“Kalau kamu ingin aku fokus mengurus anak, kamu juga harus tahu apa yang membuat itu bisa terjadi! Paling tidak sediakan semuanya! Sediakan ART, biarkan mereka yang mengurus rumah, agar rumah ini layak ditempati. Biarkan mereka yang menyiapkan semuanya termasuk menyiapkan makanan bergizi!”
“Saking senangnya aku diratukan! Wanita mana yang tidak mau diratukan? Tidak ada!”
“Kamu beneran ingin aku hanya fokus mengurus anak? Aku beneran sanggup!”
“Jangankan hanya mengurus anak, memaafkan kejahata-nmu saja akan aku lakukan jika itu untuk anak-anak!” Sampai detik ini, Cinta masih meledak-ledak. Jahitannya sampai terasa pegal akibat emosi yang ia luapkan.
Balasan Cinta membuat Syam diam. Syam merasa bersalah, terlebih jika memikirkan anak-anaknya akan kelaparan tanpa asi dari Cinta.
“Jangan diam! Katakan sesuatu dan mari buat kesepakatan!” bentak Cinta. Ia sungguh tak takut diamu-k lagi. Ia sudah menjadikan itu sebagai warna dalam hidupnya.
“Kalaupun dalam hubungan kita kamu ibarat bosku. Kalaupun dalam hubungan ini, aku harus tund-duk kepadamu, memangnya kamu bisa memberi anakmu asi atau setidaknya kenyamanan?!”
“Sekadar emosi kamu saja, Hasna sudah langsung nangis dan itu sulit ditenangkan. Anak-anak bahkan paham, tapi kamu yang selalu merasa benar justru selalu membuat keadaan runyam!”
“Anak-anak butuh orang tua yang waras! Anak-anak enggak butuh orang tua yang haus pengakuan kesempurnaan!”
“Termasuk asi, makanan bergizi paling mahal sekalipun, enggak menjamin bisa melancarkan asi, jika ibu menyusuinya saja enggak waras!”
“Sementara aku, ... kamu pikir aku bisa waras jika setiap saat selalu kamu tinda-s?!”
“Aku ini wanita yang sudah mengandung kemudian melahirkan anak-anakmu! Andaipun kamu tidak bisa mencintaiku, paling tidak manusiawi lah ....”
“Ayo sama-sama bahagiakan Hasna dan Hasan. Toh, jangankan menuntut ini itu, menuntut tanggung jawab, atau setidaknya minta setetes air minum untuk aku konsumsi secara pribadi ke kamu saja, aku enggak!”
“Kalaupun kamu merasa adanya aku dan anak-anak terlalu berat, ... LEPASKAN KAMI!”
“Lepaskan kami, sementara mengenai uangmu yang sudah dipakai untuk kami, aku pastikan akan kembali. Aku akan mengembalikannya!” Cinta benar-benar geregetan.
“Karena andai mereka yang menjadi alasanmu memenjarakanku tahu kelakuanmu kepadaku, mereka pasti marah!”
“Mereka marah karena mereka orang-orang baik! Kamu saja yang salah jalan! Andai aku tidak memikirkan perasaan sekaligus ketentraman mereka, sudah aku laporkan ulahmu kepada mereka!”
Syam yang dituntut perpisahan, sudah langsung panik. Terlebih ketika Cinta sudah langsung pergi detik itu juga meninggalkannya.
“Ayo ngomong! Ayo minta maaf!” Hati kecil Syam berusaha menasehati, tapi Syam terlalu gengsi hingga yang ada, lidahnya tetap saja kelu.
Beruntung, kedua kaki Syam masih bisa untuk melangkah. Syam buru-buru menyusul Cinta. Hanya saja, sampai akhirnya Cinta naik ke lantai atas bahkan wanita itu masuk ke kamar Hasna, bibir Syam tetap tertutup rapat.
“Bisa-bisanya ada manusia seperti Syam. Itu manusia, atau memang robot kesuru-pan?!” sedih Cinta dalam hatinya. Ia sengaja mengunci kamar Hasna dari dalam.
Di dalam tabung inkubator, Hasna masih sangat anteng. Alasan yang juga membuat Cinta bisa meluapkan emosi sekaligus kesedihannya melalui tangis. Saking emosinya, Cinta tak lagi merasa lapar. Hanya tenggorokannya saja yang terasa sakit dan itu efek kurang minum. Meski pada akhirnya, Cinta juga jadi ketiduran, meringkuk di lantai depan pintu kamarnya.
Malamnya, Cinta terbangun karena merasa ada aktifitas mencolok di luar kamarnya. Malahan, ada yang sampai mengetuk-ngetuk pintu kamar keberadaannya.
“Bentar, itu siapa? Namun harusnya, ini bukan mimpi,” batin Cinta kemudian refleks mencubit pipinya sendiri.
Karena cubitan yang ia lakukan terasa sakit, selain Cinta yang makin penasaran, kenapa mendadak ada orang lain, wanita bercadar biru gelap itu sengaja memastikan. Tak disangka, memang ada orang lain. Seorang wanita dan kiranya hanya dua tahun lebih tua dari Cinta. Sosok tersebut yang mengetuk pintu dan membawa satu nampan hidangan lezat untuk Cinta.
“Selamat malam ibu Cinta. Perkenalkan, nama saya Fia. Pak Syam meminta saya dan beberapa rekan saya untuk membantu Ibu Cinta. Jadi, apa lagi yang ibu butuhkan? Kami akan selalu ada untuk Ibu selama 24 jam!” ucap wanita itu benar-benar santun.
Cinta menatap heran wanita berseragam panjang warna hitam di hadapannya, dan mengaku bernama Fia.
“Memangnya, pak Syam ke mana?” tanya Cinta.
“Pak Syam sedang mengawasi dek Hasan di rumah sakit,” ucap Fia.
Menyimak itu, Cinta sengaja keluar untuk memastikan. Sesuai saran Cinta, Syam membuat rumah mereka disertai pekerja untuk membantu Cinta. Dari urusan beres-beres, maupun memasak agar Cinta bisa fokus mengurus Hasna. Rumah mereka jadi terasa jauh lebih hidup. Beberapa lampu dinyalakan, ada beberapa buket bunga juga hingga menjadi aroma terapi khusus di sana.
Hanya saja, Cinta mendadak kehilangan nafsu makan. Cinta merasa sangat stres.
“Ibu Cinta mau disiapkan apa lagi?” santun Fia, sampai detik ini masih terjaga di sebelah Cinta.
Cinta menggeleng karena selain jadi tidak lapar bahkan sekadar haus, ia juga merasa sangat setres.
“Ibu Cinta baik-baik saja?” tanya Fia khawatir lantaran kali ini, wanita yang harus ia laya-ni itu justru menangis.
Pertanyaan dari Fia yang sebenarnya merupakan pertanyaan lumrah, langsung membuat hati Cinta terenyuh. Bagi Cinta yang mendadak haus perhatian, kenyataan tersebut ibarat bagian dari apa yang ia butuhkan. Tangis Cinta menjadi pecah seiring wanita itu yang menggeleng, menatap Fia dengan tatapan memelas.
“Ini aku kenapa, kenapa aku jadi sesedih ini? Kenapa rasanya sakit sekali?” batin Cinta merasa sangat berat. Kenyataan tersebut terjadi karena Cinta merasa harus berjuang sendiri.
Cinta bahkan jadi menangis selepas-lepasnya ketika dirinya mendapatkan pelukan dari Fia.
Tak lama kemudian, Cinta menyadari dirinya mengalami baby blues. Namun Cinta juga mendadak berpikir, membiarkan Syam menjadi suami zali-m, bukan hanya berdampak buruk pada anak-anak maupun hubungan mereka. Namun, itu juga akan berdampak buruk untuk mereka khususnya Syam saat di akhirat.
“Mau seperti ini sampai kapan?”
Sampai detik ini Cinta masih menangis. Ia terdiam memandangi sang putri di depan inkubator. Sementara makanan dan sajian yang memenuhi meja di sebelah, ia biarkan begitu saja. Cinta benar-benar tidak lapar. Dipaksa makan agar biaa menghasilkan asi pun, yang ada Cinta muntah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Nancy Nurwezia
semangat cinta.. ingat Hasna dan Hasan aja..
2023-12-14
1
Sugiharti Rusli
kasihan yah Cinta, ga ada teman berbagi tuk mengatasi baby blues nya, yang akan bisa berdampak buruk ke anak" nanti
2023-12-14
2
Firli Putrawan
😭😭😭kasian cinta sabar y
2023-12-10
0