...Jalan-Jalan Berdua...
"Halo-"
"RAYAAAA!!!" Pekikan luar biasa dahsyat dari seberang telepon, membuat sang empunya nama berjengit bahkan refleks menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Terdengar desisan ngilu diakhiri decakan sebal dari seberang sana.
"Lagi gila lo? Kalau kuping gue budek, lo mau tanggung jawab?" Raya mencerca. Emosinya mencuat dikala tengah indahnya menikmati jam istirahat kerja, dan telepon barbar dari Zee membuyarkan segalanya.
Tertawa sarkas, Zee melirik sekitar halaman belakang rumah. Perempuan itu mendengus dirasa suasana masih sama sepinya seperti beberapa saat lalu.
"Ini tuh belum ada apa-apanya! Lo tuh bener-bener ngeselin ya, jadi temen? Lo-"
"Eeh, bentar, bentar!" Raya memotong cepat. Kedua alisnya berkerut hampir bertaut. "Lo udah buka kado dari gue?" Senyum sumringah menyungging di wajah Raya.
Walau Zee tak dapat melihat dengan jelas ekspresi Raya, Zee sudah dapat menebaknya dengan cukup paham. "Emang nggak ada akhlak lo!"
Tawa kelakar memenuhi panggilan suara sore itu. Semakin membuat Zee kesal setengah mati. Sudah dari tadi sekali Zee ingin meluapkan kekesalan tersebut, jika bukan karena ada Zico di sampingnya. Bermanja-manjaan sambil merengek minta Zee untuk mengenakan lingerie tersebut nanti malam.
Menyebalkan!
"Gimana? Udah dicoba? Gue tebak, si Zico suka, hahahaa!"
"Biadab lo! Awas aja entar pas nikahan lo, gue bakal balas dendam pokoknya." Ujar Zee, menggebu.
"Ya, itu sih silakan aja! Boleh request yang paling seksi plus aduhay, nggak?"
Zee melotot sembari mencibir. "Lo emang nggak punya malu, Ray, sumpah?!"
Raya menghentikan tawa. Suara helaan napas panjang dapat didengar jelas di telinga Zee.
"Emangnya kenapa sih? Kalian 'kan udah nikah, masa masih malu-malu gitu? Inget, lo berdua itu udah bukan remaja lagi kayak sepuluh tahun lalu! Btw, kok kalian bisa kepikiran nikah secepet itu? Kalian balikannya kapan? Cerita dong, Zee, pleaseee! Mumpung gue lagi free, nih. Ada, lah, sejam." Perkataan Raya terdengar begitu antusias. Berbeda dengan Zee yang ekspresinya langsung berganti murung.
"Gue terpaksa sebenarnya."
"Hah?" Zee mengangguk-angguk. "Gue hamil darah dagingnya Zico, jadi-"
"WHAT THE HELL! KOK BISA?" Kini giliran Zee yang spontan menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Balasan dari Raya cukup membuat telinga Zee berdengung beberapa saat.
"Gara-gara lo!"
"Gara-gara gue?" Raya membeo.
Zee terkekeh. "Nggak, bercanda. Nggak tahulah pokoknya gara-gara pesta reuni malam tahun baru itu yang elo malah pulang duluan 'kan, hari itu? Nah, gue ketemu Zico."
Raya bergumam sembari menyamankan posisi duduk. "Terus?"
"Ya, gitu, deh." Zee tambah cemberut. Ia masih menyesali tindakan spontanitasnya malam itu.
"Gitu gimana?"
"Hm, kita ngobrol basa-basi. Awalnya gue mau langsung pulang pas tahu lo dibawa ke rumah sakit sama cowok lo. Eh, gue malah diajak minum berdua."
"Terus lo teler, gituh?"
"Hm." Zee menghela napas gusar. "Habis itu gue nggak tahu kenapa tiba-tiba udah ada di hotel. Dan ... kita ngelakuin itu. Lo tahulah maksud gue, nggak perlu dijelasin."
Raya bergumam panjang diiringi mengangguk-angguk paham. "Enak, nggak?"
"RAYAAA!" Tawa kelakar lagi-lagi terdengar dari seberang telepon. Niat hati curhat betul-betul, respons Raya malah di luar nurul. Em, Nalar maksudnya.
"Bercanda, Zee. Galak banget,"
"Tahu, ah! Gue tutup-"
"Eh, jangan! Gue masih ada QnA, nih. Jangan dulu dimatiin!"
Zee berdecak. Mood-nya sudah tak terhitung seberapa hancurnya saat ini. "Palingan juga QnA nggak bermutu,"
"Bermutu ini, seriusss! Please ..."
Lagi-lagi Zee berdecak. "Ya udah, apa?"
"Itu. Jadi, lo sekarang lagi hamil?"
