Double up lagi, nih! Jangan lupa tinggalkan jejak selaluuu~
...****...
...This is Honeymoon?...
Melangkah menyusuri pesisir pantai, Zee memejamkan mata saat udara asin menyentuh indera penciumannya. Diembuskannya perlahan oksigen yang semula ia hirup, bola mata Zee mengerjap seiring dengan pemandangan senja yang terpampang nyata di ufuk barat. Di mana sang surya perlahan kehilangan posisinya, semakin turun seolah akan dilahap habis-habisan oleh hamparan air laut yang membentang luas.
Deburan ombak hangat terasa menyentil ujung jemari kaki Zee. Berhasil pula menyentak lamunannya hingga membuat kepalanya menunduk menatap sepasang kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit.
Sebuah ide untuk melepaskan alas kaki tiba-tiba memasuki kepala. Tanpa berlama lagi, Zee melangkah mundur dan menaruh alas kakinya di tempat yang cukup jauh dari jangkauan ombak. Lantas sepasang kaki polos Zee kembali menginjakkan kaki ke tempat semula, atau bahkan kini Zee sengaja melangkah lebih maju untuk merasakan lebih jauh sensasi air laut yang merendam sebagian kakinya.
"Zee!" Panggilan halus dari arah berlawanan, mengalihkan perhatian Zee. Senyum perempuan itu kian merekah lebar apalagi saat netranya menangkap beberapa ekor ikan laut yang berada di genggaman Zico.
"Lagi ngapain?" Zico bertanya halus setibanya ia di hadapan Zee.
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma lagi seru-seruan aja,"
Zico mengangguk. "Ya udah, sekarang kita pulang villa. Bentar lagi udah mau malam soalnya,"
"Sini, ikannya biar aku yang bersihin plus bumbuin. Kamu siapin pembakarannya." Zee beranjak dan menghampiri sandalnya. Memakainya kembali dengan keadaan separuh kakinya dipenuhi pasir.
Satu alis Zico terangkat sebelah. "Emang bisa?"
"Heh, situ ngeledek? Gini-gini aku pernah ikutan acara Master Chef tahu,"
"Yang bener?" Zico termakan ucapan Zee. Lantas perempuan itu tertawa meledek sampai refleks memukul ringan lengannya. "Nggaklah, ya kali." Ekspresi Zico berganti datar.
"Udah, mana sini, mau aku bersihin,"
"Iya, nanti aku kasih pas sampai villa. Ini tuh berat, Zee," kata Zico. Tangannya yang menganggur lantas menggandeng tangan Zee. Membawanya meninggalkan pesisir pantai, hingga sampailah mereka di villa.
"Ikannya tolong ditaruh di wastafel dulu, aku mau ambil jepit rambut biar nanti nyaman pas ngolahnya,"
"Ya udah, aku taruh sini. Hm, dibakarnya mau di dalem apa-"
"Di luar dong, biar seru. Alat pembakar ada 'kan?" Zico tampak menimbang sejenak. "Harusnya masih ada. Bentar aku cek dulu." Zico berjalan ke arah laci bawah dekat kulkas. Mengecek alat pembakar yang kalau tidak salah dulu sempat disimpan di sana. Sedangkan Zee, perempuan itu memasuki kamar mencari letak jepit rambut seraya melepas outer dan hanya menyisakan dress putih tanpa lengan. Hanya seutas tali yang menjadi penahan dress tersebut.
"Ada, nggak?" Zee menyahut, sekembalinya ia dari kamar.
"Nggak ada. Aku coba tanyain dulu sama Pak Ari. Ditinggal bentar nggak pa-pa 'kan?" Pak Ari adalah orang kepercayaan sang papa. Orang yang juga sempat dimintai pertolongan untuk membereskan villa yang akan Zico dan Zee tempati selama beberapa hari ke depan.
"Ya udah. Hm, nggak jauh 'kan?"
"Deket, kok. Tunggu bentar, ya." Sebelum pamit pergi, Zico menyempatkan diri mengecup dahi Zee sekilas. Sentuhan halusnya tanpa sadar membuat Zee terhipnotis sampai tak menyadari jika Zico telah sepenuhnya melenggang pergi.
Jika bukan karena suara pintu yang ditutup dari luar, kemungkinan Zee masih terhipnotis dan membayangkan hal-hal lain. Dengan wajah yang memerah padam dan degupan jantung yang menggila, Zee memilih lanjut memotong dan membersihkan ikan seperti yang menjadi tujuan awalnya.
