Enemy

Akhir pekan.

Saat ini Nada sedang berada di depan kaca almari yang saat ini memantulkan bayangan dirinya. Mengenakan Long dress berwarna abu metalic, yang dipadu pasmina dengan warna senada, Nada nampak berbeda dari hari-hari biasanya. Dia terlihat begitu cantik dan menawan, meski tak ada make up aneh-aneh yang melapisi wajah mungilnya, seperti cream BB, consiler, eye liner dan semacamnya.

Sapuan bedak yang diaplikasikan secara samar-samar, maksara tipis, dan lipstik berwarna soft sudah cukup membuat Nada terlihat cantik natural. Itu pun sudah terhitung make up rempong bin ribet bagi Nada. Karena biasanya dia cukup puas hanya dengan menyapukan bedak tipis-tipis serta sedikit lipstik di bibirnya. Dan out fitnya pun tak jauh-jauh dari kemeja atau bluse polos yang ia padu dengan celana dan hijab.

Entah kalau bagi cewek-cewek lain make up itu nomor satu, sampai harus mengaplikasikan puluhan jenis dalam satu waktu ke wajah karena katanya penampilan akan menunjukkan siapa anda. Dan fakta di lapangan, hal tersebut yang sangat diagungkan dan dilihat pertama kali. Bahkan acap kali banyak yang jadi korban body shaming. Hingga membuat orang-orang enggan untuk mempercayai kecantikan yang ada dalam dirinya sendiri. Tak percaya bahwa setiap orang memiliki kecantikan tersendiri dan dengan caranya sendiri.

Bagi Nada hal tersebut tak ubahnya seperti kita memakai topeng, yang boleh percaya atau tidak akan membentuk diri kita untuk selalu memakainya. Seolah kita tak akan berani menunjukkan diri kita tanpa topeng tersebut. Seperti itu semua adalah sebuah aib.

Nada keluar dari kamarnya begitu membaca sms dari Garnet bahwa dia sudah berada di ujung jalan rumahnya. Tepatnya di depan supermarket. Bukannya apa-apa, Nada tak mau diribetkan dengan pertanyaan-pertanyaan kepo dari tante serta anak-anaknya ataupun dari para tetangga usil yang selalu merasa berhak untuk tau dan mengurusi hidup orang di sekitarnya.

Tak perlu banyak waktu, setelah menunggu lima menit di depan supermarket Garnet menemukan Nada yang sedang berjalan menghampirinya. Cowok itu sempat terpaku melihat Nada dengan balutan long dress yang membuat dirinya betul-betul terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat sangat cantik. Bahkan sampai Nada sudah di depannya cowok itu tetap dalam diamnya membuat Nada terheran bingung.

"Garnet???"

Nada mengerak-gerakkan kedua tangannya di depan cowok itu, sampai akhirnya sadar cowok itu kembali.

"Nada..., Eee udah??" tanya Garnet tergagap kaget.

"Kenapa Garnet??"

Cowok itu menggeleng beberapa kali, tapi pandangannya tak lepas dari objek di depannya tersebut.

"Ammm, aku nggak bisa dan nggak biasa make up lebih dari ini,"  ucap Nada to the point. Karena mungkin Garnet akan berpikiran make up nya terlalu sederhana.

Tapi yang ada Garnet menggeleng beberapa kali, meski mulutnya tetap terkunci. Lalu ia tersenyum sambil memberikan helm pada Nada, karena cewek itu menolak halus saat Garnet mau memakaikannya. Dan merekapun mulai menyusuri jalanan.

Setengah jam mereka berdua berpacu dengan ramainya jalanan, montor Garnet berhenti di depan tempat acara prom nigth. Hotel bintang 5 yang memang menyediakan fasilitas untuk party besar semacam ini. Tak buang waktu mereka segera masuk, dan menuju ke area kolam renang dimana party akan digelar.

Tapi sebelum bergabung dalam party Garnet menahan tangan Nada. Ia memberikan topeng pada cewek itu, dan kali ini dia yang memasangkannya, dan hal tersebut membuat cewek itu terpaku sejenak.

Anehnya setelah selesai memasangkan topeng tersebut, Garnet tak segera beranjak menjauh, dia justru membisikkan sesuatu saat ini.

"You like Fairy tonigth, Nat..."

.....

Nada masih terpaku meski saat ini Garnet sudah jauh darinya. Tapi seperti tak paham dia sudah menyebabkan gempa 7 skala ricther pada hati Nada Garnet mengandengnya masuk ke tempat area kolam renang.

Dan mereka langsung disambut oleh kelip lampu led mungil bergelayutan di sana-sini beradu dengan bintang yang menghiasi langit malam ini. Tawa ceria, serta suara sayup dari obrolan orang-orang memenuhi tempat ini beradu dengan hembus angin dan juga alunan musik slow yang makin mengahatkan suasana.

Acara ini segera dimulai begitu sudah banyak orang yang memenuhi area kolam renang, dan saat ini mereka sedang menikmati bermacam kudapan yang dihidangkan.

"Nat, aku kebelakang dulu ya, nggak papa kan sendirian bentar??" izin Garnet setelah menegak habis sisa Cola di gelas.

"Ya,"

Makin lama suasana makin ramai, namun Nada tak berpindah tempat kemana-mana sepeninggalan Garnet barusan. Cewek itu menikmati segelas sirup dingin yang kini di pegangnya. Cewek ini cukup lega, nampaknya tak ada yang mengenali dirinya berkat topeng yang dipakainya ini, jadi dia tak perlu repot-repot harus mendengar satiran-satiran nyinyir terhadapnya.

Di tengah hiruk pikuk party ini, Nada melihat sosok tak asing di sebrang tempatnya berdiri. Orang tersebut sedang dikerebungi oleh beberapa mahasiswi narsis yang tebar pesona dan perhatian. Dan tak perlu tebak-tebakan lagi, orang itu adalah Mada, Mas dosen ganteng yang punya sejuta umat fans bucin, karena saat itu dia tak mengenakan topeng seperti yang lainnya.

Sesekali dosen ganteng itu tersenyum menanggapi keabsurdan- keabsurdan anak-anak didiknya yang berkeliling di sekitarnya. Dan itu sudah hal yang wajar bagi Nada, tapi yang jadi pertanyaan bagaimana ceritanya dosen itu bisa nyasar ke party ini coba??? Apa mungkin anak-anak HIMA juga mengundang para dosen??

Penasaran, Nada menoleh ke sekelilingnya. Tapi kelihatannya tak ada dosen-dosen lainnya seperti prof.Hasan dan teman-temannya. Yang ia temukan adalah Pak Hanif yang usia hanya beda dua tahun dengan Mada, dan satu lagi Nada kurang ingat siapa namanya, tapi ia tahu beliau juga salah satu jajaran dosen muda di kampusnya yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Tapi sudahlah, toh siapa peduli kenapa dosen-dosen tersebut sampai bisa nyasar ke party ini. Nada kembali meneguk sirup dikelasnya.

Bosan, Nada beranjak berniat mengambil sup buah di pantry. Berada tengah hiruk pikuk party rasanya cukup menguras energi cewek ini. Takut kalau Garnet kebingungan mencari dirinya, Nada langsung kembali lagi begitu mendapat semanguk sup buah di tangannya.

"Shitttttt, Gaun gue!!!" pekik orang itu histeris melihat gaun Dior miliknya basah dan kotor kena tumpahan sup buah tadi.

Ya, sup buah yang segar ditangan Nada harus tumpah, saat mendadak ada orang yang menubruknya ketika dia membalikkan badan untuk kembali, padahal sesuapun belum ada yang masuk ke mulutnya

Masih gagal respon karena kaget ditabrak mendadak Nada saat itu hanya terdiam memperhatikan orang yang menabraknya heboh mengibas-ngibaskan gaunnya yang basah sambil ngomel-ngomel tak jelas.

"Nggak punyak mata lo, ya???" sarkas orang tadi mendongak ke arah Nada sambil melepas topeng yang ia pakai. Orang ini adalah Dara.

"Tanggung jawab nggak!!! Gaun gue rusak gara-gara lo!!!"

"Maaf, bukannya yang nabrak saya tadi, situ?" saut Nada datar, lalu beranjak pergi setelahnya.

"Tapi lo udah bikin kotor gaun gue!!!" teriak cewek itu menahan tangan Nada. Dalam hitungan detik keributan ini sukses menyita perhatian semua orang.

"Anak Sultan mana lhooo haaaa?? Kurang ajar banget!!"

Tanpa aba-aba cewek tadi dengan kasar melepas paksa topeng yang menutupi wajah Nada, hingga semua orang dapat melihat wajah mungilnya.

"Nada???" gumam Dara tak percaya.

"Ternyata lo?? Pantesan gue jadi kena sial, dateng ke sini juga lo??"

"Balikin topeng gue!!!" ketus Nada berusaha merebut topeng milikinya dari tangan Dara.

"Ambil aja kalau bisa,"

Sengaja, Dara memainkan topeng yang dipegangnya ke sana ke kemari. Cewek itu tertawa mempermainkan Nada dan menjadikannya sebagai tontonan.

"Ambil kalau bisa. Lagian, lo kenapa juga dateng ke sini ngerusak party ini tau nggak lo??"

"Balikinnn Ra!!" pinta Nada masih berusaha merebut topeng itu dari Dara.

"Lagian, biasa semedi di perpus juga sok-sok ikut party. Maluin-maluin gini kan jadinya," ejek Dara masih setia memainkan topeng di tangannya.

Kerumunan orang yang penasaran dengan keributan ini makin lama makin bertambah jumlahnya. Dan tak sedikit dari mereka menertawakan kejadian ini meski lirih, bahkan ada juga yang mengabadikannya lewat kamera android mereka. Ya, hal semacam ini bagi insan serba perfect ini wajib hukumnya untuk diabadikan.

Sadar makin banyak yang menjadikan dirinya tontonan Nada berniat untuk beranjak, kedua matanya juga sudah tak bisa air matanya lebih lama lagi. Dan dia tidak boleh menangis di depan teman nyaru iblis berserta orang-orang di sekelilingnya ini.

"Lo tu nggak pantes dateng ke acara party beginian, bikin jelek acara aja. Dan gue masih nggak terima ya, gaun gue rusak,"

Usil Dara meraih segelas sirup bersiap untuk balas dendam menguyur sirup itu ke wajah Nada.

"Balikinnnn!!!"

Suara teriakan barusan yang diikuti gerakkan tangan menahan tangan Dara membuat tawa cewek itu lenyap dan suasana jadi senyap dalam sekejap.

"Lepasin tangan gue!! Berani-beraninya ya lo ikut campur," sarkas Dara berusaha melepaskan tangannya dari gengaman cowok itu.

"Semua anak HI di kampus ini berhak dateng ke party ini. Anak sultan mana lo, berani ngelarang orang buat ini itu??" teriaknya keras.

Cowok itu membuka topeng yang dipakainya, lalu satu tangannya merebut topeng di tangan Sastia. Selanjutnya tanpa tambahan kata lagi, dia mengengam tangan Nada mengajaknya beranjak dari kerumunan iblis ini. Membuat mereka membeku, terutama Dara. Dan yang membuat mereka membeku, Garnet yang melakukan semua pembelaan ini.

Tak jauh dari kerumunan itu, Mada juga ikut membeku melihat semua itu. Sekali lagi, dia menyaksikan perlakuan iblis ini.

...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!