“Pada kenyataannya, dia memang tidak bisa menerimaku. Bukan hanya karena masa laluku, tapi juga karena fisikku.” Ngilu, rasa itu Cinta rasakan sangat kuat di dadanya. Rasa yang terus membuat air matanya berjatuhan membasahi cadar.
“Hubungan kami tak lebih dari status orang tua yang harus selalu ada untuk anak-anaknya. Sekarang aku paham apa yang harus aku lakukan. Syam tipikal pria yang memandang seseorang khususnya seorang wanita dari latar belakang sekaligus fisik. Bismillah, kamu selalu sehat, Syam. Aku juga akan selalu berdoa, aku maupun anak-anakku selalu sehat. Karena pada kenyataannya, ada di posisi kami sangat todak mudah.
“Bismillah, apa pun yang terjadi, kamu tetap papa dari si kembar. Semoga kamu senantiasa sehat dan menjadi orang yang lebih baik.” Cinta sudah bisa menempatkan diri. Wanita itu tak lagi memakai hati. Cinta akan selalu menutup hatinya, bahkan andai sampai terjadi adegan manis antara dirinya dan Syam dalam mengurus anak mereka sekalipun.
Bahkan meski kini Cinta harus lewat, atau ada di tempat sama dengan Syam, Cinta memilih diam. Jangankan mengajak komunikasi, melirik saja, Cinta tak melakukannya kepada Syam.
“Syam memandangku hin-a karena aku tidak punya apa-apa. Selain, aku yang memang tunduk kepadanya karena nasib anak-anak sudah ada di tangannya.”
“Namun, mungkin jika aku cantik, Syam bisa menerimaku. Hanya saja itu mustahil. Karena cantik juga butuh modal. Modal materi maupun perhatian. Otomatis mustahil juga aku bisa mendapatkannya karena sekarang saja, hidupku berasa di penjara.” Lagipula, Cinta juga berpikir, jika alasan Syam menerimanya karena kecantikan sekaligus kesempurnaan fisik, semua itu juga akan langsung hilang ketika Cinta tak cantik lagi.
“Semoga, cepat atau lambat aku bisa kembali bekerja.” Meski untuk hal ini, Cinta juga masih merasa mustahil. Karena jangankan bekerja, meninggalkan Hasna yang sedang tidur saja, atau Cinta yang ketiduran tidak siaga selama 24 jam untuk Hasna saja, sekarang Syam akan marah-marah.
***
Satu bulan dari pernikahan, dan otomatis itu juga menjadi hari di mana Hasan boleh pulang. Kendati demikian, Hasan masih harus menjalani kontrol kesehatan secara rutin.
“Alhamdullilah yah, Dek. Akhirnya kamu sudah boleh pulang. Jadi bisa bareng-bareng lagi sama kak Hasna yang cantik!” batin Cinta.
Cinta maupun Hasna tak sampai ikut menjemput Hasan secara langsung. Keduanya menunggu di rumah. Hanya Syam dan orang-orangnya yang menjemput Hasan. Satu lagi yang berbeda dari awal mereka di sana. Karena kini, hampir setiap sudut rumah sudah dipasang CCTV. Selain itu, keadaan di sana juga tak lagi disertai temba-kan atau setidaknya kerusuhan. Juga, Cinta yang memang memilih diam.
Terhitung sejak hari itu, hari di mana Syam menganggap jij-ik Cinta hanya karena wajah Cinta buru-k rupa, baik Cinta maupun Syam belum pernah bertegur sapa. Andai pun keduanya terlibat mengurus Hasna, keduanya kompak diam. Termasuk juga kepada pekerja di rumah, Cinta nyaris tak pernah berbicara jika bukan untuk urusan mendesak. Selama itu juga, Cinta benar-benar hanya berbicara dengan Hasna.
“Diam begini saja, dan lebih mirip pengasuh bayi, Syam sama sekali tidak menegur apa setidaknya kasihan. Padahal, hampir setiap saat bahkan tidur pun, aku melakukannya sambil duduk atau malah berdiri.”
Kepulangan Hasan membuat suasana rumah makin ramai. Tak hanya karena suara Hasna dan Hasan yang jadi kerap bersautan. Namun juga Syam yang jadi heboh. Syam tampak sangat bahagia bersama bayi kembarnya. Namun itu tidak berlaku bagi Cinta yang justru merasa layaknya orang asing. Cinta tak lebih dari pengasuh bayi, yang wajib menyumbangkan asi juga dan cukup dibayar dengan makan.
Siang yang agak terik ketika Syam yang baru beres makan siang di dekat si kembar pergi, ponsel Cinta berdering. Dering tanda telepon masuk yang hanya akan Cinta dapatkan tiga bulan sekali dan itu dari sang kakak yang masih ada di penjara.
Sembari menutup gorden tebal di setiap jendela agar kedua anaknya tidak kepanasan dan itu bisa membuatnya dimak-i Syam, Cinta menjawab teleponnya.
Cikho kakak Cinta memang tidak memiliki ponsel pribadi, tapi Cikho biasa menghubungi Cinta menggunakan ponsel penjaga di lapas.
“Assalamualaikum, Kak?” ucap Cinta.
“Waalaikumsalam, Ta. Loh, kok ada suara bayi? Memangnya kamu lagi di mana? Kamu enggak kerja?” balas Cikho dari seberang.
Layaknya Cinta, kini Cikho yang masih harus menjalani masa huku-mannya di penjara juga sudah berhijrah. Terlebih setelah tahu mantan istri dan anak semata wayangnya sudah bahagia dengan rumah tangga sekaligus keluarga barunya.
Terlepas dari semuanya, sejauh ini, Cinta memang merahasiakan keadaannya. Cinta tidak pernah menceritakan mengenai dirinya yang pernah diperk*osa hingga hamil, kemudian berakhir menjadi pengasuh untuk anaknya sendiri. Bahkan kepada Cikho, Cinta tidak pernah menceritakannya. Malahan, Cinta justru lebih memilih menceritakan masa lalunya yang pernah dipenjara. Itu saja jika Cinta diminta melakukannya.
“Aku enggak mau anak-anakku sampai menanggung penghakiman dari orang-orang, hanya karena apa yang aku alami. Apalagi keadaan seperti kami sudah dianggap sebagai ai-b, meski pada kenyataannya, kami merupakan korban!” batin Cinta yang merasa sesak luar biasa jika mengingat semuanya.
“Sebenarnya ....” Cinta memutuskan untuk menceritakan keadaannya, tanpa menyebut dirinya yang sebelumnya sampai sengaja diper-kosa. Selain itu, Cinta juga tak sampai mengabarkan bahwa dirinya menikah dengan Syam.
“Oalah ... ya-ya syukur alhamdullilah kalau pada akhirnya kamu sudah menikah. Sudah punya anak, kembar juga, Ta. Duh, Kakak jadi terharu, nelangsa begini. Alhamdullilah akhirnya kamu bahagia juga!” ucap Cikho dari seberang.
Padahal, yang disyukuri dan didoakan yang baik-baik, malah berlinang air mata. Cinta bahkan sesenggukan, dan sengaja membeka-p mulutnya menggunakan tangan kiri yang bebas. Cinta berusaha meredam suara tangisnya.
“Berarti sekarang kamu sudah enggak kerja di kantin sama ngajar ngaji lagi, ya?” balas Cikho.
“Enggak, Kak. Makanya aku lagi pengin cari kerjaan sampingan. Buat tambah-tambah,” balas Cinta yang kemudian mengaku flu. Itu bisa membuatnya menepis kecurigaan Cikho yang pasti sadar bahwa kini, ia tengah menangis.
“Lah, ngapain cari kerjaan lain kalau kantin kamu saja selalu rame? Mending jualan di kantin lagi, kan? Kalaupun kamu jadi sibuk karena ada si kembar, sewa orang buat bantu asuh juga boleh.”
“Nah itu ... karena asa si kembar, suami enggak izinin aku kerja. Suami minta aku fokus urus anak-anak.”
“Nah ya udah kalau kayak gitu keadaannya. Biar suami kamu yang kerja, kamu fokus urus anak. Bukannya enak begitu? Suamimu yang kerja, terus kamu yang urus anak. Alhamdullilah kamu dapat suami yang tanggung jawab. Anak-anak keurus, kebutuhan kalian juga terpenuhi.”
“Andai seindah itu, tapi suamiku hanya menginginkan anakku. Aku tak lebih dari pengasuh anak-anaknya, Kak,” ucap Cinta berusaha tegar.
“Maksud kamu gimana?” Kali ini, suara Cikho terdengar syok.
“Yang sabar, ya. Di dunia ini memang enggak ada yang sempurna. Bismillah, semoga suamimu secepatnya berubah. Sayang, sudah ada si kembar. Namun andai dia berani KDRT, coba lapor ke polisi saja. Atau, ... tinggalkan saja buat pelajaran.”
Meninggalkan Syam? Cinta sungguh ingin melakukannya, tapi dirasa Cinta, itu mustahil. Sebab selama 24 jam waktu yang Cinta miliki, semuanya sungguh serba diawasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Wurry
Sebenarnya duluan yg mana nikahnya Syams-Cinta dgn Ojan-Rere? jd bingung gini..
Ojan kan nikahnya stlh Sepri-Suci yg sblmnya sempet kondangan di Akala-Nina..
Kupikir duluan Syams-Cinta, krn Rere nikah sm Ojan, si Adam udh gede bbrp thn bukan bayi, ternyt di cerita Cinta Syams, Rere mantan Chiko sdh nikah duluan
2024-01-30
1
Alya Yuni
Terllu goblok cinta
mkanya jdi prmpuan jngn mau di bodohin dah di prkosa di bohin dsar goblok
2024-01-09
1
❤️Rizka Aulia ❤️
kasian cinta hidupnya seperti itu
2023-12-28
0