Cukup lama membersihkan ikan hingga mengeluarkan isi perutnya, Zee lanjut membumbui ikan tersebut dengan berbagai bumbu rempah yang akan ia haluskan menggunakan blender. Tak lupa memasukkan garam dan bumbu penyedap, Zee lanjut memblender bumbu rempah tersebut hingga halus. Dirasa usai, Zee membalurkan bumbu halus tersebut ke seluruh permukaan ikan hingga merata.
"Zee, pembakarnya udah dapet. Langsung dinyalain?" Dari arah teras, Zico terdengar menyahuti. Bergegas Zee keluar dari dalam villa sembari membawa ikan yang telah dilumuri bumbu halus, penjepit khusus memanggang, pun kipas tangan.
"Bersihin dulu. Itu pasti habis nggak kepake lama," sebuah kursi menganggur Zee jadikan tempat duduk. Ikan yang telah dibumbui beserta antek-anteknya yang lain, Zee taruh terlebih dahulu di atas meja.
"Udah, nih. Udah ada arangnya juga, tinggal nyalain apinya aja."
Zee mengangguk paham. "Bisa, nggak?"
"Gampang! Udah, kamu duduk manis aja."
Beberapa puluh menit berlalu, Zee hampir saja ketiduran apalagi waktu yang terus berjalan hingga berganti gelap. Bola matanya mengerjap saat kepalanya yang semula berada di tumpuan tangan meleset dan hampir jatuh membetur meja.
"Tuh, udah. Mana ikannya?" Zico menoleh ke belakang. Netranya menyipit saat menyaksikan Zee tengah menguap sembari meregangkan otot-otot tubuhnya.
Terlanjur tidak tega, Zico memilih mengambil sendiri ikan tersebut beserta alat penjepit dan kipas tangan. "Mau istirahat dulu?" Zico menyahut lembut, sebelum akhirnya kembali menuju tempat pembakaran. Satu persatu ikan yang telah dipotong dan dilumuri bumbu ditaruh di atasnya.
"Hm, nggak usah. Aku nyalain lampu teras aja kali, ya?" Zee beranjak dari kursi, berjalan masuk ke dalam villa untuk menghidupkan lampu sekalian membawa piring lebar untuk wadah ikan bakar nanti.
Sampai di ambang pintu, Zee refleks memejamkan mata saat aroma nikmat dari pembakaran ikan memasuki rongga hidungnya. Karena penasaran, Zee menghampiri Zico. Tangannya mengipasi aroma ikan yang cukup menggerakkan rasa lapar Zee.
"Hmm, jadi laper," adu Zee. Air liurnya terasa menetes saat ini.
"Tahan dulu, masih lama soalnya." Sempat-sempatnya Zico mengusap si jabang bayi dalam perut Zee. Padahal, tangan satunya begitu sibuk mengipasi arang agar tetap membara.
Ya Tuhan, apakah Zee boleh jatuh cinta lagi sama Zico?
Zee benar-benar ingin menggapai Zico saat ini. Begitu lembutnya laki-laki itu padanya. Ya, walaupun tak terbantahkan terkadang Zico itu begitu menyebalkan.
"Mau aku ambilin minum nggak?" Zee menggelengkan kepala untuk menghempaskan pikiran demi pikiran tersebut. Untuk saat ini, lebih baik Zee diam terlebih dahulu dan mengikuti alur.
"Tumben nawarin? Ada apaan, nih? Nggak lagi kesambet 'kan?"
Sudah Zee duga. Sifat menyebalkan Zico itu benar-benar nyata dan memang tidak akan terbantahkan. Padahal niat Zee baik di sini.
"Ya udah, kalau nggak mau,"
"Lha, gitu amat? Ya udah, iya, aku minta tolong ambilin minum."
"Gitu dong,"
...****...
Zee dan Zico telah kembali masuk ke dalam villa. Senyum di wajah Zee kian tercetak. Ikan yang mereka bakar telah sepenuhnya matang sempurna. Di sudut dapur di atas meja makan, Zee tengah menyiapkan nasi, alat makan serta sambal kecap buatannya. Sementara Zico, laki-laki itu tengah mencuci tangan di wastafel.
"Zico, kamu mau ambil sendiri apa aku yang ambilin?" Zee bertanya halus sebelum mengisi piring untuk dirinya sendiri.
"Pengen diambilin sama istriku aja," ujar Zico. Kedipan manja turut dilayangkan.
Zee mencibir namun juga menurut. Dirasa selesai melayani Zico, Zee lanjut mengisi piring makan untuknya sendiri. Sebelum benar-benar makan, Zee sengaja menunggu Zico menikmatinya lebih dulu. Ingin tahu bagaimana responsnya dengan ikan bakar hasil bumbu racikan Zee sendiri.
