Nasi goreng

"Kompetisi di australi tinggal satu bulan lagi. Seperti yang Prof. Hasan bilang. Kalau bisa hari ini kita sudah harus menentukan posisi kalian yang fix nanti,"

"Ini mah rubah total Pak posisi kita semua. Padahal sudah Posisi wuenakkk, Pak,"

Bara tersenyum mendengar ocehan para anak didiknya yang kadang childish ini. Di depannya Najwa menjadi pendengar setia masih mencorat-corat note booknya.

Seperti biasa sorry ini mereka sedang berkumpul, untuk persiapan debat bulan depan.

"Ya, kita udah coba roling, jadi kalian semua pernah cobain posisi-posisi dalam debat dengan gaya british, meski cuma simulasi aja."

Zulva dan Namira mengguk hampir bersamaan, "Terus gimana Pak jadinya??"

"Kalian harus temuin fell kalian dengan posisi-posisi itu," tutur Bara mengingatkan tiga anak didiknya.

"Posisi governor biar aku aja,"

Sejak tadi tak bersuara, Najwa angkat bicara juga akhirnya. Ya, Najwa tau 2 temannya ini tak mungkin ada yang mau mengisi posisi governor. Jadi seperti sebelumnya ia harus rela jadi third speaker demi jalanya team ini dan sekarang ia harus menempati posisi governor dengan alasannya sama.

Padahal, Najwa memiliki kapasistas yang mumpuni untuk mengisi posisi itu. Tapi rasanya mau posisi mana pun tak ada bedanya, karena ide-ide briliant yang mewarnai team ini sumbernya dari Najwa. Jadi sama saja, kan???

"Yeaaa, gue president-nya ya???" saut Namira full speed.

"Ehemmm" saut Najwa datar.

Kali ini ganti Bara yang jadi pendengar setia, dia sama sekali tak mengintrupsi diskusi mereka. Sampai akhirnya, ia akhir bicara setelah anak didiknya itu rehat sejenak dari diskusi.

"Gini, saya dulu sering banget ikut debat gini dengan gaya yang sama, british style. Waktu itu sama tutor saya, team kami dibebasin buat milih posisi yang sedang kita lakukan ini," tutur Bara mulai bercerita dan langsung mendapat perhatian penuh dari anak-anak didiknya. Najwa yang semula masih asyik dengan catatannya juga jadi tertarik ikut mendengrkannya.

"Jelas semua memilih posisi favorite masing-masing, dan waktu itu posisi yang saya pengen isi, president,"

"Ya pasti dapet dong, Bapak kan pinter??" tanya Namira fast respon.

"Nggak,"

"Kok bisa, Pak?" tanggap Zulva sama kecepatannya dengan Namira.

"Waktu itu nggak ada yang isi posisi governor. Jadi demi berjalanan team saya isi posisi tersebut. Awalnya saya senang, dengan saya mengalah, jadi memberi kesempatan untuk yang lain nempatin posisi president, dan team saya bisa tetep jalan,"

"Yah, sayang banget dong Pak," saut Namira dan Zulva kompak, dan hal itu sukses membuat Bara tertawa karena ekpresi tidak terima yang terlukis di wajah mereka.

"Ya, kalian betul. Karena lama-lama team ini menujukkan cacatnya. Meski ide-ide yang team saya bawa keren semua dan president di team saya lancar jaya saat menyampaikannya, sayang endingnya dia selalu kelimpungan diserang rebutle dari team lawan,"

"Karena semua ide yang disampaikan, sumbernya Bapak??" kali ini Najwa angkat suara, dia seolah tau jalan cerita Bara.

"Yap, sayangnya memang begitu. Padahal bermacam model rebutle perlawan kalau saya di posisi itu sudah membeludak di kepala saya."

"Tapi apa daya, saya cuma bisa gemes sendiri di balik meja ngelihat semua big disaster who was happent that time. Dan endingnya setiap kompentisi team harus puas nempatin posisi dua ataupun 3 bahkan cuma semifinal kalau lagi mentok."

"Saya jadi nyesel, kenapa waktu itu nggak jujur aja kalau saya mau posisi itu, dan malah ngalah karena cuma nggak enak sama yang lainnya dan nggak mau dianggep egois," kenang Bara bernostlagia ke masa itu.

