Episode 14

BONUS UP 2 CHAPTER!

Awas aja klo nggak ninggalin jejak! Mey mau pundung aja pokoknya!:v

...****...

...Malam Pernikahan II...

Tubuh Zee memaku setibanya ia dan juga Zico di depan pintu kamar hotel yang akan mereka tinggali selama semalam ke depan. Ekspresi wajahnya tak bisa dibohongi. Ingatan demi ingatan malam tahun baru bersama Zico yang dilalui di dalam kamar hotel tersebut, satu persatu berkeliaran memasuki otaknya.

Tibalah ketika pintu kamar berhasil dibuka, Zico mempersilakan istrinya untuk masuk lebih dulu. Tak lupa senyuman tengil khas yang membuat kedua bola matanya sedikit menyipit.

"Kok, diem? Ayo, masuk!"

Mendengus sembari cemberut, Zee masih memilih diam di tempat, tak mengindahkan ucapan Zico. "Sengaja banget pesen kamar ini lagi? Supaya apa coba?"

Zico bergumam panjang. Keningnya mengernyit sok tengah berpikir keras. "Nggak kenapa-kenapa. Pengen aja. Buruan masuk, aku udah kepengen rebahan, Yang. Ayo!" Terlanjur gemas, Zico menarik paksa Zee masuk kamar hotel.

Ingin memberontak, namun tak mampu. Kira-kira seperti itulah yang tengah dirasakan Zee saat ini.

"Mandinya mau aku duluan, apa kamu dulu?" Zico menyahut santai. Kedua tangannya menjelajah mencari tata letak handuk dan alat mandi.

"Kamu duluan aja. Aku bakalan lama soalnya,"

Sebuah ide brilian tiba-tiba memenuhi kepala Zico. "Mandi bareng aja gimana?"

"ENGGAK!" Tegas Zee. Netranya memicing panik. Kedua lengannya tampak disilangkan di depan dada.

Terkekeh seraya mengangguk-angguk. "Ya udah. Aku cuma nawarin, kali aja mau." Setelahnya, Zico pun melenggang menuju kamar mandi. Dari sanalah Zee mulai bernapas lega hingga berakhir menjatuhkan diri di atas tempat tidur.

"Remot AC-nya mana, ya? Gerah gini, astaga!" Zee beringsut duduk, sesekali mengipasi sekitar area lehernya yang terasa panas. Kepalanya celingukan mencari letak sesuatu yang dapat mengurangi kadar suhu panas di dalam ruangan.

Senyuman Zee tercetak saat telah menemukan benda tersebut. Dengan ekspresi girang seolah melupakan kekesalan akan Zico, Zee menyalakan AC. Sengaja tidak disetting terlalu dingin. Hanya angin sepoi-sepoi. Selebihnya, Zee melepas pakaiannya yang berupa dress selutut berwarna cokelat. Setelah hanya menyisakan pakaian dalam, barulah Zee berjalan mencari letak handuk kimono.

Sayangnya, belum sempat Zee melangkah, apalagi menemukan di mana letak handuk kimono, pintu kamar mandi tiba-tiba dibuka.

"Yang, bisa tolong ambilin-" Zico yang pada dasarnya belum benar-benar mandi, hanya baru disiram air shower dibalut handuk yang dililit di pinggang, tertegun dengan pemandangan seksi yang dilakukan oleh istrinya.

Terlanjur panik, Zee menyambar dress-nya yang ditaruh sembarang di atas sofa. Menutupi asal tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah menyala. Mati-matian Zee merutuki dirinya sendiri akan kebiasannya yang sering sekali menanggalkan pakaian selama masih menjadi penghuni kost. Selain karena di kamar kostannya tidak ada AC, hanya kipas angin mini, melepas pakaian dan menyisakan pakaian dalam itu nikmatnya sungguh luar biasa.

"Ekhem. Ta-tadi suruh ambil apa?" Mencoba tetap tenang, Zee menyahut seraya memasang ekspresi kaku.

Bukannya membalas, Zico malah berjalan menghampiri Zee. Tatapan matanya menggelap dan Zee tahu betul maksud dari tatapan itu.

Mencoba tetap tenang, Zee mundur beberapa langkah seraya mengeratkan genggaman pada dress. Sayang, di langkah ketiga, Zico berhasil membelenggunya dengan menarik pinggang Zee sembari membuang dress yang menutupi tubuh seksinya.

