"Mas... Uang segini tuhhh kurang.. Mau dapet apa coba di pasar?? Nggak bakal dapet apa-apa,"
Matahari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, burung-burung pun masih jarang-jarang bercicit tapi damainya pagi sudah pecah oleh suara Bi Ratih yang adu mulut dengan suaminya yang tak lain paman Nada.
Nada yang saat itu sedang bersiap hanya bisa menghembuskan nafasnya jengah. Lelah lebih tepatnya, karena hampir setiap paginya cek cok semacam ini memenuhi ruang dengarnya. Bahkan tak jarang memaksanya keluar dari dunia mimpi meski kedua matanya itu masih ingin terlelap untuk beberapa waktu lagi. Tapi kadang ia juga bangun sesuai alaram yang ia pasang di smartphone dan ia menjejali kedua kupingnya dengan headset.
Seperti detik ini, Nada juga menjejalkan benda itu supaya cek-cok ini tak menembus telinganya. Lalu begitu ia beres mengemas tasnya, cewek itupun keluar untuk berangkat ke kampus. Ia tau ini terlalu pagi untuk datang ke kampus, masih banyak waktu untuk dia sarapan ataupun melakukan perjalan ke kampus tanpa tergesa. Tapi rasanya Nada sudah begitu muak mendegar semua pertengkaran ini.
"Enak banget hidup ni anak nyelonong gitu aja!" sarkas seseorang yang terlihat mau masuk dalam kamar, menatap Nada sinis.
Nada tak menyauti sarkasme yang baru saja ia dengar, hanya expresi datarnya yang terlihat.
"Bangun, makan, berangkat kuliah, pulang, di kamar, tidur baca buku. Nggak guna banget hidup lo, jadi orang"
"Lo sadar nggak, lo tu cuman nambah-nambahin jatah bulanan di rumah ini. Nggak denger bapak ibu cek-cok mulu. Itu semua karna pengeluaran rumah ini nambah, dan itu gara-gara lo!!" ucapnya dengan nada yang sangat tidak enak didengar. Tapi Nada tetap saja setia dengan diamya, meski jujur hatinya mulai mencelus.
"Lo tu beban di keluarga ini...!! Lo tu nggak ada gunanya. Parasite!!!!"
"Useless!!!" sarkasnya dengan nada setengah membentak.
Mendengar itu, Nada masih saja terdiam. Tapi ia tak dapat memungkiri bahwa detik ini ada sesuatu yang menghantam hatinya. Secara dadakan dan dengan sangat keras. Bungkam, cewek itu meninggalkan orang yang marah-marah tak jelas tadi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Rasanya ia sudah tak bisa mendengar semua omongan menyakitkan ini.
Tepat pukul 07.00 Nada sampai di gerbang kampus. Tempat ini masih cukup sepi hanya segelintir mahasiswa yang sedang berburu wifi untuk mengerjakan tugas demi menjaga kondisi kantong, dan juga bermacam motif lainnya.
Dengan mood yang rusak dan hati yang tak karuan rasanya Nada menyusuri halaman kampus hanya satu tempat yang ada dalam imaginya, perpus. Tak tau bagaimana caranya tempat ini menjadi healer tersendiri bagi cewek ini.
Tapi belum saja menginjakkan kaki menyusuri koridor menuju perpus, ada suara yang memanggil manggil namanya. Awalnya cewek ini tak mau peduli, karena bukanlah hal yang tepat berinteraksi dengan orang lain di saat moodnya hancur berantakan seperti ini.
"Heeeh Miss fricky!! Mau nambah satu gelar lagi ya lo, dipanggil ngeloyor aja?" sarkas Shofie sinis.
"Iya nih, mau ganti gelar jadi Miss budek, haaa??"
"Sadar diri dong!! useless juga!!" sambung yang lain.
Nada yang dari tadi sudah acak kadul suasana hatinya makin muntap, seperti gunung Merapi yang sudah mengeluarkan Wedus Gembelnya dan hanya tinggal menunggu duaaarrrr.... Alias meletus saja. Ia langsung menoleh dengan wajah yang sangat-sangat tidak bersahabat. Kasar, ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah makalah.
