Pukul 02.00 PM.
Mada baru memarkirkan mobil di halamanan kecil depan Rumahnya. Ya, memang rumah mas dosen ini tidak mewah, tapi juga tidak sederhana. Rumah berwarna soft metalik ini cukup luas untuk ukuran tempat tinggal bujangan seperti dirinya yang hanya seorang diri.
Lima belas menit beberes di dalam kamar, Mada keluar dari rumahnya. Kali ini penampilan Mas dosen ganteng berubah 180 drajat. Dari yang sebelumnya memakai kemeja panjang formal dan juga celana hitam serta pantovel hitam yang melekat di kakinya menjadi hanya memakai kaos polos serta celana pendek selutut dan juga sandal jepit. Tapi semua out fit itu sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan Mas dosen ini. Justru aura tampannya makin meningkat berlipat-berlipat dengan vibes yang beda.
Ya, benarlah kata Nia Ramadhani yang bilang "Kalau lo emang udah cakep, mau lo pakek baju harga 15 ribu atau mahal, nggak bakalan ngaruh apapun. Tetep aja cakep," begitulah kira-kira kata crazy rich satu ini.
Dan kalau saja para Fans Bucinnya itu melihat Mada dengan out fit dan vibes yang sedemikian rupa, dapat dipastikan mereka semua akan histeris tingkat dewa bahkan mereka mungkin akan lupa caranya berkedip.
"Wahhh, Mas Mada. Baru pulang, ya??" tanya Ibu-ibu komplek pemilik warung begitu Mada muncul menampakan wajah gantengnya.
"Iya nih, Mas baru selesai ngajar mahasiswa-mahasiswi usilnya ya, Mas??" saut beberapa ibu-ibu lainnya yang kebetulan juga berbelanja, tak memberi kesempatan Mas Dosen ganteng ini untuk mengeluarkan suaranya.
Saat itu Mada tersenyum tipis, "Iya Bu, baru saja," sautnya sopan, begitu dirasa ibu-ibu kepo ini tak mengeluarkan suara lagi.
Tiga Ibu-ibu itu mengangguk hampir bersamaan. Pandangan mereka tak lepas dari Mas Dosen ini.
"Oh ya sampai lupa, Mas Mada sedang butuh apa??" tanya ibu pemilik warung yang kebetulan ibu Rt di lingkungan rumah Mada.
Ya, Mas dosen ganteng ini mendapatkan pelayanan spesial, dia dilayani lebih dulu daripada ibu-ibu lainnya.
"Loh, saya kan datang belakangan, Bu. Biar Ibu Lucy dan Ibu Eka dulu yang dilayani."
"Ohhh nggak papa kok, Mas. Kami mahh nggak buru-buru, monggo Mas,"
Sekali lagi Mada mengembangkan senyum dibibirnya, "Terima kasih. Amm saya mau beli telur dan gula sekilo sama Kopi hitam Bu,"
"Iya mas sebentar,"
Ibu pemilik warung itu terlihat mengambil Barang yang disebutkan Mada dan juga mengambilnya. Dan seperti tak menyia-nyiakan kesempatan, ibu-ibu ini lagi-lagi basa-basi memulai percakapan kembali.
"Mau goreng telur buat makan siang ya, Mas??" tanya Bu Eka kepo.
"Iya Bu, tadi nggak sempat makan di kantin kampus," jawab Mas dosen ini masih saja ramah.
"Wahhh, jangan sampai telat makan to Mas. Nanti Asam lambungnya bisa naik lho Mas!" ingat ibu-ibu berumur 35 tahun ini dengan nada genitnya.
"Iya Bu, makasih sudah diingatkan,"
Sejenak suasana kembali hening, berganti dengan desiran angin yang berhembus menciptakan sebuah kesejukan.
"Wah, Mas Mada kenapa Sih, nggak nikah aja. Kan nggak perlu repot-repot masak sendiri seperti ini," ceplos Bu Desi, sang pemilik warung sambil memasukan telur yang baru saja ia timbang ke dalam kresek.
"Ya Mas, kan enak pulang-pulang ada makanan. Ada yang disuruh buat masakin ini itu, ngurus rumah dan lain-lain."
Mada hanya tersenyum saja menanggapi coletan ibu. Ia jadi heran sendiri, apa nikah itu di pandangan kebanyakan orang melulu soal pria yang nanti akan total dilayani sang istri. Tentang jika sudah menikah kehidupan seorang pria akan sepenuhnya diurus oleh sang istri dari A sampai Z yang padahal sebelumnya bisa dilakukan sendiri.
