Diizinkan menyentuh Syam, meski Syam sama sekali tidak mau meliriknya, membuat dunia Cinta seolah berhenti berputar. Seolah-olah, dalam kehidupan ini hanya berisi mereka. Malahan dengan sendirinya, Cinta jadi memperhatikan wajah Syam. Wajah yang perlahan ia hafal, melekat di ingatan bahkan sanubarinya.
“Dia suamiku ...,” batin Cinta.
Dalam diamnya, Syam yang memang cenderung menunduk, sebenarnya menyadari bahwa dirinya tengah diamati. Tentu pelakunya merupakan istrinya sendiri. Karenanya, ia sengaja bangun dan tak lagi duduk di kursi dekat keberadaan sang putri.
Syam berusaha bangkit dan bagi Cinta, suaminya itu sengaja menghindarinya.
“Tunggu!” Cinta sengaja memaksa, membuat Syam kembali duduk. Namun karena baik dirinya maupun Syam sama-sama memaksa, yang ada Cinta justru terjatuh di pangkuan Syam.
Lagi, dunia Cinta bahkan seorang Syam, seolah mendadak berhenti berputar. Kedua mata mereka yang bertatapan lekat menjadi saksi, bahwa dunia ini telah mereka kuasai.
“Dia istriku ... ibu dari anak-anakku. Seberapa pun aku membencinya, aku akan tetap melindunginya,” batin Syam sampai detik ini masih terpaku menatap kedua mata Cinta.
Fia dan Hans yang datang mendorong troli berisi perlengkapan medis, berangsur berhenti. Keduanya kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan. Mereka tak berani mengusik kebersamaan bos mereka.
“H-hazim ....” Bersin dari dalam tabung inkubator dan terdengar sangat menggemaskan, menjadi alasan kebersamaan di sana terusik.
Kebersamaan Cinta dan Syam memang menjadi dihiasi kecanggungan. Namun, ulah Hasna sukses membuat Cinta bahkan Syam, tersenyum. Kedua sejoli itu refleks mengawasi Hasna dengan senyum yang seolah tak akan pernah usai. Senyum yang juga sampai menular kepada Fia maupun Hans.
“Alhamdullilah, si Kakak bisa bersin juga. Tidurnya juga anteng banget. Berasa masih di dalam perut kayaknya. Jadi kangen dek Hasan,” lirih Cinta.
Mendengar nama Hasan disebut, Syam langsung bersedih. Ia refleks berdeham, kemudian memaksa Cinta untuk sepenuhnya menyingkir dari pangkuannya.
“Jahitanku ...,” lirih Cinta yang memang kesakitan. Ia melirik jengkel Syam yang sudah langsung menepisnya. Namun khusus untuk kali ini, Cinta yakin, ada ekspresi berbeda dari seorang Syam. Ekspresi khas orang peduli.
Kemudian, Hana dan Fia segera bertatapan. Melalui tatapan, keduanya berkode, kemudian kompak mengangguk. Setelah maju mendekati kebersamaan bos mereka, Hans segera menyapa Syam.
“Bos, biar saya yang urus operasinya,” ucap Hans.
“Hah ...? Perlengkapan kesehatan lengkap. Mereka punya? Berasa klinik bahkan rumah sakit. Rumah bidan saja belum tentu selengkap ini,” batin Cinta memang takjub, tapi juga curiga lantaran pekerja di sana dan tentu atas izin Syam, memiliki perlengkapan medis lengkap.
“Sebentar,” lirih Cinta yang segera membuka tuntas jaketnya.
Cinta langsung terkejut lantaran kedua lengan Syam, dan juga bahu kiri Syam, dihiasi peluru. “Siapa yang melakukan ini? Kamu berurusan dengan polisi?”
Cinta benar-benar mengkhawatirkan Syam, tapi pria itu kembali menyikapinya dengan dingin.
“Jangan berisik! Ini peringatan terakhir!” kecam Syam.
Kali ini, Cinta terpaksa diam. Ia hanya mengawasi kebersamaan di sana dengan saksama. Namun, perlengkapan medis yang Syam miliki, bahkan Syam bisa memasang infus, membuat Cinta bertanya-tanya mengenai siapa Syam sebenarnya. Sebab yang Cinta tahu, Syam bekerja sebagai pengawal.
“Semuanya kompak memanggil Syam, Bos. Bos perusahaan bodyguard? Namun, masa iya, sampai cekatan bisa urus hal medis? Syam bahkan bisa pasang infus, terus Fia dan Hans juga gitu. Ini mereka lagi operasi mengeluarkan peluru dari lengan dan juga bahu kiri Syam. Terus, kenapa juga Syam bisa kete-mbak? Tiga temba-kan. Maksudnya, Syam ternyata buronan, apa bagaimana? Buronan apa sekt-e sesa-t?” Dalam hatinya, Cinta makin sibuk bertanya. Mengenai Syam, juga pekerjaannya.
Setelah Fia dan Hans pergi, Cinta sengaja mendekati Syam lagi. Syam belum tidur apalagi sekarat, tapi tampaknya pria itu masih dalam pengaruh obat bi-us.
“Kamu mau makan?”
“Apa kamu mau minum?”
“Teh hangat manis sepertinya akan membuat kamu lebih nyaman.”
Cinta masih menunggu tanggapan Syam, tapi suaminya itu tak sedikit pun peduli. “Masa iya, aku harus tanya Helios? Nanti salah lagi,” ucapnya seiring air matanya yang berlinang. Ia berangsur jongkok, dan berakhir tersedu-sedu.
Cinta merasa frustrasi, tak kuat untuk sekadar membayangkan, bahwa papa dari anak-anaknya merupakan seorang buronan. Setiap saat yang mereka miliki akan dihabiskan dengan ketakutan. Dengan kata lain, setiap waktu yang mereka miliki juga akan dihantui oleh perpisahan.
“Yang seperti ini yang memang paling aku hindari. Andai aku peduli, dia pasti makin bergantung kepadaku. Terus begitu, padahal sebisa mungkin aku maunya jangan sampai melibatkan perasaan. Karena jika sampai iya, pasti rasanya lebih berat,” batin Syam.
“Lihat apa yang terjadi ke mas Helios ke mbak Chole, juga mas Excel ke mbak Azzura. Akan jadi apa jika aku meninggalkan dunia mafia ini. Anak dan istriku bisa berakhir dibant-ai musuh!” Sampai detik ini, Syam yang masih berbicara dalam hati, sengaja mengabaikan Cinta.
Namun, tangis Cinta sampai membuat Hasna menangis. Syam langsung beranjak dari tidurnya. Ia yang masih diinfus dengan luka bekas operasi yang sebenarnya membuatnya kesakitan, berangsur menghampiri Hasna. Syam menenangkan Hasna, tapi bayi itu baru mau tenang ketika didekap Cinta. Detik itu juga, Syam yang menjadi melakukan pendekatan kepada Cinta.
Hanya mengusap punggung Hasna, ternyata belum cukup. Syam jadi bingung harus bagaimana. Terlebih, tisu kering yang ia berikan kepada Cinta, tetap tidak membuat Cinta berhenti menangis. Cinta yang menimang Hasna sambil sesekali melangkah, justru jadi sesenggukan. Tangis yang tak kalah pecah dari tangan Hasna.
“Aku mau peluk!” ucap Cinta ya g perlahan menengadah hanya untuk menatap Syam.
Detik itu juga dunia Syam seolah berhenti berputar. Tubuh Syam mendadak kaku ketika Cinta dengan sengaja menyandarkan kepala bahkan tubuh ke dadanya. Syam sampai refleks menahan napas, tapi kenyataan tersebut justru membuatnya makin deg-degan.
Hingga di detik berikutnya, Syam memutuskan untuk balas mendekap Cinta maupun Hasna yang masih
didekap Cinta. Ajaibnya, detik itu juga tangis Hasna beranjak reda.
Lega, itulah yang Cinta dan Syam rasakan. Keduanya refleks bertatapan.
“Semoga dek Hasan cepat sembuh, biar kita bisa sama-sama. Semoga, papanya anak-anak juga selalu sehat karena anak-anak, enggak bisa tanpa papanya!” ucap Cinta.
Detik itu juga kedua mata Syam berembun. Syam merasa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba hadir di hatinya. Rasa aneh yang membuatnya peduli kepada Cinta apalagi Hasna.
“Pelukan pertama. Semoga akan ada bahkan banyak pelukan lainnya!” batin Cinta sambil menatap haru wajah putrinya. Wajah yang sangat mirip dengan wajah Syam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Mas Bos
batu aja klo di tetesin air
lambat laun akan berlubang
apalagi hatinya pak syam
yg di linangi air mata bu cinta
pasti akan klepek klepek
/Joyful//Joyful//Joyful/
2024-02-07
2
Sugiharti Rusli
sekeras apapun kamu ke Cinta tapi lama" hati rurani ga akan bisa bohong yakan Syam,,,
2023-12-14
1
Marlina Armaghan
lanjut thor
2023-12-11
0