Big deals

Hari ini Mada tak ada kelas di kelas Nada. Tapi Mas Dosen ganteng ini tetap ada jadwal di kelas lain.

Jadi saat ini Nada bergegas menuju ruangan Mada, begitu  ia rasa kampus ini sudah sepi dari para Fans bucinya mas doseng ganteng ini.

"Assalamualaikum, permisi Pak!!" ucap Nada sambil mengetuk pintu pelan.

"Waalaikumsalam, silakan masuk,"

Nada langsung menemukan Mada begitu ia membuka pintu, Mas Dosen ini sedang merapikan beberapa makalah, kelihatan dia sudah mau bersiap pulang, mengingat semua kelas sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu.

"Ooo, Nada. Ada yang perlu dibantu??" tanya Mada ramah, lalu mempersilakan cewek duduk di detik berikutnya.

"Emm, saya mau mengembalikan ini, Pak."

"Sekali lagi terima kasih bantuanya. Saya udah banyak merepotkan bapak," tutur Nada menyerahkan goody bag yang dari tadi dipegangnya.

Mas Dosen ini langsung tersenyum begitu tau isi goody bag dari mahasiswi mungilnya ini, "Ini sebenernya nggak perlu kamu balikin lho. Bu Rt juga udah ngasih rok ini buat kamu,"

"Terima kasih Pak. Tapi saya harus tetap mengembalikan semua ini," timpal Nada.

"It's ok. Makasih ya!!"

Nada mengangguk sopan, ia juga megucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berpamitan. Tapi belum sempat tangannya membuka pintu cewek ini menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan.

"Ada yang lupa Nada??"

"Ammmm, saya belum kasih ucapan terima kasih ke Bapak," tutur Nada polos. Sebenarnya otaknya mengintruksikan segera beranjak dari tempat ini begitu mengembalikan Madang-Madang pinjamannya, tapi hatinya mengintruksikan yang lain dan kakinya lebih suka bersekongkol dengan intruksi hatinya.

Dahi Mada mengerut sejenak, tapi ada seulas senyum pada detik berikutnya, "lho bukannya udah, dua kali malah. Belum lagi ditambah dengan malam itu. It's more than enough, rigth??"

"Bukan terima kasih yang itu Pak. Maksud saya, terima kasih dalam bentuk tindakan. Saya kan belum balas kebaikan Bapak sama sekali, soalnya saya nggak tau harus balasnya gimana," ujar gadis berposrtur mungil ini makin polos.

Mada tertawa kecil mendengar penuturan polos mahasiswinya ini. Ia jadi heran, kenapa gadis sepolos ini justru diperlakukan seburuk itu oleh teman-temannya. Apa di terlalu polos hingga mereka anggap dia pantas diperlaukan semacam itu??? Entahlah.

"Ooo, itu. Amm gini, kamu nggak perlu balas saya apa-apa. Kamu baik-baik saja dan saya tau niat baik kamu ini saja sudah cukup,"

"Bapak takut, kalau nanti ini kehitung dalam bentuk gratifikasi atau suap sama KPK." tanya Nada tanpa filter, membuat tawa Mada kembali terdengar.

"Kalau ucapan terima kasih kamu bentuknya I phone 14 Atau saldo yang masuk ke nomor rekening saya, ya pasti kena OTT KPK saya," saut Mada masih terkekeh.

"Jadi, gimana Pak??" tanya Nada to the point mode on.

Sejenak tawa kecil Mada mereda, dia mengerutkan dahinya tipis seolah sedang memikirkan apa yang mau ia minta pada mahasiswinya ini, karena sudah ditolakpun Nada tetap memaksa.

"Ammmm fine, saya boleh minta kontak Wa atau telpon kamu??"

"Kontak saya, Pak??" ulang Nada ingin memastikan indra pendengarannya tidak salah dengar.

"Ya.. Easy, privasi kamu aman sama saya."

Aman sama saya, untuk sekian kali kalimat Mada ini seperti menyihir Nada untuk tak menolak apa yang dipinta oleh Mas Dosen ganteng ini. Toh terbukti malam itu Mada memiliki kesempatan penuh jika ingin melakukan yang tidak-tidak padanya, tapi dia tak melakukannya sama sekali.

"Emang kontak saya penting, ya Pak?" tanya Nada masih polos mode on.

Jari Mada bergerak cepat mengetikkan nomernya ke smartphone Nada, lalu ia melakukan pangilan singkat me nomernya sendiri.

"Kamu tadi kan tanya, harus bales kebaikan saya gimana. Nahh karena kamu sedikit maksa, saya pikir-pikir dulu deh nanti di rumah saya mau apa."

"Kalau udah saya udah tau, nanti saya bakal Wa kamu," imbuh Mada mengakhiri penjelasannya dengan senyum adiktifinya.

"Gimana, deal??" ucap Mas dosen itu  mengembalikan Smartphone Nada.

"Aamm, ba.. ik Pak," saut Nada masih gagal paham.

Big deal just happent.

...

....

Sore ini Mada pergi ke rumah Bu Rt, mau mengembalikan rok serta hijab yang di pinjam oleh Nada malam itu, sekalian beli gula dan kapal api.

"Mas Mada, mau beli apa Mas??" sapa Bu Rt dengan senyum dan nada teramahnya menyabut Mada.

"Itu Bu, gula satu kilo sama kapal api yang ukuran besarnya satu,"

Dengan sigap, Ibu Rt pemilik warung ini langsung mengambilkan pesanan Mada, dan langsung memberikannya ke Mada dalam waktu kurang dari lima menit.

"Makasih, berapa jadi semuanya, Bu?" tanya Mada membuka dompetnya.

"26.000 Mas,"

Mas Dosen ganteng ini memberikan sejumlah uang yang disebutkan Bu Rt tadi, lalu setelahnya ia memberi goody bag dari Nada kemarin.

"Oh ya ini Bu, pakaian yang dipinjam mahasiswi saya kemarin. Terima kasih banyak bantuannya waktu itu Bu. Saya udah ngerepotin ibu dan bapak malem-malem,"

"Lho, seharusnya biar aja disimpen Mbaknya kemarin to Mas, seperti yang saya bilang ke Mas waktu itu," tangap ibu Rt ini dengan nada khas Mak-mak super power.

"Saya juga bilang begitu Bu, tapi tetep dibalikin sama mahasiswi saya itu,"

"Oalah, yaudah. Makasih lho ya Mas udah dianterin," saut Ibu Rt meletakan goody bag tadi ke meja di sampingnya.

"Ngomong-ngomong, gimana nih Mas rasanya ada orang yang masakin?? Ya walaupun sekali tapi tetep enak, kan??"

Entah ada apa mendadak Bu Rt ini melempar pertanyaan usil diikuti dengan senyum kepo di bibirnya. Mada yang tak paham, hanya bisa mengernyitakan dahinya tipis.

"Maaf, maksud ibu ada yang masakin bagaimana  ya??

"Halah itu lho Mas, pagi hari setelah kita nolongin mahasiswi Mas. Sarapan Mas Mada pagi itu dimasakin sama mahasiswi Mas, kan??" tutur Bu Rt ini to the point.

Mada sedikit terkejut mendengar penuturan Bu Rt ini, dari mana dia tau kalau Nada memasak sarapan untuknya pagi itu, "Ibu tau dari mana kalau yang masak sarapan pagi itu mahasiswi saya???"

"Hehe, ceritanya pagi itu saya ke rumah Mas Mada, mau nganter baju Mbaknya. Nah, karena di depan sepi dan dua kali salam nggak ada sautannya saya langsung masuk aja ke dalem," tutur Bu Rt mulai bercerita.

"Kan waktu itu Mas Mada sendiri yang bilang biar aman dari semua tuduhan macem-macem, pintu rumah Mas Mada nggak dikunci, dan dibuka sedikit dari malem sampe pagi."

Mada mengangguk setuju, memang begitu adanya. Dia melakukan semua itu demi mendapat kepercayaan dan kenyamannya semuanya. Mulai dari para tetangga, dirinya dan terutama Nada, meski tanpa begitu pun sebenarnya dia sudah mendapat kepercayaan penuh dari para tetangganya.

"Terus pas udah sampai di belakang, saya lihat Mas dan Mbaknya yang kemarin lagi Sarapan bareng, nah waktu itu Mbaknya masih pakek apron jadi saya nggak jadi manggil Mas. Itu pasti itu habis masakin Mas Mada, kan??"

Mada tersenyum tipis saat itu, "Langsung tepat sasaran aja Ibu nebaknya,"

Ibu itu jadi tertawa mendengar celetukkan Mada barusan, "Tapi enak kan Mas, pagi-pagi sarapan udah siap. Ya, kira-kira gitu Mas rasanya kalau Mas udah punya pendamping nanti,"

"Aaa atau jangan-jangan kemarin itu lagi simulasi ya, Mas Mada?" celetuk Ibu Rt tak ada filternya sama sekali. Saat itu Mada hanya menanggapinya dengan tawa kecil, lalu ia pamit setelahnya.

Mendengar semua celoteh mak-mak super power tadi membuat senyum Mada tak lepas dari bibir. Sekarang dia sudah tau balasan apa yang ia inginkan dari Nada.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!