Apa Menikah itu melulu tentang seorang wanita yang diwajibkan mengabdikan seluruh hidupnya hidupnya untuk seorang laki-laki yang menyandang gelar suami, yang notabennya mereka baru dipertemukan diparuh perjalananan hidup mereka. Atau menikah selalu melulu seoràng istri yang harus memberikan keturunan??
Memang sih Mada juga tak mau MUNA dengan mengatakan, 'saya menikahi istri saya itu bukan untuk dijadikan pembantu," atau 'tidak apa-apa kalau tidak bisa masak, istri saya bukan pembantu," karena semua itu sesuatu yang diperlukan. Tapi jangan juga sampai jadi semacam tuntutan yang diwajibkan dan jadi beban. Jika pernikahan dinisbatkan dan didoktrikan semacam itu, kasihan sekali para kaum hawa.
Ya, meski kaum Adam juga mendapat bagian kewajiban pontang-panting mencari nafkah serta mengusahakan kebahagian istri dan keluarga sebisa mungkin yang sebelumnya semua itu hanya untuk dirinya sendiri paling mentok akan diberikan kepada orang tuanya. Dan tentu itu bukan hal yang mudah.
Mada sadar, selama ini semua itu sudah menjadi kodrat paten untuk tokoh yang disebut suami dan istri.
Tapi realitanya tak secaman itu, lihat saja berapa banyak suami yang melupakan kodrat dan kewajibannya itu. Berapa banyak suami yang menyakiti istrinya dalam kasus KDRT. Berapa banyak suami yang tak memberikan Nafkah dan kebahagiaan untuk sang istri. Berapa banyak juga suami yang menyakiti sang istri tega bermain gila dibelakang, alias selingkuh.
Ya, meski tak dapat dipungkiri juga, banyak istri yang kadang lupa memberikan sedikit perhatiannya pada suami. Ada juga istri yang main gila dibelakang suaminya dengan berbagai problema yang menyertai sebagai alasan. Ada banyak istri menghabiskan waktunya di luar rumah dengan bermacam kegiatan yang jadi alasannya hingga suami tak mendapat perhatian yang harus ia dapat.
Ya, semua ini seperti sisi mata uang yang tak mungkin bisa kita mengunakan satu sisinya saja.
Tapi kebanyakan sih, tetap kaum hawa yang kalah. Belum lagi jika apes harus berurusan dengan mertua yang selalu menganggap punya hak paten terhadap anak laki-lakinya, yang membuatnya merasa berhak untuk ikut andil dalam kehidupan rumah tangga putranya itu.
Namun dalam imagi Mada menikah itu adalah sebuah kompromi dari kedua belah pihak. Menikah adalah saling mengerti satu sama lain, menahan ego satu sama lain. Menikah adalah ladang pahala untuk kedua belah pihak. Bukan pembajakan satu pihak terhadap pihak yang lain.
"Ya Mas Mada. Enak kan kalau gitu. Jadi kebutuham Mas ada yang urusin."
"Saya yakin, pasti udah banyak banget yang antri buat jadi nyonya Mada. Secara Mas kan ganteng, mapan, dan udah sukses lagi. Sekarang lagi ngetrend lo nikah muda."
Lagi-lagi Mada hanya bisa mengembangkan senyum di bibirnya menghadapi kadar kepo Mak-Mak super power ini.
"Ammm, minta doanya aja Bu. Semoga Allah dekatkan jodoh saya,"
"Tapi, dalam benak saya selama ini. Tujuan menikah itu kok bukan untuk mencari orang yang nantinya harus mengurusi secara penuh seluruh kebutuhan dan diri saya. Kalau saya lebih untuk mencari teman hidup," imbuh Mada masih dengan Nada sopannya.
Pernyataan Mada barusan sanggup membungkam Mak-mak super ini beberapa detik. Nampak jelas kadar kekaguman pada Mas dosen ganteng ini yang makin meningkat berlipat-lipat di mata para ibu-ibu ini. Ya, meski pandangannya dimentahkan oleh pria ganteng ini.
"Wahhh benar-benar beruntung nanti yang jadi nyonya Mada."
Sekali lagi bibir cowok ini kembali terangkat ujungnya, "Aminnn," gumam cowok ini di detik berikutnya.
"Ini mas, semuanya empat puluh lima ribu," ucap ibu desi menyerahkan sekantong kresek kepada Mada, yang langsung diambil cowok itu sambil memberikan uang.
"Terima kasih Bu, saya pamit dulu. Assalamualikum,"
"Sama-sama. Waalikumsalam, hati-hati Mas."
.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments