“Bentar ya ... sabar sebentar lagi. Asi Mama belum banyak, tapi sebentar lagi pakde datang bawa jamu biar asi Mama lancar,” bisik Cinta kepada Hasna yang masih menempel di dadanya.
Meski Cinta berbicara berbisik-bisik, Syam yang bisa melihat melalui suara layaknya kelelawar, langsung meliriknya bengis sekaligus curiga. “Siapa? Pakde siapa?!”
Bisa Syam pastikan, yang Cinta sebut pakde itu seorang laki-laki.
Cinta yang awalnya sudah merasa sangat damai karena Syam juga sudah mulai manusiawi bahkan perhatian, lagi-lagi jadi deg-degan. Kali ini Cinta langsung kembali ke perasaan awalnya kepada Syam, yaitu takut.
Namun, belum sempat menjawab dan mata mereka masih bertatapan, ketukan pintu yang terdengar sangat santun, ditambah salam yang lebih dari santun, mengusik mereka.
“Assalamualaikum ...?”
Suara laki-laki itu kembali terulang dan memang tak hanya sangat sopan untuk didengar. Sebab, suara tadi dan pada akhirnya membuat Cinta sengaja berseru membalas dengan tak kalah santun, justru merupakan suara si pakde.
“Masuk Pakde ....”
“Hah! Kamu mengizinkan laki-laki lain selain aku masuk?!” kesal Syam.
Seketika itu juga, Cinta menjadi serba salah. “Sebentar, alasan Pakde ke sini untuk mengantar jamu agar asi aku lancar. Agar anak-anak enggak kelaparan!” yakinnya berbisik-bisik.
“Kenapa harus pakde?!” protes Syam sampai mendekati Cinta, dan ia sangat geram.
“Memangnya siapa lagi? Memangnya kenapa? Dia tulus, orangnya baik. Santun banget orangnya. Nanti lihat sendiri, deh.” Cinta meyakinkan dan sampai detik ini masih berbisik-bisik.
Setelah terdiam sejenak merenungi tampang si pakde dari suaranya yang merdu dan memang sangat santun, Syam berkomentar, “Kalau dari suara, harusnya masih muda.”
Cinta menghela napas pelan, berusaha bersabar menghadapi Syam. “Kenapa harus memandang kebaikan seseorang dari usianya, sih? Memangnya sejak kapan ada aturan macam itu?”
Syam nyaris membalas dengan dalih kebenaran versinya, tapi yang mereka bahas sudah telanjur masuk.
“Assalamualaikum, Bun? Masyaallah akhirnya si kembar lahir juga.”
Sosok yang Cinta panggil pakde, merupakan pria berwajah tampan khas orang yang taat beragama. Tampangnya mirip orang-orang yang bekerja di pesantren milik pak Helios. Malahan, Syam yang detik itu juga pergi dari sana, merasa kenal atau setidaknya pernah bertemu sebelumnya.
“Siapa?” tanya si pakde, pria bernama Ilham. Ia merasa heran sekaligus ngeri dengan gaya Syam. Sudah penampilannya misterius serba hitam, pergi pun tak ada sopan santunnya meski untuk basa basi.
Ada alasan kenapa Cinta bisa berurusan dengan pakde Ilham. Keduanya sama-sama pengurus TPQ di desa mereka tinggal. Namun dari semua alasan selain mereka memang tinggal di desa yang sama, di masa lalu, mereka sama-sama pernah merasakan dinginnya kehidupan di balik jeruji besi. Iya, tebakan kalian benar. Ilham ini merupakan mantan Arimbi, pria pemuja wanita suci yang kini sudah berhijrah juga.
Kini, Syam yang keluar begitu saja membuat sang istri berduaan dengan pakde Ilham, justru menyesali kenyataannya. Terlebih mendengar obrolan lirih nan lembut dari keduanya, tubuhnya terasa dipanggang. Syam marah, tak terima hingga ia memutuskan untuk kembali masuk. Ia sengaja menghalangi Syam, agar pria itu tidak bisa dekat-dekat dengan Cinta.
Pakde Ilham yang mendadak diterobos oleh Syam, langsung kebingungan.
“I-ini, ada apa, ya?” panik pakde Ilham nyaris jatuh lantaran Syam mendadak berdiri persis di depan wajahnya. Tubuh mereka saja sampai menempel andai ia tak bergegas pergi.
“Alasanmu ke sini buat antar jamu, kan? Sudah langsung taruh saja jamunya. Jangan hobi menjadi duri dalam hubungan orang!” tegas Syam sambil bersedekap. Ia menatap bengis pakde Ilham yang bisa ia pastikan sudah langsung ketakutan kepadanya.
“Aduh, ini si Syam kenapa, sih?” batin Cinta ketar-ketir karena meski kepada pakde Ilham, Syam berbicara dengan berbisik-bisik, ia tetap masih bisa mendengarnya.
