemukan ini di bawah bantal Bu Dania seminggu yang lalu." Sebuah amplop kertas polos diserahkan ke tangan Zee.

"Ini apa?"

"Saya sudah lancang membaca isinya. Dan dari yang Saya baca, sepertinya dari pria itu. Oh, ya. Ada informasi nama di dalamnya. Danu. Sepertinya, pria itu bernama Danu." Terang sang suster.

Zee merasakan kepalanya sakit dan pusing yang berkali-kali lipat.

Danu ...

Siapa Danu?

Zee tidak pernah mendengar mamanya menyinggung nama itu. Mendiang neneknya pun tidak pernah membahas pria dengan nama Danu.

"Apa ada informasi lain?"

"Sepertinya ada. Tadi pagi ada kiriman surat lagi untuk Bu Dania, tapi kami tidak tahu apakah dari pengirim yang sama. Dan juga kiriman bunga mawar putihnya." Bu Rani bergerak menuju meja samping tempat tidur Dania. Merogoh sebuah amplop surat beserta setangkai bunga mawar putih.

"Bu Dania juga sudah membacanya. Saya melihatnya tersenyum tipis sembari menciumi bunga mawar putih itu." Tambah sang suster.

Zee mengangguk-angguk paham. Pikirannya kacau saat ini. "Saya akan membacanya di rumah. Untuk bunganya, simpan saja di sini. Mungkin seseorang yang memberikan bunga dan surat ini begitu berarti di hidup Mama Saya." Helaan napas panjang lantas diembuskan. "Kalau begitu, Saya izin merepotkan Mama Saya sekali lagi. Saya dan Suami Saya pamit undur diri. Kalau ada apa-apa lagi, tolong untuk terus hubungi Saya!" Kata Zee. Pasangan dokter dan suster itu mengangguk.

"Pasti. Kami pasti akan selalu memberitahukan informasi sekecil apa pun terkait Bu Dania."

...****...

Dania ...

Ini aku, Danu. Berbagai ungkapan maaf rasanya tak bisa menggantikan seluruh penderitaan yang kamu alami. Walau begitu, aku ingin meminta maaf atas segala dosa yang kuperbuat.

Dania ...

Jikalau aku boleh jujur akan perasaan ini, aku masih mencintai kamu. Tetapi aku tidak bisa menikahimu sekalipun putri kita sudah beranjak dewasa.

Maaf, Dania!

Setiap kali aku tidak sengaja menemukannya di keramaian, rasa menggebu untuk berkata jujur bahwa akulah ayah kandungnya, selalu berakhir dengan kehilangan keberanian.

Aku takut putri kita membenciku.

Aku bukan ayah yang baik. Dia bahkan tidak pernah melihat wajah ayahnya seumur hidupnya. Dan bagaimana mungkin dia mau menerimaku begitu saja?

Aku tidak punya keberanian, Dania. Apa yang harus kulakukan? Selama ini yang kulakukan hanya melihatnya dari kejauhan. Aku bahkan tidak berani untuk menyapanya lebih dulu. Karena di matanya, aku hanyalah orang asing.

Berharap kamu mau membuka hatimu sedikit saja untukku. Biarkan aku menemuimu. Aku ingin memelukmu, Dania. Kamu cinta pertamaku, namun aku malah menghancurkanmu.

Aku minta maaf, Dania.

Tertanda, Danu.

Zee menyeka kasar air mata yang lagi-lagi banjir membasahi wajahnya. Selesai membaca surat yang pertama kali dikirimkan oleh pria bernama Danu tersebut teruntuk mamanya, otak Zee tak lagi menerka-nerka. Apa yang sempat diasumsikan ternyata memang benar adanya.

Danu ...

Mantan pacar sang mama yang diceritakan mendiang neneknya, walaupun tidak pernah menyebutkan nama. Memilih lanjut berkuliah dan mengejar mimpi dibandingkan bertanggung jawab atas kehamilan sang mama.

Perasaan benci kian menyeruak dalam dada. Apalagi ketika Zee membaca ulang tulisan tangan tersebut yang menyinggung soal 'putri mereka' yang sudah pasti merujuk pada Zee.

Pria bernama Danu ini mengenalinya bahkan sering mendapati dirinya di beberapa tempat.

Pertanyaannya adalah, siapa Danu dan mengapa Zee tidak menyadari kehadirannya padahal pria itu sering memerhatikannya?

Semakin keras dipikirkan, Zee semakin merasakan kepalanya pusing. Ia dan Zico yang masih berada di dalam mobil menuju jalan pulang tak ada yang membuka obrolan. Suasana dalam mobil begitu hening, ditambah dengan waktu yang mulai berganti gelap.

"Danu ..." Zee menyipitkan mata sembari menggumamkan nama itu. Membuat Zico menoleh sekilas lalu menghela napas. "Gimana? Siapa Danu?"

Zee terkekeh miris. "Mantan pacarnya Mama yang membuat dia mengandung tanpa adanya ikatan pernikahan. Bisa disimpulkan juga kalau pria bernama Danu ini adalah ayah biologis aku. Tapi aku nggak mau mengakui dia. Dia sudah membuat Mama sampai kayak gitu. Aku nggak akan menerima dia dengan baik sampai kapan pun."

^^^To be continued...^^^

Sudah 20 bab. Minta tolong kasih rate ☆5-nya, please! Cerita ini kontrak atau nggak tergantung retensinya naik atau nggak dan ulasannya baik ataupun nggak. Maka dari itu, like, komen dan kalian yang bacanya teratur dari eps 1 tuh berpengaruh banget. Don tolong juga jangan ditabung epsnya, itu juga berpengaruh katanya😭🙏

Banyak aturan bgt hadeuh, tapi ya mau gimna lagi?🤧

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Ok thorr..... Semangat trus ya thorr.....

2024-02-05

1

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Sedih... Kecewa... Dll bercampur aduk ya zEe.. Sabar ya zee... Ingat zee ada ada anak dipetutmu...

2024-02-05

1

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

semangat kak. aku baru nemu novelnya, jadi baru baca nih

2024-01-09

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!