"Lo semua cuman nyari ini, kan???" ucapnya dengan suara yang sangat jelas sedang menahan emosi yang meledak.
"Nihh, ambil!!!" ucap cewek itu setengah melempar makalah itu ke dada Shofie.
"Kumpulin aja sendiri ke Pak Mada!! Nggak usah repot-repot akting nyari dan ngajak gue buat ngumpulin. Gue tau, lo semua nggak beneran mau ngajak gue!" ucap Nada saat ini suaranya sedikit parau.
Nada langsung beranjak pergi meninggalkan Shofie dan kawan-kawannya yang berteriak-teriak tak jelas. Cewek ini terus melangkahkan kakinya dengan dada penuh sesak, seperti dihantam godam milik Thor di avanger squad berpuluh kali. Sampai akhirnya ia sudah tak sanggup melangkah, dan kakinya membawa ke sebuah gazebo. Cewek itu terduduk lemas di sana.
Berulang kali otak Nada mengintruksikan supaya kedua kelopak matanya itu tak meneteskan air mata, tapi nyatanya semua intruksi itu kalah dengan suara hatinya yang menjerit sakit. Ya benda satu itu tak bisa diajak komproni, nego, apalagi untuk tipu-tipu. Wal hasil, benda bening transparan tersebut merembes, dan menyusuri kedua pipi mungil Nada yang tertutupi ransel hitamnya. Cewek ini sudah tak sanggup membendungnya lagi. Hatinya betul-betul sakit.
Meski hanya sebuah frase tak berwujud, boleh percaya atau tidak kata-kata adalah sesuatu hal yang lebih tajam dari senjata tajam apapun, dan lebih menghancurkan dari bom nuklir buatan manapun. Lebih-lebih jika semua itu keluar dari mulut orang yang kita sebut sebagai keluarga, orang yang harusnya menjadi benteng pertahanan kita. Tapi nyatanya kebanyakan orang tak ambil peduli dengan semua itu, sehingga mereka bebas bicara seenak jidat dan merasa tak perlu repot-repot untuk memasang filter untuk menyaring kata-kata yang keluar dari mulut maha benar mereka. Bahkan ada yang mewajarkan dengan mengatakan 'memang orangnya sudah begitu model ngomongnya'
Dan ujung-ujungnya jika ada yang tidak terima, ataupun melakukan sebuah respon pasti akan keluar 'Gitu aja baper, santai aja kali,' atau 'Jadi orang kok nggak bisa diajak ngomong,' atau 'kalau gue nggak peduli sama lo, gue nggak bakal ngomong gitu,' dan yang paling bulshit
'santai dong, itu semua juga demi kebaikan lo,'
That it's a bulshit, bagi Nada semua itu bohong besar. Mereka bicara hanya berdasar pandangan mereka, berdasarkan apa yang mata mereka tangkap tanpa tau keadaan yang sebenarnya. Memang bukan kewajiban orang lain untuk tau keadaan seseorang sebelum ceplas-ceplos seenak jidat, karena rasanya tak mungkin ada yang mau juga melakukan semua itu.
Tapi setidaknya apa sesuatu hal yang sulit, untuk memfilter sebuah kata sebelum mengucapkannya, ataupun untuk memilih kata yang tidak menyakitkan saat mengeluarkan suara? Kalau itu hal yang sangat sulit, setidaknya tak usah angkat bicara.
Saat itu Nada masih terisak dibalik ransel hitamnya. Tapi ditengah tangisnya itu, cewek ini menangkap sebuah suara yang mengalun sayup-sayup dan sangat indah. Makin lama Nada bisa menangkap dengan jelas suara apa yang baru saja ia dengar. Semacam suara para hafizd qur'an ternama.
Ya, suara orang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran.
Perlahan air mata Nada mulai berhenti mengalir. Meski masih terisak, suara dan lantunan ayat suci dengan cepat menentramkan hati perempuan mungil ini. Bahkan dia sempat larut dalam lantun Surat Ar-Rahman yang ia dengar ini beberapa menit.
Sekali lagi sang Khaliq menunjukkan keagungannnya lewat mukjizat yang telah diturunkan-Nya.
.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments