...Rasa Sakit Mendalam...
Di dalam salah satu toilet di rumah kediaman keluarga besar Zico, diam-diam Zee menyeka bulir-bulir air matanya yang merembes seiring dengan ingatan akan ucapan Alasha beberapa saat lalu.
Entahlah. Baru seperti itu saja Zee sudah terbawa perasaan. Padahal Alasha sah-sah saja mengomentari demikian. Sebab Zee saja belum benar-benar menikah secara sah dengan Zico. Hanya baru sebatas kertas dan Zee sudah berani memanggil Sharon dengan panggilan mama.
Astaga, kenapa air matanya kian membanjir deras begini?
Kalau ketahuan Zico, bisa-bisa laki-laki itu memarahi adiknya seperti sepuluh tahun yang lalu, di mana Alasha sewaktu kecil juga pernah bersikap terang-terangan tidak menyukai Zee.
Kala itu, Alasha begitu marah saat mengetahui Zico memiliki pacar dan membawanya ke rumah. Gadis kecil itu membentak dan meninggikan nada suaranya hingga membuat dirinya terlibat perdebatan cukup hebat dengan Zico.
"Disaat kayak gini kenapa malah tiba-tiba mual? Huwek! Huwek!" Makan siang yang hanya beberapa suapan lagi-lagi dikeluarkan. Suara ketokan tak sabaran dari daun pintu toilet, nyatanya berhasil membagi perhatian Zee hingga menghentikan sejenak aksi muntahnya.
"Zee, ini aku, Zico! Kamu mual lagi? Please, bukain pintunya!"
Dengan sangat terpaksa, Zee membukakan kunci pintu toilet. Lantas Zico masuk tanpa menunggu Zee memintanya.
"Zee?"
"Aku nggak pa-pa! Cuma mual dikit." Zee sedikit menjauhkan diri saat Zico hendak meraihnya. Perempuan itu lanjut berkumur-kumur dan mencuci muka.
Setidaknya bekas air matanya dapat tertutupi berkat muntah barusan.
"Beneran nggak pa-pa? Bukan karena Alasha?" Sempat terdiam meresapi, Zee terkekeh singkat lalu menggeleng. "Aku cuma mual, makanya ke toilet sini. Kalau ke toilet dapur nanti kedengeran yang lain 'kan nggak enak. Nanti mereka jijik."
Menghela napas, Zico meraih tubuh Zee untuk dia peluk erat-erat. Usapan hangat turut diberikan di area punggung Zee hingga meninggalkan bekas nyaman.
"Habis ini kita pulang ke kostan kamu aja. Gimana?"
"Hm, boleh."
Sempat terjadi keheningan beberapa saat, Zee lantas melepaskan pelukan Zico. Dengan terpaksa Zico mengurai pelukannya. Sepasang netranya terkunci pada wajah cantik Zee yang memucat.
"Masih mual nggak?"
"Udah nggak. Oh, ya. Besok aku mau mulai ngajar lagi, ya? Udah dua hari nggak masuk, kasihan anak-anak."
Zico menghela napas gusar. "Yakin? Nanti capek nggak? Udah, kamu cuti lagi aja sampai nanti kita nikah. Ya?"
Zee cemberut. "Tapi nanti-"
"Zee, kamu masih belum stabil. Masih sering mual sama muntah. Aku udah wakilin kamu buat minta izin cuti selama dua minggu ke depan. Nurut, ya!"
"Dua minggu?" Pupil mata Zee melebar. Dengan tampang datar, Zico mengangguk.
"A-apa nggak kelamaan?"
Zico melingkarkan kedua lengannya di pinggang Zee. "Harus, Zee! Kita butuh cuti buat nikah sama honeymoon. Kamu pengen kita honeymoon ke mana?" Sorot mata Zico berganti lembut. Senyuman tipisnya turut terpatri hingga membuat wajahnya terlihat ribuan kali lebih tampan.
Benar-benar curang!
Mendengus, Zee lagi-lagi melepaskan diri. Belum sempat benar-benar terlepas sepenuhnya, lagi-lagi Zico membelenggunya seperti semula.
"Zico!" Zee memperingati. Gelagat laki-laki itu sudah sangat mencurigakan saat ini. Terbukti dari senyumannya yang kian melebar serta sentuhan sensual yang diberikan lewat pijatan halus di area pinggang Zee.
"Hm. Kenapa?"
Wajah Zee bersemu kala Zico sedikit demi sedikit mengikis jarak keduanya. Satu tangan besar Zico menyentuh lembut wajah sebelah kiri Zee hingga membuatnya terhipnotis untuk beberapa saat.
"Ki-kita keluar, ya. Pasti yang lain pada nungguin-" Zee terkesiap untuk beberapa saat. Kecupan singkat yang dilakukan Zico di bibirnya membangkitkan rasa menggebu tersendiri. Dalam diam Zee terus memerhatikan sorot mata Zico yang entah sejak kapan begitu dalam nan menusuk.
"Zi-zico?"
"I love you, Zee!"
Kata-kata manis tak terduga meluncur dari mulut Zico. Detik selanjutnya, Zee sudah tidak ingat mengapa dirinya malah memejamkan mata saat Zico mulai meraup bibirnya. Memagutnya beberapa kali, menyesap lembut, mempertemukan lidah mereka, hingga membuat Zee tanpa sadar mengalungkan kedua lengannya di leher Zico.
Untuk kali ini saja Zee berkata jujur; Zico terlalu pandai dalam segala hal, termasuk membuatnya tergoda dalam hal ciuman maupun lebih.
"Hngh! Zi-zico jangan ninggalin bekas, please! Na-nanti yang lain salah paham." Zee mencoba memberontak saat ciuman Zico perlahan turun ke leher. Menghirupnya kuat-kuat, menyapu hangat dengan lidah, lalu menyesap dengan cukup agresif sampai tanpa sadar Zee membungkam mulutnya untuk menahan sesuatu agar tidak lolos begitu saja.
Terdengar kekehan geli yang seketika membuat Zee menurunkan wajahnya untuk menatap ekspresi wajah Zico. Sayangnya, laki-laki itu malah lanjut melakukan aksinya sampai membuat Zee meloloskan satu erangannya.
"Ah, Zi-zico udah!"
Oh, tidak!
Semoga tidak ada siapa pun yang mendengar suaranya yang dengan begitu manja memanggil nama Zico.
Bisa berbahaya!
...****...
"Zee mau pulang sekarang?" Sorot kecewa tak dapat dielakan dari wajah sang mama mertua. Sharon terlanjur menyayangi Zee dan dia masih menginginkan Zee singgah lebih lama di rumahnya.
"I-iya, Mah. Hm, lain kali pasti ke sini lagi." Dengan berat hati, Sharon mengangguk lesu. Lantas perangainya segera ditenangkan oleh sang suami.
"Ekhem. Bentar lagi 'kan Zee bakalan tinggal di rumah ini sama kita. Mendingan sekarang kita sibukin buat fitting baju keluarga dan sebagainya." Teringat akan sesuatu, Alaska menoleh pada menantunya. "Oh, ya, Zee. Gimana kabar mama kamu? Dia udah tahu kalau kalian mau menikah?"
Senyuman Zee seketika luntur dan berganti suram. Wajahnya menunduk sedih dengan sesekali menggelengkan kepala. "I-itu, Mama Saya didiagnosis gangguan mentalnya kambuh. Jadi saat ini beliau masih dirawat di rumah sakit. Dan Saya belum bisa bilang karena kondisinya masih belum stabil."
Baik kedua mertuanya maupun Zico, ketiganya benar-benar dibuat terkejut syok mendengar penuturan Zee. Berbagai reaksi mereka perlihatkan. Sayangnya, Zee hanya bisa menunduk segan dengan sesekali tersenyum simpul.
"Sejak kapan Mama kamu dirawat lagi? Seingat Papa waktu dulu kamu pernah bercerita, bukannya beliau sudah sembuh?"
Zee mengangguk lemah. Tanpa sadar setetes air matanya jatuh membasahi pipi. "Mama kambuh sewaktu Saya melaksanakan magang di SMP tempat Saya mengajar saat ini. Saya juga nggak tahu kenapa Mama tiba-tiba tidak stabil. Mungkin memang sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia, Saya hanya bisa berdoa semoga Mama bisa kembali seperti dulu lagi."
"Kalau boleh tahu, saat ini Mama kamu dirawat di mana?" Sharon meraih kedua tangan Zee. Menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan.
"Di Rumah Sakit Jiwa Bihara, Mah."
Sharon menatap sang suami dengan ekspresi sendu. Tak berapa lama, perhatiannya kembali pada wajah menantunya. Genggaman hangat lagi-lagi disalurkan.
"Kamu jangan sedih, ya. Mama kamu pasti bisa sembuh. Biar kami carikan dokter serta suster yang jauh lebih berpengalaman supaya beliau bisa sembuh lagi seperti dulu." Lantas perhatiannya beralih pada sang putra sulung. "Zico, hari ini kamu temenin Zee, ya. Jangan biarin Zee sendirian!"
"Iya, Mah. Kalau gitu Zico sama Zee pamit dulu."
"Hm. Hati-hati bawa mobilnya!"
...****...
Di sepanjang perjalanan pulang menuju kost-kostan Zee, suasana di dalam mobil terasa begitu hening, sepi, bahkan terkesan canggung. Beberapa kali Zico melirik Zee yang sepertinya tengah melamunkan sesuatu. Raut wajahnya begitu pucat pilu. Bola matanya bahkan terlihat berkaca-kaca bila diperhatikan lebih seksama.
"Ekhem!" Zico berdeham, berharap membuat Zee bereaksi untuk sekadar menoleh saja. Sayang, perempuan itu benar-benar telah terhanyut akan lamunannya.
Apakah Zee masih memikirkan mamanya?
Sentuhan halus menyentak kesadaran Zee. Kepalanya celingukan menatap tangannya serta Zico silih berganti. Dalam diam Zee memerhatikan wajah tampan Zico yang begitu fokus mengemudikan mobilnya. Walau demikian, tangannya yang lain masih menggenggam erat tangan Zee. Mengusapnya beberapa kali bahkan mengecup punggung tangannya dengan manja.
"Tiba-tiba aku pengen jengukin keadaan Mama Mertua. Gimana menurut kamu?"
Tersentak, Zee menghempas tangan Zico seraya membuang muka. "Mama masih nggak stabil. Takutnya dia nyerang kamu kayak terakhir kali aku jengukin dia juga nyerang aku. Dia bahkan udah lupain aku sebagai anaknya."
Zico bungkam beberapa saat. Helaan napas gusar turut ia embuskan. "Kalau gitu lihat dari kejauhan. Gimana?" Tawar Zico. Berharap kali ini Zee mau mengiyakan permintaannya. Atau mungkin lebih tepatnya, Zico ingin setidaknya dapat mengobati rasa sakit Zee dengan mempertemukannya beberapa saat dengan sang mama.
Dan, sepertinya Zico berhasil. Terbukti dari gelagat Zee yang mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sebagai respons positif.
Tak ingin berbasa-basi lagi, Zico menancap gas dan memutar arah tujuan mereka menuju rumah sakit tempat mamanya Zee dirawat. Sampai di sana, Zee langsung membatu saat berbagai pasien dengan kondisi sama namun dengan gejala yang beragam, tampak memenuhi lorong rumah sakit.
Tak ditinggalkan sendirian, pasien dengan kondisi yang cukup stabil dan mampu diajak berkomunikasi barang sedikit, ditemani oleh suster dan perawat yang menjaga.
Langkah Zee yang semula terasa berat menyusuri setiap lorong, kian terasa berat apalagi ketika sesampainya perempuan itu di depan pintu bangsal sang mama. Bersama Zico yang senantiasa hadir di sampingnya, laki-laki itu memeluk tubuh Zee dari samping. Wanitanya menangis tanpa suara saat raungan demi raungan terdengar begitu menggema dari bangsal tersebut.
Sesekali jeritan kebencian turut dilontarkan. Zico tebak, mamanya Zee memiliki trauma fatal terhadap laki-laki hingga membuat kondisinya menjadi demikian.
Zee hampir kehilangan keseimbangan jika saja Zico tidak segera menangkap tubuhnya. Air matanya mengalir dahsyat dengan tubuh yang kian bergetar hebat. Sempat terbesit ingin membuka pintu bangsal untuk melihat kondisi sang mama, Zee berakhir urung saat ingatan terakhir kali di mana mamanya malah melemparinya dengan sebuah benda tumpul.
Sakit dari benda yang dilemparkan memang tidak seberapa. Hanya saja sakit hatinya akan kondisi sang mama yang melupakannya membuat Zee tidak sanggup. Terlalu menyakitkan. Dan, terlalu tidak adil.
Mamanya sudah sempat sembuh selama kurang lebih delapan tahun dari gangguan kejiwaan. Namun setelahnya, entah gara-gara apa, mamanya kembali drop bahkan jauh lebih parah hingga saat ini.
"Zico, kita pulang aja, ya! A-aku nggak bisa-" Zee menggantungkan ucapannya ketika Zico memberikannya pelukan erat nan hangat. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya. Hanya usapan ringan di punggung yang sialnya membuat Zee semakin dilanda emosional.
"Hm. Kita pulang."
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Lanjut
2024-02-04
1
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2023-12-19
1