Episode 3

...Perdebatan...

"Stay by my side, Zee!"

"Gue nggak bisa." Zee mendorong Zico hingga menjauh. Bertepatan dengan itu, Zee bangun dan memungut kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.

"Ruang ganti di mana?" Zee bertanya tanpa sedikit pun berniat menatap Zico.

Ekspresi Zico berganti dingin. "Ngapain nyari ruang ganti? Gue udah lihat bahkan nikmatin semuanya." Katanya, lalu berdiri menghadap Zee. Dengan sekali tarikan, Zico berhasil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Zee.

"Aak! Lo gila, ya?" Wajah Zee memerah padam. Apalagi ketika dengan terang-terangan Zico menatapnya dari atas sampai bawah.

"Gue tanya sama lo, lo masih sayang 'kan sama gue?" Perhatian Zico beralih pandang pada sepasang bola mata Zee yang membulat.

Terkesiap beberapa saat, Zee membuang pandangan dari Zico. "Ruang ganti di mana?" Tanya Zee untuk yang kedua kalinya. Sengaja sebenarnya sebab pertanyaan Zico cukup sulit untuk Zee jawab.

Zico berdecih. "Pake di sini aja." Balasan berupa lirikan tajam Zee membuat Zico berdecak pasrah. "Fine! Tuh, ada kamar mandi! Pake sepuasnya!" Zico berjalan meninggalkan Zee. Ekspresinya sendiri cukup sulit untuk dibaca. Namun Zee memilih tidak peduli. Bergegas perempuan itu memasuki kamar mandi. Memakai pakaiannya sekalian membersihkan diri mumpung tersedia handuk dan beberapa alat mandi.

Lima belas menit berkutat di kamar mandi, Zee telah selesai dengan aktivitasnya. Bertepatan dengan Zee yang membuka pintu kamar mandi, Zico tidak berada di tempat. Kamar hotel luas nan mewah itu tampak kosong. Ruangannya sendiri terlihat begitu kacau. Satu persatu ingatan gila malam tadi memasuki kepala Zee.

"Ah, Zico jangan! I-itu geli!" Zee meringis saat ingatan di mana dirinya melenguhkan nama Zico dengan begitu manja. Bulu kuduknya berdiri secara spontan. Tak ingin semakin lama di dalam kamar hotel yang menjadi saksi akan kegilaan Zee dan Zico tadi malam, Zee memutuskan pergi.

Sampai di lobi hotel, tubuh tinggi menjulang dengan sepasang bahu lebar menyentak Zee. Sempat mengira Zico telah pergi, nyatanya laki-laki itu tengah menunggunya di sini.

"Udah? Gue anterin pulang." Zee menepis tangan Zico saat laki-laki itu menarik salah satu pergelangan tangannya. Netranya menyorot tajam menatap wajah Zee.

"Gue bisa sendiri." Zee melenggang terlebih dahulu dengan langkah lebar.

Mendengus, Zico mengikuti langkah Zee hingga keduanya sampai di luar area hotel. Lagi-lagi Zico menarik paksa Zee supaya berhenti dan berdiri menghadapnya.

"Gue akan taggung jawab."

"Nggak perlu. Anggap aja gue lagi sial sampai harus ngelakuin hal itu sama lo!" Tatapan nyalang Zee membuat Zico berdecak tak suka. Dengan cukup kasar Zico menarik paksa Zee menuju parkiran basemant. Zee sempat meronta bahkan berteriak, namun Zico tak mengindahkannya. Berbagai tatapan aneh dari beberapa orang yang lewat di sekeliling mereka tak membuat Zico urung untuk membawa Zee pergi.

"Zico, lepas! Sakit. Lo apa-apaan, sih?"

Sampailah keduanya di parkiran basemant, tepatnya di salah satu badan mobil, Zico melepaskan tangan Zee. Tubuh besarnya mengukung tubuh ramping Zee yang tingginya hanya sampai dagu Zico.

"Zi-zico," Zee kelabakan. Tatapan yang Zico layangkan begitu mengerikan. Zee sampai tidak berani menatap matanya beberapa saat.

"Kenapa, Zee? Barusan lo berani teriak sama gue, kenapa sekarang lo malah diem?" Satu tangan Zico terulur meraih dagu Zee hingga membuat perempuan itu mendongak dan menatapnya. "Lo milik gue Zee, begitupun sebaliknya. Lo dilarang pergi ke manapun tanpa persetujuan gue."

Zee terkekeh sarkas. Reaksinya menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diri Zico. "Lo salah, Zic! Gue bukan milik siapa pun. Lo sama gue udah putus. Kita nggak terikat hubungan spesial apa pun. Yang tadi malem? Itu cuma one night stand. Siapa pun bisa ngelakuin itu."

