Episode 15

...Kado Misterius...

Pukul sepuluh pagi tertera nyata di layar ponsel Zee. Setelah melalui berbagai hal, ia dan juga Zico akhirnya sampai di rumah kediaman orang tuanya. Entah karena hari ini adalah hari selasa, semua orang sedang tidak berada di tempat.

Alaska, sebagai kepala keluarga yang menjabat sebagai seorang CEO masih bekerja di perusahaan. Istrinya, Sharon, seorang musisi juga coach lebih sering menghabiskan waktu di studio. Dan Ketiga putra putrinya yang lain sibuk dengan profesi masing-masing.

Bisa dibilang dari pagi-pagi sekali Zino sudah berangkat lagi menuju London. Sedangkan Zio disibukan dengan monitoring restoran dan kafe yang harus segera ia cek sebab telah masuk jadwalnya. Dan Alasha, gadis yang masih seorang mahasiswi kedokteran tersebut berada di kampus untuk menuntut ilmu seperti biasa.

Nyatanya, Zee bosan sekali padahal ia belum ada dua puluh menit sejak tiba dari hotel. Menoleh ke arah meja kerja di dalam kamar, Zee menemukan di mana Zico tengah dipadatkan oleh suatu hal penting dari kantor yang mau tidak mau membuat Zico menuntaskannya terlebih dulu di hari pertama dirinya cuti menikah.

Gerak-geriknya yang begitu fokus pada layar laptop tanpa sadar mengundang perhatian Zee. Entah mengapa rasanya masih seperti mimpi. Zico terlalu tidak nyata untuk sekadar dilirik seperti saat ini. Namun kenyataannya, Zico sekarang adalah suaminya. Lebih terasa begitu nyata ketika laki-laki itu menyempatkan diri menoleh saat merasakan ada seseorang yang memerhatikan. Kedua sudut bibirnya ikut tertarik dan tatapan lembut Zico berikan hingga membuat Zee spontan membuang muka.

"Ekhem. Masih lama?" Zee menyahut sambil sesekali menoleh diam-diam. Dan ternyata, Zico tengah menahan tawa di mana fokusnya kembali pada layar laptopnya.

"Bentar lagi, Sayang. Kenapa? Udah bosen, hm?" Mendengus, Zee pun bergumam. Tubuhnya mulai dijatuhkan ke atas tempat tidur. Sesekali meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

"Cepetan, iihh! Anter jajan," rengek Zee.

Kening Zico mengernyit disela mengedit dokumen. "Jajan ke mana?"

"Ke mana, kek. Pengen ngemil, laper." Zee menatap Zico penuh harap. Sayangnya, laki-laki itu masih terlalu sibuk hingga detik ini. "Zicooo!"

"Di dapur ada cemilan, banyak. Ambil sama toplesnya."

Bola mata Zee berbinar. "Di bagian mana?"

"Di bagian rak atas deket kompor." Ujar Zico, sedikit pun tak berniat mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.

Mendengus seraya beringsut, Zee merogoh jepit rambut jedai dan menata asal rambutnya. Dirasa usai, barulah Zee berdiri lanjut melenggang menuju pintu kamar. Sampai di depan pintu, suara Zico menghentikan langkah Zee beberapa saat.

"Sekalian bikinin kopi, Yang."

Zee menghela napas pasrah namun juga menurut. "Iya."

Sampai di dapur, suasana masih begitu sunyi. Beberapa asisten rumah tangga juga tak terlihat wara-wiri hari ini. Tak ingin membuang-buang waktu, Zee memilih membuatkan kopi terlebih dahulu untuk Zico menggunakan mesin otomatis. Sambil menunggu, Zee membuka satu persatu laci atas untuk mencari letak cemilan.

Bola matanya berbinar saat setoples keripik singkong balado menyapa indera mata. Sayang, posisinya ditumpuk di atas toples lain yang diisi setoples kue kering. Mencoba berjinjit, Zee ternyata masih belum bisa menggapainya. Mencoba memutar otak dan menjelajah seluruh isi dapur, sebuah kursi makan menganggur nyatanya dipilih Zee untuk membantunya.

Baru saja Zee hendak menaiki kursi, langkah seseorang terdengar memasuki dapur. Mau tidak mau membuat Zee mendongak ke arah pintu masuk.

"Ya ampun, Non! Non Zee ngapain?" Bi Usum, salah satu ART senior berlari menghampiri nona majikannya.

"I-itu, Saya mau ambil cemilan-"

"Non Zee 'kan sedang hamil. Nggak boleh naik-naik kursi begitu, ya ampun! Sini, Non mau yang mana, biar Bibi yang ambilin!" Giliran Bi Usum yang berancang menaiki kursi.