"Nggak! Udah lahiran. Ya, iyalah, 'kan udah dibilang dari awal kalau gue lagi hamilll, Rayaaa! Lo tuh, iihhh! Sebelas dua belas kayak si Zico, sama-sama ngeselin!" Terlanjur kesal setengah mati, Zee mematikan sepihak panggilan telepon tersebut. Dadanya naik turun dengan deru napas yang tidak beraturan.
Pokoknya, Zee kesal pada Raya!
Ngakunya sih bestie. Tapi hobinya bikin Zee always darah tinggi.
"Heuh, bikin bad mood aja." Zee menggerutu. Detik berikutnya, tubuhnya berjengit saat seseorang dari belakang tiba-tiba memeluk tubuhnya, bahkan menyandarkan dagunya di bahu Zee.
Tepat ketika menoleh, Zico adalah dalang utama yang hampir membuat jantung Zee melorot dari peredaran. Sontak Zee berdesis seraya melepas pelukan Zico.
Mendapat respons yang melenceng dari ekspektasi, apalagi dengan ekspresi kesal yang khas, tentu Zico dibuat bertanya-tanya. "Zee?"
"Apa?"
"Buset! Galak banget. Aku ada salah lagi?"
Zee merotasikan bola mata. Kedua lengannya dia lipat di depan dada. "Pikir aja sendiri!" Setelahnya, Zico dibuat cengo saat Zee tiba-tiba melenggang meninggalkannya.
Lha, kok?
Dengan cepat Zico mengekor. Sampai di dapur, barulah Zico berhasil menangkap Zee. "Aku salah apa lagi, Yang? Perasaan aku baru aja dateng, udah disemprot lagi aja. Bukannya yang tadi udah?" Maksudnya Zico adalah percekcokan ringan yang terjadi selepas membuka kado dari Raya.
Bisa dibilang, Zico terus menerus gencar membujuk Zee agar istrinya ini mau mengenakan lingerie tersebut. Sedangkan Zee kukuh tidak mau dan menegaskan tidak akan pernah mau memakainya.
Simpel 'kan?
Dipikir ribuan kali pun, memang benar Zico tidak membuat kesalahan. Zee menghela napas gusar merasa bersalah. "I-itu, barusan habis telepon sama Raya, jadinya kebawa emosi."
"Terus kamu lampiasin ke aku, gitu?" Zico menatap tak percaya. Dan anggukan perlahan dari Zee seketika membuat Zico tertawa garing. "Habisnya kamu juga nyebelin, jadinya-"
"Bisa gitu, ya?" Tatapan yang Zico layangkan tampak memicing tajam. Terlanjur takut, Zee mundur beberapa langkah, dan diikuti Zico yang perlahan-lahan berjalan ke hadapannya.
"Ya, maaf! Ha-habisnya seharian ini kita cuman di rumah aja. Aku juga pengen jalan-jalan ke mana, kek. Jalan-jalan sekitar rumah juga nggak pa-pa, tapi kamu terus bilang nggak boleh, bilangnya nanti kalau kamu udah selesain kerjaan. Mana buktinya?"
Tidak!
Apa yang diucapkan Zee barusan hanyalah alasan! Berharap Zico luluh dan tidak lagi menatapnya demikian.
Sesungguhnya, ekspresi Zico yang seperti inilah yang membuat nyali Zee menciut.
Di luar dugaan, tatapan Zico berganti lembut bahkan terkesan sendu. Helaan napasnya juga terdengar sampai ke telinga Zee.
"Maaf! Padahal kita masih di fase bulan madu. Tapi aku malah ... Em, kamu mau jalan-jalan? Ke pantai aja gimana, hm?"
"Hah?! Se-sekarang?" Zee mengerjap ringan. Padahal maksud Zee bukan- Sudahlah!
"Emangnya kerjaan kamu udah selesai semua?" Zico tersenyum manis. Kedua lengannya melingkar di pinggang Zee. "Udah, makanya aku turun ke sini. Jadi, jawabannya?"
Sempat berpikir sejenak, anggukan mantap menjadi respons bahwa Zee menyanggupi ajakan Zico. "Mau!"
"Nggak usah senyum gitu," larangan Zico, menyurutkan senyuman Zee. "Kenapa?"
"Cantik bangettt. Argh, jantung rasanya mau copot! Zee, tolong!"
Zee mendorong dada bidang Zico antara menahan tawa pun salah tingkah. "Nggak usah gombal! Nggak lucu!" Pipinya merona tanpa Zee sadari.
"Masa? Tapi itu barusan kayak nahan ketawa gitu? Pasti salting 'kan?"
"Enggak, biasa aja!" Zee mengulum bibir menahan geli. Sayangnya, tingkah Zico yang menatapnya tengil, membuat Zee kelepasan tertawa.
