Mada Al fatih

"Maaf...!"

"Ampun.."

Air mata Nada terus saja meleleh membasahi wajah mungilnya saat itu. Wajahnya nampak ketakutan.

"Ampunnnnn!!!" lirih cewek itu lagi.

Nada terengah-terengah berusaha meraup udara yang sebenarnya tak pernah kemana-mana dan melimpah di sekitarnya. Wajah gadis ini masih terlihat panik dan basah oleh air matanya, dan kali ini ditambah rasa bingung begitu ia benar-benar membuka kedua matanya.

Di melirik ke sana ke mari sambil mengembalikan seluruh nafas dan nyawa. Malam ini rasanya ia kehilangan nafasnya dua kali beruntut, paru-parunya amat sesak.

Memo buruk itu kembali menghantuinya. Masih lekat di ingatannya betapa Nada kecil sangat ketakutan. Tak berani bilang pada siapapun tentang semua perlakuan teman-temannya itu.

Ya, Nada kecil memendam itu semua hingga kini. Karena pernah suatu kali ia mengatakan tindakan nakal dan jahat teman pada dirinya ke salah satu staf di sekolah, ya tentu dengan mode polos anak kecil.

Tapi percaya atau tidak yang dia dapati justru wali kelasnya marah-marah dan bilang, jangan menambahi pekerjaan mereka dengan pertengkaran remeh temeh seperti itu, beban pekerjaan mereka sudah banyak katanya di depan kelas. Dan Nada justru makin dimusuhi teman-temannya karena dia dianggap membuat satu kelas kena marah. Dan itu menancapkan luka yang dalam pada imaginya Nada. Orang yang harusnya menjadi pelindung dan orang tua kedua justru bersikap sebaliknya.

Sejak detik itu Nada kecil tak pernah lagi berani mengungkap atau menceritakan semua perlakukan nakal jahat, dan perundungan yang dilakukan oleh teman-temannya. Nada kecil menyimpan semua itu sendiri dan berusaha menghadapi serta menerima semua itu. Sekarangpun ia juga sering kali mendapat perlakuan yang sama dari orang-orang yang melabeli diri mereka dengan kata teman. Karena mau speak up pun juga tak ada gunanya.

Tapi tunggu dulu! Ruangan bernuansa metalik ini bukan kamar Nada. Masih dilanda bingung, sayup-sayup Nada mendengar suara seseorang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Dan suara ini, Nada apal betul dengan suara ini. Ini adalah lantuan ayat suci yang sering ia dengar di gazebo.

Tanpa ia sadari, air mata Nada makin deras membasahi pipinya, rasa sesak memo buruk masa lalunya itu makin menghantam dirinya. Kejadian di party tadi seperti De-javu rasanya. Dan suara itu seperti obat penenang tapi juga membuat air matanya tak bisa dihentikan.

"Nada!!!"

Dalam hitungan detik, panggilan ini seperti menarik sadar Nada yang dari tadi larut dengan indahnya lantunan ayat suci Al-quran yang ia dengar dalam tangis. Semua itu berganti dengan kejut, karena saat ini cewek itu menemukan Mada tepat di depan matanya.

"Pak..., Bar... Ra??"

"Alhamdulillah kamu sudah siuman, ada yang sakit?? Dada kamu masih sesek, nggak??" Mada melemparkan pertanyaan beruntun, tapi ada sedikit kelegaan di wajah mas dosen ganteng ini.

"Saya.. Dimana, Pak?? Kenapa Bapak bisa ada di sini??"

Nada masih bingung, tapi setelah ruang imaginya loading sepuluh detikan, ia baru menyadari satu hal penting.

"Saya..., di rumah..., Bapak???" tebak Nada mulai panik.

Cewek itu spontan beranjak dari tidurnya dan langsung menarik selimut menutupi tubuhnya, melakukan gerakan defensif secara instingsif. Cewek ini melirik seluruh tubuhnya yang saat ini berbalut switer dan rok panjang kas mak-mak super power. Dan semua tingkah Nada ini membuat Mada tersenyum tipis.

"Iya, kamu di rumah saya," jawab Mada dengan sabar.

Mendengar itu Nada makin merperkuat tindakan defensifnya, ia mencengkram selimut yang sebagian ada digengamannya saat ini. Pikiran cewek itu makin kemana-mana, apalagi mengingat kostum ia yang ia pakai sudah berubah wujud.

"Take it easy, I sure you was save with me!"

"Baju saya, Bapak apain??" sarkas Nada dengan nada yang bercampur aduk, antara was-was, mau marah dan takut.

Mendengar pertanyaan Nada kali ini Mada sudah tak sanggup, lagi untuk tidak tertawa. Mas Dosen ini terkekeh kecil, lebih-lebih melihat ekpresi yang tercetak di wajah mahasiswinya ini.

"Tenang..., Dress kamu aman sama Bu Rt, di ujung komplek!!" tutur Mada masih diikuti sisa tawanya.

Wajah Nada langsung memerah detik itu. Secara tak langsung pertanyaannya barusan menyelipkan sebuah tuduhan pada Mada, dirinya berbuat yang tidak-tidak. Nada benar-benar malu setengah mati.

"Fine, tunggu saya ambil minum dulu buat kamu!" Mas dosen ini tersenyum tipis lantas meningalkan Nada yang saat itu speechless.

Sepeningalan Mada, cewek itu langsung bersembunyi dalam selimut. Dia benar-benar malu tingkat dewa. Untung saja Mada mengangap semua itu sebagai hal yang lucu. Atau mungkin Mas dosen ini akan balas dendam besok di kampus dengan nilai dan tugas yang akan dia berikan?? Ugggghhhn dasar bodoh, kesannya dia tadi terlalu pd sekali, tapi bukan itu hal yang bagus??? Semua perempuan harus menjaga kehormatannya sendiri bukan dan itu nomor satu.

Nada memukul-mukul gemas dahinya sendiri, merutuki ulah bodohnya. Ahg, kenapa dia melontarkan pertanyaan itu coba???

"Nada... You ok???"

Suara Mada kembali terdengar, membuat jantung Nada mendadak berdegup tak jelas aturan ritmenya.

"Kamu masih kedinginan??? Ini Saya bawa jahe anget!!!" Mada masih setia menanya, tapi Mas dosen ganteng ini tetap berdiri tak berani mendekat.

Pelan Nada membuka selimut yang tadi menutupi dirinya, ia hanya menunjukkan wajah mungilnya yang masih memerah. Kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban dari pertanyaan Mada barusan.

"Ini minum, dulu! Pasti kamu masih kedinginan sampai sembunyi dibalik selimut gitu," Mada menarik kursi untuk duduk lalu menyodorkan secangkir wedang jahe hangat yang masih mengepul uap-uap tipisnya.

Setengah ragu, Nada menerima cangkir dari Mada. Toh ia juga tak mungkin menolak, sangat tidak sopan rasanya. Pelan, Mas dosen ganteng ini menyruput wedang jahe miliknya, di detik berikutnya Nada juga ikut menyruput wedang jahe di tangannya.

Rasa hangat dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh mereka berdua lewat bantuan aliran darah. Sejenak ruangan itu sunyi senyap tanpa suara.

"Tadi saya bingung mau bawa kamu ke rumah sakit mana, saya juga nggak tau alamat rumah kamu di mana. But, saya tiba-tiba inget Pak Rt,"

"Pak Rt???" tanya Nada tak paham.

"Ya pak Rt, saya tiba-tiba keingetan kalau pak Rt di sini tuh dokter. Jadi daripada saya bingung muter-muter cari rumah sakit dan kamu keburu hipotermia akut saya bawa balik ke rumah jadinya," jelas Mada cukup panjang

"Jadi Bapak yang nolong saya di tempat party??"

"We can say like that,"

Sekali lagi wajah Nada memerah. Ini merupakan rekor muri bagi Nada, karena jarang sekali cewek ini bisa seperti ini. Kelimpungan tak jelas.

"Jadi ini???" Nada melirik sweeter dan rok yang melekat badannya, bingung.

"Punya Bu Rt, kalau swetternya punya saya, tenggelem kamu jadinya" ucap Mada kembali tergelak, sedang Nada mendelik terkejut.

"Take it easy. Kamu aman, pintu nggak ada yang kekunci. Kalau misalnya ada apa-apa, sekali kamu teriak juga orang satu komplek sini bakalan langsung nyerbu rumah saya,"

Kali ini Nada tak merespon, dia pilih menengelamkan wajah merahnya di balik cangkir berisi wedang jahe hangat itu.

Asli dia benar-benar ingin menghilanh saat itu juga rasanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!