...Garis Dua...
"Zico, setop!" Teriakan Zee yang spontanitas membuat Zico refleks mengerem mobilnya secara mendadak. Beberapa pengendara beroda dua bahkan beroda empat yang berada di belakangnya terdengar memaki bahkan sesekali melempari bunyi klakson.
"Gila lo, Zee!" Zico melotot.
Tanpa diduga-duga, Zee menyengir lebar sembari melambaikan tangannya. "Gue duluan, ya! Makasih Zico, muah!" Detik itu juga, Zee langsung melesat keluar dari mobil Zico. Berlari sekuat tenaga menuju gerbang SMP Pertiwi 1 yang baru Zico sadari keberadaannya.
Sial!
"Zee! Balik lagi nggak lo!" Zico berteriak lewat jendela mobil yang diturunkan sepenuhnya.
Bukannya menurut, Zee malah tertawa lebar sembari menjulurkan lidahnya. "Gue udah baik-baik aja. Thank you, ya, tumpangannya! Lain kali nggak usah munculin diri lagi kalau bisa!" Pekik Zee, lalu sosoknya hilang di balik tembok.
Di tempatnya, Zico merosotkan tubuhnya pada punggung kursi mobil. Kekehan renyah turut mengukir di wajahnya. "Dasar! Bisa-bisanya lo ketawa secantik itu setelah lari dari gue." Tiba-tiba Zico teringat ucapan Zee yang berkata 'Muah' sebelum ia benar-benar pergi.
Astagaaa! Walaupun hanya trik cantik agar dapat terbebas, entah kenapa Zico merasa seperti berbunga-bunga?
Betapa bagusnya jika Zee memberinya sedikit kecupan di pipi saat berkata 'muah' tadi.
...****...
Jam pelajaran pertama telah Zee lewati. Sayangnya, kondisi tubuh Zee terasa semakin parah. Kepalanya berat dan hidungnya mampet. Dan saat ini, tepatnya di ruang UKS, Zee tengah dibaluri minyak angin roll on oleh Bu Desi, rekan guru yang seumuran dengan Zee. Keduanya bisa dibilang sangat akrab.
Mendengar Zee izin ke UKS karena sakit, bergegas Bu Desi mendatanginya. Memberikannya segelas teh hangat, bubur, juga obat penurun demam.
"Awh, sebelah situ, agak bawahan, nah itu!" Zee merasa jauh lebih baik saat Bu Desi lanjut mengerok punggungnya. Sesekali mulutnya melontarkan sendawa.
"Euh, masuk angin ini mah! Punggungnya udah merah tuh, pake lagi bajunya."
"Makasih banyak lho, Bu Desi! Kalau nggak ada Bu Desi, udahlah nggak tahu Saya. Mungkin udah tepar!" Ucap Zee, tulus. Tutur kata Zee yang formal jelas saja membuat Bu Desi bergidik.
"Lagi berdua gini, elaah! Desi aja, Desiii!" Ujarnya. Zee tertawa. "Oh iya. Thank you banget pokoknya, Des! Lo tuh euhh, rekan guru paling uwaw pokoknya!"
Kini giliran Bu Desi yang tertawa. "Nah, ini baru Zee! Kalau lagi berdua mah nggak usah sok formal-formal! Di sini kita bestie, okay!?"
"Oke!" Kedua perempuan berbeda status itu tertawa bersamaan untuk beberapa saat.
"Gimana, udah mendingan sekarang?" Bu Desi bertanya halus. Tanpa pikir panjang Zee pun mengangguk. "Masih agak mual, tapi dikittt banget. Pusing udah nggak ada. Setelah ini bisa lanjut ngajar lagi, semangat!" Kata Zee, menggebu.
"Syukur, deh. Btw, gue mau cerita satu hal penting nih sama lo. Lo bersedia 'kan dengerin gue?" Raut wajah Bu Desi berganti melas.
Zee menghela napas panjang sembari mengangguk. "Gue dengerin. Apa? Kenapa? Suami lo ngorok pas tidurnya kumat?"
Bu Desi merengut. "Bukan, iih!" Tak berapa lama, ekspresi Bu Desi berganti cerah. "Gue hamil, aaakkk! Seneng bangettt! Setelah penantian selama dua tahun, akhirnya gue sama Mas Sakka dikasih kepercayaan juga sama Tuhan!"
"Wuih, serius? Udah jalan berapa bulan?"
"Jalan empat bulan." Ujar Bu Desi, sengaja setengah berbisik.