"Zi-zico,"

"Istriku seksi banget. Sengaja, ya?" Sedikit demi sedikit, Zico menurunkan wajahnya. Sampailah di leher jenjang Zee, tak memerlukan waktu lama, Zico sudah berhasil menyapu halus leher tersebut dengan lidahnya.

"Ka-katanya kamu mau mandi? Kenapa keluar lagi?" Zee mencoba menjauhkan diri. Anehnya, tubuhnya malah bereaksi berbeda dan mengkhianati keinginan hatinya.

"Ada yang ketinggalan. Tadinya mau minta kamu tolong ambilin. Tapi kayaknya nggak usah. Aku bisa ambil sendiri." Terkekeh, Zico lanjut menghisap leher Zee hingga erangan demi erangan lolos dari mulutnya.

"Zico, setop! A-apa yang ketinggalan? Biar aku ambilin- emh!"

Berhenti sejenak lalu mendongak, tatapan Zico kian menggelap dengan deru napas yang tidak beraturan. "Kamu. Kamu yang ketinggalan." Detik selanjutnya, Zico membopong tubuh Zee menuju kamar mandi. Tak mengindahkan permohonan demi permohonan Zee yang meminta untuk dibebaskan.

...****...

"Sayang!~"

"Nggak usah deket-deket!" Zee spontan menggeser tempat duduknya saat dengan ekspresi menyebalkan, Zico tersenyum manis sembari memanggil Zee dengan sebutan manja.

Ekspresi manis Zico berangsur luntur. "Kok, gitu? Sayang laper lagi nggak? Mau aku pesenin makan-"

"Ini udah jam berapa? Tahu ah, jangan deket-deket pokoknya!" Zee mendengus, lalu lanjut mengeringkan rambutnya dengan perasaan dongkol.

Bukan apa-apa. Hanya saja, Zee masih kesal dengan Zico, terlebih dirinya sendiri yang lagi-lagi dibuat tak berdaya oleh pesona laki-laki itu.

Bisa dibilang, keduanya baru saja menyelesaikan malam pertama di kamar mandi. Sangat menyebalkan! Zico benar-benar beringas sekali tadi. Bisa-bisanya tak membiarkan Zee istirahat. Sekarang saja Zee merasa hidungnya berair. Mungkin karena terlalu lama berdiam diri di kamar mandi dalam keadaan tubuh setengah basah.

Dirasa rambut telah sepenuhnya kering, Zee beranjak dari sofa dan langsung diikuti oleh Zico. Laki-laki itu begitu mengekor ke manapun Zee pergi.

"Sayang mau langsung tidur?"

"Hm. Udah jam sebelas, aku capek, ngantuk." Tutur Zee, seraya menaiki tempat tidur lalu menarik selimut sampai batas dada.

Menghela napas, Zico mematikan seluruh lampu. Terkecuali lampu tidur di samping kiri dan kanan kasur yang sengaja dibiarkan menyala. Cahayanya yang terkesan lembut dan tidak terlalu terang, tidak akan mengganggu kenyamanan saat tidur nanti.

Setelahnya, barulah Zico ikut menaiki tempat tidur di samping Zee. Sengaja memilih posisi berdempetan. Sehingga Zico dapat dengan leluasa memeluk tubuh Zee dari samping.

"Iihh, jangan sentuh!"

Bukannya menurut, Zico malah kian menjadi-jadi. Senyuman menyebalkan turut menghiasi wajah tampannya. "Peluk doang, Zee. Sama suami sendiri juga,"

"Awas aja kalau aneh-aneh!" Dalam dekapan Zico, Zee menatap nyalang dengan kedua pipi yang merona. Spontan Zico mengecup gemas kedua pipinya secara bergantian.

"Heem. 'Kan tadi udah, jadi nggak akan minta yang aneh-aneh lagi, janji. Good night, Zee!"

...****...

Di pagi hari yang terasa cukup hangat menyengat ini, Zee dikejutkan pemandangan luar biasa di mana Zico tengah mencoba mengenakan setelan pakaian santai sehabis mandi.

Tolong digaris bawahi kata mencoba mengenakan, sebab laki-laki itu baru mengenakan celana joger berwarna army yang panjangnya hanya sampai batas lutut. Untuk atasannya berupa kaos hitam masih disampirkan di bahu lebarnya yang polos.

Berdeham beberapa kali mencoba tetap tenang, Zee sendiri baru saja bangun tidur, dilanjut mencuci muka dan menggosok gigi. Habis ini Zee mau langsung mengambil sarapan di hotel, niat awalnya. Namun sepertinya Zee tidak perlu repot-repot. Sebab berbagai menu sarapan sehat telah tertata rapi di meja.

