Tak ada yang berubah dari suasana kampus pagi ini. Masih dipenuhi dengan bermacam langkah para mahasiswa yang hilir mudik di sana. Mulai dari langkah tergesa, langkah malas karena masih disandra rasa ngantuk, langkah kesal karena pagi-pagi sudah dilanda bad mood, ataupun langkah santuy tanpa beban.
Saat itu, mobil dengan warna bernada metalic milk Mada sudah terparkir sempurna di halaman parkir kampus. Tak mau membuang waktu, Mada segera keluar dari mobilnya. Dan langsung saja Mas dosen ganteng ini mendapat sapaan manis dari para fans BUCINNYA.
"Assalamualaikum, pagi Pak Mada!" sapa Garnet yang saat itu berpas-pasan dengan Mada.
"Waalaikumsalam, pagi."
Kedua orang itu terus melangkahkan kaki mereka menyusuri lapangan. Bertemu Garnet, mendadak ada sesuatu yang berkelebat dalam imagi Mada.
"Garnet-Garnet tunggu!!" tahan Mada saat mahasiswanya itu makin menjauhkan langkahnya.
"Iya Pak Mada, ada apa??"
Detik itu Mada menoleh kesana-kemari seperti sedang mengamati situasi sekitar, "Kamu lagi buru-buru nggak??"
"Ammm, nggak Pak. Ada yang bisa saya bantu??" timpal Garnet balik melempar pertanyaan.
"Ok, kamu ikut ke ruangan saya sebentar, ya?"
Tanpa penolakan berarti cowok itu mengangguk beberapa kali menuruti permintaan Dosennya itu, dan mengikuti langkahnya dari belakang.
"Ada apa ya, Pak??? Bapak mau ada nitip tugas buat temen-temen di kelas??" tanya Garnet begitu dipersilakan duduk oleh Mada.
"No... There is something who i want to ask you,"
"Tanya apa Pak?"
"Kamu tau kan, di kelas kamu kemarin ada tugasnya yang belum saya balikin??" tanya Mada to the point.
"Iya. Punya Nada maksud Bapak??"
"Yap,"
"Nada nggak dateng ke ruangan Bapak, ya??" tanya Garnet was-was.
"Amm, kalau ada tugas kelompok, biasanya siapa aja team dia??" tanya Mada kali ini tak begitu to the point.
Ya, setelah melihat kejadian di koridor kemarin entah kenapa Dosen muda ini jadi terusik imaginya untuk mengetauhi apa yang sebenarnya terjadi pada mahasiswinya itu.
Betul, orang yang muncul sedetik setelah Nada pergi begitu sudah puas menyobek makalah milik Shofie waktu itu adalah Mas Dosen ganteng ini. Dan kedua matanya dengan jelas menangkap semua peristiwa itu.
"Aaaaa, sejak pertengahan semester awal Nada memang lebih suka ngerjain semua tugas kelompok sendiri Pak,"
"Dibolehin, sama dosen-dosen yang ngisi kelas kamu??" selediknya lebih dalam, tapi Mas dosen ini tak menunjuknya expresi ingin taunya sama sekali.
"Ya, mau nggak mau pak, dan kelihatannya para Dosen melihat dari sisi lain untuk membolehkannya. Kebetulan ipk Nada selalu melejit jauh di atas kami semua, Pak. Mungkin itu jadi pertimbabgan," jelas Garnet segamblang mungkin, meski ia tak paham kenapa tiba-tida dosennya ini menanyakan hal tersebut.
Mada mengangguk paham beberapa kali, dan rasanya info yang diinginkan imaginya sudah ia dapat semua, dan sudah cukup ia menggali semua itu dari anak didiknya ini.
"Tapi maaf Pak, kalau boleh tau ada apa ya, Pak??"
"Tidak ada apa-apa. Emmz, ya sudah kamu bisa ke kelas kamu sekarang. Maaf kalau saya sedikit menyita waktu kamu," ujarnya sambil tersenyum ramah.
"Tidak Pak. Saya permisi dulu Assalamualaikum,"
"Ya waalaikum salam,"
Sepeninggalan Garnet, Mada membuka laci di meja lalu ia mengeluarkan makalah team Shofie yang kini tidak berwujud, disobek-sobek oleh Nada. Kemudian kedua tangannya itu usil menyusun kembali sobekan makalah itu. Melihat makalah itu lagi, membuat Mas Dosen ini menggelengkan kepalanya teringat ulah Nada dan teman-teman yang ia sebut iblis itu.
......
Mada baru saja masuk ke ruang setelah mengisi kelas terakhirnya hari ini. Awalnya dia berniat mengecek setumpuk yang belum sempat ia cek, padahal sudah dikumpul dari kemarin. Tapi baru saja membuka makalah pertama, terdengar ada yang mengetuk pintunya diikuti dengan salam.