“Sebentar, ini sebenarnya ada apa?” ucap pakde Ilham masih panik. Kedua matanya jadi sibuk berkedip karena biar bagaimanapun, Syam memang sangat garang.
Wajah Syam memang tidak menyeramkan. Tidak juga sampai caca-t, tapi sikapnya yang seolah tak mau kalah bengis dari malaikat maut, kenyataan itu yang membuat pakde Ilham takut.
“Mohon maaf Pakde, ... ya sudah, taruh saja jamunya di meja. Sekali lagi, terima kasih banyak. Maaf merepotkan—” Cinta mendadak bengong lantaran Syam mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan diberikan kepada pakde Ilham.
“Enggak usah merasa berhutang budi karena aku sudah membayarnya!” tegas Syam, meski pada akhirnya, pakde Ilham pergi tanpa menerima uangnya.
Kepergian pakde Ilham membuat Syam buru-buru meraih satu kantong yang menyertai dua botol jamu di meja. Syam memastikan isi dari kantong terbilang besar itu. Selain berisi beberapa pakaian bayi, ternyata sampai ada gamis lengkap dengan cadar juga.
“Kamu beli pakaian lewat dia?” sengit Syam sambil melirik Cinta.
Cinta yang kebingungan dengan perubahan sikap Syam, berangsur menggeleng. Namun, belum juga sempat menjelaskan atau setidaknya membalas Syam, satu kantong yang pakde Ilham bawa, sudah Syam buang ke tong sam-pah di sebelah mereka.
“S-syaaam ... jangan asal buang begitu!” tegur Cinta sampai detik ini masih menjaga suaranya agar tidak mengusik Hasna.
“Kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan seseorang untuk bisa memberi ke orang lain termasuk memberi ke anak-anak kita. Insyaalloh dia ikhlas!” yakin Cinta.
Balasan dari Cinta yang bagi Syam sama saja pembelaan untuk pakde Ilham, refleks membuat tatapannya dipenuhi amarah. “Dia sudah menikah?!” Ia menatap tajam kedua mata Cinta yang sampai detik ini jadi mau menatapnya.
“Sudah, tapi dia memang seorang duda!” balas Cinta masih dengan suara tegas.
Detik itu juga emosi Syam meluap. Syam meraih satu botol kaca berisi jamu di meja. Ia nyaris menghanta-mkannya ke Cinta, tapi Cinta sengaja membungkuk dan jelas berusaha melindungi Hasna yang masih di dadanya.
“Apa pun alasannya, tolong jangan dibuang. Lebih baik diberikan ke orang yang membutuhkan. Ingat, karma nyata. Jangan sampai, kita yang sudah diberi nikmat kesehatan anak-anak, bahkan Hasna sudah boleh pulang, kembali bikin Alloh marah karena apa yang kita lakukan.” Cinta masih berusaha mengarahkan Syam.
“Kalau kamu mau mengamu-k, am-uk aku saja. Jangan melibatkan yang lain. Baik anak-anak, maupun pakde ...,” lanjut Cinta lantaran Syam masih saja diam menatapnya penuh amarah.
Seolah bisa merasakan perseteru-an orang tuanya, Hasna yang awalnya tenang, mendadak menangis. Tangis yang tidak bisa ditenangkan, hingga Cinta nekat menarik sebelah tangan Syam. Cinta membuat dirinya dan Syam, sama-sama menyentuh punggung Hasna.
“Sudah ... Kakak jangan sedih lagi. Mama selalu memaafkan P-papa ... meski dia enggak pernah merasa bersalah apalagi meminta maaf,” lirih Cinta berusaha menenangkan sang putri.
Sampai detik ini, Cinta masih menahan tangan Syam untuk tetap sama-sama mengelus-elus Hasna. Syam sendiri tidak keberatan dan malahan beranjak duduk di sebelah Cinta. Sebab kebersamaan mereka sungguh membuat Hasna anteng.
Syam memberanikan diri untuk melongok wajah Hasna hingga otomatis, ia membuka kain penutup dada Cinta. Karena Hasna sudah tidur, Syam sengaja menarik tangannya dari Cinta. Namun di luar dugaan, ulah Syam tersebut, kembali membuat Hasna menangis. Detik itu juga Syam menggenggam tangan Cinta, kembali sama-sama menenangkan Hasna. Ajaibnya, bayi mungil itu beranjak tenang.
Tanpa direncanakan, tatapan Syam dan Cinta berakhir bertemu. Detik itu juga keduanya jadi sibuk menepis. Keduanya kembali salah tingkah, canggung.
Novel pakde Ilham : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
azka myson28
pakde ilham sudah jadi ustads beneran..alhamdulillah yaa
2024-06-12
0
Ida Ulfiana
oalh ni si ilham mantan arimbi ta cie d panggil pakde
2024-05-28
2
Mama lilik Lilik
oaalah..jadi inget Thor talak di malam pertama yaa,👍
2024-02-21
2