"Nggak mandi?" Pertanyaan Zico entah mengapa terdengar seperti mengejek Zee. Tanpa berniat membalas, Zee memilih menghampiri meja dan menikmati sarapan pagi dalam diam.

Terkekeh lalu lanjut memakai kaos, Zico berjalan menghampiri Zee. Tangannya menyambar segelas susu yang masih utuh belum ada yang menyentuh. Menenggaknya seperempat lalu lanjut menikmati sarapan bersama Zee.

"Habis ini mau lanjut pulang, apa jalan-jalan dulu?"

"Nggak tahu," jawab Zee, sedikit pun tidak berniat menatap lawan bicaranya. Mulutnya pun dipenuhi makanan hingga membuat sebelah pipinya tampak mengembung. Mirip dengan ikan buntal.

Lagi-lagi Zico terkekeh geli. Zee terlalu imut dan cantik di waktu yang bersamaan. Padahal, istrinya ini belum mengenakan riasan apa pun. Baru selesai cuci muka dan gosok gigi. Bukannya jelek, kesan polos natural justru terpancar dari wajahnya. Semakin membuat Zico betah berlama-lama menatapnya.

"Pulang aja berarti? Lain kali kita jalan-jalan, deh. Untuk sementara waktu kita istirahat dulu. Oke?" Tangan kekar Zico mengusap puncak kepala Zee dengan gemas layaknya tengah menghibur anak kecil.

Bukannya dibalas romantis, Zee malah merengut sembari menepis tangan Zico. Bibirnya kian cemberut sembari lanjut mengunyah. "Zico, aku jelek, ya?"

"Kata siapa? Nggak!" Zico merespons cepat sekaligus jujur. Sayangnya, Zee salah mengartikan responsnya.

"Bohong! Barusan aja nyeletuk 'nggak mandi'. Pasti kamu nggak suka sama cewek males mandi begini 'kan? Terus pasti sekarang aku kelihatan jelek. Jujur!"

Zico menghela napas panjang. "Dari awal aku jujur, kamu cantik. Tadi aku cuman nanya, bukan maksud nyeletuk. Ya udah kalau nggak mau mandi! Itu mah terserah kamu." Kata Zico. Entah mengapa obrolan pagi mereka malah diisi dengan beradu argumen begini. Zico jadi malas lanjut sarapan.

"Cih, bohong banget!" Zee menggerutu sebelum akhirnya lanjut meikmati sarapan. Sedangkan di sisi lain, Zico hanya bisa menghela napas pasrah memilih bungkam dan mengalah.

Sudahlah.

Ingat!

Cowok selalu salah di mata cewek!

"Tuh, habisin sarapannya. Aku udah kenyang. Obatnya dibawa, nggak? Harus diminum rutin, inget." Zico menyeka mulut, lanjut menghabiskan segelas susu yang tadi.

"Iya, iya, bawel! Obatnya nggak kebawa, nanti aja pas udah sampai rumah langsung diminum."

Tatapan Zico berganti horor. "Kok, bisa nggak dibawa? Kalau nanti kamu lemes, pusing, mual, gimana? Kamu tuh kebiasaan. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, sama calon anak kita, gimana? Lain kali harus inget dibawa ke mana-mana."

Rasa lapar yang sebelumnya masih meluap-luap, dibuat hempas gara-gara celotehan Zico. Dengan ekspresi menahan kesal, Zee menyipitkan mata menatap netra tajam Zico yang saat ini juga tengah menatapnya.

"Dipikir aku sengaja gitu? Aku lupa, manusiawi dong lupa? Ihh, bikin nggak selera makan aja, deh. Nyebelin!" Lantas Zee bangkit dari sofa. Langkah gontainya terus diperhatikan Zico.

"Zee, kamu mau ke mana?"

"Mandi, biar cantik!" Tekan Zee, lalu mengibaskan rambut panjangnya sebelum akhirnya hilang di balik pintu kamar mandi.

"Sarapannya nggak dihabisin?"

"Habisin aja sendiri. Udah nggak mood."

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Sabar Zico.... Wanita hamil.. Mmng gitu... Mood swing...

2024-02-05

1

Vietha_27

Vietha_27

semangat kaa🤗🤗

2023-12-21

1

Dlaaa FM

Dlaaa FM

Lanjutannnnnnn

2023-12-21

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!