"Ya, waaalaikumsalam, masuk!!" ucapnya tak menghentikan aktivitasnya.
Tak lama muncul seorang pria berumur 45 tahun, begitu pintu itu terbuka. Dan hal itu langsung menghentikan aktivitas Mada meneliti pekerjaan anak didiknya.
"Prof Hasan, silakan duduk!!" ucap dosen muda ini beranjak, tersenyum ramah menjabat seniornya itu.
"Wahh, maaf nih saya menganggu Mas Mada."
Ya, betul, Mas.
Karena Mada termasuk dalam jajaran dosen muda di kampus ini. Dosen termuda lebih tepatnya. Jadi dengan alasan biar tak ada rasa canggung, maka para dosen senior di kampus ini memangil dosen ganteng ini dengan sebutan Mas.
"Sama sekali tidak. Saya malah senang bisa ngobrol dengan prof Hasan. Apalagi kalau ada yang bisa saya bantu."
"Aaaa, iya. Begini Mas, Mas Mada udah tau kan kalau dua bulan lagi team debat kampus kita bakalan maju ke lomba debat internasional?" tanya Prof Hasan langsung pada pointnya.
"Oooo, yang di Australi itu ya Prof??"
"Ya, betul Mas,"
"Lalu ada masalah apa ya, Prof?? Ada trouble dalam team debat kita??" timpal Mada cepat
"Tidak, saya cuma mau minta bantuan sampeyan Mas Mada. Kan dua tahun berturut Mas Mada bilang, kalau belum siap membantu saya karena waktu itu masih ada Prof Dicky yang membantu saya."
Mada menggangguk beberapa kali, karena memang benar begitu adanya. Rasanya sungkan kalau saat itu dia ikut andil dalam membimbing team debat kampus sedangkan ada beberapa dosen senior yang lebih bisa dan pantas membimbing team tersebut daripada dirinya. Lagi pula dia masih dosen baru kala itu.
"Nahh, sekarang saya harap sampeyan mau dan bisa membantu saya, Mas. karena saat ini Prof. Dicky sedang ada di luar negri. Saya kewalahan jadinya," jelas prof Hasan penuh harap.
Mada tersenyum mendengar permintaan seniornya tersebut, "Dengan senang hati Prof."
"Alhamdulillah saya senang mendengarnya."
"Saya mohon maaf Prof, saat itu saya sama sekali tidak ada niatan untuk menolak permintaaan Prof. Hasan," ucap Dosen muda ini tersenyum tipis.
"Saya paham Mas, tenang saja,"
Percakapan terhenti sejenak saat itu, menciptakan sebuah keheningan di ruangan Mas Dosen Ganteng ini.
"Ammm, nampaknya itu saja Mas yang perlu saya bicarakan. Saya pamit dulu, lagi pula Mas Mada masih banyak yang harus diselesaikan kelihatannya, malah saya ganggu," pamit Prof. Hasan begitu mendapati setumpuk makalah di depan Mada sudah menunggu untuk dibuka.
"Tidak Prof,"
Membimbing team debat kampus...
Mendapat tugas tersebut, hanya satu yang melintas dalam imagi dan ada dalam doa Mada. Jangan sampai dalam team yang dibimbingnya ada fans beratnya. Karena kalau sampai ada...
it's will be disaster.
.....
"Nada!!!"
Kelas baru saja selesai lima menit, dan Nada baru saja berniat melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Tapi panggilan dari Prof.Hasan barusan menghentikan langkah gadis munggil itu.
"Ya, Pak??" saut gadis itu membalikkan badannya.
"Kamu tidak lupa kan, team kita bakalan mengikuti ajang debat internasional di Australi?"
"Beneran jadi, Pak???" tanya Nada datar.
"Ya, jadi lah. Saya udah contact temen-temen team yang lain besok kita mulai bimbingannya, ya?"
Cewek mungil itu cuma mengangguk beberapa kali. Mungkin jika anak lain yang mendengar kabar ini akan berjingkrak kegirangan ataupun terkejut. Tapi lain dengan Nada, dia seperti hanya mendengar pengumuman biasa saja. Ekpresi diwajahnya tetep lempeng dan datar-datar saja.
"Besok kita mulai otak-atik temanya, dan kamu juga bisa mulai pikirin materinya, ok."
"Iya Pak," saut Nada dengan nada parsahnya.
"Ya sudah, kamu boleh balik. Hati-hati kamu di jalan!"
"Ya Pak, Assalamualaikum," ucap Nada menyalim Prof. Hasan.
"Hmmmz, Waalaikumsalam."
Ya, sekali lagi dia harus jadi jantung dari team ini, yang bertanggung jawab akan keberlangsungan hidup team ini.
....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Mehayo official
Karakternya begitu kompleks, aku beneran merasa dekat sama tokoh-tokohnya.
2023-12-09
0