“Terluka lagi? Separah itu?” batin Cinta yang bertahan tak sampai menghampiri Syam.
Cinta sadar diri, tak mau menambah beban hidup Syam lagi. Apalagi jika pada kenyataannya, dirinya hanya membuat Syam jiji-k.
Cinta memilih mendorong troli berisi kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Dari kemarin malam hingga kini sudah dini hari dan otomatis sudah berganti hari, kedua anaknya tak hentinya menangis. Cinta sengaja membawanya keluar dari kamar menggunakan troli. Karena jika dibawa satu persatu, Cinta tidak tega pada yang harus ditinggal.
“Sepertinya, alasan mereka rewel karena mereka merasakan firasat untuk papanya. Mereka tahu papanya terluka.” Yang membuat Cinta ragu untuk tetap di dalam kamar, kedua bayinya jadi makin tidak bisa tenang. Seolah, Hasna dan Hasan selalu ingin dekat-dekat dengan papanya.
“Kamu enggak khawatir ke aku?” marah Syam ketika akhirnya Cinta membuka pintu kamar anak-anak.
Syam marah karena baginya, Cinta berubah. Cinta tak lagi peduli apalagi khawatir kepadanya. Padahal baginya, harusnya itu yang Cinta lakukan karena Cinta istrinya. Syam dapati, Cinta yang tak hanya terkejut akibat balasannya. Karena dari kedua mata Cinta dan baru Syam sadari sangat indah, istrinya itu juga jadi gelisah. Ditambah lagi, kedua anak mereka yang masih heboh menangis, Syam tidak bisa untuk tidak kesal.
Syam menatap khawatir kedua bayinya yang masih ada di dalam troli. Ia yang masih memakai kaus panjang warna hitam, segera menjatuhkan jaket kulitnya.
“Tunggu!” tahan Cinta segera mengambil satu lipat kain jarit dari rak di belakang trolinya.
“Maaf,” ucap Cinta berangsur melapiskan kain jaritnya ke dada Syam.
Ulah Cinta membuat Syam menahan napas. Selain dunia Syam yang juga seolah mendadak berhenti berputar akibat keadaan sekarang. Kemudian, ingatan Syam justru dihiasi nasihat dari pak Helios. Hingga dengan sendirinya, bibirnya bertanya, “Kamu sakit?”
Cinta yang masih ada di hadapan Syam refleks terdiam. Ia sadari, dirinya yang menjadi merinding dan itu ulah Syam. “Nih orang kenapa?” balas Cinta yang membalas Syam dengan menggeleng.
Cinta segera meraih Hasna kemudian menempelkannya ke dada Syam. Karena ketimbang Hasan, Hasna memang jauh lebih dekat dengan Syam. Terbukti, tangis Hasna sudah langsung reda. Begitu juga dengan Hasan yang Cinta taruh dadanya.
Menimang dan menepuk pelan punggung Hasan, Cinta melakukannya hingga Syam lagi-lagi memperkarakannya.
“Kamu enggak khawatir ke aku?” heran Syam.
Fia dan Hans yang sudah ada di sana membawa sebuah troli berisi keperluan medis, tak kalah bingung dari Cinta. Namun, keduanya yakin jika kini, Syam tengah haus perhatian Cinta.
“Mau langsung diobati, kan? Ke kamar apa duduk di sofa dulu. Kak Hasna turun dulu, ya. Sini sama Mama,” ucap Cinta.
Namun, Syam yang jengkel karena baginya Cinta kurang peka, sengaja tetap mengemban Hasna. Yang membuatnya heran, Cinta tak langsung menyusul. Barulah ketika Hasan menangis, Cinta segera menyusul.
“Bisa diem enggak? Duduk, diem, jangan mondar-mandir terus!” kesal Syam kepada Cinta yang tak kunjung duduk.
Cinta yang takut salah, sengaja duduk di ujung sofa panjang Syam duduk. Ia sengaja menjaga jarak. Lagi, kedua anak mereka menangis.
“Bagus, ... kalian wajib nangis terus kalau papa sama mama enggak bareng-bareng. Apalagi kalau mama kalian cuek, kalian wajib nangis sekenceng-kencengnya, biar mama mau deketin Papa duluan,” batin Syam sengaja duduk mendekati Cinta. Kini, jarak mereka tak lebih dari setengah jengkal karena paha mereka saja nyaris menempel.
Apa yang Syam lakukan sudah langsung membuat Cinta deg-degan. Apalagi ketika tangan kiri Syam yang tidak mendekap Hasna, turut mengelus-elus punggung hidung Hasan.
Diam-diam, Fia dan Hans yang masih menjadi pengamat baik, langsung sibuk tersenyum. Keduanya saling berkode mata, sebelum akhirnya memohon izin untuk mengobati punggung Syam.
Perubahan Cinta tak hanya di penampilan, tapi juga Cinta yang bagi Syam jadi cuek. Kini, Cinta yang tak lagi berpakaian kedodoran, tapi tidak sampai mengekspos apalagi mengumbar aurat, juga jadi irit bicara. Jangankan menatap, melirik saja, Cinta tidak melakukannya. Termasuk itu ketika tangan Syam yang tak lagi mengelus punggung hidung Hasan, berhenti di paha Cinta.
Padahal, ulah Syam sukses membuat Cinta lupa bernapas. Cinta yang memang tetap diam juga jadi tidak bisa bergerak. Terlebih, Cinta tak mungkin meminta Syam menyingkirkan tangannya dari paha Cinta. Meski ketika Syam refleks merem-as paha Cinta akibat pengobatan yang dijalani, Cinta refleks meraih tangan tersebut kemudian membalasnya.
Syam yang memang haus kasih sayang, sudah langsung balas menggenggam tangan Cinta. Ia dapati, Cinta yang menatap khawatir jalannya pengobatan di punggung Syam.
“Pas awal-awal di sini, aku heran, kenapa setiap luka papanya anak-anak, enggak diobati ke rumah sakit atau setidaknya dokter saja. Namun setelah aku pahami, kalau itu yang terjadi bisa membuat papanya anak-anak berurusan dengan polisi. Karena sepertinya memang ada pekerjaan atau misi khusus yang bikin papanya anak-anak sering terluka parah,” pikir Cinta yang sudah langsung heran kepada anak-anaknya. Keduanya kompak sudah tidur dengan sangat lelap di dekapannya maupun Syam.
“Mereka, ... kenapa mereka seperti sengaja membuat papa mamanya selalu kompak?” batin Cinta yang diam-diam memuji kedua anaknya itu sebagai anak genius.
“Lukanya lebih dalam dari temba-kan di sebelah?” tanya Syam masih bertahan menggenggam sebelah tangan Cinta.
“Sampai mengenai tulang, dan sepertinya, tulang di sini juga mengalami trauma. Coba, Bos tengkurap dulu. Kita lihat sampai besok ...,” ucap Hans serius.
Sepanjang Hans menjelaskan, Syam sengaja melirik wajah Cinta. Ia mencoba memastikan perubahan ekspresi Cinta. Namun, tak banyak yang berubah. Ekspresi Cinta nyaris sama dan memang cenderung menunduk.
“Cinta sama sekali tidak khawatir?” bagi Syam, itulah yang Cinta rasakan kepadanya. Baginya dan itu dari cara Cinta, Cinta sama sekali tidak khawatir kepadanya.
Termasuk itu hingga keesokan harinya, Syam yang sengaja memulihkan dirinya dengan tengkurap, merasa sangat muak. Sebab Cinta tak kunjung mendekatinya. Syam nekat membawa infusnya kemudian turun ke lantai bawah Cinta dan kedua anaknya berada.
Syam membuka pintu kamar Cinta dengan kasa-r. Beruntung, kamar tersebut tak sampai dikunci. Syam dapati kehebohan di dalam sana. Kedua anaknya lagi-lagi sibuk menangis. Cinta yang ada di sana, tampak sibuk menenangkan. Hanya saja, Cinta juga refleks menatapnya. Tatapan terkejut yang juga buru-buru Cinta akhiri.
“Itu Papa datang. Jangan nangis lagi, ya,” lembut Cinta masih dengan sangat sabar mengurus bayi-bayinya.
“Aku mau tidur di sini. Biarkan mereka tetap di dekatku agar mereka juga diam. Kamu juga jangan keluyuran, tetap di sini soalnya anak-anak sudah mulai aktif,” ucap Syam yang langsung beranjak naik ke ranjang tidur anak-anaknya berada.
Tentunya, alasan Syam meminta Cinta untuk tetal di sana, agar ia tetap bersama Cinta. Itu merupakan cara Syam memenja-rakan Cinta, dalam jera-t cintanya.
Jadi, kapan Syam akan mengakui perasaan atau setidaknya keinginannya membangun rumah tangga nyata dengan Cinta?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
slh sendiri bilang jijik syam
2024-07-18
0
azka myson28
gimana anak2nya g rewel dan nangis terus orangtuanya tiap saat perang batin
2024-06-12
0
Nancy Nurwezia
papa Syam gengsi mau ngaku perasaannya..
2023-12-15
2