Garnet

Sejak mendengar lantunan ayat suci di gazebo kala itu, imagi Nada jadi diusik penasaran dan beberapa hari berikutnya ia iseng untuk datang ke kampus pagi-pagi untuk ke gazebo itu lagi dan ya, ia menemukan kembali suara indah lagi di sana beradu dengan angin dan cicit burung.

Dan semenjak itu, hal tersebut menjadi kebiasaan baru Nada di kampus, tiap pagi di jadi suka mampir ke gazebo tersebut untuk mendengarkan lantunan merdu ayat suci yang entah siapa sang empunya. Satu yang Nada tau, mendengar suara tersebut membuat hati perempuan ini jadi tentram dan mendapat kedamaian tersendiri. Ya meski tak setiap hari ia dapat mendengarnya, karena lewat observasi usilnya suara indah tersebut hanya akan bisa ia dengar di hari selasa, kamis dan jum'at.

Seperti pagi ini, dia juga sedang duduk gazebo, mendengar suara indah yang melantunkan firman Allah dengan begitu sempurnanya, Nada serasa berada di lain dimensi jika sudah mendengarnya.

"Nat..!" panggil Garnet entah kapan datangnya, Nada langsung sadar dibuatnya.

"Garnet???"

"Ada apa??" tanya Nada masih kaget meski ekpresi wajahnya tetap datar-datar saja.

"Ngapain kamu di sini, sendirian lagi,"

Nada mengeleng beberapa kali untuk menggantikan suaranya, seiring dengan Garnet yang duduk sambil tersenyum tipis.

"Akhir pekan depan bakalan ada party dari anak-anak HIMA, dateng??" tanya Garnet ragu-ragu. Pasalnya, sudah berkali-kali prom nigth diadakan, Nada tak pernah dateng ke acara semacam ini.

Toh Nada rasa percuma datang kalau ujung-ujungnya tak bisa menikmati acara karena banyak suara sumbang dan orang yang merasa terganggu akan kehadiran dirinya. perempuan itu terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia menggeleng pelan.

"Takut pulangnya ya, boleh bareng sama aku kok. Tapi itu juga kalau kamu nggak keberatan," ucap Garnet terlihat ingin mengajak Nada untuk datang tapi tak to the point.

"Makasih Garnet. Tapi aku masih harus urus materi debat challange yang diugasin prof Hasan. Jadi kayaknya nggak bisa gabung."

"Amm gitu, ya?? Sayang banget lho, padahal kali ini Prom nigthnya tu beda. Anak-anak HIMA ngambil konsep pool party. Jadi nggak berisik kayak konsep tahun-tahun sebelumnya karena semi konser," jelas Garnet cukup, tapi Nada hanya bisa tersenyum canggung.

"Tapi yaudah kamunya sibuk ya."

"But you must know one thing Nat, you have me everytime as you need," ucap Garnet menarik ujung bibirnya sambil beranjak, dan Nada hanya terpaku mendengarnya.

"Ammm, kelas udah mau mulai nih. Yuk cabut!!"

"Eeeee, kamu duluan aja. Nanti aku nyusul," saut Nada masih setengah terpaku.

Garnet mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Nada. Tapi cewek itu masih terdiam di tempatnya. Kata-kata Garnet tadi memang sederhana dan singkat tapi begitu berarti bagi Nada. Sejak menyadang gelar sebagai mahasiswa di kampus ini, rasa-rasanya cuma cowok ini yang bersikap baik dan benar-benar memperlakukannya sebagai teman yang nyata. Tanpa niat terselubung atau embel-embel apapun, serta terlepas dari statusnya sebagai ketua kelas. Bahkan, saat ini dia menemui hanya untuk mengajaknya datang ke prom nigth meski terselubung.

Dan semua itu membuat Nada mempertimbangkan ajakan Garnet untuk datang ke acara party pekan depan.

.....

Pukul 02.00.

Saat ini Nada sedang berada di ruang dosen bersama ke dua anggota team debat lainnya. Nada terlihat duduk single chair asyik sendiri mencorat-coret note book di depannya. Sedangkan ke dua anggota lainnya sedang serius berdiskusi di kursi panjang tak jauh dari tempat Nada. Mereka sedang menunggu prof Hasan.

Ya selalu memang seperti inilah pemandangan team debat ini jika sedang bimbingan ataupun berkumpul. Tapi meski begitu mereka selalu sukses menyabet berbagai gelar di ajang bergensi.

"Nanti aku first speakernya, ya? Nanti kalian second sama third speakernya,"

"Ya, Nada jadi eksekutornya seperti biasa," saut Namira menoleh ke arah Nada. datar cewek itu hanya mengangguk beberapa kali, dan kembali fokus ke note booknya.

Mereka semua kembali fokus mencorat-coret note book, sampai tak sadar ada seseorang yang mengamati mereka sejak tadi, terutama Nada. Orang itu memperhatikan gerak-gerik Nada.

"Assalamualaikum. Sorry, kalian nunggu lama, ya??"

Nada dan anggota team lainnya spontan mendongak begitu mendengar suara ini, dan langsung saja mereka menemukan Mada. Ya, Mas dosen ganteng ini lah yang dari tadi mengawasi Nada dan teman-temannya.

"Aa, nggak kok Pak. Nggak!!" saut Namira setelah dibuat blank mendadak oleh kegantengan Mas Dosen satu ini.

"Iya Pak, nggak kok," imbuh Zulva yang juga tak luput dari virus BUCIN. Tapi tidak dengan Nada, cewek itu tetap setia dengan diamnya.

"Amm ok. Kalian udah siap semua kan. Kali ini bimbingannya sama saya, ya. Prof Hasan lagi ada keperluan di luar."

"Bapak serius??" tanya Namira dan Zulva hampir bersamaan antusias.

"Ya, dan untuk ke-depannya saya akan membantu prof Hasan untuk mengawal team ini. Jadi mohon kerja samanya, ya!"

Mada tersenyum ramah, lalu duduk bergabung dengan Nada dan yang lainnya. Tak butuh waktu lama, Zulva dan Namira langsung buka suara panjang lebar. Harap maklum, mereka termasuk dalam barisan Sejuta Fans Bucin Mas Dosen ganteng ini.

Hampir satu jam mereka berlima mendiskusikan beberapa yang mungkin akan menjadi tema dalam debat nanti. Dan selama diskusi berlangsung, Nada seperti menunjukkan sisi lain dari dirinya. Dia begitu lugas, dan banyak mengeluarkan suara, membuat Mada sedikit heran, karena selama dia mengisi kelas, cewek ini hanya bicara seperlunya tak seperti teman-temannya yang berebut perhatihannya. Dan semua itu sempat membuat Mada terdiam beberapa saat.

Tepat pukul tiga, Mada mengakhiri sesi bimbingan yang dilakukannya. Dan saat ini tinggal Mada dan Nada yang sedang merapikan buku-bukunya.

"Saya permisi pulang dulu Pak, Assalamualaikum," ucap Nada beranjak sambil mengulurkan tangannya berniat menyalim Mada. Tapi dosen muda ini justru terdiam sejenak memperhatikan anak didiknya ini, lalu tak lama ia malah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Ini tugas kamu,"

Mada mengulurkan makalah di tangannya pada Nada yang saat ini ganti terdiam, tapi tak berapa lama mengambil makalah tersebut dari tangan Mada.

"Lain kali, cukup nama kamu aja yang dicantumkan di setiap tugas saya. Kamu nggak perlu cantumkan nama-nama penumpang gelap," ucapnya beranjak beranjak tersenyum ramah.

Lalu ia pergi meninggalkan Nada setelah menepuk pundak Nada pelan seperti seorang Kakak pada adik perempuannya.

Nada masih terdiam bingung, otaknya seolah masih menerjemahkan apa yang baru saja terjadi, tak dapat memberikan respon lain. Mungkin kalau ini terjadi pada mahasiswi lain, mereka sudah berjingkrak kegirangan ataupun auto lemas seperti di vidio Fans K-pop yang langsung lemas dadakan begitu diusap pucak kepalanya oleh Hyun Bin si ajushi ganteng.

.....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!