...Drama Keluarga...
Setelah menyelesaikan fitting baju, tibalah Zee dan Zico di hadapan sebuah rumah mewah nan megah kediaman orang tua Zico. Sedari turun dari mobil, Zee terus menghela napas gusar. Sesekali menggigiti bibir bawahnya sembari mengeratkan genggaman pada ujung dress yang tengah dikenakan.
"Zico, aku nggak berani! Lain kali aja, ya?" Zee memasang raut memelas. Berharap permintaannya disanggupi Zico.
Sentuhan halus menyentak ujung jemari tangan Zee. Diakhiri genggaman hangat selembut kain sutra untuk menenangkan perasaannya.
"Ada aku. Kamu cukup diam aja di samping aku. Oke?" Usapan hangat turut Zico berikan di kepala Zee.
Dengan berat hati, Zee pun mengangguk. Tibalah ketika mereka masuk, Zee merasakan jantungnya semakin memompa cepat. Karena tak berani, Zee memilih menunduk. Kedua tangannya memeluk erat lengan Zico mencari sebuah ketenangan.
"Baru ingat pulang?" Sahutan keras memekakkan telinga pun dada, menyentak perhatian Zee dan juga Zico.
Memberanikan diri Zee mendongak. Wajahnya pucat pasi saat tatapan kurang mengenakan terpancar penuh di wajah Alaska, papa kandung Zico yang posisinya saat ini tengah duduk tenang di atas sebuah sofa single di ruang keluarga. Tak sendirian, seorang wanita paruh baya yang masih begitu cantik dan awet muda turut menemani di sofa panjang di sampingnya. Ekspresinya sulit ditebak. Namun di mata Zee, kedua orang tua Zico tengah dalam keadaan mood yang kurang baik saat ini. Teringat akan ucapan spontanitas Zico di telepon yang menerangkan singkat di mana Zee tengah mengandung buah hatinya, Zee jadi semakin gugup dan ingin segera kembali ke kostan.
"Ke mari!" Alaska kembali menyahut, masih dengan ekspresi sama.
Tanpa mau membuat sang papa menunggu maupun mengulangi perkataannya, Zico lanjut menggiring Zee.
"Duduk." Ucapan halus namun terkesan datar itu berasal dari sang mama. Sebut saja namanya Sharon.
Lagi-lagi Zico menurut dan menggiring Zee untuk duduk di sofa panjang lain.
"Pah-"
"Diam. Papa lagi emosi. Jangan sampai ucapan kamu malah menambah tingkat emosi Papa!" Tatapan Alaska begitu mengkilat. Zee semakin yakin jika kedua orang tua Zico tidak akan merestui hubungan mereka.
"Tapi, Pah-"
"Papa sama Mama merasa gagal jadi orang tua. Padahal kami kira kamu sudah dewasa, Zico. Kamu itu anak sulung! Harapan terbesar Papa sama Mama! Tapi apa? Kamu hamilin anak orang." Dengusan kasar diembuskan. "Kami nggak mau tahu, kamu harus nikahin perempuan- Siapa nama kamu?" Perhatian Alaska beralih pada Zee. Tatapan matanya berganti normal yang sialnya membuat Zee semakin ketakutan.
"A-anu-"
Kening Alaska mengernyit. "Anu?"
"Bu-bukan! Nama saya Zee. Zee, Om!"
"Zee? Zee pacarnya Zico waktu SMA? Zee yang itu?" Selaan Sharon mengakibatkan fokus seluruhnya beralih pada wanita cantik itu. Dengan gugup, Zee mengangguk.
"Maaf, Tante! Saya-"
"Benar-benar kamu, Zico!" Suasana semakin terasa tegang. Tatapan mamanya Zico begitu menyeramkan. Dadanya bahkan tampak naik turun tak beraturan.
"Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab! Hari ini juga, kita adain pernikahan."
"A-apa?!" Zee refleks mengatupkan mulutnya.
Ya ampun, secepat ini?
"Mah, Pah, tolong dengerin Zico! Zico baru aja habis daftarin pernikahan tadi sama Zee. Kita juga udah fitting baju. Kita berencana nikah minggu depan." Zico menyela setelah sempat terdiam mencerna seluruh ucapan kedua orang tuanya.
"Bagus kamu, ya! Ngelakuin semua hal sendirian. Udah nggak perlu lagi bantuan Mama sama Papa, iya?"
Zico menghela napas pasrah. "Bukan gitu, Mah."
"Ya udah, undangannya udah bikin? Sewa gedung? Digelar di aula hotel Mama yang baru opening, nggak mau tahu!" Putus Sharon. Sedikit membuat Zee bertanya-tanya akan sikap tersebut yang melenceng dari ekspektasinya.
"Dekorasi sama cateringnya biar Papa yang pikirin. Udah, sampai sini aja. Habis ini kita makan bareng-bareng. Zino juga mau pulang hari ini. Zio juga akan nyempetin diri. Dan, Alasha lagi di perjalanan pulang ngampus." Tambah Alaska. Perhatiannya lalu beralih pada Zee yang tampak menunduk gelisah.
"Zee. Kamu nggak pa-pa, Nak?" Mengerjap, Zee menoleh bingung.
"Sa-saya-"
"Zico, usia kandungan Zee baru berapa minggu?" Sahutan tersebut berasal dari Sharon. Perhatian Zee lagi-lagi membuncah.
"Baru tiga minggu, Mah."
"Harus banyak istirahat dong? Zee, ayo ikut Mama! Kita istirahat di kamar, ya."
"Hah!? Ma-mama?" Zee semakin tidak paham dengan situasi yang terjadi. Semudah itu aura kelam berganti cerah?
"Bi!" Sharon tak mengindahkan kebingungan Zee. Wanita itu sibuk menyahuti salah satu asisten rumah tangganya.
"Iya, Nyonya!"
"Persediaan bahan makanan di kulkas gimana? Masih aman?"
ART tersebut mengangguk. "Aman, Nyonya. Masih penuh."
"Ya udah, hari ini tolong belanja susu ibu hamil buat menantu Saya. Nanti Saya kirimkan fotonya."
"Baik, Nyonya."
"Itu saja." Kata Sharon. Bergegas sang ART melenggang untuk membeli barang keinginan majikannya.
Tak berselang lama, perhatian Sharon kembali pada Zee. "Zee, ayo! Ikut Mama ke atas, yuk!"
"Ta-tapi, Tante?"
"Mama! Jangan panggil Tante, dong! Bukannya kalian udah daftarin pernikahan? Berarti sekarang kamu Istrinya Zico. Udah, ayo, kita ke atas!"
Diam-diam Zee menoleh cemas pada Zico. Sayangnya, respons santai Zico yang menyuruh Zee mengikuti kemauan sang mama, membuat perempuan itu hanya bisa pasrah pada akhirnya.
Kok jadi begini?
...****...
"Zee, kamu udah makan?" Sesampainya di sebuah kamar yang sepertinya adalah kamar Zico, Zee langsung disuguhkan pertanyaan basa-basi oleh mama mertuanya.
"U-udah, Tante."
"Mama!" Tekan Sharon. Sontak Zee memejam kuat bola matanya.
"I-iya, Mama maksudnya. Maaf, Mah! Saya-"
"Zico yang paksa kamu, ya?" Tatapan Sharon berganti sendu. Beberapa saat Zee sempat dibuat tertegun oleh tatapan itu. Bahkan bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Atas nama Zico, Mama minta maaf, ya! Padahal dulu kalian akrab, tapi kenapa dulu kalian putus? Mama sempat sedih pas tahu kalian putus hubungan. Zico yang selalu tebar senyuman juga berubah seperti dulu bahkan lebih parah. Zico selalu uring-uringan. Zico sangat mencintai kamu. Mungkin penyebab terjadinya hari ini karena Zico tidak bisa melupakan kamu. Sekali lagi, Mama minta maaf karena telah lalai! Mama janji, Mama akan membuat Zico meratukan kamu. Kamu mau 'kan maafin Mama sama Zico?"
Sudut hati Zee terenyuh. Bola matanya ikut berkaca-kaca hingga meneteskan bulir demi bulir air mata. Jelas hal tersebut membuat Sharon panik.
"Zee? Kenapa? Jangan-jangan Zico kasar, ya, sama kamu? Nggak bisa dibiarkan. Anak itu harus-"
"Bukan, Mah! Zee cuma merasa bersalah. Mama tidak pantas minta maaf sama Zee. Zee yang harusnya minta maaf. Zee udah-"
"Zee." Panggilan halus disertai sentuhan lembut di kedua tangan menyentak Zee. Perlahan tatapan matanya jatuh. Menatap lekat kedua tangan sang mama mertua yang begitu erat menggenggam kedua tangannya.