"Yang keripik singkong balado, Bi, kayaknya enak. Maaf, ya, Bi, Saya jadi ngerepotin!"

"Ya sudah, sebentar, ya." Tak perlu bertindak lama, Bi Usum telah sepenuhnya mengambil toples cemilan yang dimintai Zee. Turun dari kursi dengan hati-hati, kemudian menyerahkan setoples keriipik singkong balado tersebut.

"Lain kali minta tolong aja, ya, jangan naik kayak barusan, ya ampun! Kalau kenapa-kenapa gimana? Amit-amit, Ya Tuhan!" Tangan Bi Usum spontan mengusap permukaan perut rata Zee. Anehnya, Zee jadi merasa dekat dengan sang ART.

"Makasih, ya, Bi! Iya, lain kali Saya minta tolong aja. Janji."

Menghela napas lega, Bi Usum pun mengangguk lemah. "Oh, iya. Mas Zico-nya ke mana? Kok nggak minta tolong sama Mas Zico?"

"Zico lagi sibuk, lagi ngerjain kerjaan penting dari kantor. Ini aja Saya lagi bikin kopi, tolong bikinin sekalian katanya."

Lagi-lagi Bi Usum mengangguk. "Mau Bibi bantuin bawanya?"

"Nggak usah! Em, Saya minta nampan aja, Bi. Ada?"

"Ada. Sebentar!" Langkah Bi Usum menjelajah ke laci bawah kompor. Setelah menemukan letak nampan, Bi Usum kembali dan menyerahkannya pada Zee.

"Ini, Non! Beneran nggak perlu bantuan Bibi?"

"Makasih, Bi! Nggak perlu, bisa kok. Bibi lanjutin kerja aja nggak pa-pa,"

"Bener?" Bi Usum menatap cemas. Dengan anggukan mantap dari Zee, Bi Usum akhirnya memilih undur diri. "Kalau begitu Bibi permisi lagi, ya, Non."

...****...

Suara derit pintu yang didorong masuk, mengalihkan perhatian Zico yang dibuat pusing dengan pekerjaannya yang masih saja menumpuk. Bola mata Zico membulat, refleks ia berlari menghampiri Zee yang tampak begitu hati-hati membawa sebuah nampan besar berisi setoples cemilan, secangkir kopi pun segelas air minum beserta tekonya.

"Kok, nggak minta tolong si Bibi ambilin?" Zico menyahut panik, lantas mengambil alih nampan di pangkuan Zee.

"Ringan, kok. Em, kopinya aku tambahin gula dikit tadi. Bener 'kan? Kalau salah aku bikinin ulang-"

"Nggak perlu, udah bener, kok. Makasih, ya!" Karena bingung, Zee balas mengangguk saja. Saat hendak mengambil alis toples cemilan, Zico tiba-tiba menahannya.

"Kenapa lagi?"

"Capek, nggak?" Tanya Zico. Spontan Zee mengernyitkan dahi, lalu menggelengkan kepala. "Biasa aja." Ketika Zee hendak lanjut meraih toples camilan, lagi-lagi Zico menahannya.

Zee berdecak gemas. "Kenapa lagi, Zico?"

"Tadi katanya pengen jajan. Mau aku anter?"

"Telat, udah nggak mood! Awas, ihh! Mau lanjut ngemil keripik, juga." Mendengus, Zee akhirnya berhasil meraih toples cemilan. Menggiringnya menuju sofa beserta air minumnya.

Ekspresi Zee yang semula cemberut menahan kesal sebab terus ditanyai ini dan itu oleh Zico berangsur membaik seiring dengan suapan demi suapan keripik singkong balado yang memasuki mulutnya, menyentuh indera perasa, hingga masuk ke gigitan kriuk dan ditelan dengan penuh kebahagiaan.

Ya ampun, baru begini saja Zee merasa hidup damai.

Giliran Zico yang mendengus. Diliriknya sekilas pekerjaannya, Zico memilih mengabaikan dan menghampiri Zee. Menduduki sofa di sebelahnya sambil ikut mencicipi keripik di pangkuan Zee.

"Udah beres?" Zee menyahut di tengah mulutnya yang tak bisa berhenti mengunyah.

"Nanti aja."

"Kenapa? Mending beresin dulu biar nanti tenang,"

Zico tidak membalas. Laki-laki itu malah memicingkan bola mata. Tak berbeda jauh dengan Zee, mulutnya ikut mengunyah tiada henti. "Kita baru nikah kemaren, masa hari ini aku cuekin kamu terus? Nanti lagi ajalah soal kerjaan. Aku masih ada cuti enam harian lagi jadi harus dipergunakan sebaik-baiknya."

"Padahal mah lanjutin lagi aja. Habis kamu selesain kerjaan, aku pengen ajak buka hadiah sama amplop nikahan kemaren soalnya. Selesain dulu, gih! Udah biasa juga, dicuekin dikit nggak ngaruh. Sana!"

Zico melongo. Bisa-bisanya Zee berkata demikian. "Ya udah, unboxing sekarang aja."

"Selesain dulu kerjaan kamu, Zico! Kebiasaan deh, dari dulu sering nunda-nunda gini. Nggak baik, tahu!"

"Nanti malem, deh, janji! Ayo, aku juga penasaran sama semua isi dari kado nikahan kita."

Dengan gerakan lembut, Zico menggiring Zee duduk di lantai di mana posisinya berdekatan dengan berbagai kado beragam ukuran telah tertata rapi.

Sebuah kado berukuran besar Zico ambil untuk dibuka. Tak lupa membawa gunting dan pisau kertas untuk membantu membuka kado-kado tersebut nantinya.

"Wah, ini dari Kakek pihak Mama!" Zico menemukan secarik kertas berisi dari siapa pengirimnya.

"Coba lihat!" Zee mengeluarkan satu persatu isi kado. Keningnya mengernyit saat fokusnya kembali pada Zico.

"Seragam olahraga?"

Terkekeh, "Itu seragam golf couple. Walaupun udah tua, Kakek masih sering lihat pertandingan golf secara langsung."

"Oke, next." Setelah mengeluarkan isi dari dalam kotak, keduanya memilih lanjut membuka kado yang lain.

"Aku penasaran, para alumni SMA Dharma mereka ngasih apa, ya? Secara kemaren 'kan, apalagi si Tiara, terang-terangan banget nggak mau ngasih selamat. Cuman ke situ aja ngasih selamatnya. Itu juga kepaksa,"

"Kenapa? Cemburu?" Satu alis Zico tertarik.

"Nggak! Biasa aja,"

"Masa?"

"Eeh, coba buka yang ini!" Zee mengalihkan pembicaraan. Lantas menyerahkan sebuah kado berukuran sedang ke hadapan Zico. Mau tidak mau Zico pun menurut dan membuka kado tersebut.

"Isinya hiasan akrilik sama hiasan meja." Kata Zico. Sembari membaca beberapa tulisan yang terukir. "Happy Wedding Day Zee and Zico." Senyuman puas lantas menukik. "Ini buat aku taruh di meja kantor. Ya?"

"Terserah." Perhatian Zee beralih pada sebuah kado yang terlihat cukup misterius dari warna bungkus kado serta ukirannya. Zee jadi teringat ucapan Raya kemarin yang menerangkan jika perempuan itu memberikan kado spesial untuk Zee.

Jangan-jangan...

"Sini, guntingnya! Mau buka yang ini,"

Zico yang tengah sibuk menaruh isi dari kado sebelumnya pun menoleh. "Mana, biar aku bukain,"

"Nggak, nggak! Siniin guntingnya!" Mau tidak mau Zico mengalah. Tibalah ketika Zee membuka kado tersebut dengan lumayan brutal, secarik kertas notes dengan tulisan tangan familier, mengalihkan atensi Zee.

"From: Raya, To: Zee. Semoga langgeng walaupun gue nggak tahu kenapa kalian tiba-tiba nikah tanpa ngasih tahu gue (?)"

"Zee!" Panggilan Zico membuat Zee mendongak. "Hm?"

Detik itu juga, Zico mengeluarkan isi dari kado barusan. Pupil mata Zee melebar saat mengetahui benda apa yang dihadiahkan Raya padanya.

Sialan lo Ray!

"Ini dari si Raya, ya? Tahu aja selera gue kayak gimana." Zico tertawa menyebalkan. "Nanti malem pake ini, Yang!" Kata Zico. Kedua alisnya naik turun dengan sengaja.

Buru-buru Zee menyambar benda tersebut yang tak lain ialah sebuah lingerie seksi berwarna hitam. Wajahnya memerah menahan malu sebab lingerie tersebut benar-benar terlalu seksi. Entah apa yang mesti ditutupi.

Kalau Zee memakainya, bisa-bisa dirinya habis diterkam oleh Zico.

"Ya, Zee, ya?"

"Apaan sih? Nggak dan nggak akan pernah!"

Awas lo Raya!

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Raya... Rata. Tau apa yg Zico mau.....

2024-02-05

1

Vietha_27

Vietha_27

hahhahaa
emang bestie si Raya😎👍😂

2023-12-22

1

Dlaaa FM

Dlaaa FM

Lanjutannnnnnn

2023-12-22

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!