8.8 scala richter

Pagi ini Nada langsung di sambut berondongan SMS dari Garnet. Ya, setelah kejadian malam itu hp Nada baru bisa nyala tadi malam begitu selesai di service di counter. Tapi Nada tak sempat mengeceknya lagi karena ditawan kantuk.

Garnet

Nat, you ok??

Garnet

Nat, keadaan kamu gimana?

Garnet

Nat, aku minta maaf!

Membaca SMS dari Garnet barusan, Nada hanya bisa tersenyum getir. Ya, dari sekian ratusan orang yang melabaleli diri mereka dengan kata teman di kampusnya hanya Garnet yang benar-benar bis adisebut dan dia anggap teman. Hanya dia yang tulus mengangap Nada sebagai teman.

Nada

Aku baik-baik aja Garnet. Nggak perlu khawatir.

Send, dalam satu detik balasan pun terkirim.

Karena Garnet menyingung kejadian di party kemarin, Nada jadi ingat sesuatu. Tak menunggu lama lagi, Nada langsung menaruh smartphonenya dan segera merapikan ranjang tidurnya. Lalu ia segera keluar menuju halaman kecil depan rumah tantenya. Tempat dimana orang di rumah ini menjemur pakaian.

Ya, cewek itu mau mengambil sweeter, hijab dan rok hitam yang dipinjamkan Mada malam itu. Dan sesuai ekpektasi, semua pakaian itu sudah siap angkat, alias sudah kering. Cewek itu langsung tancap gas menyetrika semua out fit itu.

Saat mau memasukkan pakaian itu ke paper bag, entah sekedar memastikan baju sudah bersih plus wangi atau ada hal lain dalam ruang imaginya, Nada iseng mengendus sweeter over size berwarma metalic yang saat ini dipengangnya. Sweeter ini betul-betul sudah bersih dan wangi.

Tapi sebentar dulu!!

Ini kenapa indra penciumanmya saat ini justru salah objek??? Ia mencium aroma maskulin lembut seperti saat pertama ia siuman malam itu. Aroma khas Mas Dosen ganteng itu masih melekat di sweeternya ini. Ya, tentu saja, seharian bersama di rumah Mada, aroma maskulin khasnya dengan cepat melekat dalam imagi. Dan tanpa sadar semua adegan yang ia alami terputar begitu saja di ruang imagi Nada.

"Top, ini enak banget lho. Cumannn... Kurang banyak aja saya ambil nasinya,"

Tawa Mada yang mengiringi kalimat itupun juga ikut berkelebat jelas dalam ruang imaginasi Nada, menularkan senyum di bibir Nada saat ini. Ia masih tak habis pikir, Mas Dosen yang super perfect di mata setuja fans bucinya itu bisa absurd juga seperti itu ternyata.

Mengingat hal tersebut, senyum di bibir Nada makin terlihat jelas menghiasi wajah mungilnya. Sampai akhirnya suara tantenya menarik kembali semua sadarnya dalam ruang imagi cewek itu.

"Nada!! lima menit lagi matiin kompor ya, itu tante lagi masak semur, tante mau beli kopi dulu di depan," teriak tante Nada di luar kamar.

"Iya tante!!!"

Detik itu, Nada buru memasukkan semua Madang pinjaman Mada. Cewek itu mengeleng beberapa kali, untuk menjernihkan ruang imaginya dari bayangan-bayang absurd itu.

Please Nada, jangan mulai bertingkah seperti sejuta fans bucinnya mas dosen ini. You are not one of them.

.....

"Hehh, mis friky, tunggu!"

Pemilik suara ini menahan tangannya di detik berikutnya. Membuat langkah Nada terhenti. Dan saat menoleh menemukan Sastia dan beberapa anak lainnya.

"Apa???" saut Nada dengan tidak mood.

"Ngaku lo! Kemarin lo minta ditungguin Pak Mada di rumah sakit mana, haaa??"

"Ya, lo pasti caper banget sama Pak Mada waktu dirawat," imbuh yang lainnya.

Nada mengangkat tipis satu sudut bibirnya. Ingin sekalinya rasanya cewek ini memberi tau mereka bahwa malam itu dia menginap sampai pagi dia rumah Mada, bahkan mereka masak dan sarapan bersama. Dia juga ingin memberi tau kalau ia memakai sweeter milik Mada malam itu bahkan sampai saat ini masih berada di tangannya.

Pasti mereka kelabakan tidak mampu mengeluarkan suara serta auto envy mode on mendengarnya. Dan gempa 7.5 scala ricther akan benar-benar terjadi bila berita tersebut menyebar. Tapi itu bukan type seorang Nada.

"Kalau kalian nggak mau Pak Mada kesayangan kalian itu nolong gue, harusnya kalian buru-buru bawa gue ke rumah sakit, jadi biar bukan Pak Mada yang bawa ke sana," sarkas Nada to the point. Membuat teman-temannya itu hanya mampu membuka mulutnya tapi tak mengeluarkan suara.

"Uggghhh, awas lo ya kalau sampe caper lagi di depan Pak Mada!!"

Kali ini tawa Nada betul-betul meledak kalau saja tak di tahannya mendengar ancaman tak bertuan dan sangat un faedah ini. Dia jadi bingung mau mengakatakan apa lagi.

"Oooo, kalian ternyata mau di tolongin Pak Mada juga, Kayak Nada waktu di party kemarin???"

"Garnetd??" kemunculan Garnet yang tiba-tiba ini membuat teman-teman perempuannya ini terkejut.

"Kalau iya, gue buka jasa bikin orang nyungsep ke kolam renang lho, gratis deh buat kalian. Tapi gue nggak ada jaminan sih Pak Mada bakal bantu kalian," sarkas Garnet makin usil.

"Garnetdddd, kebiasann!!!! Nggak di-filter omongannya!!!"

Dengan wajah super duper kesal, Sastia dan yang lain beranjak meninggalkan Garnet dan Nada yang saat ini masih saja menahan tawa, sementara Garnet tergelak melihat ekpersi teman-temannya yang yang kesal setengah mati itu.

"Ehhh, iya. Kamu beneran nggak papa Nat??"

"Sehat wal afiat, tenang aja,"

"Aku minta maaf banget ya Nat. Harusnya aku nggak biarin kamu sendirian setelah cekcok sama Dara waktu itu. Sumpah aku nyesel banget,"

Nada tesenyum getir mendengarnya, Garnet tidak salah. Memang seharusnya sejak awal dia tak datang ke pesta itu. Sesuatu yang memang sama sekali tidak cocok untuknya.

"Kamu nggak salah kok. Aku baik-baik aja kan sekarang??"

"Ya, tapi aku ngerasa salah banget. Aku nggak bisa jagain kamu, padahal kan aku yang ajak kamu buat dateng," ucap Garnet wajahnya benar-bener merefleksikan semua ucapannya.

"You did," saut Nada mengembangkan senyumnya.

"Emmzz aku ke kelas dulu!!"

Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Garnet, Nada langsung beranjak. Sementara Garnet hanya bisa mengamati cewek mungil itu dalam diamnya.

...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!