Satu jam setengah berlalu, Nada masih saja ketakutan. Sudah berbagai cara ia coba lakukan untuk menghapus kejadian itu dari ruang imaginya. Namun nyatanya teriak kesakitan ibu hamil tadi masih mengiang-ngiang di telinganya, kejadian tadi masih berkelebat jelas di dalam imaginya.
Andai saja suara lantunan ayat suci yang kerap ia dengar di gazebo bisa terdengar saat itu mungkin saja akan bisa sedikit memberi ketenangan pada dirinya. Sayangnya, semua itu tak akan mungkin terjadi saat ini.
"Nada, are you ok?"
Entah sudah yang ke-berapa kalinya pertanyaan dari pemilik suara ini mampir di ruang dengarnya. Dan rasa-rasanya Cuma pemilik suara ini yang mau repot-repot melempar pertanyaan simpel nan singkat ini namun sangat berarti.
"Pak Mada?,"
"You ok. Ini kamu pucet banget wajahnya," tanya Mada seraya duduk di samping Nada.
Nada spontan memegang pipinya sendiri. Dosennya itu benar agaknya, kedua pipi Nada sangat dingin sekali, tapi ia tak tau pucat atau tidaknya.
"Pak... Maaff!! Lagi-lagi saya ngerepotin Bapak."
Mada tersenyum mendengar ocehan Nada barusan, "Saya, heran. Baru kali ini lho saya nemuin mahasiswi yang bisa nge-prank saya seperti ini," seloroh Mada sedikiti iseng diikuti tawa manisnya
"Yaaa... Maaf pak.. Saya nggak ada maksud nge-prank Pak Mada. Serius!!"
"Terus namanya apa coba, nyuruh orang bawa istri orang lain untuk lahiran dadakan? Mana saya sendirian lagi. Parah, asli!!"
"Ya.... kan..." Nada sudah kehabisan kata-kata detik itu. Wajahnya yang semula putih memucat, mendadak jadi merasa padam, dan berdesir panas malu.
"Tapi Pak Mada bisa kan. Bapak udah berhasil nyelametin dua nyawa sekaligus lho!" kilah Nada beberapa detik kemudian, membuat Mada yang dari menahan tawanya jadi tak sanggup lagi untuk tidak meledakkannya.
Penuturan Nada barusan terdengar sangat lucu bagi Mada apalagi cara penyampaiannya.
"Terus kamu tadi kabur kemana coba, nggak ikut?"
"Eeeeee"
Sekali lagi peristiwa di halte tadi kembali berkelebat dalam.imagi Nada, membuat gadis itu memejamkan mata lagi dan menutup wajahnya.
"You have scary yo saw that??"
Nada terpanjat mendengar itu lalu beberap detik kemudian ia mengangguk pelan membenarkan tebakan Mada yang tepat sasaran barusan.
"Horor pak," ucap Nada spontan.
"Horor gimana maksud kamu?"
"Bapak tadi gimana waktu nolong anterin ibu-ibu tadi ke rumah sakit??" tanya Nada malah kembali melempar pertanyaan pada Mada.
"Yaaa cukup menengangkan dan was-was takut sih. Itu tadi pengalaman paling gila yang pernah saya alami, and that is because of you!"
"Nahhhh, kan. Dari dulu, semua itu hal yang menakutkan pak, for me,"
"Sebentar-sebentar!! Bukannya setau saya, dua hal tersebut itu sudah seperti penyempurna perempuan, sorry kalau saya terlalu sensitif dan kurang sopan bahas ini," tanya Mada coba mengikuti arah pembicaraan Nada.
Gadis itu terdiam sejenak, "Bukannya lebih nggak sopan lagi Pak kalau saya bahas hal semacam ini di depan Bapak?"
"Kalau saya sih open minded, siapa tau tohh justru memperluas cara padang kita, terutama saya. Tapi kalau kamu ngerasa nggak nyaman, lupain aja!"
Nada menghembuskan nafasnya, "Ini terserah sih bapak mau ngetawain saya atau anggep saya aneh. Bapak betul, semua itu idah seperti penyempurna. Tapi ini nih yang saya paling nggak suka,"
"Kebanyakan masyarakat kita udah kebiasaan jadiin itu semua sebagai patokan kesempurnaan seorang wanita. Bahkan ni ya kalau tidak bisa mengalami keduanya pasti bakalan dapet masalah dan dipermasalahkan tuh, dan pasti yang disalahin kaum perempuan"
"Bahkan ni ya Pak. Proses melahirkan pun juga dijadiin patokan tuh. Kalau melahirkan secara oprasi ataupun cesar, itu belum jadi wanita dan ibu seutuhnya. Padahal duan-duanya itu sama horor dan sakitnya" cerocos Nada panjang lebar, sedang Mada hanya setia mendengarkan celotehnya.
"Sembilan bulan ngerasain campur rasa, mulai mood swing, kram, mual, morning sick pengep, belum lagi kalau sampai terjadi apa-apa waktu melahiran, harus di lakukan tindakan ini itu. Taruhannya nyawa. That is enough to make fell scary"
"Orang-orang itu lupa kali ya, semua itu nggak gampang jalaninya mengandung serta melahirkan titipan serta amanah sang Khaliq itu tanggung jawabnya selamanya. Bukan sekedar mengandung kemudian melahirkan terus ya udah selesai, tapi tetep aja dijadiin patokan kesempurnaan,"
"Semua itu butuh kesiapan mental yang matang dan baik. And i dont know when i will ready for that," ucap Nada mengakhiri celotehnya.
Tak ada komentar dari Mada selain senyum adiktifnya yang mengembang indah itu. Sekali lagi ia menemuka another side dari mahasiswinya ini dan membuatnya makin penasaran dengan sisi lainnya yang belum diketahuinya.
"It's just about time!"tutur Mada sambil gemas mengacak puncak kepala Nada tanpa aba-aba.
Seolah mendapat serangan mendadak, Nada sempat terpaku beberapa detik. Ia kembali merasakan gempa 8.8 scala richter detik itu.
"Maksud Bapak??" tanya Nada polos setelah sadarnya kembali dalam ruang imaginya.
"Semua tadi cuma soal waktu. I belived that you will be good and perfect mother also wife with perfect husband beside you."
Mendengar itu Nada hampir saja meledakkan tawanya. Namun akhirnya ia memilih mengembangkan senyumnya saja. Memang benar-benar, dosennya satu ini the one and only.
"Jauuhh Pak masihan.. Kepikiran juga nggak. Itu sama juga horornya,"
"Lagian Bapak tau dari mana coba bisa ramal ala-ala gitu?? Bapak ada garis keturunan cenayang, ya?" tanya Nada makin polos, membuat Mada tak sanggup lagi menahan tawanya. Dan Nada hanya terdiam heran tak paham dengan dosennya ini.
"Ngga perlu jadi cenayang buat tau semua itu. Just wait and remember that sentence, it will hapents ucap Mada tersenyum.
"Oh ya, tadi ibu tadi beruntung banget ketemu sama kamu. Kata dokter tadi telat sepuluh menit aja bawa ke rumah sakitnya, ibu dan debay-nya nggak bakalan ketolong,"
"Pendarahan selama perjalanan tadi hebat banget, dan ibu tadi terpaksa harus di op.."
"Pak Mada please stop!!! Horor, Pak!" sela Nada sebelum dosennya itu menyelesaikan kalimatnya, dan kembali menutup wajahnya.
"Saya pamit pulang dulu deh Pak. Sekali lagi maaf udah ngerepotin dan nyita waktu bapak hari ini."
Nada beranjak dari tempat duduknya, namum belum sempat melangkah tangannya sudah ditahan oleh Mada.
"Wait!! Ini kamu nggak ada niatan mau tanggung jawab atau gimana gitu setelah nge-prank saya??"
"Tanggung jawab gimana Pak?? Nasi goreng say thanks kemarin aja belum saya lunasi. Mau tambah jadi tiga porsi?" tanya Nada polos lengkap dengan ekpresi datarnya.
Mada tertawa lagi mendengarnya lalu, lalu Mas dosen ganteng itu ikut beranjak mensejajarkan posisinya dengan Nada
"Ini saya nggak minta lho ya, kamu sendiri yang tawarin. Sayang kan kalau saya tolak, nggak elok nolak rejeki," saut Mada iseng.
"Ok, deal 3 porsi nasi goreng."
"Tapi siang ini, pertanggung jawaban kamu temenin saya makan siang. Laper banget saya habis lihat hal horor," ucap Mada usil meniru bahasa Nada, membuat cewek itu mengangkat ujung bibirnya tipis.
Dasar aneh, mana ada menemani makan siang dianggap sebagai bentuk suatu pertanggung jawaban??
Rasanya cuma dosenya ini yang bisa membuat teori absurd macam itu.
Gimana-gimana??
Nada cuma ngeluarin apa yang ada dikepalanya aja lho ya.. nggak ada niatan sentimen ataupun nyudutin apalagi remehin pihak mana pun.. ada nggak sihh yang punya fear sama dengan Nada??
Sekarang dan beberapa part ke depan masih part unyu-unyu dan emes ya... Sebelum ada balada dari negera konoha menyerang wkwkwkkwkwk... hope you enjoy it guys.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments