“Kalian harus kuat! Bukan berarti Papa akan meminta kalian untuk bekerja keras. Namun karena Papah sudah tidak sabar untuk membahagiakan kalian!” batin Syam.
Dari kaca pintu ruang NICU, Syam berlinang air mata mengawasi kedua anaknya. “Papah pastikan, kalian akan merasakan kebahagiaan yang belum pernah Papah rasakan. Kebahagiaan yang selama ini sangat Papah bahkan semua anak inginkan!” batin Syam lagi. Tekadnya membahagiakan anak-anaknya sudah sangat bulat. Karenanya ia berharap, anak-anaknya segera sehat. Ia berharap anak-anaknya, khususnya putranya yang pernapasannya masih bermasalah, segera bebas dari semua rasa sakit.
“Biar Papah saja yang sakit. Kalian jangan pernah sakit!” Terlebih dari kecil, Syam sudah terlalu sering sakit. Syam tahu bagaimana rasanya luka-luka itu. Luka-luka yang tak semua orang akan merasakannya, hingga ia tak rela jika anak-anaknya sampai merasakannya.
Di tempat berbeda, Cinta masih memompa asi. Asi yang ia hasilkan belum terlalu banyak. Hanya ada enam puluh mili, dan itu benar-benar sudah ia pompa maksimal.
“Permisi, selamat siang?” sapa seorang suster yang baru datang dan memang sangat santun.
Cinta yang awalnya tengah menatap sedih botol asinya, langsung terusik. Cinta refleks tersenyum canggung kemudian menatap sang suster.
Sebenarnya memang tidak ada yang perlu Cinta khawatirkan. Namun terhitung sejak dipenjara, Cinta yang jadi merasa hi-na, sengaja menutup diri. Cinta jadi tidak biasa berinteraksi dengan orang lain apalagi orang asing.
“Wah ... sudah ada asi untuk Hasna dan Hasan?” ucap si suster mendadak heboh.
“Hasna dan Hasan? Maksudnya si suster apa? Dia salah orang apa gimana?” pikir Cinta sengaja merapikan pompa asinya.
Cinta sengaja membagi enam puluh mili asi yang ia hasilkan menjadi dua dot kecil.
Ternyata, Hasna dan Hasan menjadi nama yang Syam berikan kepada anak kembar mereka. Syam mengambil semua keputusan tanpa izin maupun sepengetahuan Cinta. Cinta mengetahui kabar tersebut dari suster yang tengah memeriksa keadaan Cinta.
“Kasih nama pun, Syam enggak bilang-bilang. Atau memang belum?” pikir Cinta yang memang berniat untuk memastikannya. Namun sekali lagi, Cinta mengapresiasi antusias suaminya yang sangat peduli kepada anak kembar mereka.
“Enggak apa-apa, Bun. Biasanya awal-awal, kebanyakan ibu yang baru melahirkan memang baru bisa menghasilkan sedikit asi. Namun makin sering menyusui maupun memompa, insyaallah, asinya akan makin lancar bahkan makin melimpah!” ucap si suster lantaran Cinta yang sampai saat ini masih memakai cadar, tampak sangat sedih memandangi dua botol dot berisi asinya.
Cinta mengangguk-angguk. “Iya, Sus. Terima kasih banyak. Sebentar lagi, saya coba pompa lagi biar makin lancar. Syukur-syukur, saya juga bisa segera menyusui secara langsung.”
Mendengar itu, sang suster langsung tersenyum haru. “Insyaallah, segera yah, Bun. Alhamdullilah, dijagain papanya, kemajuan mereka beneran sangat pesat! Insyaallah juga, dukungan dari papah anak-anak, juga bikin asi Bunda melimpah!”
Disinggung dukungan Syam kepadanya, Cinta langsung kikuk. Dukungan? Jangankan dukungan, di setiap bertemu apalagi bersama saja, Syam seolah sangat ingin menerk-amnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Cinta benar-benar langsung kembali mencoba memompa asinya. Namun, alih-alih lancar, ia yang justru kesakitan, justru mendapati asi hasil pompanya sampai disertai dara-h.
“Innalilahi, ini bagaimana? Aman, enggak? Ini asiku enggak sehat apa gimana?” tangis Cinta langsung panik. Cinta sungguh ketakutan.
Tak memiliki bekal pengalaman, atau setidaknya bimbingan dari orang yang berpengalaman, benar-benar membuat Cinta layaknya tersesat di tempat asing.
Yang membuat Cinta terkejut bukan main, kedatangan seseorang dan ternyata itu Syam, sampai membuat pintu ruang rawatnya terban-ting.