"Enak, nggak?" Bola mata Zee berbinar. Sesungguhnya, Zee takut rasanya akan melenceng dari ekspektasi. Ditambah ekspresi datar yang diperlihatkan Zico. Zee jadi semakin yakin jika ikan buatannya tidak seenak bayangannya.
"Bumbunya racik sendiri?" Bukannya menjawab, Zico malah balik bertanya.
Dengan kaku, Zee mengangguk. "Nggak enak, ya?"
Zico menggeleng cepat. "Enak banget!" Nafsu makannya meningkat seiring dengan mulutnya yang merespons positif.
Zee menghela napas lega. Dirinya pikir rasanya seburuk itu sampai membuat Zico memaku beberapa saat. Sempat tidak percaya, Zee mencoba menikmatinya sendiri. Dan ternyata seperti kata Zico, ikan bakar hasil bumbu racikannya terasa begitu nikmat dan lembut di waktu yang bersamaan.
"Yang, kamu nggak ada niatan buka restoran aja gitu? Ini enaknya kebangetan, lho!"
Zee tersipu, namun perempuan itu memilih tetap rendah hati saat dipuji sedemikian rupa. "Apaan sih, nggak sehebat itu juga, kali."
Zico menggeleng. "Nggak, ini yang paling enak menurut aku,"
"Kalau kamu mau, aku bisa masakin yang lain tiap hari." Ujar Zee, sedikit bergumam namun terdengar cukup jelas di telinga Zico.
Parahnya, Zico rasanya salting sendiri saat ini. Membayangkan di masa depan ia dan Zee terus menghabiskan waktu seperti hari ini, sepertinya tidak akan ada lagi yang Zico sesali di kemudian hari.
"Hm. Kalau kamu nggak keberatan."
Sempat terjadi hening, Zee yang semula menunduk menikmati makan malam, perlahan mendongak. Pupil matanya melebar saat menyadari ternyata Zico juga tengah menatapnya lurus tak berkedip.
Entah ada angin dari mana, Zee menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan manis. Wajahnya sedikit tertunduk sebab lagi-lagi ia dibuat tersipu.
"Ekhem. Makannya dilanjut," peringat Zee. Menyadarkan Zico hingga membuatnya kembali fokus pada makan malam.
...****...
Pukul sembilan malam, Zico memutuskan mencari udara segar dengan menikmati hembusan angin malam pantai. Selesai menyelesaikan acara makan malam lalu lanjut mandi, Zico tadinya mau rebahan saja sambil menunggu Zee selesai mandi. Namun, Zico tiba-tiba penasaran dengan suasana malam di pantai. Apalagi saat netranya tak sengaja menangkap pemandangan bulan setengah lingkaran yang begitu cantik dan menawan. Semakin diperhatikan terasa semakin menarik perhatian. Sama seperti Zee.
Omong-omong, ini sudah lewat sepuluh menit. Apakah Zee sudah selesai mandi?
Rasa penasaran yang membawa Zico kembali menasuki villa. Sampai di depan pintu kamar yang terbuka, senyum Zico tercetak saat telah menemukan sosok Zee tengah memakai beberapa skincare malam rutin sehabis mandi.
Lantas Zico menghampirinya. Mencondongkan tubuhnya seraya melingkarkan kedua lengan di bahunya. Sesekali hidungnya dengan spontan menghirup dalam-dalam aroma Zee malam ini yang terasa begitu berbeda.
"Kamu pake parfum?" Zico berbisik, masih dengan kedua lengan membelenggu bahu Zee.
Dengan wajah malu-malu, Zee mengangguk. "Wangi, nggak?" Pertanyaan Zee terdengar seperti tengah menantang Zico.
Apakah perempuan itu tahu maksud dari artian kata-kata yang baru saja dia ucapkan?
"Hm. Wangi, aku suka." Detik berikutnya, Zee melotot saat dengan terang-terangan Zico mengecup lehernya cukup brutal. Wajah Zee memerah menahan malu sekaligus geli sebab apa yang tengah Zico lakukan padanya begitu terpampang nyata pada cermin di depan sana.
"Zi-zico," panggilan dengan nada bergetar dengan napas yang tersengal, sialnya semakin membuat Zico merasa diundang. Mencoba tetap bersikap tenang, Zico melotot saat netranya menyadari pakaian apa yang saat ini dikenakan oleh Zee.
"Zee, ini ..."
"Ka-katanya pengen lihat aku pake ini. Gi-gimana, cantik, nggak?"
Mampus lo Zico!
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Gk hanya cantik... Zee.. Tp sexyy.....
2024-02-05
1
Farida Wahyuni
aku suka bgt ceritanya 😍😍😍
2024-01-09
1
Mey Noona
Updatenya besok yaa!!!/Smile/ libur duluuu/Kiss//Pray/
2023-12-24
2