Nada, baru saja keluar dari kampus, dan saat ini gadis itu sedang berjalan ke halte berniat menunggu bus ataupun angkot di sana. Rencananya ia mau pergi ke toko buku, ya meski tak jarang cuman sekedar lihat-lihat saja yang kadang berujung ia teracuni juga oleh sinopsis atau judul yang tercetak di cover dan membelinya di lain hari lagi karena masih harus menabung.
Tapi begitupun sudah cukup untuk jadi sebuah relaksi tersendiri bagi Nada untuk melebur semua kepenak yang ada di badan serta imaginya.
Halte tersebut nampak saat Nada duduk di sana. Hanya ada seorang ibu-ibu hamil yang juga sama-sama sedang menunggu. Perut buncit ibu tersebut nampak jelas terlihat, mungkin kalau di tebak-tebak sudah menginjak usia kandungan sembilan bulan, dan tinggal menunggu hari kelahiran sang adik saja.
Pertama kali mengetahuinya, cuma satu yang ada di dalam imagi Nada, takut.
Ya takut, dan akan benar-bebar menjadi sesuatu hal horor yang sangat menakutkan bagi Nada, lebih-lebih jika nanti mendadak terjadi sesuatu pada ibu hamil itu dan cuma ada dirinya di sana bersama ibu hamil itu. Benar-benar akan jadi horor quadrat. Ya kita tau bisa terjadi hal-hal yang macam-macam pada ibu hamil yang sudah menginjak masa akhir mengandung dan menuju hari persalinan.
Dalam imagi Nada, hamil terlebih melahirkan masih sesuatu yang hal yang menakutkan bahkan horor. Membayangkan saja ia sudah ngeri dan selama ini berusaha tak membayangkan ataupun memikirkan hal tersebut. Setidaknya untuk sampai saat ini.
Bukannya ia melawan kodrat atau berniat merendahkan. Ia sangat mahfum dan tau mengandung dan melahirkan itu sudah seperti menjadi hal penyempurna seorang perempuan dan sangat dinantikan semua kaum Hawa. Tapi bagi Nada tetap saja, dalam imagi itu semua hal yang horor dan ngeri.
Ia tak paham kenapa bisa sampai mind set tersebut bisa tertanam dalam imaginya. Mungkin saja, karena banyak mendengar pengalaman para ibu hamil di sekitar lingkungannya yang mengalami ini itu dan lebih terdengar seperti mengalami kesakitan yang dasyat. Belum lagi cerita beragam ketika saat melahirkan yang harus mendapat penanganan ini itu. Fix itu benar-benar ngeri untuk dibayangkan.
Ya mungkin ada yang bilang itu semua tadi memang bukan untuk dibayangkan. Tapi sebuah qodrat. Well every one can say everything, menurut Nada. And she can do that too.
Karena semua imaginya yang bagi sebagian orang sangat terdengar absurd itu, Nada hanya berdoa dan berharap angkot maupun bus yang ditunggunya segera datang. Mendadak ia jadi insecure sendiri dan kehororan menyerang imaginya bertubi-tubi, dan makin membuatnya ketakutan sendiri.
10 menit berlalu mereka bedua di sana semuanya masih baik-baik saja dan aman. Tak ada yang terjadi pada ibu hamil tadi seperti imagi absurd Nada. Tapi mendekati dua puluh menit berlalu ibu hamil di samping Nada mulai menunjukkan gelagat yang tidak mengenakkan. Beliau mulai memegangi perutnya lengkap dengan ekpresi kesakitan. Menangkap semua perubahan itu Nada bergeser menjauh perlahan dari ibu hamil itu ke ujung halte. Ketakutan makinnya nyata menyerangnya.
"Aaaaaa sakit" teriak ibu-ibu kesakitan.
Fix, apa yang berkeliaran di ruang imaginya benar-benar terjadi saat ini dan ia terjebak dalam situasi tersebut. Detik itu Nada spontan memejamkan matanya dan sudah bersiap-siap untuk melarikan diri, namun rasa takut yang menyerang imaginya membuat otak tak kakinya tidak bisa sinkron. Wal hasil ia masih terduduk di sana.
"Aaaaa tolong!!!" teriak ibu-ibu sekali lagi.
Makin takut, Nada melirik ke arah ibu hamil tadi dan ia spontan memejamkan matanya kembali begitu melihat darah mengali di kaki ibu-ibu itu. Sekuat tenaga Nada berdiri dari duduknya dan benar-benar bersiap untuk kabur, berpura-pura tak melihat apa-apa.