"Ihh, udah lama dong? Kok, baru kasih tahu sekarang?" Zee cemberut. Terdengar decakan sebal dari Bu Desi. "Yeeh, gue aja baru tahu dua minggu yang lalu! Sumpah, ternyata sakit yang selama ini gue rasain itu karena gue hamil, Zee!"
Kening Zee mengernyit menerka-nerka. "Ooh, yang waktu itu lo kayak masuk angin itu?"
"Heem! Eh, btw. Lo juga barusan masuk angin tuh. Jangan-jangan hamil? Hahaha!"
Tatapan mata Zee mengkilat. "Enak aja! Gue jomlo bisa hamil sama siap-" Zee seketika melotot saat bayangan akan malam tahun baru serta minggu lalu bersama Zico berputar otomatis di kepala. Jantungnya seketika berdegup kencang sampai rasanya mau melorot dari peredaran.
Mateng!
Refleks Zee menyentuh perutnya.
"Des, ge-gejala hamil apa aja?" Ekspresi Zee berganti panik. Beruntungnya Bu Desi tidak menyadari akan perubahan ekpresi Zee. Dengan penuh semangat perempuan itu menyebutkan satu persatu.
"Gejala paling umum itu telat datang bulan, pusing, mual, muntah, moodian, sama-"
"Sama apa?"
Bu Desi menyengir. "Lupa. Cari di internet, gih!" Ujarnya. Zee mendengus. "Ya elah,"
"Kenapa emangnya? Situ ada tanda-tanda hamil?"
"Kayaknya." Gumam Zee tanpa sadar.
"Hah?!" Tersadar dengan apa yang baru saja diucapkan, buru-buru Zee tertawa canggung. "Percaya amat. Bercanda gueee! Cuman pengen tahu aja, gitu aja nggak boleh."
Satu tepukan pedas mendarat di punggung Zee. "Bikin gue jantungan aja lo! Udah, ah. Bentar lagi jam masuk. Gue duluan, ya!" Bu Desi beranjak berdiri. Dengan pasrah, Zee hanya bisa mengiyakan dengan anggukkan pelan.
"Kalau makin parah lo izin pulang aja. Jangan maksain, inget!"
"Iya."
"Bye, Zee!"
...****...
Di salah satu bilik toilet sekolah khusus guru, Zee tengah bergerak tak nyaman. Sesekali duduk di atas kakus, lalu kembali berdiri. Sebuah testpack yang sempat dibeli lewat ojek online terus digenggam erat hingga bungkusnya tak lagi berbentuk.
"Haduhh, bulan kemaren gue datang bulan tanggal berapa, ya? Ka-kalau beneran hamil gimana?" Untuk yang kesekian kalinya Zee menghela napas gusar. Satu tangan yang menganggur mencolek permukaan perut bagian bawahnya yang terasa berbeda.
Apakah Zee benar-
"Nggak, nggak! Daripada nebak-nebak bikin pusing, mending kita coba. Oke, lo bisa Zee! Lo cuma baru sekal- nggak, dua kali dan gue rasa nggak mungkin duarrr, itu nggak mungkin, hahahaa!"
Sayangnya, apa yang Zee harapkan justru sebaliknya.
"Aaaaaakkkhhhh!!!"
...****...
"Jadi, Bu Zee. Bisa ceritakan kenapa Anda berteriak histeris di bilik toilet?" Zee meringis. Gara-gara garis dua yang tercetak di testpack yang dia gunakan, satu sekolah mendengarkan teriakan histerisnya.
Saya hamil, Pak! Gila aja gue bilang gitu. "I-itu, anu. Saya nginjek kecowa." Ujar Zee. Jelas dia berbohong.
"Bu Zee yakin?" Tatapan kurang memuaskan Pak Edgar, dibalas senyuman tipis serta anggukkan kepala.
"Maaf karena sudah membuat satu sekolah panik! Saya ... anu, ta-takut sama kecowa." Tambah Zee. Sebisa mungkin dirinya memasang ekspresi bersalah.
Pak Edgar menghela napas pasrah sekaligus mengangguk-anggukkan kepala. "Ya sudah kalau memang demikian. Saya seperti ini takutnya ada hal serius yang menimpa Bu Zee. Jika Bu Zee punya masalah, Bu Zee boleh ceritakan sama Saya atau pada sesama rekan guru yang lain."
Zee mengangguk kaku. "Iya, Pak. Sekali lagi Saya minta maaf!"
