what it is

Nada baru saja sampai di kelas, hanya ada beberapa tas yang menghuni bangku-bangku kosong di ruangan ini, tak ubahnya seperti suasana kelas di sekolah menengah atas yang para muridnya keluyuran tak jelas kemana, sebelum jam pertama di mulai.

Cewek itu duduk di bangku yang biasa ia duduki, lalu tak lama ia mengeluarkan laptopnya, rumayan masih ada waktu lima belas menit sebelum kelas dimulai dan kebetulan kelas sepi.

Tapi setelah sepuluh menit berlalu, mulai terdengar derap langkah kaki yang mendekat ke kelas sayup-sayup. Namun hal tersebut tak mengusik Nada sedikitpun, atau membuat cewek itu mengalihkan fokusnya dari layar laptop.

"Nihhhhh..." ucap Shofie tiba-tiba muncul begitu saja menyodorkan makalah di atas keyboard Nada membuat cewek itu sedikit terpanjat.

"Untung aja lo, kita dapet B. Jangan-jangan lo sengaja ya, ngerjainnya nggak serius jadi cuman dapet B kita."

"Ya tuh, biasanya kan lo selalu dapet A," timpal Sastia usil.

"Udah???" sela Nada sudah tak tahan mendengar cemprengnya suara teman-temannya ini.

Cewek itu mengambil makalah yang ada di atas laptopnya dan kembali menyodorkan kertas itu ke Shofie dengan ekpresi datar bin santuy-nya

"Kalau lo pada kepo, mendingan lo semua ke ruangan Pak Mada! Tanya, terus minta revisi nilai sana sama yang ngasih nilai! Bukan ke gue, lo pada salah alamat," ucapnya Nada masih dengan wajah datarnya.

Wajah Shofie dan teman-temannya memerah mendapati balasan Nada yang sedikit menyebalkan bagi mereka. Tangan mereka sudah mengepal ke atas kesal, tapi akhirnya mereka tak melakukan apa-apa, meninggalkan Nada begitu saja, karena Prof.Hasan dan mahasiswa lainnya tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

Nada hanya menarik satu ujung bibirnya, melihat expresi wajah Shofie. Lalu fokus cewek itu beralih ke makalah yang ada di tangannya. Benar kata Shofie, teamnya mendapat nilai B. Tapi yang membuat dahi cewek ini mengerut detik itu, kenapa kemarin Mada mengembalikan makalah milikinya yang pernah ia tolak dengan nilai A, kalau dia masih juga menilai makalahnya yang baru tapi dengan grade yang lebih rendah???

Sejenak ia ingat kata-kata Mada sebelum meninggalkannya saat bimbingan kemarin, dan entah kenapa semua kalimat itu membuat kedua ujung bibirnya tanpa sadar kembali terangkat sempurna membuat lengkung sabit indah.

.....

Seperi biasa, selepas kelas selesai Nada, Namira, dan yang lainnya mendapat bimbingan dari prof Hasan dan Mada alias Mas Dosen ganteng. Tapi kali ini mereka menganti tempatnya bimbingannya di perpus kampus.

Tapi baru setengah sesi bimbingan, Prof.Hasan mempercayakan sesi selanjutnya pada Mada karena ada urusan mendadak. Jadi mereka semua dikawal Mada saat ini.

"Kalian, mau break???" tanya Mada di tengah sesi bimbingan.

"Boleh Pak?" tanya Dara antusias.

"Ya boleh, kenapa nggak. Monggo!! Kalau mau ke kamar kecil atau ke kantin,"

Dara dan Namira tersenyum dan saling bertukar pandanganan usil, sementara Nada tetap setia dengan diamnya.

"Amm, kalau breaknya ngobrol-ngobrol sama Pak Mada, Bapak keberatan, nggak??" tanya namira tersenyum polos tanpa dosa, dan langsung menular ke Mada. Senyum adiktif Mas Dosen ganteng ini terbit menghiasi wajah tampannya.

"Boleh, memang kalian mau obrolin apa??"

"Ammm, Bapak alumni Harvad kan, nih. Itu gimana caranya ya Bapak bisa tembus masuk ke sana, Pak? Saya juga mau Pak ke sana," ceplos Sastia tanpa filter.

"Ammm, waktu itu Profesor saya sih yang racunin saya buat ke sana. Tiap hari saya di-spoiler macam-macam tentang Harvad. Dan sedikit banyak racun dari Profesor saya tadi ngefek dan ngebuatt saya jadi bener-bener pengen ke sana. Dan beliau bantu saya untuk bisa ikut seleksi."

"Lah, lewat tes, Pak??? Yahhhh kalau itu sih harapan kita buat lolos cuma dua puluh persen Pak. Ya nggak Sas,"

"Betul Pak, pasti susah banget."

Mada kembali tersenyum menanggapi sikap childish anak didiknya yang merangkap Fans Bucinnya ini, "Ya, dua puluh persen itu tetap peluang lho, dan bisa aja malah kalian dapetin,"

"Ammm, iya ya juga sih Pak,"

Tak berhenti di situ, Sastia dan yang lain terus saja membrodongi Mas Dosen Ganteng ini dengan bermacam pertanyaan absurd mereka, dan Mada dengan sabar meladeni keasurdan anak didiknya ini. Bahkan dia menceritakan pengalamannya menimba ilmu di benua biru.

"Ooo, jadi bapak udah harus makek kaca mata dari waktu Sd, sampai sekarang??" timpal Namira begitu mendengar cerita Mada.

"Ya.., Kalau tidak, saya nggak akan bisa ngisi materi di kelas kalian dan bimbing kalian seperti saat ini," jawab Mada yang diakhiri dengan senyum adiktifnya.

Meski diam tak mengeluarkan suara dari tadi, tapi Nada ikut mendegar pembicaraan teman-temannya itu dan juga dosen idola mereka. Dan entah kenapa, dia jadi mendadak ketularan kepo seperti mereka. Ruangan imaginya jadi penasaran seburuk apakah pengelihatan Mada jika tanpa kaca mata.

Tapi Nada, tetaplah Nada yang tak mau lama-lama imaginya dipenuhi pertanyaan kepo bin absurd yang baginya kurang ada faedahnya. Jadi dia pilih kembali fokus note booknya yang dari tadi dia isi dengan coretan tangannya.

"Eee, amm ngobrolnya cukup dulu ya. Kita lanjut bimbingannya," kata Mada menyudahi sesi kepo yang diajukan anak didiknya itu.

"Heee heeee... Ya Pak. Makasih ya Pak, udah mau sharing cerita ke kami. Maaf kalau banyak pertanyaannya nyeleneh."

"It's ok."

Sesi bimbingan kembali dimulai sampai akhirnya tepat pukul tiga mereka menyudahinya. Dan kini tinggal Nada yang juga mau meninggalkan ruang tersebut. Namun langkah cewek ini tertahan karena melihat spray bottle yang tergeltas di sudut sofa. Penasaran ia mengambil botol mungil tersebut, yang ternyata cairan sanitaser untuk kaca mata. Dapat dipastikan benda munggil ini milik Mada, karena hanya dia yang paling mungkin punya benda seperti ini diantara mereka berlima yag baru saja berkumpul.

Tak banyak bicara ia menyimpan botol mungil itu dalam kantong baju, lalu ia meninggalkan ruangan tersebut. Ia bergegas menyusuri koridor kampus, berniat menyusul Mada di ruangannya, untuk mengembalikan bootle spray tersebut. Namun baru saja menyusuri setengah koridor, dia menemukan Mada yang juga melangkah cepat.

"Nada..." sapa Mas dosen ganteng itu begitu berpapasan dengan Nada.

"Ammm, bapak mau cari ini??" tanya Nada dengan mode on the point-nya menunjuk botle mungil yang dari tadi berada dalam sakunya.

"Ya, thank you. Beneran ketinggalan di perpus ternyata. Saya kira udah hilang, jatuh,"

Mas Dosen ganteng ini tersenyum ramah sembari mengambil spray bottle itu dari gengaman Nada. Tak ada kata yang keluar dari Nada, cewek itu cuma mengangguk sopan beberapa kali.

"Amm saya permisi dulu Pak, Assalamualaikum," ucap Nada kali ini menundukkan kepalanya, lalu ia beranjak meninggalkan Mada begitu dijawab salamnya. Tapi tidak dengan Mada.

Cowok itu tak langsung beranjak begitu Nada meninggalkannya. Mas dosen ini justru memaku di tempat mengawasi langkah anak didiknya itu yang saat punggungnya membelakangi dirinya. Dan begitu Nada sudah menghilang dari pandangnya, Mas dosen ini beralih ke spray bottle yang saat ini digengamannya. Entah kenapa, bibir pria ini melengkung manis dibuatnya.

Dan sekali lagi, Mas dosen ganteng ini menemukan another side dari anak didiknya yang satu ini.

Terpopuler

Comments

Dira Alina

Dira Alina

Ngga bisa berhenti!

2023-12-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!