Terseok-seok, Syam melangkah kemudian memaksakan diri untuk berlari melewati lantai balkon kamar Hasna. Karena lawan telanjur jauh tak ubahnya ninja yang bisa loncat dengan sangat leluasa, Syam nekat loncat ke balkon sebelah.
Ulah nekat Syam membuat Syam nyaris jatuh. Genteng pertama yang Syam gunakan untuk pegangan berakhir melorot bahkan jatuh. Syam menggunakan kedua kakinya untuk menopang tubuh dengan berpijak ke dinding satu sama lain. Kedua tangannya yang gemetaran kembali berpegangan pada genteng sekitar. Tampak punggung tangan kirinya yang dihiasi darah segar bekas infus yang dicab-ut paksa.
“Kakiku ... kakiku tidak bisa begini lama-lama!” panik Syam sudah langsung memutar cepat otaknya, agar ia segera menemukan jalan terbaik.
Syam nyaris menyerah, tapi tangis Hasna yang sampai detik ini masih berlangsung tak terkendali, menjadi alasannya mengamuk. Syam bangkit dan seolah memiliki nyawa tambahan karenanya. Kedua kakinya yang memang merupakan kaki palsu, tak lagi menjadi halangan berarti.
Syam sangat tidak terima, sang putri sampai mendengar suara ledakan peluru. Hasna sudah langsung menangis ketakutan. Terlebih tadi Syam melihat sendiri, lokasi temba-kan dengan Hasna sangat dekat.
Terjadi kejar-kejaran antara pelaku penemb-akan dan Syam. Sesekali, pelaku tersebut melayangkan temba-kan. Namun, Syam yang telanjur geram meski kesehatannya sedang sangat bur-uk, selalu berhasil menghindar.
Syam ada di tengah-tengah atap, sementara pelaku ada di pinggir atap. Syam yang tak membawa senjat-a sengaja mengambil dua genteng dan melemparnya satu persatu.
Satu genteng mengenai kening pelaku, kemudian satu lagi mengenai leher pelaku. Sosok yang Syam yakini seorang pria itu berakhir terempas dan otomatis terjatuh ke halaman rumah belakang sebelah rumah Syam. Namun, bersamaan dengan itu, peluru yang telanjur melesat ke arah Syam, juga berakhir mengenai sekaligus lolos dari leher kiri Syam. Syam meringis, menggeliat kesakitan karenanya. Darah segar muncrat dari luka gores di leher kirinya.
Hanya saja, sosok yang Syam yakini seorang pria, nyatanya justru seorang wanita bertubuh semampai. Rambut panjangnya tergerai karena topi hitam yang menutupi kepala lepas. Ia tertatih-tatih, mencoba pergi dari sana. Sepanjang ia melangkah, luka di leher maupun kening terus menghasilkan dara-h segar.
“Kenapa kalian justru menjagaku? Harusnya kalian jaga-jaga pak Syam.” Cinta histeris karena terlalu mengkhawatirkan Syam.
Namun, baik Fia maupun Hans, menahannya. Keduanya tak mengizinkannya pergi dari kamar yang ada di lantai bawah. Padahal selain Hasna yang tak kunjung bisa berhenti menangis, Syam juga tengah terluka parah. Sudah sedang terluka parah, tapi sekarang juga sampai mengejar pelaku di atap.
Merasa frustrasi karena terus dihalang-halangi, Cinta berakhir jongkok dan tersedu-sedu. “Baru juga tenang, ... baru juga yakin semuanya akan baik-baik saja.”
Cinta memembenamkan wajah Hasna di dadanya. Ia masih berusaha menenangkan sang putri, seberapa pun kacau keadaannya yang sangat mengkhawatirkan Syam. Sungguh tidak Cinta sangka, bahwa hubungannya dan Syam, akan membuatnya tak ubahnya menjadi penumpang tetap kereta luncur. Anehnya, peluru dan temba-kan seolah sudah jadi hal biasa untuk Syam.
Fia dan Hans menjadi serba salah. Keduanya bertatapan, sebelum kembali sama-sama menjadikan keadaan Cinta sebagai fokus perhatian.
“Ibu, ...,” lembut Fia berusaha menenangkan Cinta. Setelah jongkok, ia juga merengkuh punggung Cinta menggunakan kedua tangannya. “Pak Syam akan jauh lebih baik-baik saja, jika beliau dibiarkan melakukan segala sesuatunya dengan leluasa.”
“Malahan andai kami menyusul dan beliau pasti mengkhawatirkan keadaan ibu maupun kak Hasna, hal tersebut akan membuat pak Syam tidak bisa konsentrasi,” lanjut Fia masih aktif bertatapan dengan Hans. Kemudian, rekannya itu juga membenarkan anggapannya.
“Iya, Bu. Apa yang Fia katakan benar. Karena adanya kami di sini memang untuk menjaga Ibu dan anak-anak!” ucap Hans.
“Yang diser-ang itu pak Syam, kenapa justru saya yang kalian jaga!” kesal Cinta sampai menatap murka kedua orang dewasa di kanan kirinya.
Fia dan Hans kembali bertatapan. Mereka khususnya Fia, terlalu takut menjawab.
Cinta masih menunggu balasan Fia maupun Hans, tapi seseorang mendadak datang. Sosok tersebut menerobo-s dengan kasar. Detik itu juga keadaan menjadi mencengkam. Fia segera pasang badan untuk Cinta maupun Hasna. Sementara di depan Fia, Hans sudah mengsung mengeluarkan pisto-lnya. Syam mengarahkan pist-olnya ke arah pintu yang perlahan terbuka.
“Innalilahi ya Allah, ini apa lagi?” pikir Cinta benar-benar sudah langsung ketakutan. Ia makin membenamkan wajah putrinya ke dekapannya, agar tangis putrinya tak sampai sekeras sekarang.
Di tengah suasana kamar yang memang temaram, sosok yang membuat mereka terjaga justru Syam. Hans sudah langsung menyimpan kembali pisto-lnya ke sisi pinggang kanannya. Ia buru-buru menghampiri Syam yang tertatih parah. Darah segar memenuhi kedua telapak tangan Syam, tapi ada yang mengalir juga dari leher kiri Syam.
“S-syam ... kamu terluka lagi?” Cinta sudah langsung cerewet. “Ayo kita ke rumah sakit atau setidaknya dokter. Dar-ahnya banyak banget!”
Sebagian dara-h Syam memang terus mengalir, menetes ke lantai dan meninggalkan jejak.
“Cek ke rumah sebelah. Dia dari saja. Tadi jatuh di halaman belakang sebelah!” ucap Syam. Matanya memang fokus kepda Hans, tapi tangan kanannya berusaha mengelus punggung Hasna.
Sampai detik ini, Hasna masih menangis. Sementara Hans sudah langsung pergi dari sana. Begitu juga dengan Fia yang sudah bergegas pamit untuk mengambil keperluan obat Syam.
Kini hanya menyisakan keluarga kecil Syam.
“Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Aku beneran harus tahu, agar aku tidak salah langkah. Agar aku juga tidak terus bertanya-tanya.”
“Cukup kasih tahu aku, aku pasti ngerti!” Cinta benar-benar memohon.
“Syam, aku khawatir. Lihat anak-anak. Setidaknya jika memang kamu enggak ingin aku ikut campur, setidaknya ayo jujur demi anak-anak!” mohon Cinta.
“Aku janji, aku akan selalu di sisi kamu, aku akan selalu bersamamu hingga akhir!” Cinta benar-benar berisik. Ia tak hentinya bertanya dengan nada cepat sekaligus tinggi.
“CUKUP! Cukup enggak usah ikut campur! Kamu enggak tahu apa-apa!” bentak Syam benar-benar emosional. Suaranya terdengar sangat mengerikan, bahkan di telinganya sendiri. Terbukti, Hasna makin sibuk menangis.
“S-syam ... tolong cukup kasih tahu!” mohon Cinta masih berlinang air mata.
Syam menghela napas dalam sambil menggeleng tak habis pikir. “Jangan karena dari tadi kita bersama, kamu jadi besar kepala.” Syam meledak-ledak.
Tangis Hasna juga jadi makin tidak terkendali.
“Aku tidak akan pernah mengubah keputusanku. Sampai kapan pun hubungan kita tak lebih dari status. Memangnya laki-laki mana yang mau mencintai wanita bur-uk rupa seperti kamu? Yang ada bukannya cinta, tapi justru ji*jik?!” ucap Syam makin meledak-ledak.
Detik itu juga Cinta sadar diri. Cinta memutuskan untuk diam seiring dadanya yang terasa langsung amblas. Langit kehidupannya seolah runtuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
sabar deh yg sedang jlni karma
2024-07-18
0
Muhammad Fauzi
sabar ya cinn...
ujian da cobaan menjadikan kita istri yg hebat
2024-03-16
1
Cinta Abadi
kok kaki palsu c athor peran utamanya...
2024-02-10
1