"Kamu nggak salah. Mama tahu itu. Kamu nggak boleh menyalahkan diri kamu sendiri, sementara kamu sendiri saja adalah korban." Sharon menghela napas panjang, kemudian berdeham.
"Kamu belum ketemu sama Alasha lagi, ya? Waktu dulu kalian masih pacaran, Alasha sering cemburu 'kan pas tahu Zico, kakak kesayangannya punya pacar? Nah, sekarang dia udah besar. Kamu pengen lihat fotonya?" Mendadak Sharon mengalihkan pembicaraan. Wanita paruh baya itu merogoh ponselnya. Mengutak-atik sebentar lalu memperlihatkan potret putri bungsunya.
"Ini dia. Gimana? Udah besar 'kan?"
Bola mata Zee berbinar. "Ini Alasha, Mah?" Sharon mengangguk antusias. "Dulu cantik, imut. Sekarang cantik dan dewasa."
Sharon terkekeh geli. "Apanya yang dewasa? Masih sering manja sama Papanya! Maklum, anak kesayangan. Dulu Papanya Zico ngebet banget pengen punya anak cewek. Tapi ternyata, anak pertamanya cowok saaampai ke anak ketiga. Dan yang keempat, yang terakhir, baru deh cewek. Alasha. Sengaja huruf pertama namanya nggak pake huruf Z lagi. Oh, ya. Nama Alasha diambil dari perpaduan nama Mama sama Papanya, tahu! Alaska dan Sharon. Duhh, kalau inget masa lalu, suka gemes sendiri."
Zee ikut terkekeh geli. Ternyata, Tante Sharon masih sama seperti dulu. Masih menerima Zee dengan terbuka.
"Em, Alasha saat ini kuliah, ya, Mah?" Lagi-lagi Sharon mengangguk. "Masuk kedokteran. Katanya sih biar beda dari yang lain. Zico 'kan masuk militer? Tapi belum lama ini dia gantiin direktur perencanaan di Intern Company yang pensiun. Zino kuliah S2 sambil bisnis. Nggak tahulah bisnis apa, Zino tuh main rahasia-rahasiaan mulu sama Mama. Dan Zio, selesai kuliah dia minta izin sama papanya pengen buka bisnis kafe sama restoran. Nyuruh papanya buat investasi ke rekening bisnisnya. Dan sampai sekarang, bisnisnya udah mulai lumayan. Tingkahnya juga makin tengil. Ceweknya banyak. Nggak beda tipis sama papanya."
Teringat akan satu hal yang dilupakan, Sharon bergumam. "Kalau kabar Zee? Sekarang kamu kerja di mana?"
Senyuman Zee perlahan luntur. Ada sedikit rasa rendah diri saat harus menyebutkan soal itu. "Hm, Saya ngajar di SMP, Tante- Eh, Mama!"
"Kamu guru?" Zee mengangguk sungkan. Sudah jelas pekerjaannya tidak bisa dibandingkan dengan keempat orang anak-anak Sharon. Zee jadi semakin yakin bahwa dirinya dan Zico itu sangat tidak cocok.
"Udah Mama tebak sih. Dulu 'kan kamu pinter. Sering juara umum. Zico aja kalah sering di peringkat dua. Nggak salah Zico pilih istri."
"Eh?"
...****...
"Papa lebih suka gaya ini. Klasik." Alaska tersenyum puas pada sebuah gambar dekorasi pernikahan yang diperlihatkan asisten pribadinya untuk nanti ketika pernikahan Zico dan Zee.
Terdengar desisan panjang dari Zico diiringi kedua alisnya yang mengerut dalam. "Zico lebih suka yang glamour, mewah dan berkelas."
Alaska terkekeh. "Mending kamu tanyain istri kamu, gih, dia suka yang gimana? Jangan sampai pesta pernikahan nanti malah memberatkan Zee."
Zico merengut. "Maksudnya?"
"Maksud-"
"KAK ZICOOO!!!" Panggilan heboh nan melengking dari arah pintu masuk, menyentak perhatian sepasang ayah dan anak itu.
Tepat ketika keduanya menoleh, sosok gadis cantik dalam balutan pakaian modis tampak berlari sekuat tenaga. Ekspresinya sulit ditebak. Spontan Zico melotot bahkan menelan ludah saat seringaian tipis memenuhi wajah cantik gadis itu.
"Mampus."
"Kak Zico!"
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Lanjut
2024-02-04
1