Saat itu Najwa, Namira dan Zulva mengangguk hampir bersamaan, seolah mendapat pencerahan dari Mas Dosen ganteng ini, "So the point is, kalau kalian sudah memilih untuk mengisi salah satu posisi itu kalian harus bertanggung jawab secara menyuluruh terhadap posisi tersebut, bahkan sampai detail terkecilnya."

Sekali lagi mereka bertiga mengangguk kompak, "Saya nggak bakal larang, kalian mau nempatin posisi mana pun dalam team ini, tapi yang saya nggak mau, kejadian yang team saya alami terjadi pada team ini. Saya nggak mau, ada yang mengalah cuman karena nggak enak ataupun nggak mau dicap egois,"

Sejenak Bara melemparkan tatapannya ke Najwa seperti dia sudah tau kalau mahasiswinya ini melakukan apa yang baru saja melakukan hal yang baru saja ia sampaikan.

"But the way, team ini nggak bersumber dan bergantung pada satu satu sumber, kan??" tanya Mas Dosen ini setelah melirik ke arah Najwa beberapa second.

Detik itu Zulva dan Namira langsung saling pandang menahan senyum malu mereka, "Emmm, kayaknya Najwa aja deh Pak yang ngisi posisi presient, kita berdua sisanya aja,"

"Iya kan, Ra??" imbuh Zulva melirik Namira. Nampaknya ucapan Bara membuat dua mahasiswanya ini sadar kapasitas sendiri.

"He eg. Kamu setuju kan, Nat??"

Kompak Namira dan Zulva menatap Najwa secara bersamaan, "Heemmm," saut Najwa singkat.

"Ammm, Pak saya ke sebelah dulu. Mau rehab ini," imbuhnya dengan nada memberi informasi, bukan meminta izin.

"Ya,"

Ya, dengan posisi baru ini tak merubah apapun, tetap saja Najwa yang menjadi jantung team ini.

.....

Sudah 45 lima menit sejak Najwa pamit untuk merehab materi di note booknya. Tapi sampai pukul 03.00 sore, dan Namira serta Zulva pamit pulang, gadis itu belum juga menunjukan kembali batang hidungnya.

Penasaran, Bara mengecek apa yang sedang mahasiswinya satu ini lakukan.

"Najwa, udah..."

Bara langsung menahan kata-katanya begitu mendapati anak didiknya itu sedang terlelap tidur. Sontak, pemandangan ini membuat ujung bibir Bara tertarik. Ini adalah kedua kalinya dia melihat Najwa dengan wajah damainya.

Tak ingin membangunkan anak didiknya ini, Bara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas hitamnya. Mas dosen ganteng ini mengeluarkan sweeter, lalu ia selimutkan ke badan Najwa secara pelan. Dan selanjutnya ia beranjak membiarkan Najwa dalam lelapnya.

Tepat pukul setengah empat, Najwa terbangun karena mendengar suara smartphonenya. Masih dengan setengah kesadarannya, ia melihat notif di smartphonenya, ternyata dari group kelas. Cewek ini melirik ke sekitar dan kedua bola matanya langsung membesar begitu mendapati sweeter Bara menyelimuti tubuhnya.

Dilanda heran ia menanggalkan sweeter dari punggungnya, ia beranjak ke sana-sini mencari keberadaan sang empunya. Tapi semua ruangan ini sepi. Gadis ini pun kembali ke tempatnya, dia masih gagal paham kenapa sweeter ini bisa melekat di badanya, sampai akhirnya dia menemukan sesuatu di dalam kantong sweeter ini.

Sekotak susu coklat ukuran mini.

"You didn't need to give this sweeter back to me, it's your's now. Anyway, buat ucapin terima kasih yang kamu tanya kemarin, kalau boleh saya mau nasi goreng buatan kamu 2 porsi dan terserah kamu waktunya. Kalau nggak, juga nggak papa, sih. Oh ya, don't forget to drink this milk, ok"

Najwa tersenyum membaca note yang menempel di kotak susu ini. Ini bukan note namanya, tapi surat kecil. Tapi satu yang makin membuat dia gagal paham quadrat, dosen ini hanya minta dibuatkan nasi goreng???

Dasar aneh bin aburd....

.....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!