"Zee, jangan pancing amarah gue!" Kedua alis Zico mengerut dalam. Dadanya tampak naik turun bila diperhatikan.

"Kenapa? Itu emang kenyataannya, kok!"

"ZEE!" Zico membentak. Netranya menyorot nyalang hingga membuat Zee refleks memejamkan mata. Tubuhya bergetar merasakan aura mengerikan Zico.

Tawa sarkas memenuhi wajah Zico. Mati-matian Zee memberanikan diri menatap Zico yang posisinya tak sampai berjarak sepuluh sentimeter.

"One night stand? Jadi, lo bisa ngelakuin itu sama siapa pun walaupun bukan sama gue?"

Zee bungkam sepersekian detik. "Kenapa cuma gue? Lo juga bisa ngelakuin itu dengan cewek manapun."

Lagi-lagi Zico tertawa, namun kali itu tawanya terdengar lebih sumbang. "Gue kecewa sama lo, Zee!"

...****...

"Hahaha! Tadi dia bilang apa? Kecewa? Terus gue apa? Kegadisan gue tercoreng gara-gara dia!" Zee menggerutu sebal setelah beberapa saat benar-benar terbebas dari cengkraman Zico.

Di waktu yang hampir memasuki tengah hari, Zee baru mau mulai sarapan di kamar kostannya. Beberapa bagian sudut tubuhnya mengalami pegal dan ngilu. Khususnya di area inti yang terus menerus basah.

"Arghh! Zee, kenapa lo bisa semudah itu siiii, huh? Lo lepasin kegadisan lo buat Zico, mantan pacar yang udah lo campakin! Nggak habis fikri gue sama lo!" Zee meraung-raung penuh penyesalan. Tangannya terulur menyentuh perutnya yang berbunyi. Lapar.

Hembusan napas panjang diiringi tubuhya yang dijatuhkan ke atas tempat tidur menarik kenyamanan tersendiri. Bola mata cantiknya menatap dalam langit-langit kamar kostannya dengan jantung yang bergemuruh. Tanpa sadar ujung jemarinya menyentuh lembut permukaan bibirnya. Teringat akan ciuman lembut nan menuntut dari Zico semalam yang tanpa sadar membuat Zee ingin merasakannya lagi.

"Bego! Ngapain gue mikirin itu? Zee, lo bener-bener nggak ketolong!"

...****...

Hari demi hari terus berjalan tanpa hambatan maupun gangguan dari Zico. Sejujurnya, walaupun Zee merasa bersyukur karena Zico tidak lagi menemuinya, hatinya justru merasa hampa. Liburan tahun baru telah berakhir tanpa adanya kesan indah. Hanya ada memori malam itu yang semakin hari semakin jelas di pikiran Zee.

Anehnya, Zee ingin merasakannya lagi. Saat di mana Zico menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya dan-

"Bu Zee!" Zee mengerjap saat sahutan lembut dengan nada yang terdengar cukup keras memasuki indera pendengarannya. Tepat ketika Zee menoleh, seorang muridnya tampak menatapnya keheranan.

Astagaaa, apa yang Zee pikirkan di jam-jam pagi begini? Memikirkan hal mesum bersama Zico disaat masih jam mengajar?!

Gila!

Ini bukan dirinya!

"I-iya. Kenapa?"

"Anu, jam belajarnya Ibu udah selesai. Selanjutnya bagian pelajaran olahraga." Terang siswinya. Sontak Zee berdiri dengan terburu-buru dan membereskan meja.

"Maaf, Ibu barusan ngelamun! Hm, kalian mau langsung ke lapangan, ya?" Siswinya mengangguk. "Ya udah, kalian boleh keluar lebih dulu." Ujar Zee. Senyum merekah menghiasi cantik wajah salah satu siswinya.

"Makasih, Bu!" Lalu siswi itu menyalimi tangan Zee, kemudian pamit. Tak hanya siswi itu, siswa dan siswi yang lain turut menghampiri meja Zee. Meminta izin sekaligus menyalimi tangan Zee.

Tibalah ketika ruang kelas kosong, Zee kembali menjatuhkan diri di kursi. Helaan napas panjang diembuskan. Satu tangannya mengurut pangkal hidung yang terasa pening.

"Gila lo, Zee!"

...****...

"Siang, Bu Zee!" Sapaan hangat diselingi senyuman manis itu berasal dari Bu Dara, rekan guru Zee yang mengajar di mata pelajaran fisika. Usianya sendiri telah memasuki kepala tiga, tepatnya tahun ini beliau berusia 34 tahun. Telah menikah dan memiliki satu orang anak berusia 8 tahun.

Zee balas tersenyum ramah. "Siang juga, Bu Dara!"

"Bu Zee udah makan siang?" Tanya Bu Dara. Ponsel yang sempat menjadi fokus utamanya dimatikan sejenak. Ditaruhnya kembali di dalam saku.

Zee menggeleng lemah. Bahkan saat sarapan pagi saja Zee tidak melakukannya dengan benar. Hanya memakan selembar roti tawar dan air putih. Entahlah. Zee tidak punya mood untuk menyentuh nasi.

"Kebetulan Saya juga belum makan siang. Bu Zee mau makan siang bareng Saya di kantin?"

"Makan siang, ya. Em ..."

Bu Dara mengapit lengan Zee. Senyuman menggoda turut diperlihatkan. "Udah, ayo, ikut aja! Ekhem. Ada Pak Gino, lho! Udah stand by dia, nungguin Bu Zee katanya." Pak Gino adalah seorang guru olahraga yang masih single di usia 29 tahun. Memiliki tubuh proporsional dan wajah tampan, tak sedikit membuatnya dikagumi oleh para siswi yang tengah dalam masa pubertas. Bahkan, beberapa guru muda yang juga masih berstatus sama ada yang dengan terang-terangan mendekati Pak Gino.

Sayang, menurut rumor yang beredar, Pak Gino telah menjatuhkan hatinya pada Zee.

Zee selaku pihak yang tidak pernah menerima pernyataan cinta dari Pak Gino pun bingung. Dari mana rumor tersebut berasal hingga menyebar luas, padahal Zee dan Pak Gino saja tidak terlalu dekat apalagi akrab.

Zee menggaruk belakang lehernya yang jelas tidak gatal. "Eungh, nggak dulu, deh. Saya-"

"Duhh, kok, Bu Zee jadi malu-malu gitu, sih? Udah, ayooo!"

"Hah? Malu-malu? Sa-saya nggak malu-malu! Saya cuma-" Lagi-lagi ucapan Zee diharuskan terpotong sebab Bu Dara yang menariknya menuju kantin dengan paksa.

Sampai di kantin sekolah, Bu Dara menyuruh Zee duduk di sampingnya. Dan mau tidak mau Zee pun menurut dengan terpaksa.

"Eh, Bu Zee! Bu Zee udah tahu belum," Bu Dara menjeda obrolannya. Berharap dapat membuat Zee penasaran hingga bertanya.

"Soal apa?" Bu Dara bersorak dalam hati. Zee telah berhasil terpancing perkataannya.

"Gini, Bu Zee. Tahun ini murid-murid yang daftar ke SMP Pertiwi 1 'kan melonjak tuh,"

"Heem."

"Pihak sekolah sekarang ini lagi nyari sponsor buat pembangunan gedung baru. Dan ... dalam waktu kurang dari satu bulan, sekolah kita udah dapat sponsor yang luar biasa lho, Bu Zee!" Bu Dara begitu menggebu saat menerangkan lebih lanjut. Tidak dengan Zee yang masih berekspresi normal.

"Oh, ya? Siapa sponsornya? Presiden Jokowi?"

Raut wajah Bu Dara berganti sebal. "Bukan Bapak Presiden Jokowi juga kali, Bu Zee," helaan napas lelah turut diembuskan.

"Hehe, bercanda. Em, sponsornya dari perusahaan mana emangnya?" Raut wajah Bu Dara kembali ceria. "Bu Zee bakal kaget, sih. Sponsor sekolah kita itu perusahaan IT yang terkenal! Selain membantu pembangunan gedung, mereka juga mau mendonasikan ratusan komputer untuk siswa-siswa sekolah kita. Kebetulan banget komputer di laboratorium udah banyak yang rusak. Jadi merasa, ya ampun, sekolah kita beruntung bangettt gitu,"

"Nama perusahaannya apa?"

"Kalau nggak salah nama perusahaannya- Eh, itu bukannya perwakilan dari sponsor sekolah kita, ya?" Bola mata Bu Dara membola spontan. Jari telunjuknya menunjuk beberapa orang pria yang salah satunya adalah perwakilan dari sponsor, asistennya, bahkan bapak kepala sekolah tercinta.

Zee yang terlanjur kepo pun mengikuti ke arah tunjukkan Bu Dara. Bola matanya memelotot hampir meloncat saat mengetahui siapa sponsor sekolah mereka yang disebut-sebut luar biasa hebat itu.

"Hah?! Itu 'kan ..." Zico?

^^^To be continued...^^^

Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!

Terpopuler

Comments

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Sangat menarik ceritanya thorr

2024-02-04

1

Ghania-chan

Ghania-chan

brutal woiii mirip siapaaaa😭

2023-12-20

1

Dlaaa FM

Dlaaa FM

Lanjutannnnnnn

2023-12-12

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!