Campus

SEPULUH BULAN YANG LALU...

.......

"Baik semuanya. Saya rasa sampai di sini dulu materinya. Kita sambung di pertemuan selanjutnya."

Setelah hampir satu jam lebih di depan mengawal kelas, pria berkaca mata frameless itu beranjak ke mejanya, mengakhiri materinya yang dari tadi disampaikannya.

"Baik, Pak," saut mahasiswa itu kompak sambil merapikan buku-buku mereka di atas meja, bersamaan dengan dosen mereka yang juga mengemas berkas-berkas dan buku di mejanya.

"Tugas kalian kemarin sudah selesai, ini saya kembalikan. Garnet!!" panggilnya sambil berjalan ke tengah membawa setumpuk esai, lalu menyerahkannya pada mahasiswa yang ia panggil Garnet tadi.

"Bagi yang tidak saya kembalikan tugasnya, ataupun yang dapat nilai C bisa menemui saya besok di ruangan saya."

"Iya Pak," para mahasiswa itu sekali lagi membeo.

"Baiklah, Assalamualaikum."

Kelas langsung kembali ramai begitu dosen muda itu meninggalkan kelas. Para mahasiswa semi tingkat akhir itu langsung menyebar ke berbagai pos, ada yang berselancara di dunia maya, ada yang menyantap roti selai ala-ala, ada juga yang bergosip sambil menunggu hasil tugas yang dibagikan sang ketua kelas.

"Fixxx, Asli Pak Mada tuh keren abizzz!!!"

"Seharian juga gue ikhlas deh masuk kelas, kalau di isi sama doi materinya,"

Sudah jadi kodrat alam melekat, jika para kaum hawa sudah berkumpul dan bergosip ria, kalau bukan fashion style terbaru, trending hot news, satu hal pasti yang tak pernah ketinggalan adalah ghibah cowok. Entah yang satu ini termasuk golong ghibah atau bukan, tapi topik satu ini tak pernah terlewat.

"Mana ada coba dosen yang baik hati ngasih kesempatan anak didiknya revisi segampang ini.

"Setuju... Kalau tau yang dapet nilai C bakalan di suruh ketemuan lagi diruangan Mas dosen ganteng, gue ikhlas hati dah dapet nilai C mulu. Biar bisa diajarin terus sama Pak Mada," ucap salah satu cewek sambil senyum-senyum sendiri.

"Yakinn lho pada minta gitu. Malaikat tuh nyatetnya universal lho, nggak pakai nanggung atau pilih-pilih. Ati-ati tuh doa kekabul buat semua matkul."

"Husssst.... Garnet kalau ngomong suka nggak pakek filter, ya..., Kita kan pinginnya cuman khusus buat matkulnya Pak Mada. Dosen matkul lain ya jangan sampek lahh..."

"Iya nihhhh,"

Garnet terkekeh melihat ekpresi teman-temanya itu yang mendadak kelimpungan mengetok-ngetokkan tangan ke meja dan dahi secara bergantian.

Tak mau diamuk oleh geng ghibah kelas ini, Garnet beranjak ke meja yang berada diujung depan kelas. Ia menghampiri salah satu mahasiswi yang saat itu sedang mengemasi barang-barangnya, dengan handset menjulur dari dalam hijabnya. Nada namanya. Nampaknya cewek ini tak mau telinganya tercemar oleh suara-suara sumbang khas lambe turah yang membahas hal-hal yang bagi Nada sangat un-importants.

"Nad," panggil Garnet menepuk pundak Nada pelan, membuat cewek itu menoleh reflek.

"Ya??" tak melepas handset dari telinganya Nada langsung menekan tombol pause pada layar smartphonenya.

"Kayaknya, yang dimaksud Pak Mada tadi lo deh, karena tugas lo nggak ada di sini," bisik Garnet, supaya tak banyak orang mendengar.

Cewek itu terdiam sebentar, "Oohh, ok," ucapnya datar, sembari melanjutkan aktivitasnya memasukan buku-bukunya ke tas. Lalu tak lama ia beranjak dari kursinya.

"Gue cabut ke perpus dulu," ucapnya formalitas, sambil berlalu meninggalkan ketua kelasnya itu, yang masih terdiam berdiri di depan meja Nada.

"Itu Miss Freaky kenapa lagi, Garnet???"

Garnet langsung menoleh ke arah gerombolan yang bergosip ria tadi, tapi tak memberi jawaban.

"Oooo gue tau, pasti tuh anak nggak di acc kan, tugasnya sama Mas Dosen Ganteng???"

"Ya tuhh, bener... So poor Miss Friky..." saut yang lainnya sambil cekikikan.

"Eeehhh tapi entar dulu-entar dulu, berarti, doi bakalan konsul sendiran di ruangannya Pak Mada dong???"

Mereka semua saling pandang memasang muka kecewa, langung mengesah panjang, "Yahhhh,,,,"

"Kok malah tuuhhh orang yang ketiban rejeki nomplokkkk!!!"

"Ya..., Nggak ikhlas ihhh.. Dedek kan juga mau," saut Sastia sok manja.

Melihat itu Garnet yang dari tadi cuman memperhatikan ocehan teman-temannya itu menyungingkan senyum usilnya lalu beranjak kembali menghampiri mereka.

"Makanya, lain kali kalau ngetawain penderitan orang tuh filter-nya mohon dipasang ya, ukthi-ukhti terhormat sekalian," sarkas Garnet masih tersenyum usil, lalu cowok itu pergi begitu saja meninggalkan geng ghibah yang saat itu hanya bisa ternganga kesal.

"GARNET!!!!!!!!"

.....

Nada Arina Putri.

Jika kita menanyakan nama itu pada para dosen, ataupun Asdos pasti jawaban yang akan selalu seperti ini.

"Oooo, Nada yang pinter tapi pendiam itu, ya???"

"Nada yang Nilainya selalu A itu ya??"

"Oooo, Nada yang sering bawa team debat kampus menyabet puluhan gelar juara, ya??

atau

"Ooo Nada mungil, tapi kaya cabe rawit itu, ya anaknya."

Tapi, lain jawaban jika bertanya pada para mahasiswa, entah itu junior mau, senior ataupun seangkatan dengan cewek ini. Jawaban mereka pasti...

"Oooo si Miss Friky, ya???"

"Ooo Mbak-Mbak muka jutek tapi pinter itu, ya???"

"Nada si penghuni perpus, ya???? si kutu buku,"

"Itu ya, Nada yang pelit ngomong???"

Atau...

"Oooo Nada yang nggak pernah punya temen, ya??? Anak anehhh sihhh,"

"Nada yang cuman ngerusak kerennya almamater aja, itu ya???"

Dan masih banyak lagi celetukan lebih nyelekit dari semua itu.

Di mata para dosen, Nada adalah mahasiswi yang cerdas. Raihan ipk-nya setiap semester selalu nyaris sempurna. Selalu cepat dalam menangkap materi-meteri yang disampaikan para dosen. Mahasiswi yang sangat berprestasi. Puluhan ajang debat tingkat nasional berhasil ia sabet posisi pertamanya. Dan ajang lomba lainnya tak luput ia raih gelarnya. Ya, sekalipun para dosen kadang dibuat geleng kepala kalau mengingat sikapnya yang begitu pendiam dan sering menyendiri.

Kontradiktif, di mata para teman-teman seangkatan, ataupun tingkat dibawah dan di atasanya Nada tak lebih dari sekedar layaknya kotoran yang hanya mengurangi kadar kerennya seluruh angkatan. Dia virus yang perlu dibasmi karena keberadaanya hanya menganggu saja, merusak citra almamater saja. Dan anak seperti itu tak pantas menjadi keluarga besar kampus, dan wajib untuk dijauhi. Salah-salah malah kita sendiri yang akan ikut jadi bulan-bulan dan dijauhi kalau mendekat atau berteman dengan oramg semacam dia.

Dan tanpa merasa berdosa sedetikpun, mereka mengkambing hitamkan sikap Nada selama sebagai pembenaran apa yang mereka lakukan. Mereka bilang, salah sendiri tertutup banget anaknya. Salah sendiri, anaknya nggak mau berbaur. Salah sendiri kenapa datar banget anaknya. Salah sendiri kenapa lebih suka temenan sama buku-buku di perpus.

Ya, begitulah dalil-dalil pembenaran dari para manusia yang merasa super duper suci tanpa noda dalil para kaum manusia paling sempurna karena mereka masuk dalam kriteria standart rata-rata sosial yang diciptakan oleh dan untuk orang lain. Padahal sejatinya justru hal tersebut menyebabkan terciptanya topeng-topeng di balik wajah-wajah yang mereka perlihatkan, hanya untuk masuk dalam kriteria rata-rata tersebut.

Karena undang-undangnya "Kalau mau diterima maka penuhi kriteria standrat rata-rata tersebut."

Dan hal tersebut adalah hal memuakkan yang paling Nada benci.

....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!