...Ketahuan...
Beberapa saat berada dalam mobil, Zee merasakan perutnya kembali mual. Keringat dingin menyeruak membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sontak tangannya membekap mulut serta lubang hidungnya saat sesuatu serasa mau meluap dari dalam lambung menuju kerongkongan.
"Zico, setop! Berhentiin mobilnya! Huwek!"
"Iya, iya, bentar."
Tepat ketika mobil tersebut berhenti, Zee lantas berlari. Ketika Zico hendak menyusul, lengannya tanpa sengaja menyenggol tas milik Zee yang tidak sepenuhnya tertutup rapat. Mengakibatkan barang-barang di dalamnya berceceran satu persatu.
Mendengus pasrah, Zico memilih memunguti barang-barang Zee termasuk ponselnya yang juga ikut jatuh. Namun, bola mata Zico seketika dibuat membelalak saat sebuah testpack dengan dua garis merah turut berada dalam tas Zee.
Detik itu juga, perasaan terkejut dibarengi gejolak amarah menguasai diri Zico. Bergegas Zico turun dan menghampiri Zee yang terkulai lemas tengah menyandarkan tubuhnya di badan mobil.
"Zee!" Panggilan Zico mau tidak mau membuat Zee menoleh. "Kenapa lagi?"
"Lo hamil?"
Zee melotot panik. Sebisa mungkin perempuan itu berdiri menegakkan posisi disaat tubuhnya masih terasa lemas tak berdaya. "A-apaan, sih? Siapa juga yang hamil."
Detik itu juga, Zee bungkam saat Zico memperlihatkan alat tes kehamilan miliknya. Zee hendak merebut kembali, namun dengan cepat Zico menjauhkannya.
"Ba-balikin!"
"Kenapa nggak ngasih tahu gue? Lo berencana nyembunyiin ini sampai kapan?" Bentakan tajam Zico membuat kening Zee mengernyit sakit.
"Zico, dengerin gue-"
"Atau jangan-jangan lo nggak berniat ngasih tahu gue?" Zee lagi-lagi bungkam. Matanya memejam kuat meresapi ucapan demi ucapan Zico.
"Zee! Jawab gue!"
"Zico, please, dengerin gue! Gue juga baru tahu tadi. Tadiii banget pas di toilet sekolah."
"Dan lo nggak ngasih tahu gue sampai sekarang?" Tatapan Zico kian menyorot tajam.
Zee meringis. "Kenapa emangnya kalau gue nggak kasih tahu lo?"
"Lo bilang kenapa?" Zico menarik kasar pergelangan tangan Zee, mengikis jarak di antara keduanya. "Dia darah daging gue. Lo nggak bisa sembunyiin itu sendirian! Sekarang, ikut gue pulang!"
"Pu-pulang? Pulang ke mana?" Zee ketar-ketir. Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan tatapan mengkilat Zico serta ucapannya.
"Ke rumah gue. Sekalian mengenalkan ulang lo sama orang tua dan saudara gue."
"Nggak! Gue nggak mau! Lepas, gue mau pulang ke kostan!"
Zico mendesis. "Lo harus mau! Lo lagi hamil anak gue!"
"Nggak, gue mohon, Zico! Gue belum siap! Gue, gue-"
"Setop mikirin yang aneh-aneh! Gue cuma mau minta izin buat nikahin lo sama-"
"Gue nggak minta lo nikahin gue! Gue cuma mau hidup tenang tanpa lo, udah! Gue nggak mau lagi dicap cewek matre gara-gara pacaran sama lo kayak sepuluh tahun lalu, apalagi dengan keadaan gue sekarang? Gue nggak siap kalau harus dicap gitu lagi, Zico!"
Zico berteriak tertahan. "Dari dulu orang tua gue bukan orang jahat, Zee! Mereka nerima lo apa adanya. Sebenarnya siapa yang lo maksud itu? Siapa yang ngatain lo cewek matre, bilang sama gue?" Zee menunduk lanjut menangis. Ia tidak bisa bilang. Zee juga sadar diri, Zee bukan dari kalangan atas seperti Zico dan keluarganya. Sebab itu, Zee hanya ingin pacaran lalu menikah dengan laki-laki yang setara saja. Zico terlalu tinggi untuknya.
"Lepasin gue, ya, Zic? Gue janji, gue akan rawat dia dengan baik. Gue nggak akan gugurin dia. Kalau sewaktu-waktu lo mau ketemu, gue nggak akan larang. Tapi kalau harus nikah sama lo, gue nggak sanggup."
"Lepasin lo?" Zico terkekeh sumbang. "Jangan harap lo bisa kabur dari gue lagi kali ini. Besok juga, kita daftarin pernikahan kita."
"Ta-tapi-"
"Jangan membuat gue mengulangi ucapan gue, Zee! Lo hafal betul gue kayak gimana. Gue akan memberikan lo status tertinggi sebagai istri gue, Zico Pratama Regiantara."
...****...
Malam harinya, Zico memutuskan kembali menengok Zee di kostannya. Kondisi perempuan itu tampak jauh lebih baik ketimbang tadi siang. Sudah sempat mengisi perut dengan semangkuk bubur polos serta minum obat yang telah diresepkan oleh dokter kandungan.
Bisa dibilang, setelah melalui serangkaian perdebatan di pinggir jalan, Zico menyeret Zee ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh. Dan benar saja. Zee tengah mengandung. Usia kandungannya sama dengan waktu mereka menghabiskan malam bersama saat tahun baru.
Seolah telah benar-benar pasrah, Zee hanya bisa diam saat Zico mengusap puncak kepalanya, atau bahkan mengelus perutnya. Sikap Zico yang perhatian seperti inilah yang membuat Zee lupa diri. Zee ingin menggapai Zico, namun dirinya tidak mampu.
"Zico!" Panggilan serak dari Zee menarik perhatian Zico.
"Hm. Mual?"
Zee menggeleng. "Terus kenapa?"
"I-itu. Lo yakin besok mau daftarin pernikahan kita?" Zico mendengus panjang. "Kenapa? Mau kabur lagi?" Zee menggeleng lemah dalam posisi tidurannya. "Kalau orang tua lo nggak setuju gimana?"
"Ya, mereka harus setuju mau nggak mau. Karena lo adalah tanggung jawab gue. Gue nggak mungkin lepas tanggung jawab gitu aja."
Zee menggigit bibir bawahnya. "Pasti orang tua lo nggak suka sama gue. Cewek nakal."
"Lo bukan cewek nakal. Udah, nggak usah dilanjut. Mending lo tidur, istirahat. Besok selain daftarin pernikahan, kita harus lanjut fitting. Lo mau gaun kayak gimana?" Nada suara Zico terdengar halus dan lembut di telinga Zee. Tanpa sadar membuat Zee menjatuhkan air matanya tanpa sepengetahuan Zico.
"Nggak usah. Cukup daftarin pernikahan aja juga nggak pa-pa."
"Ya udah." Hanya itu. Balasan singkat yang anehnya membuat Zee emosional.
"Nah 'kan, malah nangis. Lo tuh aneh, gue tawarin nikah nggak mau, fitting baju juga nggak mau. Tapi giliran gue iyain, lo malah nangis. Jadi sebenarnya gue harus kayak gimana?" Zico gemas dibuat Zee. Betapa sulitnya menebak isi pikiran perempuan itu.
"Gue mau tidur. Mendingan sekarang lo pulang, sana! Orang tua lo pasti nyariin." Zee membalikkan posisi tidur jadi memunggungi Zico. Dengan sekali tarikan, selimut yang semula hanya menutupi sampai perut kini beralih menutupi sampai leher.
"Lo kira gue anak SD masih harus disuruh pulang takut ada yang nyariin?" Zico berdecih, lalu menaiki tempat tidur yang masih cukup ruang. Masuk ke dalam selimut dengan satu lengan melingkar di pinggang Zee. Sesekali Zico bahkan mengusap lembut si jabang bayi dalam perut Zee.
"Good night, Zee!"
...****...
Sapuan hangat terasa membelai wajah Zee. Dalam posisi tidur ternyaman, Zee memaksakan diri membuka mata. Wajah Zico yang tersenyum hangat hampir tak berjarak dapat Zee saksikan pagi itu. Tanpa sadar Zee dibuat terhanyut akan wajah tampan Zico.
Sayangnya, Zee segera menyadarkan diri. Bergegas dirinya bangkit dari tempat tidur. "Ini jam berapa?"
Zico menghela napas, kemudian turut beringsut. Detik ketika Zee hendak beranjak, Zico memeluk tubuhnya dari belakang. Dagunya sengaja disandarkan di ceruk leher Zee.
"Zee." Panggilan manja Zico disertai pelukannya yang menguat sedikit membuat bulu kuduk Zee meremang. Mencoba melepaskan diri, Zico malah semakin menguatkan pelukannya. Tak tinggal diam, bibir Zico mengecupi manja leher Zee hingga membuat sang empunya melenguh.
"Zi-zico, setop! Geli, eunghh!" Lenguhan tertahan Zee dibalas reaksi geli. Zico menghentikan aktivitasnya namun kedua lengannya masih setia memeluk tubuh Zee. Bahkan tangannya mulai terang-terangan menyentuh permukaan kulit perut Zee dan mengusapnya beberapa kali.
"Habis ini lo bisa mandi sendiri 'kan? Untuk bajunya udah gue siapin. Setelah ini kita sarapan di luar. Hm?" Zee malas mejawab. Inginnya kembali memberontak. Namun, mengingat kali terakhir di mana Zee melakukan perlawanan justru malah dibalas tatapan mengerikan oleh Zico.
"Zee?" Dirasa tak ada balasan apa-apa, Zico memanggil namanya. Kening laki-laki itu berkerut dengan satu alis yang terangkat.
"I-iya. Kalau gitu lepasin gue. Gue mau mandi, Zico." Zee sedikit meronta apalagi ketika Zico hendak kembali mengecupi lehernya. Dengan berat hati, Zico menghela napas pasrah seraya melepaskan Zee.
...****...
Di tengah menunggu Zee selesai mandi, ponsel Zico berdering. Nama kontak 'Mama Tersayang' memenuhi layar ponselnya. Teringat akan satu hal penting, Zico mendesis seraya mengurut pangkal hidungnya.
"Gue belum kasih tahu Mama." Zico menggerutu, namun juga menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Mah?"
"Zico, kemarin kenapa kamu nggak pulang ke rumah? Kamu Tidur di mana? Mama cemas. Kamu nggak lagi macem-macem 'kan?" Ada sedikit perasaan bersalah yang bersarang saat mendengar sapaan lembut itu.
"Maaf, Mah! Kemarin Zico nginep di kostan pacar, sekarang lagi mau jalan ke sana."
"Ooh, gitu- APA?! KAMU NGINEP DI KOSTAN PACAR KAMU?" Seolah tersadar, nada suara lembut sang mama bergati garang dan memekakkan telinga. Refleks Zico menjauhkan ponselnya.
"Zico, jangan macem-macem kamu, ya! Pulang sekarang sebelum Mama suruh Papa Kamu buat seret kamu ke sini!"
Zico meringis ngilu. "Iya, Mah. Bentar lagi. Habis ini kita mau daftarin pernikahan-"
"Zicooo, Anak Mama yang paling misteriusss! Kamu mau bikin Mama jantungan sampai mana lagi, hm? Daftarin pernikahan apaaa? Kalau Mama hari ini nggak telepon, jangan-jangan kamu nggak berniat kasih tahu Mama, iya? Apa-apaan sikap kamu yang seenaknya ini? Siapa perempuan itu? Kamu apain dia sampai harus daftarin pernikahan hari ini juga tanpa persetujuan Mama sama Papa?"
Zico bungkam beberapa saat. Ketika dirinya hendak menjawab, Zee keluar dari kamar mandi mengenakan sehelai handuk yang dililit di tubuhnya. Satu handuk yang lain digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas.
"Zico!?" Sapaan galak dari mamanya masih terhubung. Segera Zico berdeham seraya mengerjap.
"Iya, Mah. Nanti Zico jelasin pas udah di rumah, ya? Oke?"
"Jelasin dulu sekarang! Kamu apain cewek kamu?"
Zico menelan ludah dengan fokus tertuju pada Zee yang saat ini tengah menatapnya penuh tanya. "Zico hamilin pacar Zico."
"APA!?"
"Zico tutup dulu. Agak siangan nanti Zico ke sana sama Zee. Dah, Mah!"
"Zi-zico, kamu barusan bercanda 'kan? Zic-" panggilan suara diputus sepihak oleh Zico. Agar tidak ada panggilan ini itu dari siapa pun anggota keluarganya, Zico mematikan daya ponsel. Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada Zee yang tengah menunduk dengan ekspresi murung.
"Lo kasih tahu Tante Sharon lewat telepon kayak gitu ... apa nggak pa-pa?"
"Ditutupin juga percuma nantinya bakal ketahuan."
Zee mengangguk lemah, lalu menghampiri lemari untuk mengambil pakaiannya. Namun, gerakannya langsung ditahan. Sehinga fokus Zee kembali pada Zico.
"Pake yang ini," Zico menyerahkan beberapa paper bag berlogo merek terkenal berisi satu set pakaian untuk Zee.
Awalnya Zee sempat ragu. Ia tidak pernah mengenakan pakaian mahal dengan merek terkenal begini. Dan hari ini, Zico membelikannya. Apakah agar Zee tidak terlihat memalukan saat nanti Zico membawanya ke hadapan keluarganya?
"Hm. Makasih!"
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Ta ampun Zico...so sweet bgt LO
2024-02-04
1