"Iihh, nyebelinnn!"
Zico tertawa lepas. Tanpa diduga kedua lengannya membopong tubuh Zee ala bridal style. Sempat memekik kaget, Zee memilih mengalungkan kedua lengannya di leher Zico pada akhirnya.
"Ke-kenapa gendong?"
"Biar cepet. Btw, lingerie yang tadi jangan lupa dibawa, ya. Buat nanti malem." Senyuman menyebalkan menukik di wajah Zico.
"Mulai, deh!"
...****...
Sore itu, langit biru hampir memudar dan berganti jingga keemasan di wakti yang menunjukkan pukul 17.15 WIB. Di dalam mobil dengan cup yang dibiarkan terbuka dan dikendarai dengan kecepatan sedang, Zee tersenyum lebar sembari merasakan hembusan angin laut yang menerpa wajah sampai menerbangkan rambutnya.
Dengan mengenakan dress putih selutut dibalut outer berwarna cream, Zee tampak begitu cantik apalagi ketika sebuah kacamata hitam besar bertengger manis di tulang hidungnya. Entah sudah berapa kali Zico mencuri pandang. Ekspresi lepas yang Zee perlihatkan benar-benar tidak ada duanya.
Karena terlalu gemas, Zico mengusap puncak kepala Zee. Sentuhan lembutnya turun ke perut rata Zee di mana calon buah hati mereka berada.
Hanya berlangsung beberapa detik. Anehnya, Zee merasa nyaman dengan sentuhan tersebut. Dadanya sempat bergemuruh, apalagi ketika mengingat tangan kekar Zico juga mengelus manja calon buah hati mereka.
Tanpa diduga-duga, Zee memeluk lengan kiri Zico yang bisa dibilang menganggur. Menyandarkan kepalanya dengan manja hingga membuat Zico terdiam beberapa waktu. Lebih daripada itu, senyuman manis kian menyungging lebar.
"Sampainya berapa lama lagi?" Zee menyahut bahkan mendongak. Masih dengan mengenakan kacamata hitam besar.
Zico terkekeh. Seberusaha mungkin ia tetap fokus pada jalanan dengan tidak menoleh pada Zee. "Sepuluh menit?"
"Nginep di hotel?" Tanya Zee. Zico menggeleng. "Villa punya Papa. Aku jamin kamu pasti akan suka." Ujarnya.
Beberapa menit berkendara dalam diam, hanya lantunan musik romantis dari penyuara mobil yang mengiringi, mereka akhirnya sampai di depan sebuah villa yang diceritakan Zico.
Tidak terlihat mewah. Lebih terkesan klasik bergaya minimalis. Entah kenapa Zee jadi ingin memiliki rumah bergaya seperti ini.
"Ayo, kita udah sampai!" Sentuhan halus menyentak lamunan Zee. Tanpa berniat mengalihkan perhatian, Zee mengangguk seraya melepas ikatan seatbelt.
Turun dari mobil, Zee mendapati Zico telah berhasil mengeluarkan barang bawaan mereka. Berupa sebuah koper berukuran besar yang muat diisi pakaian keduanya pun barang-barang perawatan kulit dan wajah milik Zee yang tak terhitung jumlah dan variannya.
Selesai mengangkut koper, Zico lanjut menutup cup mobil dan menguncinya. Barulah setelahnya Zico menghampiri Zee seraya menarik koper tersebut. "Nih, kamu yang bukain kuncinya." Kata Zico, memberikan sebuah kunci villa beserta gantungan kunci ukiran kayu berbentuk inisial huruf Z.
Sempat mengaguminya sejenak, Zee memilih melangkah lebih dulu ketimbang Zico. Tepat ketika Zee memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang pintu dan memutarnya beberapa saat, barulah Zee mendorong knop pintu hingga terbuka lebar.
Lagi, Zee bahkan semakin dibuat takjub kali ini. Isi dari ruangan tersebut begitu bersih, seolah ada seseorang yang setiap hari sengaja datang dan membersihkannya.
"Kenapa diem aja? Ayo, masuk! Oh, ya. Nanti malem mau makan apa?"
Zee menoleh penuh harap. "Ikan bakar dicocol sambal kecap aja gimana?"
"Oke." Ujar Zico, sembari menggiring Zee melangkah semakin masuk.
"Ruangannya bersih, ya. Kayaknya nggak perlu disapu lagi,"
"Iya, soalnya tadi aku sempet telepon orang kepercayaan Papa buat bersihin villanya sebelum kita sampai. Dia jugalah orang yang sering rawat dan jagain villa-villa Papa yang lain di sini."
^^^To be continued...^^^
...Zee...
...Zico...
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Gemesin dehh sm pasangan ini....
2024-02-05
1