"Hm, Bu Zee mau Saya pulangkan sementara? Tadi katanya Bu Zee sempat sakit, ya? Bu Zee boleh pulang dan kembali mengajar ketika kondisi tubuh Bu Zee sudah pulih."
Zee lagi-lagi mengangguk. "Terima kasih, Pak. Kalau begitu Saya permisi!" Pak Edgar balas mengangguk lalu mempersilakan Zee untuk keluar dari ruangannya.
Dan saat ini, tepatnya di depan halte bus yang tengah sepi, Zee tengah melamun kosong dengan pandangan tertuju pada hasil testpack di tangannya. Satu tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.
Tak dapat Zee bayangkan ketika perut ratanya nanti akan membesar seiring berjalannya waktu.
"Ya Tuhan! Kenapa bisa gini, sih? Gue nggak mau berurusan lagi sama Zico, tapi ini?" Terlanjur terbawa emosi, Zee memasukkan kembali testpack tersebut ke dalam tas.
"Semoga hari ini dan seterusnya nggak ketemu Zico, Amin."
"Zee?"
Arj*rlah! Baru juga doa, kenapa malah muncul?
Zee semakin merutuki dirinya sendiri. Netranya memicing tajam saat dengan secepat kilat, Zico keluar dari dalam mobilnya. Entah dari sejak kapan laki-laki itu beserta mobilnya terparkir di depan halte.
"Perasaan lo tuh selalu ada di mana-mana, deh. Heran gue!" Demi apa pun, Zee sedang tidak ingin bertemu Zico saat ini. Bagaimana kalau Zee ketahuan sedang menyembunyikan kehamilannya?
Nggak! Zico nggak boleh tahu!
Zico tak bereaksi. Laki-laki itu memilih duduk di samping Zee seraya menyentuh dahi Zee untuk mengecek keadaannya. "Udah nggak panas. Masih pusing, nggak? Mual?"
"Udah nggak. Ngapain lo ke sini?" Zee menyentak tangan Zico, masih dengan ekspresi yang belum berganti.
"Kalau gue bilang mau jemput lo pulang, lo percaya?"
"Nggak."
Zico mendengus. "F*ck! Lo bener-bener nggak bisa diajak romantis. Udah, ayo pulang! Gue anter-"
"Nggak mau!"
"Kenapa lagi sekarang? Mobil gue bau? Noh, udah gue cuci demi lo! Udah, ayo cepetan."
"Iihhh, nggak mau! Gue mau pulang sendiri. Lo tuh nggak ada kerjaan banget, ya, sampai harus antar jemput gue segala? Mending lo nyari kerja sana, jangan gangguin gue mulu!" Zee melirik galak. Posisi duduknya sengaja bergeser ke pojokan.
"Yang bilang gue nggak kerja siapa?"
"Ya, terus kenapa malah ke sini?"
"Gue ke sini sengaja nyempetin waktu buat ketemu sama lo. Ekhem, gue kangen." Ujar Zico sedikit gelagapan. Sontak Zee menoleh.
"Yang bener?" Entah mengapa Zee jadi sedikit baper gara-gara ucapan itu.
"Iyalah! Ngapain gue bohong."
Zee menimbang-nimbang sejenak. "Ya udah, anterin gue pulang kalau gitu."
"Gasss! Lo udah makan? Mau makan dulu? Ada tempat yang pengen lo datengin? Biar gue-"
"Zico!" Nada suara lemah Zee mengatupkan mulut Zico. "Oke. Gue anterin lo pulang." Tepat ketika Zico menawarkan tangannya, Zee sempat meratapinya sejenak, sebelum pada akhirnya menerima uluran tangan itu dengan sukarela.
Lha, tumben?
"Mampir ke ATM dulu, bisa?"
"Bukannya yang di depan kost-kostan lo juga ATM?"
Zee meringis. "Itu bank lain, beda."
"Ya udah, iya. Nggak usah ngegas. Duduk yang manis makanya, jangan banyak tingkah. Bisa pake seatbelt-nya, nggak?"
"Bisa. Please, jangan bawel! Gue lagi nggak enak badan. Perut gue nggak nyaman, pengen muntah lagi aja rasanya." Adu Zee, memelas. Mau tidak mau Zico hanya bisa menurut dan kembali membungkam mulutnya.
Dasar cewek!
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Makin penasaran... Lanjut
2024-02-04
1
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2023-12-14
1
Ayu Ning Ora Caantiikk
zico berhsil karna sdah menjerat zee.... lnjuuut thor
2023-12-14
2