“Maksud kamu cuma kasih asi sedikit itu, ke Hasna dan Hasan apa?!” marah Syam makin membuat Cinta yang tengah menangis, gemetaran. Namun, ia sama sekali tidak peduli. Karena sampai kapan pun, baginya air mata Cinta hanya air mata ibli-s.
“Manusiawi sedikit, bisa, kan? Ini saja masih aku coba. Namun makin dicoba, justru sampai ada darahnya. Andai aku bisa kasih banyak, pasti aku kasih semuanya. Buat apa aku perhitungan ke anak, apalagi aku tahu, mereka beneran mengandalkan aku!” tangis Cinta. “Coba sekarang, pakai uangmu buat mendapatkan asi terbaik untuk anak-anak, bisa enggak?!” Cinta merasa sangat kacau dan berakhir sibuk Istighfar. Istighfar yang jadi makin cepat, ketika ia menyadari, bahwa ia belum sempat menutup dadanya. Cinta yang yakin Syam sampai melihat bagian di sana, buru-buru memunggunginya.
“Terus, ... bagaimana caranya agar kamu bisa menghasilkan banyak asi?” sergah Syam benar-benar serius. Namun, Cinta yang tetap memunggunginya, tidak memberinya jawaban pasti. Cinta hanya ia dengar tersedu-sedu.
“Aku mohon, tolong lebih manusiawi lagi. Sekarang yang mons-ter bukan lagi, aku. Namun justru kamu,” ucap Cinta dengan suara berat dan tetap memunggungi Syam.
Seperti sebelumnya, kali ini Syam juga hanya diam. Karena jarak keberadaan mereka yang hanya terpaut dua meter, ia masih bisa mendengar sesenggukan Cinta dengan sangat jelas.
“Kamu sudah kasih anak-anak nama? Aku benar-benar berterima kasih. Namun ke depannya, ayo biasakan bahas semuanya sama-sama sebelum mengambil keputusan,” ucap Cinta tanpa perubahan berarti.
“Biar bagaimanapun, kita sudah menikah. Jadi sampai kapan pun, orang tua Hasna dan Hasan, bukan hanya aku. Orang tua mereka bukan hanya kamu. Karena orang tua mereka, kita. Mereka tidak hanya butuh salah satu dari kita. Mereka beneran butuh kita sepenuhnya. Kita harus merawat mereka, bersama-sama.” Cinta tulus mengatakan itu. Ia rela mengubur egonya. Ia rela melawan trauma yang Syam torehkan kepadanya.
“Pernikahan kita berbeda!” ucap Syam terdengar berat. Syam menunduk dalam.
Detik itu juga Cinta mengernyit. “Berbeda?” batinnya jadi menerka. Namun, bukan hal baik yang seketika menghiasi benaknya. Melainkan sebaliknya.
“Alasanku menikahimu bukan karena aku mencintaimu apalagi sangat mencintaimu. Alasanku terus memaksamu menikah denganku juga bukan karena aku peduli.”
“Belum apa-apa sudah sesakit ini, ya Allah,” batin Cinta jadi kerap menahan napas. Air matanya masih berlinang membasahi cadar.
“Alasanku menikahimu, murni agar kamu tidak meru-sak rumah tangga bos Helios maupun rumah tangga Akala lagi. Mereka sudah sangat bahagia. Jadi tolong tahu diri!”
“Setelah tahu alasanku, harusnya kamu tidak lagi berharap kepadaku. Karena meski sudah ada Hasna dan Hasan, semuanya tidak ada yang berubah!” tegas Syam. Tak mau berurusan lama-lama dengan Cinta, ia sengaja buru-buru pergi dari sana. Seperti kedatangannya, ia juga sampai membuat pintunya terbant-ing.
Alasan Syam benar-benar membuat mental Cinta terluka. Cinta makin sulit menepi dari tangis apalagi kesedihannya. Namun Cinta yang sadar diri, bahwa masa lalunya telanjur membuatnya hina, berusaha menerima.
“Dulu, aku menyia-nyiakan Akala yang begitu lembut dan selalu tulus kepadaku, hanya karena Akala tak sekaya Helios. Lalu, aku juga menyia-nyiakan Helios yang selain kaya tapi juga bucin akut kepadaku, hanya karena dia caca-t. Namun sekarang, aku justru dapat Syam, dan aku sadar, ini karma nyata yang aku dapatkan dari segala kesalahan fatalku di masa lalu.”
“Jadi, bagaimana caranya agar mereka khususnya Syam yakin, aku benar-benar sudah berubah? Bagaimana caranya agar aku bisa membuat mereka yakin, tapi di mata mereka aku tetap selalu salah?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Bunda Aish
ujian untuk orang yang bertobat... sabaaar 😢
2024-01-29
2
Ketawang
berlinanglah air matakuuuu😭😭😭
2024-01-12
1
Nurhartiningsih
nyesek banget
2024-01-01
0