Hanya berdua dengan Syam, membuat Cinta benar-benar ketakutan. Sampai sekarang, meski sepuluh menit telah berlalu, Cinta belum berani menatap Syam. Bahkan sekadar melirik, Cinta belum berani melakukannya. Karena jangankan menatap atau setidaknya melirik, bernapas saja jadi sengaja Cinta jaga.
Cinta jadi kerap menahan napas dan itu membuat keringat dinginnya makin aktif keluar. Semua kenyataan tersebut terjadi karena Cinta terlalu takut, selain Cinta yang memang telanjur trauma pada apa yang Syam lakukan kepadanya.
Urusan dicek-ik kemudian dibant-ing, Cinta masih bisa mengatasi ketakutan untuk kedua kenyataan tersebut. Namun, fakta bahwa Syam sampai meruda-paksa Cinta, sungguh bukan hal yang bisa Cinta maafkan apalagi lupakan begitu saja.
Setelah lima belas menit berlalu, dan ada dua orang pria yang membantu, Syam berangsur mendatangi Cinta. Sebuah map berwarna biru pria itu berikan dengan cara dilempar ke pangkuan Cinta.
“Tanda tangani itu. Wajib ada hitam di atas putih lengkap dengan materai. Agar kamu tidak seenaknya pergi, apa lagi berani membawa anak-anakku pergi!” sengit Syam yang masih menatap Cinta penuh kebencian.
Di ruang rawat Cinta dan kebetulan hanya berisi satu pasien yaitu Cinta, kebersamaan itu terjadi.
“Sampai ada kesepakatan?” batin Cinta jadi bertanya-tanya, maksud Syam mengajaknya menikah. Kenapa sampai ada kesepakatan?
“Apakah karena Syam telanjur tidak bisa percaya kepadaku dan itu masih berkaitan dengan masa laluku?” pikir Cinta yang awalnya bermaksud membaca berkas-berkas di dalam map.
Namun, dengan keji Syam berkata, “Jika kamu memang peduli kepada anak-anak, harusnya tidak perlu mempermasalahkan semua syarat itu. Bahkan sekadar membaca harusnya juga tidak perlu!”
Mendengar itu, Cinta merasa terta-mpar. Hatinya seperti dicab-ik tanpa henti. “Kamu berani bilang begitu setelah apa yang terjadi dan kamu tahu?” Cinta benar-benar kesal kepada Syam. Air matanya jatuh membasahi cadar seiring tatapan tak habis pikirnya yang menjadi menatap Syam. “Ini kamu sadar, kan? Atau kamu memang masih kesuru-pan ...?!”
“Kalau begitu, ... kalau begitu sekarang aku juga ingin tanya ke kamu. Jika memang kamu tulus ke kembar, kenapa sampai ada surat perjanjian ini?!” kesal Cinta.
“Memangnya kamu bisa membayar trauma yang aku alami dan itu karena perbuatan bej-at kamu? Kamu bisa membayar semua pengorbananku ketika mengandung mereka dan itu benar-benar penuh drama? Kamu bisa membayar proses persalinan yang membuatku bertaruh nyawa, merasakan sakitnya jahitan berulang dan sakitnya masih sangat terasa hingga sekarang?”
“Dua kali proses persalinan dan itu dalam waktu berdekatan! Andai aku tidak ingat anak-anak, aku pasti masih sekarat bahkan mungkin sudah mati!” lirih Cinta dengan emosi yang masih tinggi.
“Semua tagihan dari rumah sakit langsung aku bayar dengan mudah, Apakah itu belum cukup menjadi bukti?!” Syam langsung meledak-ledak.
“Dan setelah apa yang terjadi, kamu pikir aku tidak pernah mencarimu? Menurutmu, apa alasanku masih ada di sekitar wilayah ini, sementara harusnya aku di Jakarta?!” lanjut Syam masih meledak-ledak.
“Jangankan biaya rumah sakit dan semua proses yang kamu alami, harga dirimu saja bisa aku beli! Namun karena aku tahu, wanita pendo-sa sepertimu sudah tidak memiliki harga diri, jangan salahkan aku jika sampai kapan pun, aku tidak bisa baik kepadamu!” sergah Syam meledak-ledak karena memang tak mau diusik.
Cinta yang masih menatap Syam penuh air mata, refleks menggeleng tak habis pikir. “Seluruh ibu terlebih wanita yang sudah mengandung sekaligus melahirkan kamu, langsung menangis darah jika mereka tahu!” tegasnya di tengah dadanya yang menjadi bergemuruh menahan amarah. Amarah yang harus terus ia tahan karena sampai kapan kapan pun, hukum dalam hubungan mereka mewajibkannya tunduk kepada Syam.
“Ya Allah, ... memangnya hamba sekuat ini? Jika memang hamba sekuat ini, ... bismilah, hamba ikhlas,” batin Cinta sembari menandatangani semuanya seperti tuntutan Syam.
Melalui kesepakatan yang mereka tanda tangani, Syam sengaja membuat Cinta tidak bisa meninggalkannya lagi. Cinta juga tidak bisa membawa minggat anak-anak tanpa izin Syam. Karena jika itu sampai terjadi, Cinta akan berurusan dengan poli-si lagi.
Tak lama setelah kepergian Syam, pria itu kembali datang. Syam tak datang sendiri. Ada tiga pria berpenampilan rapi yang Syam bawa memasuki ruang rawat Cinta. Ternyata ketiga pria itu merupakan bagian dari penghulu yang akan menikahkan Cinta dan Syam.
“Walinya pakai wali hakim saja karena selain papamu sudah tidak ada, kakak kamu pun masih mendeka-m di penja-ra!” lirih Syam tepat di sebelah Cinta. Ia benar-benar tidak bisa bersikap baik kepada Cinta.
Mendengar itu, Cinta hanya diam dan memang menerima. Karena selain papa kandungnya sudah meninggal, kakak laki-laki Cinta memang masih harus menjalani huku-man di penjara.
Tak sampai melakukan persiapan, Cinta langsung setuju. Mereka melakukan ijab kabul di ruang rawat Cinta. Syam melakukan ijab kabul dengan lancar. Seperangkat alat sholat menjadi emas kawin pernikahan mereka.
Beres ijab kabul, semuanya beranjak pergi termasuk Syam sendiri. Tak ada pamit bahkan sekadar basa-basi yang Syam lakukan kepada Cinta. Termasuk kelanjutan hubungan mereka yang sudah sah di mata agama.
“Jangan pernah berharap. Karena di matanya, kamu benar-benar caca-t. Bukan hanya wajah kamu yang dia sebut bu-ruk rupa. Karena masa lalu kamu juga membuatnya menganggapmu sebagai wanita pendosa.” Hati kecil Cinta sengaja menasihati, dan detik itu juga Cinta langsung belajar untuk menerima.
Sampai dititik ini, Cinta masih merasakan sakit dari dampak melahirkan, tapi Syam sama sekali tidak peduli. Yang Syam pedulikan hanya anak-anak mereka.
“Itu sudah sangat alhamdullilah. Setidaknya dia peduli ke kembar,” lirih Cinta yang mendadak kelaparan. Namun, jangankan makanan, setetes air minum saja tidak ada di sana.
“Memangnya dia enggak mikir, ya? asi itu ada dari ibu yang menyusui. Ibu wajib makan dan minum, syukur-syukur bisa makan dan minum bergizi biar asi yang dihasilkan juga berkualitas,” heran Cinta.
Ia berangsur turun untuk meraih ranselnya yang masih terkapar di lantai sebelah ranjang rawat. Beruntung, ada yang mengantar jatah sarapan.
“Maaf yah, Bun, telat antar karena saya pikir, di sini belum ada pasien. Sementara dari atas juga baru dikasih tahu kalau di sini sudah ada pasien,” ucap petugas yang mengantar.
Cinta tersenyum sambil mengangguk. “Alhamdullilah, masih ada rezeki buat aku dan anak-anak. Namun setelah ini, aku wajib stok makanan dan minuman. Orang seperti Syam yang telanjur benci setengah mati ke aku, mana bisa aku andalkan.”
Yang Cinta syukuri, sebelum menjalani persalinan, ia juga sudah sempat membeli pompa asi. Tentunya, adanya dukun beranak yang ternyata masih di sana, membuatnya meminta bantuan wanita itu.
Stok makanan dan minuman sudah Cinta beli. Ia juga sudah menyelesaikan urusannya dengan dukun beranak yang sudah membantunya melakukan segala sesuatunya. Cinta sudah membayarnya, sebelum wanita itu pamit pulang.
“Mbak Cinta beneran enggak mau dibuatin jamu? Bagus buat badan maupun kelancaran asi, loh,” yakin dukun beranaknya kepada Cinta.
“Masalahnya uangku beneran pas-pasan. Sementara Syam, ... mana mungkin dia mikir. Andai pun sampai aku minta, ... urusannya pasti panjang. Ujung-ujungnya dia bakalan sibuk menghina, dan ini enggak baik buat hubungan kami!” batin Cinta sengaja tersenyum membalas setiap pertanyaan sang dukun beranak, meski sebenarnya, pikiran apalagi mentalnya sudah sangat kacau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
dirumah sakit harusnya dpt makan dong
2024-07-18
0
Animer's
pendosa yg berusaha memperbaiki diri lebih baik.daripada orang alim yg selalu sombong sana sini
2024-01-12
5
Ketawang
Apapun kesalahan Cinta d masalalu aq blum tahu krn blum baca novelnya🤭🙏🏻
Tp Cinta sdh brtaubat,mau brkorban mngandung & melahirkan anak"mu Syam...Gak adakah sdikit saja rasa kasihan d hatimu...
Nyesek bgt nih hati😭😭😭😭
Gak di dunia nyata atopun halu...
nama SAM nih bnr"😠😠
2024-01-12
1