"Mbak... Tolong!! Sakitt.. Aa sakit!!"
Mendengar itu Nada sudah tak sanggup berada di sana. Ia beranjak cepat menjauh dari halte itu seraya menutup kedua telinganya dan memejamkan sambil berkali-kali mengelengkan kepalanya berusaha menghilang semua peristiwa yang baru saja ia lihat.
Gadis itu benar-benar ketakutan detik itu. Kakinya melangkah cepat ke arah kampus secara tak beraturan. Jujur saja, kala itu hati kecil Nada berkata untuk menolong ibu hamil tadi, tapi alam sadarnya mengintruksikan hal lain dan mengatakan tidak, seluruh rasa takut menyerangnya di sana.
Begitu mencapai gerbang kampus Nada sempat menoleh kembali ke arah halte. Tak ada satupun orang di sana untuk menolong ibu tersebut, membuat ia mengeleng takut dan meneruskan langkahnya lagi berlari ke dalam kampus supaya pemandangan yang menurutnya sangat horor itu lenyap dari pandangan matanya.
Baru sampai di lapangan parkir, kaki Nada sudah tak sanggup untuk diajak berlari lebih jauh lagi ke dalam kampus. Tubuhnya masih gemetar takut sampai akhirnya ia menyerah dan terduduk di bahu jalan tempat parkir itu.
Nada kembali memejamkan matanya, tertunduk seraya mengelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengenyahkan apa yang dilihatnya tadi, ia menutup wajahnya dengan tangan. Meski sudah kabur dan menjauh dari halte, nyatanya peristiwa itu masih berkelebat dalam imaginya dan membuatnya menangis tanpa sebab.
Mungkin saja kalau ada teman-temanya yang melihat pasti akan dihujat habis-habisan.
Mengingat itu, masih ketakukan menangis sesengukkan, Nada mengangkat kepalanya perlahan, dan Madang pertama yang di tangkap oleh matanya detik itu adalah mobil Mada yang terparkir tak jauh di depannya. Mendapati benda tersebut, Nada langsung mengusap air matanya, lalu beranjak kembali meneruskan larinya. Secepat mungkin ia berlari menyusuri koridor kampus.
"Pak Mada!!!" seru Nada begitu menemukan dosennya itu keluar dari ruangannya. Ya cewek ini tadi bukan berlari ke perpus atau ke kelas tapi ke ruangan Mas dosen ganteng itu dan mencarinya.
"Iya Nada??" tanya Mada setengah bingung melihat Nada nampak ketakutan seperti itu.
"Bantu saya!"
Tak memberi info tambahan ataupun menunggu respon Mada, Nada membawa Mas dosen itu keluar. Detik itu Mada hanya bisa mengikuti langkah cepat Nada, tanpa mengeluarkan sedikitpun, sekalipun dia bingung dengan kelakuan mahasiswinya ini.
"Nada wait!!" ucap Mada setelah mereka berada di depan mobilnya.
"Ini ada apa? Kamu kenapa?"
"Maaf Pak saya kalau saya nggak sopan gini. Saya bakal jelasin nanti, tapi sekarang saya butuh bantuan Bapak dan mobil pak Mada, please!!" pinta Nada.
Tak bertanya lagi, Mada menuruti permintaan Nada dan tetap terdiam selama melajukan mobilnya ke tempat yang di arahkan Nada. Pasalnya mahasiswinya itu masih saja menunduk ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Pak... Pak.. Stop! Stop!" ucap Nada begitu mobil berada sekitar lima belas meter dari halte tadi.
Ya, gadis gitu kembali ke sana. Nada tak tau pertolongannya ini terlambat atau tidak tapi yang dia tau, dirinya tak bisa membiarkan ibu hamil itu begitu saja sekalipun bukan dirinya langsung yang menolong dan ia masih ketakutan hebat.
"Loh, emang udah nyampe ini kan masih di jalan."
"Maaf banget Pak. Saya nggak tau harus minta tolong siapa lagi. Di halte depan, ada ibu-ibu hamil lagi kesakitan dan butuh pertolongan segera," jelas Nada sudah bersiap-siap membuka pintu, sedang Mada masih terpaku mendengarnya.
"Please pak. Tapi maaf saya nggak bisa ikut."
Tak menambahi penjelasannya tadi Nada langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ia kembali melarikan diri sambil sesekali menutup wajahnya menjauh dari halte. Meninggalkan Mada yang masih kebingungan di dalam mobil.
.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments